NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Alunan musik orkestra berlarat lembut dari panggung utama Grand Ballroom Hotel Grand Hyatt. Cahaya dari puluhan lampu gantung kristal yang megah perlahan redup, berganti menjadi pendar cahaya sorot spotlight keemasan yang hangat dan romantis. Pihak pembawa acara baru saja mengumumkan puncak acara malam Gala Night sesi dansa utama.

Para tamu undangan yang mengenakan gaun malam dan tuksedo mewah mulai melangkah berpasangan menuju bagian tengah lantai dansa bermaterial kayu jati teroles mengkilap.

Di tepi lantai dansa, Rian berdiri merapikan kerah tuksedo hitamnya. Setelah kegaduhan singkat dari insiden di lorong yang berhasil diredam oleh pihak pengaman hotel, Rian mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

Ia menatap Hilmira yang tengah berdiri di dekat tirai beludru tebal bernuansa merah marun, tirai raksasa yang memisahkan ballroom bising dengan area balkon luar VIP yang menghadap ke lanskap gemerlap malam kota Jakarta.

"Hilmira..." panggil Rian lembut seraya melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangan kanannya yang terbalut sarung tangan formal, tersenyum manis penuh kehangatan. "Lampu sudah diredupkan untuk sesi dansa utama. Aku tahu kamu tidak menyukai keramaian, tapi maukah kamu memberiku kehormatan untuk satu tarian saja? Aku janji hanya satu lagu."

Hilmira Hazelya terpaku di tempatnya. Sepasang mata bulatnya yang jernih di balik cadar sutra midnight blue menatap uluran tangan Rian dengan raut canggung yang teramat sangat. Jemari mungilnya meremas kain gaun malamnya yang bertabur kristal Swarovski.

"Kak Rian, maaf... aku tidak bisa..."

CLLLK!

Tepat sebelum Hilmira menyelesaikan penolakannya, seluruh lampu gantung kristal di ballroom mendadak padam total!

Kegelapan pekat menyelimuti ruangan besar itu selama beberapa detik, sebuah efek dramatis rancangan panitia sebelum lampu sorot lembut dinyalakan untuk pasangan dansa utama. Kerumunan mahasiswa dan tamu undangan berseru kaget lalu tertawa kecil dalam suasana ramah yang samar.

Dan di dalam kegelapan yang pekat itu...

SRET!

Sebuah lengan kokoh berotot yang dilapisi kain jas mahal mendadak melingkar sempurna di pinggang sempit Hilmira dari arah belakang!

"A-Akkgh..."

Hilmira refleks membelalakkan matanya, hendak menjerit kaget. Namun, sebelum suara teriakannya sempat lolos dari bibirnya di balik cadar, sebuah telapak tangan besar yang hangat dan beraroma parfum cedarwood bercampur mint yang sangat familier membungkam lembut bibir bercadarnya.

Aroma keharuman maskulin yang sangat dominan, mahal, dan menenangkan itu mendadak mengepung seluruh indra penciuman Hilmira, seketika melumpuhkan rasa paniknya.

"Kak... Arkan ?!" batin Hilmira, jantungnya melompat gila.

Tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun, dengan gerakan yang teramat cepat, efisien, dan dominan khas seorang pria terlatih, Arkan Oliver menarik tubuh mungil Hilmira mundur melintasi balik celah tirai beludru tebal yang tinggi menjulang.

"Hilmira? Kamu di mana?" suara Rian terdengar bingung di balik tirai, terputus oleh derap langkah kaki para tamu dansa yang mulai memadati lantai utama saat lampu sorot kuning redup kembali menyala di dalam ballroom.

Cklek.

Pintu kaca tebal yang menghubungkan tirai dalam dengan area balkon luar VIP tertutup rapat, meredam sembilan puluh persen bisingnya suara musik orkestra dan riuh keramaian pesta.

Rembulan malam yang menggantung anggun di langit Jakarta memancarkan cahaya perak yang dingin, menyinari lantai granit balkon yang terisolasi di lantai tinggi tersebut. Angin malam yang berembus sepoi-sepoi membawa kesegaran dingin, mempermainkan ujung khimar dan gaun malam midnight blue yang dikenakan Hilmira.

Arkan perlahan melepaskan tangannya dari pinggang dan bibir Hilmira.

Hilmira membalikkan badannya dengan cepat, napasnya tersengal pendek di balik cadar sutranya. Tangannya memegangi dadanya yang berdebar gila.

"K-Kak Arkan!" bisik Hilmira parau, sepasang mata bulatnya membelalak menatap sosok pria tegap yang kini berdiri menjulang di hadapannya di bawah pendar cahaya bulan. "Apa yang Kakak lakukan?! Kalau Kak Rian atau orang lain melihat..."

"Aku tidak peduli," potong Arkan.

Suara bariton Arkan keluar dalam nada yang sangat rendah, berat, dan bas, getaran suaranya sarat akan keposesifan mutlak yang membakar.

Arkan Oliver tampil luar biasa tampan malam ini dalam balutan tuksedo custom-tailored berwarna hitam pekat.

Dasi kupu-kupunya sedikit agak longgar di leher kokohnya, dan beberapa helai rambut hitam tebalnya jatuh sedikit berantakan di atas dahi mulusnya, memberikan kesan ketampanan ganjil yang liar dan sangat memikat. Tangan kanannya masih terbalut perban putih tipis.

Sepasang mata elangnya yang pekat dan tajam mengunci lurus pada Hilmira, seolah wanita di hadapannya adalah satu-satunya objek yang bernyawa di atas bumi ini.

Arkan melangkah satu cangkah maju. Intimidasi fisik dan aura cold CEO yang dipancarkannya memaksa Hilmira refleks mundur satu langkah, hingga punggung sempitnya menabrak pagar ukiran perunggu balkon yang dingin.

Arkan mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, mengunci pergerakan Hilmira dengan menempatkan tangan kirinya di atas pagar perunggu, tepat di samping kepala Hilmira.

Jarak di antara mereka terkikis habis. Hanya tersisa beberapa sentimeter.

Aroma napas Arkan yang hangat dan wangi menerpa kulit kening Hilmira yang terekspos di atas garis khimarnya.

"Sudah kukatakan padamu di rumah, Hilmira," ujar Arkan, suaranya turun satu oktav, menjadi begitu dalam dan memabukkan. "Kau tidak akan berjalan di atas karpet merah, dan kau tidak akan pernah berdansa dengan pria mana pun selain aku malam ini."

"Tapi Kak Rian hanya..." Hilmira mencengkeram ujung jas tuksedo Arkan di bagian dada, mencoba mencari pijakan di tengah gelombang kegugupan yang melumpuhkan sarafnya. "Kita berpura-pura tidak saling kenal di pesta ini... Kakak sendiri yang bilang..."

"Aku berbohong," potong Arkan tanpa rasa menyesal sedikit pun.

Mata Arkan menggelap, kilatan rasa cemburu gila bercampur ketulusan murni terpancar jelas di dalamnya.

"Melihat pria itu mengulurkan tangannya padamu... melihat mata pria-pria di bawah sana menatap kecantikanmu malam ini... membuat kendali diriku hancur, Hilmira," bisik Arkan. Suaranya bergetar halus oleh emosi yang tertahan.

Arkan merogoh saku dalam jas mewahnya dengan tangan kanan yang terbalut perban, lalu mengeluarkan sebuah remote control kecil berwarna hitam. Ia menekan satu tombol di atasnya.

BZZZT.

Dari speaker tersembunyi berteknologi tinggi di sudut balkon VIP milik keluarganya, instrumen musik waltz klasik berlarat lembut, lagu 'A Thousand Years' versi orkestra akustik yang amat indah dan romantis, mulai mengalun halus, membelah keheningan angin malam.

Hilmira tertegun, bibir mungilnya di balik cadar sedikit terbuka karena terkejut.

Arkan mematikan remote itu, lalu menyimpannya kembali. Tanpa melepas pandangan matanya dari Hilmira, Arkan merendahkan sedikit tubuhnya.

Pria yang ditakuti oleh seluruh forum korporasi dan disegani di kampus itu... kini merentangkan tangan kirinya yang kokoh dan hangat di udara, sementara tangan kanannya yang terbalut perban ia letakkan dengan amat santun di belakang punggungnya sendiri.

Sebuah gestur ajakan berdansa paling terhormat dari seorang pangeran dinasti bisnis Oliver.

"Hilmira Hazelya," panggil Arkan, suara baritonnya bergema lembut di antara embusan angin malam. "Maukah kau memberi suamimu ini satu tarian rahasia di bawah cahaya bulan?"

DEG.

Jantung Hilmira berdegup sangat kencang, bagaikan drum yang ditabuh bertubi-tubi di dalam dadanya. Kalimat 'suamimu' yang diucapkan dengan begitu parau dan tulus oleh Arkan meruntuhkan seluruh benteng pertahanan di dalam jiwanya.

Hilmira menatap wajah tampan Arkan yang menatapnya penuh harap. Dalam keheningan malam di balik tirai tebal, di bawah pendar sinar bulan perak, Hilmira perlahan mengangkat tangan kanannya yang mungil.

Jemari lembut Hilmira mendarat anggun di atas telapak tangan kiri Arkan yang lebar dan hangat.

Seringai tipis yang teramat tampan dan memikat terukir di bibir tegas Arkan.

Arkan perlahan menutup jemarinya, menggenggam jemari Hilmira dengan erat namun sangat lembut. Ia menarik pelan tubuh Hilmira mendekat ke dalam pelukannya. Tangan kanan Arkan yang terbalut perban melingkar dengan sangat hati-hati di pinggang Hilmira, menopang tubuh istrinya dengan penuh keposesifan yang protektif.

Tangan kiri Hilmira yang bebas merambat naik, beristirahat canggung namun hangat di atas bahu kokoh tuksedo Arkan.

Mereka mulai melangkah.

Di atas lantai granit balkon yang sepi, di bawah siraman pendar bulan perak dan terisolasi dari dunia luar oleh tirai beludru tebal, Arkan menuntun Hilmira berdansa dalam alunan waltz lambat.

Setiap gerakan mereka begitu padu dan berirama. Gaun malam midnight blue milik Hilmira mengembang indah, lapisan tulle berkilau dan kristal Swarovski-nya menangkap pantulan pendar rembulan, menciptakan efek kilau magis yang memukau di sekeliling mereka.

Jarak tubuh mereka begitu dekat hingga Hilmira dapat merasakan kehangatan tubuh Arkan yang meresap menembus kain gaunnya, serta gemuruh detak jantung Arkan yang berpacu liar di balik dada bidangnya, sama liarnya dengan detak jantung Hilmira sendiri.

"Kak Arkan..." bisik Hilmira parau, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Arkan yang terfokus penuh pada wajahnya. "Detak jantungmu... sangat kencang..."

Arkan menghentikan putaran dansa mereka sejenak, melangkah rapat hingga dada mereka saling bersentuhan halus.

Arkan menundukkan kepalanya. Ibu jari tangannya yang kokoh terangkat mengusap lembut tepi cadar sutra di pipi Hilmira, memberikan rasa hangat yang membakar kulit wanita itu.

"Detak jantung ini hanya berpacu gila seperti ini saat aku berada di dekatmu, Hilmira," balas Arkan dengan suara bariton yang teramat dalam, jujur, dan memabukkan.

Arkan mendekatkan wajah tampannya, menyandarkan kening tegasnya di atas kening Hilmira yang tertutup kain khimar. Hembusan napas hangatnya yang beraroma mint terasa begitu dekat di kulit wajah Hilmira.

"Persetan dengan pesta di dalam sana. Persetan dengan Rian atau siapa pun yang melihat kita," bisik Arkan di depan bibir bercadar Hilmira, matanya terpejam merasakan kehangatan istrinya. "Malam ini... di balik tirai ini... kau hanya milikku. Hanya milik Arkan Oliver."

Hilmira tertegun, memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan kehangatan kecupan lembut yang didaratkan Arkan di keningnya, sebuah kecupan terhormat di atas kain khimar yang sarat akan janji perlindungan, keposesifan, dan cinta yang tak lagi bisa disangkal.

Di bawah tirai terang dan tarian rahasia malam itu, dua insan yang terikat pernikahan tersebut saling berpelukan erat dalam ritme dansa yang membakar jiwa, menenggelamkan logika dalam samudra rasa yang kian sulit terlepaskan.

...----------------...

To Be Continue ....

1
mama
suka sm karakter ny arkan kak,sat set gk pke lama
Eva Karmita
jangan takut ya Mira...ada babang Arkan selalu di sampingmu 🔥💪🥰
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Estu Suet
mantap thor
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!