Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
yang terkunci di balik retakan
Retakan di dalam Kuil Gerbang Langit tidak menutup.
Justru semakin melebar.
Dari dalam kehampaan itu, tangan hitam yang tadi muncul kini bergerak perlahan, seperti sesuatu yang sedang merayap keluar dari dunia yang salah.
Penjaga Kuil mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar… tidak stabil.
“Ini tidak termasuk dalam catatan ujian…”
Atlas berdiri tegak, pedangnya masih menyala merah keemasan.
Oliver berada beberapa platform di kejauhan, napasnya terengah, kalung giok di lehernya bergetar tidak stabil.
Raka langsung berteriak.
“JANGAN DEKATI RETAKANNYA!”
Atlas menoleh cepat.
“Kenapa?!”
Raka menatap retakan itu dengan wajah tegang.
“Itu bukan pintu!”
“Itu luka di sistem dunia!”
Oliver langsung membeku.
“Luka… dunia?”
Tangan hitam itu semakin keluar.
Diikuti suara seperti bisikan ribuan orang yang berbicara bersamaan, tapi tidak ada satu pun kata yang jelas.
Lalu…
mata itu terbuka sepenuhnya.
Gelap.
Tanpa pupil.
Tanpa cahaya.
Tapi menatap langsung ke arah Atlas.
Dan pada saat itu—
Atlas merasakan sesuatu di dalam dadanya “ditarik”.
Bukan fisiknya.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Seperti darahnya sedang dipanggil.
Kuil Mulai Gagal Mengontrol Ujian
Penjaga Kuil mengangkat tangannya.
Seluruh ruang ujian bergetar.
“PROTOKOL PENUTUPAN DIHAPUS.”
Namun tidak ada yang berubah.
Retakan tetap terbuka.
Bahkan semakin stabil.
Seolah sesuatu di dalamnya justru mulai “menyesuaikan diri” dengan dunia Kuil.
Raka menggeram.
“Sial… dia sudah terlalu lama disegel…”
Oliver berteriak dari kejauhan.
“SIAPA DIA?!”
Raka ragu sesaat.
Lalu menjawab dengan suara berat.
“Yang tidak boleh punya nama.”
“Yang bahkan Alam Dewa menghapus catatannya.”
Atlas menegang.
“Jadi ini… musuh dari Alam Dewa?”
Raka menggeleng.
“Bukan.”
“Ini musuh yang membuat Alam Dewa ketakutan.”
Kebangkitan Resonansi Darah
Tangan hitam itu mulai bergerak lebih cepat.
Retakan di udara merespons.
Simbol-simbol di langit Kuil mulai pecah satu per satu.
Seperti sistem yang kalah melawan sesuatu yang lebih tua.
Atlas tiba-tiba memegang kepalanya.
“Argh…”
Oliver langsung panik.
“MAS?!”
Atlas melihat sesuatu.
Bukan dunia nyata.
Tapi ingatan yang bukan miliknya.
Sebuah medan perang kuno.
Langit terbakar.
Dewa-dewa jatuh dari langit.
Dan di tengah semuanya…
sosok besar berdiri di depan retakan yang sama.
Tapi dalam versi yang jauh lebih besar.
Lebih tua.
Lebih dalam.
Sosok itu menutup sesuatu dengan tangannya sendiri.
Dan sebelum semua gelap…
satu kalimat terdengar di kepala Atlas.
"Jika segel ini terbuka… maka pewaris harus menggantikanku."
Atlas tersentak kembali ke dunia nyata.
“Ini… apa ini…”
Raka menatapnya tajam.
“Kamu melihatnya, kan?”
Atlas terdiam.
Raka melanjutkan.
“Itu bukan mimpi.”
“Itu memori darah.”
Oliver membeku.
“Maksudnya… dia pernah ada hubungannya sama kita?”
Raka tidak menjawab langsung.
Namun tatapannya sudah cukup.
Makhluk dari Balik Segel
Retakan semakin besar.
Tangan itu kini berubah menjadi lengan.
Lalu bahu.
Lalu bentuk tubuh yang tidak sepenuhnya bisa dipahami.
Seperti seseorang… yang pernah ada, tapi dipotong dari realitas.
Penjaga Kuil akhirnya bergerak.
Ia melangkah ke depan.
Untuk pertama kalinya.
Dan mengayunkan tangannya.
Cahaya emas meledak.
BOOOOM!
Serangan itu menghantam retakan.
Namun tidak menghentikannya.
Bahkan tidak mengurangi pergerakannya.
Makhluk itu… tetap keluar.
Penjaga Kuil mundur setengah langkah lagi.
“Tidak mungkin…”
“Energi ini… tidak terdaftar…”
Atlas menggenggam pedangnya lebih erat.
“Kalau dia keluar sepenuhnya… apa yang terjadi?”
Raka menjawab tanpa ragu.
“Semua sistem Alam Dewa akan runtuh.”
Oliver menatap kosong.
“Termasuk kita?”
Raka mengangguk.
“Termasuk segalanya.”
Pilihan Pertama di Dalam Kuil
Suasana berubah semakin berat.
Platform mulai hancur satu per satu.
Ruang ujian tidak lagi stabil.
Atlas menatap Oliver.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia terlihat ragu.
Oliver juga menatapnya balik.
Tanpa kata.
Tapi saling mengerti.
Raka berdiri di tengah mereka.
“Kalian punya dua pilihan sekarang.”
“Lari… atau tutup retakan itu.”
Atlas langsung menjawab.
“Gimana caranya?”
Raka terdiam.
Lalu perlahan berkata.
“Dengan membuka penuh darah kalian.”
Oliver langsung menoleh.
“Lo bilang itu bahaya!”
Raka mengangguk.
“Bukan bahaya biasa.”
“Kalau kalian membuka sepenuhnya… kalian tidak lagi manusia.”
Hening.
Retakan di belakang mereka semakin keras bergetar.
Atlas mengangkat pedangnya sedikit.
“Kalau kita nggak lakukan apa-apa?”
Raka menjawab jujur.
“Dunia kalian akan dihapus.”
Retakan di udara semakin melebar.
Sekarang bukan lagi sekadar celah. Ia sudah menjadi sesuatu yang hidup—bernapas, berdenyut, dan menekan seluruh ruang Kuil Gerbang Langit seperti luka yang terus berdarah.
Atlas berdiri diam di tengah platform yang mulai pecah.
Oliver di kejauhan tampak berusaha menstabilkan dirinya, tapi kalung giok di lehernya bergetar semakin liar, seolah menolak sesuatu yang sedang mendekat.
Raka menatap mereka berdua dengan serius.
“Keputusan harus diambil sekarang.”
Penjaga Kuil melangkah maju.
Untuk pertama kalinya, suaranya tidak lagi terdengar seperti sistem.
Tapi seperti sesuatu yang mulai “panik”.
“PROTOKOL PENGHAPUSAN DIMULAI.”
Langit Kuil berubah.
Simbol-simbol kuno yang melingkar di kubah atas mulai pecah satu per satu, seperti kaca yang retak dari dalam.
Oliver berteriak.
“Mas! Kita harus ngapain?!”
Atlas tidak langsung menjawab.
Matanya menatap retakan itu.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tidak merasakan takut.
Yang ada hanya sesuatu yang lebih dalam.
Pemahaman.
Seolah darahnya sudah mengenali apa yang ada di sana.
“Oliver,” suara Atlas pelan tapi tegas. “Kalau kita mundur sekarang… kita bakal diburu selamanya.”
Oliver terdiam.
Atlas melanjutkan.
“Tapi kalau kita maju… kita mungkin nggak balik lagi.”
Sunyi sesaat.
Raka menyela.
“Tidak ada ‘mungkin’ lagi.”
“Kalau dia keluar, semua akan hilang.”
Pilihan Darah Pewaris
Retakan itu akhirnya pecah sepenuhnya.
KRAAAAK—!
Suara seperti langit yang disobek menggema di seluruh ruang Kuil.
Dari dalamnya, sosok itu mulai keluar.
Sekarang terlihat lebih jelas.
Bukan manusia.
Bukan monster biasa.
Tapi sesuatu yang seperti “bekas bentuk manusia” yang dipaksa tetap ada meski realitas menolaknya.
Tangannya panjang, tidak simetris.
Wajahnya seperti tertutup lapisan bayangan yang terus berubah.
Namun matanya…
tetap sama.
Kosong.
Dan langsung menatap Atlas.
Raka langsung berteriak.
“SEKARANG!”
Atlas menggenggam pedangnya erat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menahan kekuatannya.
Ia membiarkannya mengalir.
Cahaya merah keemasan meledak dari tubuhnya.
Bukan hanya dari tangan.
Tapi dari darahnya sendiri.
Seolah seluruh tubuhnya menjadi sumber energi.
Oliver melihat itu dan tersentak.
“Mas… lo…”
Kalung giok Oliver merespons.
Lingkaran biru kembali terbentuk di bawah kakinya.
Namun kali ini lebih besar.
Lebih stabil.
Waktu di sekeliling mereka mulai melambat secara drastis.
Raka membuka mata sedikit.
“Jadi kalian sudah sampai tahap ini…”
Kebangkitan Penuh: Darah Dua Pewaris
Atlas melangkah maju.
Setiap langkah membuat platform di bawahnya retak.
Namun ia tidak jatuh.
Justru Kuil yang menyesuaikan dirinya dengan kekuatannya.
Makhluk dari retakan itu mengangkat tangannya.
Dan seluruh ruang langsung terdistorsi.
Gravitasi berubah.
Oliver terlempar sedikit, tapi waktu yang melambat membuatnya masih bisa bertahan.
“Gue nggak bisa tahan ini lama!” teriak Oliver.
Atlas tidak menjawab.
Karena saat ini…
ia melihat sesuatu yang berbeda.
Di tubuh makhluk itu, bukan hanya satu titik lemah.
Tapi ribuan simpul kecil yang terhubung seperti jaringan.
Dan di tengahnya…
ada satu inti yang tidak bergerak.
“Jadi itu pusatnya…”
Atlas menunduk sedikit.
Dan untuk pertama kalinya…
ia “menyerahkan dirinya” pada darahnya sepenuhnya.
Transformasi Pertama Atlas
Cahaya merah keemasan di tubuh Atlas berubah bentuk.
Bukan lagi sekadar aura.
Tapi seperti pola armor energi yang terbentuk dari darahnya sendiri.
Pedangnya berubah getaran.
Ukiran di bilahnya menyala.
Suara samar terdengar di kepalanya.
"Pewaris telah membuka lapisan pertama."
Atlas melesat.
Kecepatan yang sebelumnya manusiawi kini berubah drastis.
Ia melompat melewati ruang yang terdistorsi.
Menembus tekanan gravitasi.
Dan langsung menuju makhluk itu.
Raka terkejut.
“Itu… terlalu cepat…”
Oliver juga membeku.
“Mas…”
Makhluk itu mencoba menyerang balik.
Namun Atlas sudah berada di atasnya.
Pedang diangkat tinggi.
Dan kemudian—
SLAAAAASH!
Serangan itu tidak hanya menebas tubuh.
Tapi menembus “struktur” realitas di sekitar makhluk itu.
Satu jaringan simpul hancur.
Makhluk itu mengerang.
Untuk pertama kalinya.
Oliver Mengunci Waktu
Namun makhluk itu tidak jatuh.
Justru semakin liar.
Ia melepaskan gelombang kehampaan.
Ruang Kuil mulai runtuh lebih cepat.
Oliver berteriak.
“Gue nggak bisa biarin ini!”
Kalung gioknya menyala penuh.
Lingkaran waktu yang ia buat pecah menjadi beberapa lapisan.
Bukan hanya memperlambat.
Tapi “memecah momen”.
Gerakan makhluk itu terbagi menjadi beberapa bayangan waktu sekaligus.
Raka langsung sadar.
“Itu… manipulasi pecahan waktu…”
Oliver menggertakkan gigi.
“Gue nggak ngerti itu apa… tapi gue tahan dia sekarang!”
Makhluk itu melambat secara ekstrem.
Atlas menatap Oliver sekilas.
Dan itu cukup.
Serangan Penutup Atlas
Atlas menatap inti yang ia lihat sebelumnya.
Sekarang terlihat lebih jelas.
Sebuah titik hitam yang berdenyut di dalam tubuh makhluk itu.
Seperti jantung yang tidak seharusnya ada.
Atlas menarik napas.
Dan mengumpulkan seluruh aliran darahnya ke pedang.
Cahaya merah keemasan menjadi sangat terang hingga hampir menelan ruang.
Penjaga Kuil berbisik pelan.
“Jika ini gagal… kalian semua akan…”
Atlas tidak menunggu kalimat itu selesai.
Ia melesat.
Dan menembus semua lapisan distorsi waktu Oliver.
Lalu—
DUAAAAARRR!!
Tebasan terakhir menghantam inti itu.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu tubuh makhluk itu mulai pecah.
Bukan hancur biasa.
Tapi seperti realitasnya sendiri dihapus.
Retakan di udara mulai menutup perlahan.
Jeritan tanpa suara menggema, lalu hilang.
Dan akhirnya…
semuanya lenyap.
Setelah Badai
Kuil kembali stabil.
Simbol di langit kembali menyala perlahan.
Penjaga Kuil berdiri diam.
Lalu menundukkan kepala sedikit.
“Ujian… selesai.”
Oliver jatuh terduduk.
“Gue… hidup?”
Raka menghela napas panjang.
“Kalian baru saja menghentikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah muncul.”
Atlas menatap tangannya.
Cahaya merahnya perlahan mereda.
Namun ia tahu…
ini bukan akhir.
Raka berjalan mendekat.
“Sekarang kalian sudah resmi dikenal oleh sistem.”
“Dan itu berarti…”
Ia menatap mereka berdua.
“…perburuan sebenarnya dimulai.”
Di kejauhan Kuil, retakan kecil baru muncul lagi.
Tapi kali ini…
bukan dari dalam.
Melainkan dari atas langit Kuil.
Seolah sesuatu yang jauh lebih besar sedang memperhatikan mereka.
Hallo guys author berterimakasih buat kalian yang suka sama cerita author.
sekian dari author •_♪