Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kael Melanggar Hukum Sendiri
Mata cahaya itu menatap ke arah timur.
Seluruh Aula Bulan kecil ikut bergetar. Retakan pada mangkuk batu menjalar ke permukaan meja, lalu turun ke lantai seperti akar pohon. Rune-rune yang tidak pernah menyala selama ratusan tahun bangun satu demi satu.
Aelora merasakan denyut di ujung jarinya yang terluka.
Mata itu berkedip.
Suara muncul di dalam kepalanya.
Darah pertama telah kembali.
Aelora menutup kedua telinga. Suara itu tidak berkurang.
Gerbang mengenali pemiliknya.
“Ayah.”
Kael segera memegang bahunya. “Aku di sini.”
“Tiga dunia akan membuka mata.”
Kael menatap mata cahaya yang melayang di atas mangkuk. “Padamkan.”
Tidak seorang pun bergerak.
Lady Varessa masih berlutut. Lord Vael menatap darah bercahaya itu dengan wajah tegang. Dua anggota dewan lain bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.
Kael mengangkat tangannya.
Bayangan di lantai bangkit menjadi tombak hitam dan menembus mata cahaya.
Benda itu pecah.
Bukan menjadi darah, melainkan ratusan huruf kecil yang beterbangan di atas kepala mereka. Sebagian langsung ditelan bayangan Kael. Sebagian lagi menyentuh dinding dan menghilang ke dalam batu.
Ruangan kembali gelap.
Aelora menggenggam tangan Kael.
“Semua orang mendengar suara itu?”
“Tidak,” jawab Kael.
Lady Varessa perlahan mengangkat kepala. “Saya mendengar satu kalimat.”
Lord Vael mengangguk. “Saya juga.”
Lord Morcant, lelaki bertanduk pendek yang sejak tadi terlihat paling curiga, mundur dari meja. Wajahnya pucat.
“Apa yang kaudengar?” tanya Kael.
Morcant menatap bayangannya sendiri.
“Perintah untuk berlutut.”
Aelora mengikuti pandangannya.
Bayangan para anggota dewan masih menunduk ke arah tempatnya berdiri, meskipun pemilik mereka sudah kembali tegak. Bahkan bayangan penjaga di dekat pintu terlihat seperti orang yang sedang memberi hormat.
Aelora menarik tangannya dari Kael dan menyembunyikannya di belakang punggung.
“Aku tidak menyuruh mereka.”
“Aku tahu,” kata Kael.
Ia berdiri sedikit di depan Aelora, menutupinya dari pandangan orang-orang lain.
Lady Varessa bangkit dengan bantuan tongkat.
“Ujian darah harus dilanjutkan.”
Kael menatapnya seolah perempuan itu baru saja menyarankan agar mereka menyalakan api di gudang minyak.
“Ujian selesai.”
“Kita baru menyaksikan reaksi pertama.”
“Reaksi pertama hampir membangunkan sesuatu yang terhubung dengan Gerbang Tiga Dunia.”
“Itulah alasan kita perlu mengetahui sifat darahnya.”
“Dengan mengeluarkan lebih banyak?”
“Beberapa tetes sudah cukup.”
Aelora menegang.
Kael merasakannya.
“Tidak.”
“Yang Mulia, satu tetes darah mengaktifkan rune yang lebih tua daripada Nocthara.”
“Aku melihatnya.”
“Penafsir klan dapat menentukan asal kekuatan tersebut.”
“Penafsir kalian sebelumnya hampir mati hanya karena melihat jejak darahnya.”
“Orven sudah sadar.”
“Bagus. Biarkan dia menikmati hidupnya.”
Varessa menahan napas, jelas berusaha tidak kehilangan kesabaran.
“Orven mengatakan darah Putri Aelora mungkin terhubung dengan takhta yang berdiri sebelum cahaya dan bayangan berpisah.”
“Anak itu punya nama,” kata Kael.
“Saya baru saja menyebutnya.”
“Namun kau terus berbicara tentang darahnya seperti membahas benda di ruang penyimpanan.”
Aelora menunduk pada perban kecil di ujung jarinya. Setetes darah. Hanya satu tetes, tetapi semua orang berubah setelah melihatnya.
Tidak ada seorang pun bertanya apakah jarinya masih sakit.
Mereka hanya ingin tahu apa yang dapat dilakukan darah tersebut.
Lady Varessa memandang Kael dengan keras.
“Tanggung jawab saya bukan hanya kepada seorang anak. Saya bertanggung jawab kepada seluruh rakyat Nocthara.”
“Dan aku adalah rajanya.”
“Seorang raja tetap terikat hukum.”
Bayangan Kael bergerak pelan di belakangnya.
Udara di dalam aula terasa semakin berat. Nyala lampu rune mengecil, seolah tidak ingin menarik perhatian.
Varessa tidak mundur.
“Pasal Ketujuh Hukum Darah menyatakan setiap kekuatan asing yang dapat memengaruhi bayangan kerajaan harus diperiksa sampai asalnya dipastikan.”
“Pasal itu berlaku bagi senjata dan makhluk yang terikat kontrak.”
“Darahnya memengaruhi bayangan.”
“Dia bukan senjata.”
“Belum tentu.”
Kata-kata itu membuat Aelora membeku.
Kael juga tidak langsung bergerak.
Justru ketenangannya menjadi jauh lebih mengerikan daripada kemarahan.
“Apa katamu?” tanyanya.
Lady Varessa melihat Aelora sebentar. Ada penyesalan tipis di wajahnya, tetapi ia tetap melanjutkan.
“Jika kekuatannya dapat memerintah bayangan, membuka jalan antaralam, menyembuhkan luka yang seharusnya mematikan, dan membangunkan rune sebelum zaman kita, Dewan Bulan berhak mempertimbangkan apakah tubuhnya diciptakan sebagai alat.”
Alat.
Bukan anak.
Bukan seseorang yang merasa takut saat melihat jarum.
Bukan orang yang menyembunyikan roti karena pernah kelaparan.
Hanya alat.
Aelora pernah mendengar berbagai nama untuk dirinya di Asteria.
Barang bukti.
Wadah kutukan.
Anak pembawa bencana.
Kunci pemurnian.
Orang dewasa selalu menemukan kata yang tepat untuk membuat rasa sakit seorang anak terdengar perlu.
Kael mengangkat tangan.
Bayangan menghantam Lady Varessa.
Tubuh perempuan itu terlempar dan membentur dinding. Tongkatnya jatuh, patah menjadi dua. Darah mengalir tipis dari sudut bibirnya.
Lord Vael menghunus pedang setengah jalan.
Bayangan Kael langsung melingkari lehernya.
“Turunkan.”
Lord Vael menatap ujung hitam di bawah dagunya, kemudian memasukkan pedang kembali ke sarung.
Para penjaga tidak bergerak. Mereka jelas tidak tahu apakah harus melindungi dewan dari raja atau raja dari dewan.
Lady Varessa berdiri perlahan.
“Yang Mulia baru saja menyerang kepala klan di dalam ruang hukum.”
“Karena kepala klan menyebut putriku alat.”
“Hukum tidak berubah hanya karena Anda tersinggung.”
“Aku tidak tersinggung.”
Kael berjalan mendekat.
“Aku memperingatkanmu.”
Varessa menyeka darah di bibirnya. “Ujian belum selesai.”
Bayangan Kael naik lagi.
Aelora menangkap ujung lengan bajunya.
“Ayah, jangan.”
Kael menoleh.
“Mereka takut,” kata Aelora.
“Itu bukan alasan untuk menyakitimu.”
“Mereka belum menyentuhku.”
“Mereka sedang meminta izin.”
Varessa menjawab dari dekat dinding, “Kami meminta prosedur yang diakui kerajaan.”
“Tidak,” kata Kael. “Kalian meminta hak atas tubuhnya.”
“Dewan memiliki kewenangan—”
“Tidak lagi.”
Keheningan jatuh.
Bahkan Aelora melepaskan lengan Kael karena terkejut.
Lord Morcant mengerutkan dahi. “Apa maksud Yang Mulia?”
Kael mengambil gulungan tuntutan dari meja. Tujuh cap klan tertera pada bagian bawahnya, masing-masing dibuat menggunakan lilin berwarna berbeda.
“Ujian ini dilakukan berdasarkan Pasal Ketujuh Hukum Darah.”
“Benar,” jawab Varessa.
“Pasal yang ditulis pada masa Raja Varkhan.”
“Benar.”
“Raja yang memerintahkan pemeriksaan terhadap ratusan anak berdarah campuran.”
Tidak ada yang menjawab.
Aelora tidak pernah mendengar nama Varkhan, tetapi cara Lord Vael menundukkan wajah membuatnya tahu kisah itu tidak berakhir baik.
Kael membuka gulungan tersebut.
“Berapa anak yang mati selama pemeriksaan?”
Varessa mengatupkan rahang. “Itu terjadi beberapa abad lalu.”
“Berapa?”
“Catatannya tidak lengkap.”
“Berarti cukup banyak sampai seseorang merasa perlu menghilangkan jumlahnya.”
Lord Vael berbicara pelan. “Tiga ratus dua belas anak diperiksa dalam masa pemerintahan Varkhan.”
Kael menoleh kepadanya. “Yang hidup?”
“Seratus delapan puluh sembilan.”
Aelora menghitung perlahan dalam kepala. Ia tidak terlalu pandai berhitung saat sedang takut, tetapi tetap tahu perbedaannya sangat banyak.
“Yang lain meninggal?” tanyanya.
Lord Vael tidak langsung menjawab.
“Sebagian saat pemeriksaan. Sebagian beberapa hari setelahnya.”
Lady Varessa memandangnya tajam. “Ini bukan waktu untuk membuka semua kesalahan masa lalu.”
“Kapan waktu yang tepat?” tanya Lord Vael. “Setelah ada anak lain yang mati?”
Varessa mencengkeram sisa tongkatnya. “Kita menghadapi ancaman yang nyata.”
“Anak saya juga menjalani pemeriksaan darah setelah terluka di perbatasan,” lanjut Lord Vael. “Mereka tidak menemukan kutukan Gereja Fajar. Mereka justru menyimpulkan tubuhnya terlalu lemah menahan sihir klan.”
Ryn.
Aelora teringat garis emas yang tersembunyi dalam luka anak itu selama hampir setahun.
“Dua anak dari wilayah utara meninggal dalam pemeriksaan yang sama,” kata Lord Vael. “Dewan menyebutnya kegagalan tubuh.”
Wajah Varessa mengeras. “Kita tidak sedang membahas Ryn.”
“Karena dia masih hidup?”
“Karena kasusnya berbeda.”
“Setiap kali hukum gagal, kita mengatakan kasusnya berbeda.”
Kael melihat gulungan di tangannya.
“Hukum ini seharusnya sudah dihapus sejak lama.”
Lady Varessa memucat. “Yang Mulia tidak dapat menghapus hukum kerajaan tanpa sidang lengkap.”
“Aku tidak akan menghapusnya.”
Api hitam menyala di telapak tangannya.
“Aku akan melanggarnya.”
Api merambat ke gulungan.
Tujuh cap klan meleleh bersamaan. Lord Morcant berseru dan mencoba maju, tetapi Lord Vael menahan bahunya.
Kael menjatuhkan gulungan terbakar ke dalam mangkuk batu yang telah retak. Api memakan tulisan dari tepi sampai seluruh tuntutan berubah menjadi abu.
“Mulai hari ini,” katanya, “tidak ada anak di wilayah Nocthara yang boleh dipaksa menjalani pemeriksaan darah berdasarkan ras, garis keturunan, atau sihir bawaan.”
Lady Varessa menatapnya tidak percaya.
“Itu dekret kerajaan.”
“Benar.”
“Tanpa sidang Dewan Bulan.”
“Benar.”
“Tanpa persetujuan tujuh klan.”
“Benar.”
“Artinya Anda melanggar Piagam Bulan.”
Kael memandangnya lurus-lurus.
“Catat dengan lengkap.”
Bayangannya membentuk mahkota hitam di atas kepala.
“Kael Vesperion, Raja Nocthara, melanggar hukumnya sendiri karena hukum tersebut membenarkan kekerasan terhadap anak.”
Aelora tidak pernah melihatnya berdiri seperti itu.
Bukan seperti raja yang sedang marah.
Bukan pula seperti iblis yang siap menghancurkan musuh.
Kael terlihat seperti seseorang yang baru menyadari bahwa sebuah tembok yang selama ini dijaganya dibangun menggunakan tulang orang-orang yang tidak pernah dapat melawan.
Aelora memandang abu di dalam mangkuk.
“Aku juga takut kepada diriku sendiri,” katanya.
Semua orang menoleh.
Suaranya kecil, tetapi bergema jelas di ruangan batu.
“Aku tidak tahu kenapa darahku berubah warna. Aku tidak tahu kenapa bayangan kalian berlutut. Aku juga tidak tahu apa maksudnya gerbang mengenaliku.”
Lady Varessa menatapnya tanpa berkedip.
Aelora meremas ujung gaunnya.
“Tapi mengambil lebih banyak darah tidak akan membuatku mengerti. Itu hanya membuatku takut kepada kalian.”
Lord Morcant menundukkan kepala.
“Di Asteria, mereka bilang rasa sakitku diperlukan untuk melindungi orang lain,” lanjut Aelora. “Mereka bilang rantai, api, dan ujian adalah bagian dari hukum.”
Ia menatap Lady Varessa.
“Aku tidak mau hukum di sini terdengar sama.”
Wajah perempuan tua itu goyah.
Hanya sesaat. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa kalimat tersebut mengenai sesuatu yang selama ini ia sembunyikan di balik aturan.
Salah seorang anggota dewan, Lord Sevran, maju dari dekat pintu.
“Perasaan seorang anak tidak dapat menjadi dasar kebijakan kerajaan.”
Kael menoleh. “Benar.”
Aelora melihatnya dengan terkejut.
Kael melanjutkan, “Fakta bahwa hukum tersebut membunuh anak sudah menjadi dasar yang cukup.”
Sevran membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Kael mengulurkan tangan kepada Aelora.
“Kita pergi.”
Aelora menyambut tangannya.
Ketika mereka melewati meja, ia melihat sisa darah dalam mangkuk sudah hilang. Abu gulungan hukum menutupi retakannya.
Sebelum keluar, Aelora menoleh kepada Lady Varessa.
Perempuan itu masih berdiri di dekat dinding dengan darah kering pada bibir. Tatapannya tidak sepenuhnya marah lagi.
Ada keraguan di sana.
Keraguan kecil, tetapi Aelora tahu hal itu lebih berbahaya bagi hukum lama daripada kemarahan.
Berita mengenai dekret Kael menyebar lebih cepat daripada mereka berjalan menuju lantai atas.
Pelayan berhenti membawa kain. Prajurit berbisik di dekat tangga. Beberapa orang membungkuk kepada Aelora lebih dalam daripada sebelumnya, sementara yang lain memilih tidak menatapnya.
Di persimpangan menuju kamar, Nira dan Ryn sudah menunggu.
Nira langsung berlari.
“Apakah mereka mengambil darahmu?”
“Hanya setetes.”
“Apakah sakit?”
“Sedikit.”
“Orang dewasa selalu mengatakan sedikit sebelum menusuk—”
“Aku tahu.”
Nira melihat perban kecil di jari Aelora, lalu memeluknya tanpa meminta izin.
Aelora kaku sesaat. Setelah itu, ia membalas pelukan tersebut menggunakan satu tangan karena tangan lainnya masih memegang Kael.
Ryn berdiri beberapa langkah di belakang. Tatapannya tertuju kepada sang raja.
“Benarkah Yang Mulia melarang pemeriksaan darah?”
“Benar.”
“Untuk semua anak?”
“Ya.”
Ryn menyentuh sisi tubuhnya, tempat kutukan pernah bersembunyi.
“Ayah mengatakan hukum itu tradisi.”
“Tradisi adalah kebiasaan,” jawab Kael. “Bukan alasan mempertahankan kebodohan.”
Ryn mengangguk pelan.
Beberapa anggota Klan Vesperion berjalan dari arah berlawanan. Mereka tetap membungkuk kepada Kael, tetapi tidak berhenti. Setelah melewati kelompok kecil itu, salah seorang berbisik cukup keras untuk terdengar,
“Raja menghancurkan piagam hanya untuk satu anak.”
Temannya menjawab, “Hari ini piagam. Besok mungkin takhta.”
Kael pasti mendengar.
Ia terus berjalan.
Aelora menarik tangannya.
“Mereka akan marah kepadamu?”
“Mereka selalu marah.”
“Serius.”
Kael berhenti dan berjongkok di hadapannya.
“Ya.”
“Bisakah dewan mengambil mahkotamu?”
“Tidak dengan mudah.”
“Berarti bisa.”
Kael menatap mata ungunya. “Keputusan yang benar tidak selalu membuat orang yang mengambilnya aman.”
“Tapi kau melanggar hukum.”
“Aku melanggar aturan yang tidak layak disebut hukum.”
“Kalau dewan melawan?”
“Biarkan.”
“Aku tidak mau kau kehilangan kerajaan karena aku.”
Kael terdiam cukup lama.
“Kerajaan yang hanya dapat dipertahankan dengan membiarkan anakku disakiti tidak layak dipertahankan menggunakan cara yang sama.”
Aelora tidak tahu jawaban yang tepat.
Ia hanya menggenggam tangan Kael lebih erat.
Mereka berjalan lagi, diikuti Nira dan Ryn yang mulai berdebat mengenai apakah darah berwarna ungu berarti Aelora harus makan lebih banyak buah ungu.
Bayangan Kael bergerak seperti biasa.
Namun bayangan Aelora tidak.
Bentuk kecil itu memanjang sendiri sampai menyentuh dinding sebelah timur. Pada batu yang terkena ujung bayangannya, muncul sebuah retakan tipis.
Dari dalam dinding terdengar bunyi pelan.
Dum.
Dum.
Dum.
Seperti jantung raksasa yang tertidur jauh di bawah istana.
Aelora menoleh.
Tidak ada orang lain yang bereaksi.
Bukan Kael.
Bukan Nira atau Ryn.
Hanya Aelora yang mendengarnya.
Di balik retakan, sesuatu berbisik menggunakan suara yang sama dengan darahnya.
Temukan takhta pertama.
Jauh di ruang tertutup milik Dewan Bulan, tujuh kepala klan berkumpul tanpa kehadiran raja.
Lady Varessa berdiri di depan meja bundar. Tongkatnya sudah diganti, tetapi bekas darah masih terlihat pada sudut bibirnya.
Di atas meja tergeletak salinan lama Piagam Bulan.
Lord Sevran menekan telapak tangannya pada halaman terakhir.
“Raja memilih anak itu daripada hukum.”
“Dia memilih memperbaiki kesalahan,” kata Lord Vael.
“Dia melemahkan dewan.”
“Dewan memang lemah kalau takut kepada anak tujuh tahun.”
Lord Morcant menyandarkan tubuh pada kursi. “Kita semua melihat darahnya. Itu bukan kekuatan biasa.”
“Tidak ada yang mengatakan biasa,” jawab Lord Vael. “Yang dipersoalkan adalah apakah kita boleh memotong tubuh seorang anak hanya karena kita tidak mengerti.”
“Jangan membuatnya terdengar seperti penyiksaan,” kata Sevran.
Vael memandangnya. “Apa nama lain yang lebih sopan?”
Suara-suara mulai bertumpuk.
Lady Varessa mengangkat tangan.
Ruangan langsung diam.
Ia menatap tujuh cap klan yang menyala di permukaan meja, kemudian melihat lambang Vesperion di tengah Piagam Bulan.
“Kael telah melanggar piagam di hadapan saksi,” katanya.
Lord Sevran bersandar. “Berarti kita memiliki dasar.”
“Dasar untuk apa?” tanya Lord Vael.
Tidak ada seorang pun segera menjawab.
Lady Varessa menutup kitab hukum.
Ketika berbicara kembali, suaranya terdengar jauh lebih tua daripada sebelumnya.
“Untuk mempertanyakan apakah Kael Vesperion masih layak memakai mahkota.”
Di tengah meja, lambang Raja Iblis retak menjadi dua.