NovelToon NovelToon
Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Lari Saat Hamil / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Indriani Sonaris

Aiden yang telah terbiasa menikmati rasa sakit karena mencintai Agneta. Ia sudah menutup hati untuk wanita manapun. Menjadi sosok yang dingin dan begitu tak tersentuh.
Sejak Agneta memilih Davero, ia memilih pergi menjauh meninggalkan Indonesia. Dan mulai menetap di Negara A tepatnya di kota N dan mulai merintis kariernya di sana.
Tetapi takdir mempertemukan dirinya dengan masalalunya. Masalalu yang merupakan kesalahannya...
Catherin....
Akankah Catherin meluluhkan hati Aiden, dan menggantikan posisi Agneta di dalam hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani Sonaris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Pengadilan....

Aidenmasih sibuk didalam

ruangan pribadi yang berada di sisi ruang persidangan. Ia tengah mempersiapkan

segala bahan ke dalam map untuk di bahas nanti.

                Ketukan pintu

terdengar dan suara pintu terbuka membuatnya menoleh.

                “Catherin,” gumamnya

saat melihat sosok wanita cantik itu yang mendorong kursi roda dimana Marenka

duduk di sana.

                Terlihat Catherin

memalingkan pandanganya ke arah lain untuk menghindari beradu tatapan dengan

Aiden. Kini tatapan Aiden tertuju pada Marenka.

                “Bagaimana keadaan

anda, Mrs. Marenka?” tanya Aiden.

                “Aku sudah merasa

lebih baik,” jawab Marenka.

                “Apa anda sudah siap

menghadapi persidangan ini dan bertemu kembali dengan suami anda?” tanya Aiden.

                “Aku tidak tau, tetapi

aku akan berusaha tetap tenang berhadapan dengannya,” jawab Marenka.

                “Didalam nanti akan

banyak hal di perdebatkan, mungkin juga suami anda memutar balikan fakta dan

memojokkan anda. Saya harap anda bisa bekerja sama dengan saya, anda hanya

cukup diam saja dan percayakan segalanya padaku.”

                Marenka menganggukkan

kepalanya.

                “Emm, Cath bisa kita

bicara sebentar,” seru Aiden kali ini menatap ke arah Catherin.

                “Baiklah.”

                Catherin berjalan

mengikuti Aiden keluar ruangan.

                “Bagaimana hasil

pemeriksaan Dokter mengenai mental Mrs. Marenka?” tanya Aiden.

                “Semuanya baik-baik

saja, maka dari itu Dokter membiarkannya keluar dari rumah sakit,” seru

Catherin.

                “Apa kamu membawa

hasil pemeriksaan Dokter psikolog, seperti yang aku minta?” tanya Aiden.

                “Ada,” seru Catherin

mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tasnya. “Sebenarnya hasil itu untuk

apa? Bukankah hasil medis dari Dokter yang menangani Marenka sudah ada.”

                “Hanya untuk jaga-jaga

saja, takutnya tersangka menuduh Marenka mengalamigangguan mental.”

                Catherin hanya ber-oh saja mendengar seruan dari Aiden.

                “Makasih karena kamu

sudah membantuku,” seru Aiden membuat Catherin merasa tak nyaman. Ia

memalingkan wajahnya dan melihat ke arah lain untuk menghindari tatapan Aiden.

                “Tidak perlu berterima

kasih, aku melakukan ini hanya untuk keadilan temanku, bukan untukmu.” Catherin

menjawab dengan begitu dingin membuat Aiden tersenyum kecil.

                “Setidaknya terima

kasih karena sudah membantu meringankan pekerjaanku,” serunya.

                Aiden kemudian

berjalan melewati tubuh Catherin dan masuk kembali ke dalam ruangan.

                Proses persidangan

begitu menegangkan, apalagi terlihat pengacara dari tersangka terus mengelak tuduhan yang di laporkan istrinya,

juga bukti-bukti yang di serahkan oleh Aiden.

                “Hakim, saya telah

membawa saksi.” Seru Aiden.

                “Di persilakan.”

                Aiden meminta Catherin

untuk maju ke depan dan memberi keterangan.

                Pengacara dari

tersangka terus memberi beberapa pertanyaan kepada Catherin dan sedikit

memojokkannya.

                “Nona Catherin, apa

yang anda ketahui mengenai hubungan suami istri, anda saja tidak memiliki

suami, bukan?”

                “Mr. Aundrey, saya

rasa pertanyaan anda melenceng dari permasalah inti,” seru Aiden berusaha

melindungi Catherin.“Nona Catherin mau sudah menikah atau belum, itu tidak ada

hubungannya.”

                “Ada hubungannya, Mr.

Aiden. Menurut keterangan dari client saya, nona Catherin ini sering datang ke rumah dan menghasut Nyonya Marenka

dalam segala hal, sehingga membuat Nyonya Marenka melawan pada client kami. Nyonya Marenka menjadi

tidak bisa di atur dan sering pulang larut malam dan kadang tidak pulang

pulang. Nona Catherin kehidupanmu begitu bebas, kenapa harus membawa Nyonya Marenka ke dalam duniamu,padahal Nyonya memiliki seorang suami.”

                Catherin mengernyit

mendengar seruan dari pengacara tersangka, jelas-jelas mereka berusaha

memfitnah Catherin.

                “Mr. Audrey, setiap

apa yang anda katakan apa ada buktinya?” tanya Aiden berusaha melindungi dan

membela Catherin. “Jangan lupasetiap ucapan itu perlu di

pertanggungjawabkan. Kalau anda tidak bisa membuktikannya, itu bisa menjadi sebuah fitnah dan tuduhan pada saksi saya.

Dan anda jelas tau, pasal berapa dan apa hukumannya untuk orang yang menuduh orang

lain tanpa bukti. Bukankah itu sama saja dengan pencemaran nama baik,” seru

Aiden membuat Audrey bungkam dan kesal.

                “Hakim, saya rasa

keterangan dari Nona Catherin sudah cukup,” seru Aiden.

                “Baiklah, anda boleh

kembali ke tempat,” perintah Hakim membuat Catherin kembali ke tempat duduknya

dengan kesal.

                Persidangan terus

berlangsung, Catherin terus menatap Aiden di depan sana. Entah kenapa hatinya menghangat

dan tersentuh dengan pembelaan dari Aiden tadi.

                Ketuk palu sang hakim

terdengar, dengan putusan hukuman untuk tersangka. Aiden sungguh memenangkan

kasus ini dan membuat tersangka mendapatkan hukuman. Rasa senang Marenka sangat

membuncak. Ia berpelukan dengan Catherin dengan perasaan lega.

                “Akhirnya Cath, aku

bisa terlepas dari siluman itu,” seru Marenka membuat Catherin tersenyum lega.

Tatapannya tertuju pada Aiden yang terlihat membereskan semua berkasnya.

                ‘Terima kasih, Aiden...’

                Seseorang yang duduk

tak jauh dari mereka menatap penuh dendam dan kebencian ke arah Catherin dan

Marenka.

                ---

                Aiden mengantar

Catherin dan Marenka keluar dari pengadilan dan sudah berada di sisi mobil

Catherin.

                “Terima kasih banyak,

Mr. Aiden.” Seru Marenka dengan perasaan penuh kelegaan. “Akhirnya kini aku

bisa melanjutkan hidup dengan tenang.”

                “Sama-sama, Mrs.

Marenka. Ini sudah tugas saya,” jawab Aiden.

                “Kalau begitu kami

pergi dulu,” seru Marenka.

                Marenka menaiki mobil

di bantu Catherin dan Aiden. Aiden menyimpan kursi roda yang sudah di lipat ke

dalam bagasi mobil dan menutupnya. Catherin tampak menghampirinya.

                “Mengenai pembelaanmu

tadi, terima kasih,” seru Catherin.

                “Tidak masalah, sudah

seharusnya aku melakukan itu,” seru Aiden tersenyum.

                Untuk kedua kalinya

Aiden tersenyum tulus dari hati kepada seseorang. Pertama pada gadis kecil

bernama Jasmine dan yang kedua Catherin. Mereka berdua sama-sama mampu membuat

hati Aiden tenang dan hangat.

                “Baiklah, aku pergi.”

                “Cath-“ Aiden menahan

lengan Catherin yang hendak melangkah. Tatapan Catherin tertuju pada pegangan

tangan Aiden di lengannya membuat Aiden melepaskannya.

                “Apa setelah ini, kita

masih bisa bertemu dan berteman seperti dulu?” tanya Aiden.

                Raut wajah Catherin

berubah menjadi keras dan kembali menunjukkan ekspresi datarnya.

                “Maaf, tapi aku tidak

tertarik untuk berhubungan kembali denganmu. Aku harap setelah ini, kita tidak

akan pernah bertemu lagi.” Ucapan Catherin barusan membuat Aiden terpaku.

                “Terima kasih Mr.

Aiden karena sudah membantu banyak hal kepada kami. Mengenai pembayaran jasa

anda, saya akan menghubungi sekretaris anda. Permisi,” seru Catherin kembali

datar nan dingin.

                Ia melangkahkan

kakinya masuk ke bagian pengemudi dan tak lama mobilnya bergerak dan

meninggalkan tempat itu.

                ‘Kenapa kamu bersikap seperti

ini lagi padaku...?’ batin Aiden menatap mobil yang semakin menjauh.

                Tak ada yang tau akan

takdir kehidupan. Saat mereka memutuskan tidak akan pernah bertemu kembali,

tetapi takdir telah merencanakan hal lain di depan sana.

Aidenduduk di kursi

kebesarannya. Ingatannya melayang ke masa lalu dimana dirinya menghabiskan

waktu bersama Catherin. Gadis yang begitu ceria, cerewet, kasar dan tampil apa

adanya walaupun dia seorang nona dari keluarga milyader, tetapi sikapnya begitu

polos dan tidak sombong. Aiden begitu nyaman berteman dengannya walau tak lama

mereka saling mengenal dan berteman.

                Catherin mampu

membuatnya melupakan rasa sakit juga kekesalan didalam hatinya. Bahkan mereka

pernah kabur bersama menghindari para bodyguard Catherine dan bersembunyi di

atap sebuah gedung kosong. Di sana mereka membahas banyak hal, bermain kartu

dan tertawa bersama.

                Tetapi sekarang

Catherin telah berubah. Catherin yang sekarang bukan lagi Catherin yang dulu ia

kenal. Entah apa yang membuatnya menjadi berubah 180 derajat seperti ini. Apa

semua karena kesalahannya di masa lalu?

                Saat itu Aiden juga

tidak ingat apa yang terjadi di malam itu, karena dirinya dalam kondisi mabuk.

Tetapi saat ia sadar dan menemukan Catherin di sampingnya membuatnya menyadari

kalau dia telah menyakiti temannya itu.

                Dan satu hal yang baru

Aiden ketahui juga di hari itu. Bahkan dirinya yang pertama untuk Catherine.

                Aiden ingin meminta

maaf pada Catherin, tetapi sayangnya ia begitu sulit menemukan keberadaan

Catherin. Catherin sengaja menghindari dirinya.

                Di sisi lain Catherin

tengah duduk dengan memegang mug berisi greentea kesukaannya. Ia duduk di atas

kursi pantry menatap nyalang ke depan.

                Ingatannya kembali ke

kejadian kemarin dimana Aiden membela dirinya dan berusaha melindunginya.

Sebenarnya hati Catherin begitu tersentuh dan menghangat karena pembelaan itu.Ada

rasa sakit di hati Catherin saat ingatannya menerawang ke masa lalu, tetapi ia

juga tidak bisa menyalahkan Aiden akan hal ini. Dirinya sendirilah yang

bersalah, Catherin tau, bersama Aiden

seperti buah simalakama. Tetapi Catherin

tetap saja jatuh ke dalam lubang itu, membawa juga hatinya. Catherin tak

berdaya saat itu, iya juga tidak bisa menahan hatinya yang begitu saja jatuh ke

dalam pesona Aiden, sampai malam itu. Dirinya yang tidak berpikir panjang,

menyerahkan segalanya atas dasar cinta walaupun cintanya tak terbalaskan.

Tetapi ternyata rasanya begitu sangat amat menyakitkan dari cintanya yang tak

terbalaskan itu.

                Catherin bukan hanya

merasakan patah hati, tetapi juga hancur hati dan tubuhnya.

                Aiden....

                Catherin telah

bersumpah, ia tidak ingin mengenal nama itu lagi apalagi sampai memiliki

hubungan dengannya. Catherin takut, dia takut terjebak untuk kedua kalinya.

Aiden itu bagaikan buah simalakama.

                Siang itu Aiden yang

sedang menyetir mobil, tak sengaja melihat sosok Jasmine yang sedang duduk di

dekat sebuah bangunan tinggi sendirian.

                Aiden meminggirkan

mobilnya dan turun dari mobil. Ia berjalan menghampiri gadis kecil itu.

                “Hallo Mine,” sapanya

membuat Jasmine menengadahkan kepalanya.

                “Uncle tampan...”

serunya sangat senang.

                “Sedang apa di sini?”

tanya Aiden.

                “Aku sedang menunggu

Mommy menjemputku,” jawabnya.

                “Ibu angkatmu yang

waktu itu?” tanya Aiden.

                “Bukan, ini Mommy ku.

Kalau Ibu angkat hanya pengasuhku saja,” jawabnya membuat Aiden mengangguk.

                “Mommy kamu sedang ke

mana?” tanya Aiden.

                “Bekerja, aku baru

pulang latihan tari balet, dan Mommy biasa jemput aku disini,” serunya dengan

nada lucu.

                Aiden mengangguk

paham.

                “Eh Mommy datang,”

seru Jasmine saat melihat sebuah mobil dari kejauhan.

                Aiden hendak berbalik

ikut melihat tetapi handphone nya berdering. Ia mengurungkan niatnya untuk

menoleh dan mengangkat sambungan telpon.

                “Jasmine, Uncle harus

pergi sekarang. Mommy kamu sudah datang,kan?” seru Aiden.

                “Sudah Uncle,” jawab

Jasmine.

                “Baiklah kalau begitu

Uncle pergi dulu yah,” seru Aiden mengusap kepala Jasmine dan beranjak menuju

mobilnya kemudian meninggalkan tempat itu.

                Selang satu menit dari

kepergian Aiden, sebuah mobil berhenti di depan Jasmine. Jasmine segera

beranjak dari duduknya.

                “Mommy...” serunya

sangat bahagia seraya menaiki mobil.

                Wanita didalam mobil

itu adalah Catherin. Iamenatap ke depan

dimana mobil tadi melaju meninggalkan tempat itu.

                “Siapa yang berbicara

denganmu tadi?” tanya Catherin saat Jasmine sudah duduk di kursi penumpang di

sampingnya.

                “Oh itu Uncle tampan

yang waktu itu aku ceritain ke Mommy,” serunya dengan polos.

                ‘Aiden....!’ batinnya. ‘Apa

ini takdir...?’

1
Siarsazkia Siarsazkia
setelah bertahun ku tunggu akhirnya
Elok Pratiwi
tidak menarik
Amrisa Simatupang
jgn macam macam Aiden,ntar ada mine yg kedua Lo.. nikahi mommy mine dulu
Amrisa Simatupang
ayo mine jgn menyerah... ayo Aiden berjuanglah 🙏😁
Amrisa Simatupang
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
bunda R2
lanjut up lg kak thor,,,udah lama baru up lg😁
bunda R2
👍👍
Amrisa Simatupang
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂🌹
Rinnie Hassan Azhoeri
thor ini kenapa di ulang lagi....
maunya sih extra part nya saja thooor....
hehehe maaf yaa....
Susi Yanti
udah , cuma sampai dsn critanya ?
Tulip
Aiden sdh mulai nih mesumnya mau kumat
Tulip
🤣🤣🤣🤣
Tulip
🤣🤣🤣🤣yok kita bentur kepala aiden
Tulip
masak gak tau dg isi hati sendiri aiden... dulu gimana waktu sm agneta terbakar gak lihat agneta sm varo. pengen tak getok tu si aiden
Tulip
e. e. e. masih kok cemburu kan cath kamu anggap sahabat
Tulip
dasar gak peka aiden, masak gak tau alasan cathetrin pergi.
Tulip
merasa ya aiden tersindir. samalah dgmu aiden saat sm cathren menyebutkan nama wanita lain.
Tulip
masak lupa dg kesalahan masa lalu ketika bersama ageta. sungguh terlalu
Tulip
mmmm anknya aiden dg masa lalunya kali ya
faa
bener banget takdir d dunia novel ada d tangan autor😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!