Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Lapar
Keesokan paginya, Bima memanggil Iwan ke ruang kerjanya sebelum apel kedua dimulai.
Pintu ruangan ditutup. Di atas meja ada buku catatan minum Satya yang kemarin dibaca Bima di rumah.
“Kamu kenal orang yang membawa Laras ke sini?” tanyanya.
Iwan berdiri tegak. “Kenal namanya, Komandan. Perantara dari poliklinik pernah memakai jasanya.”
“Periksa lagi.”
“Periksa apa, Komandan?”
Bima mengangkat mata.
Iwan langsung merapatkan kedua tumit. “Siap. Laksanakan.”
“Suami, keluarga, alasan dia bekerja. Jangan bikin ribut di desanya.”
“Siap.”
Iwan berbalik, tetapi langkahnya tertahan oleh suara Bima.
“Jangan sampai dia tahu.”
“Siap, Komandan.”
Kali ini Iwan tidak berani bertanya mengapa seorang Danyon perlu mengetahui sedetail itu tentang pengasuh anaknya.
Hari baru berjalan setengah ketika ia kembali membawa kabar.
“Semuanya cocok, Komandan. Larasati Wijaya, dua puluh enam tahun. Istri almarhum Serka Wahyu Santoso. Suaminya gugur waktu bertugas. Punya anak perempuan, kira-kira seumur Satya, tinggal sama ibu mertuanya di Desa Girisari.”
Bima tetap menulis di atas map. “Lanjut.”
“Santunannya banyak diambil ibu kandung dan adik laki-lakinya. Adiknya punya utang judi. Laras kerja bukan karena meninggalkan anak. Justru untuk menghidupi anak itu.”
Ujung pena Bima berhenti.
“Siapa yang bilang?”
“Tetangga, perangkat desa, sama warung dekat rumah. Ceritanya sama. Tidak ada masalah laki-laki, tidak ada utang atas nama Laras, tidak pernah bikin keributan.” Iwan ragu sesaat. “Orang desa bilang dia terlalu sering mengalah.”
Iwan membuka kertas lipat dari saku. “Saya juga sempat bicara dengan Mbah Inah. Beliau tidak menjelekkan siapa pun. Cuma bilang uang belanja sering habis setelah Bu Jum datang. Nala sampai diberi bubur beras encer karena susu formula tidak terbeli.”
Rahang Bima bergerak.
“Mbah Inah tahu Laras diperiksa?”
“Saya bilang ini pendataan keluarga prajurit gugur. Saya tidak menyebut perintah Komandan.”
“Bagus.”
“Beliau cuma titip satu hal.”
Bima menunggu.
“Jangan biarkan Laras tidak makan. Katanya kalau disuruh memilih, perempuan itu akan memberikan bagian terakhirnya kepada anak.”
Ia bahkan tidak pernah mengeluhkan bagian yang hilang dari tangannya.
Tubuh yang lemah tidak akan mampu menjaga dua anak sekaligus.
Ruangan terasa lebih sunyi. Dari lapangan terdengar peluit latihan, pendek dan tajam.
Bima mengambil kembali pena, tetapi tidak menulis.
Bima menutup map.
“Itu penilaian mereka.”
“Siap.”
“Kamu tidak perlu ikut menilai.”
“Siap, Komandan.”
Iwan menahan napas. Wajah atasannya tetap datar, tetapi jari yang memegang pena tampak lebih kuat dari biasanya.
“Hari ini saya ikut latihan malam, Komandan,” kata Iwan. “Jatah makan rumah sudah saya titip ke dapur.”
“Pastikan sampai.”
“Siap.”
Setelah Iwan pergi, Bima bersandar. Ia seharusnya kembali membaca laporan kesiapan personel. Sebaliknya, matanya jatuh lagi pada buku catatan Satya.
Tulisan Laras rapi. Waktu menyusu, suhu tubuh, muntah, popok basah. Tidak ada satu baris pun tentang dirinya sendiri.
Entah mengapa hal itu membuat Bima kesal.
Di rumah dinas, Laras tidak tahu namanya baru saja dibicarakan.
Sejak pagi Satya lebih rewel. Tumbuh giginya belum tampak, tetapi gusinya merah. Ia menyusu sebentar, melepas, lalu menangis dan mencari lagi. Laras hampir tidak bisa meninggalkan kamar.
Sarapan datang terlambat. Seporsi nasi pecel telah dingin ketika sampai, tetapi Laras tetap memakannya sampai habis. Menjelang siang, tidak ada bungkusan kedua.
Ia menunggu sampai azan Zuhur lewat.
Satya tertidur. Laras memeriksa dapur, hanya menemukan sedikit nasi sisa semalam di wadah tertutup. Ia mengambil tiga sendok, menyiramnya dengan air panas, lalu menambahkan garam. Nasi lembek itu habis dalam beberapa suap.
Menjelang sore, perutnya mulai perih lagi.
Laras berniat berjalan ke dapur batalyon, tetapi baru sampai ujung jalan ia melihat dua perempuan yang kemarin berada di dekat sumur.
“Mau ambil jatah rumah Danyon?” salah satu dari mereka bertanya.
“Iya.”
“Iwan tidak mengantar hari ini?”
“Dia latihan malam.”
Perempuan itu tersenyum tipis. “Enak juga jadi orang kesayangan rumah komandan. Makan saja diantar.”
Laras mengeratkan gendongan Satya. “Itu jatah kerja saya, Bu. Bukan hadiah.”
“Kami cuma bercanda.”
Keduanya berlalu sambil berbisik. Laras berdiri beberapa detik, lalu berbalik pulang. Ia tahu seharusnya tidak memedulikan mereka. Namun jika ia masuk ke dapur dan meminta jatah, cerita baru akan lahir sebelum ia kembali ke rumah.
Ia lebih sanggup menahan lapar daripada memberi mereka bahan lain.
Magrib lewat. Tidak ada makanan datang.
Laras minum air, menyusui Satya, lalu minum lagi. Tubuhnya seperti sumur yang dipaksa terus mengalir meski tanah di sekitarnya mengering.
Saat Bima pulang setelah Isya, rumah terlihat gelap kecuali lampu kecil di kamar belakang. Ia meletakkan topi di meja dan melihat tidak ada wadah bekas makan di dapur.
Di koridor, ia mendengar Laras menenangkan Satya.
“Tidur dulu, Le. Jangan bangun sebentar-sebentar. Laras juga mau istirahat.”
Bima berhenti.
Panggilan itu terdengar ganjil, seolah Laras sendiri belum terbiasa. Namun Satya tenang mendengarnya.
Bima melangkah lagi tanpa mengetuk.
Di meja dapur, tempat nasi kosong. Ia membuka tudung saji, lalu lemari. Semua rapi, nyaris tidak tersentuh.
Ia teringat laporan Iwan. Seorang anak perempuan di desa. Santunan yang dipereteli keluarga. Seorang ibu menyusui yang menghitung setiap suap seolah makanan bisa berubah menjadi uang bila tidak ditelan.
Rasa kesal yang sejak pagi mengendap menjadi lebih tajam.
Di kamar belakang, Satya akhirnya tidur menjelang pukul sebelas. Laras membaringkannya pelan, menunggu napas bayi itu teratur. Ketika berdiri, pandangannya menghitam sesaat.
Ia memegang dinding.
“Jangan sekarang,” bisiknya pada tubuh sendiri.
Payudaranya kembali berat. Ia sudah menyusui berulang kali, tetapi air susu terus keluar membasahi kain tipis di balik blus. Tubuhnya meminta makanan dengan rasa nyeri yang tak bisa lagi ditipu air putih.
Laras mencoba berbaring. Lima menit kemudian, lambungnya seperti diremas dari dalam. Ia teringat dapur utama.
Mungkin ada nasi sisa. Mungkin satu butir telur. Bawang, cabai, sedikit minyak. Apa pun yang bisa dimasak tanpa mengurangi jatah orang lain terlalu banyak.
Ia duduk lagi.
Kalau Bima tahu, apakah ia akan dianggap mencuri?
Laras menatap Satya. Bayi itu tidur telentang, satu tangan mengepal dekat telinga. Ia tidak boleh kehabisan susu. Ia tidak boleh sakit. Nala menunggu uangnya, Satya membutuhkan tubuhnya, dan tak ada seorang pun yang akan menggantikan Laras bila ia roboh malam ini.
Dengan langkah pelan, ia keluar dari kamar.
Koridor gelap. Pintu ruang depan tertutup. Laras tidak tahu Bima masih terjaga di baliknya.
Ia mencapai dapur, lalu berdiri lama di depan pintu. Dari celahnya tercium bau wajan dingin, minyak, dan bawang putih yang tersimpan di rak.
Tangannya mencengkeram kusen ketika gelombang lapar membuat lututnya lemas.
Akhirnya Laras mendorong pintu dapur.