Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Anak Angkat
Aku tidak tidur sampai azan subuh terdengar dari kejauhan.
Setiap kali memejamkan mata, aku melihat Bang Jagur berdiri di depan pagar. Kadang dia membawa polisi. Kadang Bu Win menunjukku sambil berkata bahwa aku pembohong.
Namun yang datang ke kamarku hanya Mbok Nah.
Dia mengetuk pelan, lalu masuk membawa segelas susu hangat. “Non Sekar belum tidur, ya?”
Aku menggeleng.
“Pak Bram akan ditangkap?”
Mbok Nah meletakkan gelas di meja samping tempat tidur. “Den Bram tidak melakukan kesalahan.”
“Tapi aku ikut mobilnya.”
“Karena Non minta tolong.”
“Kalau polisi percaya Bang Jagur?”
“Karena itu pagi ini kita akan menunjukkan yang sebenarnya.”
Pukul tujuh, Bramantyo sudah menunggu di ruang tengah. Dia masih memakai kemeja semalam, tetapi jas abu-abu tersampir di lengannya. Deni berdiri di samping sofa bersama seorang pria berkacamata yang membawa map tebal.
“Sekar, ini Fikri,” kata Bramantyo. “Dia akan membantu urusan hukumnya.”
Fikri mengangguk kepadaku. “Selamat pagi. Saya perlu menanyakan beberapa hal, tetapi kamu boleh berhenti kapan saja kalau merasa tidak nyaman.”
Aku duduk di tepi kursi. “Polisi mau menangkap Om?”
Kata itu keluar begitu saja. Bramantyo menoleh, lalu ekspresinya melunak sedikit.
“Tidak,” jawab Fikri. “Pihak kepolisian meminta klarifikasi. Kita akan datang membawa bukti.”
Dia membuka map. Di dalamnya ada cetakan foto yang diambil Bramantyo semalam, tangkapan kamera jalan dekat gang, dan salinan dokumen kematian orang tuaku yang entah bagaimana sudah ditemukan Deni.
“Sebelum ke kantor polisi, kita perlu ke rumah sakit,” lanjut Fikri. “Dokter akan memeriksa lukamu dan membuat visum. Tidak ada pemeriksaan yang dilakukan tanpa penjelasan dan persetujuanmu.”
Kata rumah sakit membuat telapak tanganku dingin.
Bramantyo berjongkok di depanku agar pandangan kami sejajar. “Mbok Nah akan ikut. Saya juga tidak akan meninggalkanmu.”
“Kalau aku bilang semuanya, Bu Win masuk penjara?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
“Yang menentukan proses hukumnya adalah polisi dan pengadilan,” kata Fikri akhirnya. “Tugasmu hanya mengatakan yang benar. Apa yang Bu Win lakukan bukan salahmu.”
Aku menatap Bramantyo. “Kalau aku jujur, Om masih mau aku tinggal di sini?”
“Justru karena kamu jujur, saya akan lebih mudah melindungimu.”
Aku mengangguk.
RS Pondok Indah jauh lebih besar daripada puskesmas yang pernah kudatangi. Lantainya mengilap dan udara di dalamnya berbau antiseptik. Seorang dokter perempuan memeriksaku ditemani Mbok Nah. Dia menjelaskan sebelum menyentuh setiap luka, lalu meminta perawat memotret memar dan bekas luka untuk catatan medis.
Aku memalingkan wajah saat lengan bajuku dinaikkan.
“Bekas ini sudah lama?” tanyanya.
“Yang cokelat sekitar setahun. Yang di dekat siku minggu lalu.”
“Penyebabnya?”
“Tangkai sapu.”
Pena dokter berhenti sepersekian detik.
Pemeriksaan darah menunjukkan tubuhku kekurangan zat besi dan mengalami kurang gizi dalam waktu lama. Luka di telapak kaki tidak perlu dijahit, tetapi harus dibersihkan setiap hari. Semua itu dimasukkan ke visum et repertum.
Saat keluar dari ruang pemeriksaan, Bramantyo berdiri dari kursinya. Matanya melihat plester di lenganku, lalu wajahnya menegang.
“Sakit?”
“Sedikit.”
Dia tidak bertanya apa saja yang ditemukan dokter. Dia hanya memberikan sebotol air dan berjalan di sisiku sampai mobil.
Di kantor polisi, aku harus menceritakan semuanya sekali lagi. Tentang uang peninggalan Ibu. Tentang sekolah yang terputus. Tentang pukulan, lapar, dan pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Tentang Bu Win yang menyerahkanku untuk utang judi dua puluh tiga juta.
Seorang polisi perempuan mendampingiku selama pemeriksaan. Fikri duduk di sisi lain meja. Bramantyo menunggu di luar karena keteranganku harus diberikan tanpa diarahkan olehnya.
Ketika pintu akhirnya terbuka, aku langsung mencari wajahnya.
Dia masih ada.
“Sudah selesai?” tanyanya.
Aku mengangguk dan berdiri di sampingnya. Untuk pertama kali, aku tidak takut orang lain melihat bahwa aku memilih berlindung di dekatnya.
Deni datang membawa kabar menjelang sore. Rekaman kamera sebuah warung memperlihatkan Bu Win menyeretku menuju rumah Bang Jagur. Polisi juga menemukan meja judi, catatan pinjaman, dan beberapa orang lain yang ditahan di lokasi itu.
“Bang Jagur ditahan,” kata Deni. “Laporannya terhadap Bapak tidak terbukti. Penyidik beralih menangani perjudian ilegal dan dugaan eksploitasi anak.”
“Bu Win?” tanyaku.
Deni menunduk sedikit. “Rumahnya kosong. Dia pergi sebelum polisi datang.”
Jantungku jatuh ke perut.
“Berarti dia bisa kembali?”
“Polisi sedang mencarinya,” kata Bramantyo. “Pagar rumah ini dijaga. Kamu tidak akan dibawa siapa pun.”
Dua hari berikutnya dipenuhi tanda tangan, pertanyaan, dan orang-orang dewasa yang berbicara tentang perlindungan sementara. Aku tidak memahami semua istilah itu. Yang kupahami hanya satu: aku tidak perlu kembali ke kontrakan.
Fikri menjelaskan bahwa laporan terhadap Bu Win tidak bisa dihapus begitu saja hanya karena dia keluargaku. Polisi mencatat dugaan perdagangan orang dan kekerasan terhadap anak sebagai perkara yang harus tetap diselidiki. Aku sempat ingin meminta mereka berhenti mencarinya. Bukan karena memaafkan, melainkan karena takut dia akan semakin marah jika tertangkap.
“Kalau kamu diam, apa ketakutanmu hilang?” tanya Fikri.
Aku menggeleng.
“Kalau begitu, biarkan kami yang menghadapi prosesnya.”
Deni juga membawakan sandal putus yang tertinggal di depan rumah Bang Jagur. Benda itu dimasukkan ke kantong bukti bersama rekaman kamera warung. Melihat kawat tipis yang dulu kupasang sendiri, aku baru sadar betapa jauh kakiku sudah membawaku malam itu.
“Sandal ini nanti kembali ke aku?”
“Kalau pemeriksaan selesai dan kamu masih menginginkannya,” jawab Fikri.
Aku tidak yakin ingin memakainya lagi. Namun untuk pertama kalinya, sesuatu yang pernah dibuang bersamaku dianggap cukup penting untuk disimpan sebagai bukti.
Malam ketiga, Bramantyo memanggilku ke ruang tengah. Sebuah kotak kecil terletak di meja.
“Untukmu.”
Aku membukanya perlahan. Di dalamnya ada ponsel baru berwarna putih.
“Aku nggak bisa terima.”
“Kenapa?”
“Mahal.”
“Ini alat komunikasi, bukan hadiah untuk membuatmu berutang.” Dia duduk di sofa seberang. “Nomor saya, Mbok Nah, Deni, dan Fikri sudah disimpan. Kalau ada apa-apa, telepon.”
Aku mengusap layar yang masih bening. Tidak pernah ada barang baru yang sepenuhnya menjadi milikku. Bahkan seragam sekolah dulu dipakai bergantian dengan sepupu.
“Kalau aku menelepon malam-malam?”
“Saya angkat.”
“Kalau Om sedang kerja?”
“Saya tetap angkat.”
“Kalau aku cuma takut?”
Bramantyo menatapku tanpa tertawa.
“Selama ada Om, kamu aman.”
Sesuatu yang selama ini menekan dadaku perlahan melonggar. Aku menggenggam ponsel itu dengan kedua tangan.
“Tentang pertanyaan Om kemarin...”
Dia menunggu.
“Aku mau tinggal di sini.” Suaraku bergetar. “Kalau Om masih mau menjadikan aku anak angkat.”
Mbok Nah yang berdiri di dekat pintu menyeka matanya dengan ujung kerudung.
Bramantyo mengangguk pelan. “Baik. Kita urus semuanya dengan benar.”
Malam itu aku meletakkan ponsel baru di bawah bantal. Untuk pertama kalinya sejak tinggal bersama Bu Win, aku tidur tanpa memimpikan pintu dikunci dari luar atau tangkai sapu yang menghantam lantai.
Keesokan paginya, Fikri datang membawa map baru. Dia tidak ikut tersenyum ketika melihatku duduk bersama Bramantyo dan Mbok Nah.
“Ada satu hal yang harus Sekar pahami,” katanya. “Penetapan pengadilan untuk pengangkatan anak bisa memerlukan waktu berbulan-bulan. Sampai proses itu selesai, status Sekar masih penempatan perlindungan sementara.”
Tanganku mengencang di sekitar ponsel.
“Jadi aku masih bisa diambil dari sini?”