Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 009
Iya
Pukul dua belas lewat tujuh belas menit, Laras akhirnya menyerahkan posisi.
Ia menjalani overlap lima menit, membaca ulang checklist, lalu melepas headset. Bekas tekanannya masih terasa di pelipis ketika ia keluar dari ruang kendali bersama Pak Bagas.
“Besok masuk sore, kan?” tanya Bagas sambil memeriksa roster di tablet.
“Iya, Pak.”
“Jangan datang kepagian. Kamu sudah ambil tambahan dua jam malam ini.”
“Siap.”
Mereka melewati pemeriksaan akses, lalu berjalan menuju lobi. Hujan telah berhenti. Lantai di luar gedung memantulkan cahaya lampu jalan.
Bagas memasukkan tablet ke tas. “Ada kendaraan?”
“Saya pesan mobil online.”
“Tunggu di dalam sampai pengemudinya tiba.”
Laras baru hendak menjawab ketika melihat seseorang berdiri di dekat mobil hitam di seberang area jemput.
Kemeja putih. Celana gelap. Empat garis di pundak.
Arkan belum mengganti seragamnya.
Ia bersandar pada pintu mobil dengan kedua lengan terlipat. Dasi hitamnya sudah dilonggarkan, dan rambutnya tidak serapi saat di kafe. Begitu Laras keluar, ia langsung berdiri tegak.
Langkah Laras melambat.
Pak Bagas mengikuti arah pandangnya. “Kenal?”
“Iya.” Tenggorokan Laras tiba-tiba kering. “Dia yang menjemput saya.”
Arkan berjalan mendekat. Tatapannya singgah pada Bagas, lalu pada kartu identitas Laras yang masih tergantung di leher.
“Malam, Pak,” sapa Bagas lebih dulu. Matanya sempat menyentuh empat garis di pundak Arkan. “Kapten?”
“Arkan Wibisana.” Ia mengulurkan tangan. “Terima kasih sudah mengantar Laras keluar.”
“Bagas. Saya supervisornya malam ini.” Mereka berjabat tangan singkat. “Pastikan dia langsung istirahat. Shift-nya bertambah dua jam.”
“Saya antar pulang.”
Bagas mengangguk kepada Laras. “Sampai besok sore.”
Setelah atasannya masuk kembali ke gedung, Laras menatap Arkan dari ujung sepatu sampai pundak.
“Kamu habis terbang?”
“Baru landing empat puluh menit lalu.”
“Kenapa belum pulang?”
“Aku pulang lewat sini.”
Laras memandang jalan yang menuju kompleks AirNav, lalu kembali menatapnya. “Rumahmu bukan lewat sini.”
Arkan tidak terlihat bersalah. “Sekarang lewat.”
Ia membuka pintu penumpang untuk Laras.
Di dalam mobil, aroma kopi hitam bercampur dengan udara dingin pendingin kabin. Sebuah gelas kertas kosong berada di tempat minum. Laras memasang sabuk pengaman, masih berusaha memahami mengapa Arkan memilih menunggu di bawah gedung setelah penerbangan malam.
Sebuah kantong kertas berada di pangkuannya. Laras membukanya dan menemukan roti isi ayam serta sebotol air.
“Ini buat siapa?”
“Kamu.”
“Aku nggak bilang lapar.”
“Bu Wulan bilang kalau shift sibuk, kamu sering lupa makan.”
Seolah ingin mengkhianatinya, perut Laras berbunyi pelan. Ia buru-buru menutup kantong itu, tetapi Arkan sudah mendengar.
“Makan dulu.”
“Nanti di rumah.”
“Perjalanan hampir satu jam.”
Laras akhirnya membuka bungkus roti. Isinya masih sedikit hangat. “Kamu beli kapan?”
“Setelah keluar dari terminal.”
“Berarti kamu sudah menunggu berapa lama?”
Arkan melihat jam di pergelangan tangan. “Tiga puluh enam menit.”
“Kenapa nggak telepon?”
“Kamu sedang bekerja.”
Jawaban itu membuat Laras berhenti mengunyah. Arkan tidak tahu bahwa beberapa jam lalu pesawatnya berada di sektor Laras, tetapi ia tahu pekerjaan Laras tidak boleh diganggu. Ia memilih menunggu di bawah lampu jalan tanpa menuntut satu balasan pun.
Arkan masuk dari sisi pengemudi tetapi tidak segera menyalakan mesin.
“Kamu lihat pesanku?”
“Setelah selesai mengendalikan sektor.”
“Dan?”
“Kamu datang untuk menagih jawaban?”
“Aku datang supaya kamu tidak menjawab hal sebesar ini lewat chat.”
Laras menoleh kepadanya.
Ada bayangan lelah di bawah mata Arkan. Ia telah menghabiskan berjam-jam di kokpit, mendarat lewat tengah malam, lalu masih menyetir ke gedung AirNav. Namun, tatapannya tetap jernih.
“Sudah kamu pikirkan?” tanyanya.
Nada suaranya lebih rendah daripada di koridor reuni. Tidak ada tekanan, hanya keseriusan yang membuat ruang kabin terasa semakin sempit.
“Sudah.”
“Ada bagian yang ingin kamu ubah?”
Laras mengingat tiga hal di halaman belakang buku harian. “Aku tetap bekerja setelah menikah.”
“Sudah kita sepakati.”
“Jadwalku nggak selalu bisa menyesuaikan jadwalmu.”
“Aku tahu.”
“Kalau ada masalah, kita bicara berdua dulu. Bukan melalui Mama.”
“Setuju.”
“Dan aku butuh ruang sampai benar-benar siap.”
Arkan mengangguk tanpa jeda. “Kamu yang menentukan batasnya.”
Jawaban-jawaban itu membuat napas Laras lebih mudah. Ia masih takut. Tak ada daftar yang bisa menjamin pernikahan mereka akan berubah menjadi cinta dua arah. Namun, Arkan memberinya sesuatu yang lebih nyata daripada janji manis, hak untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
“Kalau begitu,” katanya, “iya.”
Arkan tidak bergerak selama satu detik.
Lalu ketegangan di rahangnya mengendur. Sudut bibirnya terangkat, lebih jelas daripada dua senyum tipis yang pernah Laras lihat.
“Iya?” ulangnya.
“Aku mau menikah denganmu.”
Mengucapkannya lengkap membuat pipi Laras panas. Ia menatap lurus ke depan, tetapi pantulan jendela menunjukkan Arkan masih memandangnya.
“Baik.”
Hanya itu jawabannya.
Arkan mengambil ponsel, tetapi berhenti sebelum membuka layar. “Kamu mau kabar ini disimpan dulu sampai keluarga bertemu?”
“Iya. Aku ingin memberi tahu Nindya sendiri.”
“Baik. Aku juga nggak akan bicara ke kru sebelum kamu siap.”
Hal kecil itu melegakan Laras. Arkan tidak memperlakukan jawabannya sebagai izin untuk mengambil alih seluruh cerita mereka.
Ia selalu bertanya sebelum melangkah.
“Baik?” Laras menoleh. “Aku baru menyetujui pernikahan, dan jawabanmu cuma baik?”
“Aku sedang menahan diri supaya tidak membuatmu berubah pikiran.”
Jantung Laras kembali kehilangan irama.
Arkan akhirnya menyalakan mesin. Tangannya berada di kemudi, tetapi senyum kecil itu belum benar-benar hilang.
“Aku akan bicara dengan Mama. Besok keluarga kita bisa mulai mengurus semuanya.”
“Besok?”
“Kamu ingin menunggu?”
Laras memikirkan buku harian sepuluh tahun, lalu menggeleng. “Nggak.”
Mobil bergerak meninggalkan kompleks AirNav. Di sepanjang jalan, Laras beberapa kali menekan telapak tangan ke paha agar tidak terus memeriksa apakah semua ini nyata.
Arkan tidak memaksanya bicara. Ia mengecilkan pendingin kabin ketika melihat Laras menggosok lengan, lalu menyalakan lampu baca agar perempuan itu bisa memeriksa pesan dari Wulan.
Mama:
Sudah dijemput Arkan?
Laras mengangkat layar ponsel. “Mama tahu kamu datang?”
“Aku tanya jam pulangmu.”
“Jadi kalian sudah berkomunikasi di belakangku.”
“Untuk memastikan kamu nggak pulang sendiri lewat tengah malam.”
Nada Arkan tetap datar, seolah menunggu lebih dari setengah jam setelah penerbangan merupakan bagian biasa dari perjalanan pulang.
Mobil berhenti di lampu merah. Arkan meliriknya.
“Istirahat besok. Setelah itu kita pilih waktu untuk pertemuan keluarga.”
“Bukannya masih banyak yang harus dibicarakan?”
“Mama dan Bu Wulan sudah membicarakan sebagian besar.”
Laras mulai curiga. “Sebagian besar itu seberapa banyak?”
Lampu berubah hijau. Arkan kembali menatap jalan.
“Kalau semua dokumen siap,” katanya tenang, “minggu depan akad.”
Laras menoleh begitu cepat sampai sabuk pengamannya menahan bahu.
“Minggu depan?”