Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku yang Membuka Takdir
Sebelum aku membuka mata di gedung opera itu...
Sebelum aku mengenal nama Christine Daaé.
Sebelum suara misterius yang kusebut sebagai Malaikat Musik mulai memenuhi kesunyian malamku...
Aku hanyalah seorang perempuan biasa.
Namaku Sofia. Setidaknya, itulah nama yang selama dua puluh empat tahun hidupku selalu kukenal. Aku bukan bangsawan. Bukan pula seorang penyanyi terkenal, penulis, ataupun perempuan dengan kehidupan yang luar biasa.
Aku hanya seorang karyawan biasa yang bekerja di sebuah perusahaan di Paris.
Setiap pagi aku bangun karena suara alarm yang menyebalkan, terburu-buru mengejar kereta, membeli kopi yang rasanya kadang terlalu pahit, kemudian menghabiskan sebagian besar waktuku di depan komputer.
Pekerjaanku tidak buruk. Gajinya cukup. Rekan-rekanku juga tidak terlalu menyebalkan. Namun, hidupku terasa... Biasa.
Terlalu biasa.
Aku sering kali merasa bahwa hidupku berjalan dalam lingkaran yang sama.
Bangun. Bekerja. Pulang. Makan malam. Membaca. Tidur.
Kemudian mengulanginya lagi keesokan hari.
Satu-satunya hal yang membuatku sedikit berbeda dari orang-orang di sekitarku mungkin adalah kegemaranku terhadap cerita klasik.
Aku menyukai kisah-kisah lama. Terutama kisah yang memiliki aroma misteri, sejarah, romansa, dan tragedi. Mungkin karena itu pula aku tidak pernah merasa bosan berjalan-jalan di tempat-tempat tua di Paris.
Bagiku, Paris bukan hanya kota. Paris adalah sebuah buku yang belum selesai ditulis.
Setiap jalan kecil, bangunan tua, gereja, teater, bahkan batu-batu di sepanjang trotoarnya seperti menyimpan kisah dari masa yang berbeda.
Aku sering membayangkan bagaimana kehidupan orang-orang yang pernah berjalan di tempat yang sama ratusan tahun lalu.
Siapa yang mereka cintai?
Apa yang mereka takutkan?
Apa yang mereka impikan?
Dan bagaimana rasanya hidup pada zaman ketika dunia belum mengenal teknologi seperti yang kami miliki sekarang?
Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti aku akan mendapatkan kesempatan untuk mengetahuinya. Dengan cara yang sama sekali tidak pernah kubayangkan.
Hari itu adalah hari Sabtu.
Aku masih mengingatnya dengan jelas.
Langit Paris mendung, dan hujan turun tipis sejak pagi. Karena tidak memiliki rencana apa pun, aku memutuskan untuk mengunjungi sebuah perpustakaan tua yang pernah kudengar dari salah seorang teman.
Perpustakaan itu terletak di sebuah jalan yang agak tersembunyi. Tidak besar. Tidak pula memiliki papan nama yang mencolok. Namun begitu aku mendorong pintunya, aroma kertas tua dan kayu memenuhi udara.
Aku langsung menyukainya.
Rak-rak tinggi memenuhi hampir seluruh ruangan. Buku-buku tua tersusun hingga mencapai langit-langit. Beberapa sampul telah kusam dimakan waktu, sementara yang lainnya masih tampak begitu indah meskipun usianya mungkin telah puluhan atau bahkan ratusan tahun.
Seorang lelaki tua duduk di balik meja dekat jendela. Ia mengenakan kacamata bundar dan sedang membaca buku dengan sampul kulit berwarna cokelat tua.
“Silakan melihat-lihat." Ia tidak mengangkat kepalanya ketika berbicara.
Aku tersenyum. “Terima kasih.”
Aku berjalan menyusuri rak demi rak. Entah berapa lama aku berada di sana.
Aku menemukan beberapa buku sejarah Paris, kumpulan puisi, novel-novel klasik, bahkan beberapa buku tua yang tidak lagi mudah ditemukan di toko buku modern.
Aku mengambil beberapa di antaranya.
Namun ketika aku hendak berbalik, mataku menangkap sesuatu di sudut rak.
Sebuah kotak kayu.
Aku mengerutkan kening. Kotak itu berbeda dari benda-benda lain di sekitarnya. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi pengerjaannya sangat indah.
Kayunya berwarna cokelat tua dengan ukiran bunga-bunga kecil di bagian tutupnya. Pada keempat sudutnya terdapat hiasan logam berwarna keemasan yang telah sedikit menghitam karena usia.
Anehnya, meskipun terlihat tua, kotak itu sama sekali tidak tampak usang. Justru sebaliknya.
Ia terlihat mewah. Elegan. Dan entah mengapa...
Aku merasa seperti sedang dipanggil.
Aku menoleh ke arah pemilik perpustakaan.
Ia masih membaca.
“Permisi.”
Ia mengangkat wajah.
“Ya?”
“Apa kotak ini juga dijual?”
Tatapannya langsung berubah. Ia memandang kotak itu, kemudian memandangku. Untuk beberapa saat, ia tidak menjawab.
“Di mana kau menemukannya?”
Aku menunjuk rak di belakangku. “Di sana.”
Lelaki tua itu terdiam. Kemudian ia berdiri dan berjalan mendekat. Ia mengusap permukaan kotak dengan ujung jarinya.
“Aneh.”
“Apa?”
“Seingatku, aku tidak pernah meletakkan benda ini di sana.”
Aku tertawa kecil. “Mungkin Bapak lupa.”
Mungkin ucapanku terdengar terlalu santai.
Namun lelaki tua itu tidak ikut tertawa.
Ia hanya menatap kotak tersebut.
“Jangan terlalu lama menyimpannya.”
Aku mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Entahlah.” Ia menarik napas.
“Kadang-kadang benda tua menyimpan lebih banyak daripada yang terlihat.”
Aku mengira itu hanya ucapan seorang lelaki tua yang terlalu menyukai cerita misteri.
Aku tersenyum. “Kalau begitu, bolehkah aku membukanya?”
Ia tidak menjawab. Namun akhirnya ia mengangguk. Aku mengangkat tutup kotak tersebut.
Klik.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada cahaya misterius.
Tidak ada sesuatu yang menyeramkan.
Namun aku langsung terpaku. Di dalamnya terdapat sebuah buku. Buku itu begitu indah hingga aku hampir lupa bernapas.
Sampulnya terbuat dari kulit berwarna biru tua yang hampir menyerupai hitam. Di tengahnya terdapat ukiran emas berbentuk bunga mawar yang dikelilingi ornamen rumit.
Tidak ada judul. Tidak ada nama penulis. Tidak ada penerbit.
Hanya sebuah lambang kecil di bagian bawah sampul. Sebuah topeng.
Aku mengulurkan tangan. Begitu jariku menyentuh sampul buku itu, tubuhku merasakan sensasi aneh.
Dingin.
Namun hanya sesaat. Aku menarik napas. “Buku apa ini?”
Lelaki tua itu mendekat. Ia tampak terkejut. “Aku tidak pernah melihat sampul itu sebelumnya.”
Aku menatapnya. “Bukankah ini perpustakaan Anda?”
“Ya.”
“Lalu bagaimana bisa ada di sini?”
Ia tidak menjawab.
Aku membuka halaman pertama. Kertasnya berwarna krem pucat. Aromanya sangat khas. Aroma buku tua.
Namun tulisan di dalamnya masih sangat jelas.
Aku membalik beberapa halaman.
Ada kisah-kisah mengenai Paris.
Kisah tentang istana.
Kisah tentang bangsawan.
Kisah tentang seniman.
Kisah tentang teater.
Dan beberapa cerita yang bahkan tidak pernah kudengar sebelumnya.
Aku membalik halaman demi halaman. Sampai akhirnya menemukan sebuah judul yang membuatku berhenti.
The Phantom of the Opera.
Mataku langsung berbinar. Aku menyukai kisah itu.
Bukan karena kisah cintanya semata, melainkan karena suasana misterius di balik gedung opera, sosok Phantom yang bersembunyi dalam bayangan, dan Christine yang terjebak di antara dunia nyata dan dunia yang tidak sepenuhnya dapat dipahami.
Aku memegang buku itu erat-erat. “Berapa harganya?”
Lelaki tua itu menatapku. “Ambillah.”
Aku terkejut. “Gratis?”
Ia mengangguk. “Buku itu sepertinya sudah memilih pemiliknya.”
Aku tertawa kecil. “Buku bisa memilih?”
Ia tidak menjawab. Hanya tersenyum samar.
Aku membawa buku itu pulang.
Tanpa mengetahui bahwa sejak saat itu, hidupku telah berubah.
...----------------...
Malamnya, aku kembali ke apartemen.
Paris terlihat begitu indah dari jendela.
Lampu-lampu jalan menyala di antara sisa hujan.
Aku membuat secangkir teh dan duduk di sofa.
Buku tua itu terletak di atas meja.
Aku memandangnya.
Sejak membawanya pulang, entah mengapa aku terus merasa buku itu memanggilku.
Akhirnya aku menyerah.
Aku mengambilnya.
“Baiklah.”
Aku membuka halaman pertama.
Kisah demi kisah mulai kubaca.
Beberapa di antaranya menarik.
Beberapa terasa menyedihkan.
Namun ada satu judul yang membuat tanganku berhenti membalik halaman.
The Phantom of the Opera.
Aku tersenyum.
“Phantom of the Opera?”
Aku mengenal cerita itu.
Kisah tentang gedung opera Paris. Tentang seorang gadis bernama Christine Daaé. Tentang seorang pria misterius yang bersembunyi di balik topeng.
Tentang cinta, obsesi, kecemburuan, dan tragedi yang terjadi di bawah kemegahan gedung opera.
Aku mulai membaca.
Semakin jauh aku membaca, semakin aku tenggelam.
Aku seolah-olah dapat mendengar musiknya.
Merasakan lorong-lorong gelap gedung opera.
Membayangkan lampu-lampu kristal yang menggantung dari langit-langit.
Dan sosok bertopeng yang bersembunyi di balik kegelapan.
Aku membalik halaman berikutnya.
Lalu halaman berikutnya.
Hingga akhirnya aku menemukan sebuah kalimat yang membuatku berhenti.
“Jika kau ingin mengetahui kisah yang sebenarnya, jangan hanya membaca dari sudut pandang mereka.”
Aku mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
Aku membalik halaman.
Tulisan di halaman berikutnya berbeda.
Tinta hitamnya tampak lebih gelap.
Christine Daaé tidak pernah benar-benar menceritakan kisahnya.
Aku terdiam.
Aku terus membaca.
Namun semakin banyak halaman yang kubaca, semakin aneh isinya.
Buku itu menceritakan perasaan Christine dengan cara yang tidak pernah kutemukan dalam versi cerita mana pun.
Ketakutannya.
Kesepiannya.
Harapannya.
Dan sosok Phantom yang ternyata menyimpan luka jauh lebih dalam daripada yang terlihat dari luar.
Aku mulai merasa seolah-olah bukan sedang membaca sebuah cerita.
Melainkan sedang membaca kehidupan seseorang.
Jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi.
Aku menguap.
“Seharusnya aku tidur.”
Namun tanganku masih membalik halaman.
Sampai akhirnya mataku terasa semakin berat.
Huruf-huruf di halaman mulai kabur.
Aku mencoba mengedipkan mata.
Tidak berhasil.
Aku menyandarkan kepala ke sofa.
“Lima menit saja...”
Buku itu masih terbuka di pangkuanku.
Angin malam masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.
Halaman buku bergerak sendiri.
Satu halaman.
Dua halaman.
Kemudian berhenti.
Pada halaman terakhir yang terbuka, terdapat sebuah ilustrasi.
Gedung opera.
Dan seorang gadis yang berdiri di atas panggung.
Di bawah gambar itu tertulis satu kalimat.
“Apakah kau bersedia menyanyikan kisahnya?”
Aku membaca kalimat itu dengan setengah sadar.
“Hm...”
Aku tersenyum kecil.
“Kalau bisa mengubah ending-nya, kenapa tidak?”
Itulah kalimat terakhir yang kuingat.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
...----------------...
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur.
Namun tiba-tiba aku mendengar suara musik.
Suara banyak orang.
Aku membuka mata.
Aku mengira diriku masih berada di apartemen.
Namun ketika pandanganku mulai jelas—
Aku langsung duduk.
“Apa...?”
Aku berada di sebuah ruangan yang asing.
Langit-langit tinggi.
Dinding penuh ornamen.
Lampu-lampu minyak.
Orang-orang berpakaian aneh berjalan tergesa-gesa di hadapanku.
Aku menatap pakaianku sendiri.
Gaun.
Bukan pakaian yang kukenakan sebelum tidur.
Aku berdiri dengan panik.
“Apa yang terjadi?”
Aku berlari ke arah sebuah cermin.
Dan di sanalah aku melihatnya.
Wajah seorang gadis muda.
Bukan wajahku.
Rambut panjang.
Mata biru.
Wajah yang pernah kulihat berkali-kali dalam ilustrasi buku.
Aku mundur selangkah.
“Tidak mungkin...”
Jantungku berdegup begitu keras.
Aku menyentuh wajahku.
Bayangan di cermin melakukan hal yang sama.
aku berlari ke lorong yang riuh.
"Ini... Ini..."
Aku terpaku.
...----------------...
Jauh di tempat lain, di atas meja apartemen yang kini kosong, buku tua itu masih terbuka.
Halaman terakhirnya perlahan berubah.
Tulisan yang sebelumnya berbunyi—
“Apakah kau bersedia menyanyikan kisahnya?”
menghilang.
Kemudian muncul tulisan baru.
“Kisah telah dimulai.”
Angin malam bertiup melewati halaman.
Buku itu menutup dirinya sendiri.
Dan untuk sesaat, ukiran topeng emas pada sampulnya tampak berkilau di bawah cahaya bulan.
Seolah-olah seseorang di balik topeng sedang tersenyum.
Sofia tidak pernah tahu bahwa ia bukan orang pertama yang membaca buku itu.
Dan mungkin...
Ia juga bukan orang terakhir.