NovelToon NovelToon
Bos Itu Mantan Pacarku

Bos Itu Mantan Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas Dendam
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.

Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.

Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.

apakah yang akan terjadi kepada mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tsania 9

Lantai marmer yang dingin membeku menyapa pipi Tsania. Pandangannya remang-remang, hanya menyisakan bayangan siluet plafon tinggi yang perlahan berputar. Napasnya tersengal parah, memburu seperti orang yang tenggelam. Dadanya sesak bukan cuma karena virus yang menggerogoti paru-parunya, melainkan hantaman kenyataan bahwasanya Arsen benar-benar telah melangkah jauh dari masa lalu mereka.

Klek.

Suara engsel pintu kaca berbunyi. Langkah kaki terburu-buru berderap mendekat.

"Tsania?!"

Bukan Arsen. Suara itu milik Maya yang menyelinap masuk membawa berkas revisi harian. Maya menjatuhkan map di tangannya, berlari menghampiri tubuh Tsania yang terkulai tak berdaya.

"Astaga, Tsania! Tuh kan, aku bilang apa!" teriak Maya panik setengah mati. Ia memangku kepala Tsania, meraba dahinya yang membara bagai membakar kulit.

"Panasmu makin menjadi-jadi! Kamu benar-benar sudah gila, Tsania! Kenapa harus memaksakan diri?!"

"Mbak... Maya..." lirih Tsania, kelopak matanya berat untuk terbuka.

"Tolong... ambilkan... berkas..."

"Gak ada berkas-berkasan lagi! Aku tidak peduli mau dipecat atau tidak, kamu harus ke rumah sakit sekarang!" sergah Maya, air matanya menetes mengenai pipi Tsania. Maya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang megah namun terasa seperti penjara.

"Di mana Pak Arsen?! Dia benar-benar tega meninggalkanmu dalam kondisi begini?!"

"Dia... pergi... makan siang... sama... Mbak Aurelia..." bisik Tsania sangat pelan sebelum akhirnya kegelapan benar-benar menyapu habis seluruh kesadarannya.

Sementara itu, di sebuah restoran Italia berkonsep fine dining yang tenang di kawasan Jalan Gunawarman, denting sendok dan garpu beradu pelan dengan piring porselen. Anggur merah tertuang anggun di dalam gelas kristal.

Aurelia memotong filet mignon di piringnya dengan gerakan gemulai, lalu menatap Arsen yang sejak tadi hanya memutar-mutar garpunya tanpa menyentuh makanan sedikit pun. Pandangan pria itu terus tertuju pada layar ponselnya yang tergeletak di atas meja, berharap ada notifikasi masuk, entah dari HRD, atau mungkin pesan pengunduran diri dari wanita keras kepala itu.

"Arsen, honey," tegur Aurelia, mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Kamu kenal dari mana wanita bernama Tsania itu? Aku perhatikan, sorot matamu beda kalau lagi menatap dia."

Arsen mendongak kaget, menyembunyikan keterkejutannya di balik wajah datar yang sempurna. "Maksudmu apa, Aurelia? Dia cuma karyawan baru yang kebetulan saya rekrut langsung."

"Benarkah?" Aurelia menaikkan sebelah alisnya, tersenyum miring penuh selidik.

"Tapi cara dia menatapku tadi bukan tatapan seorang karyawan ke tunangan bosnya. Ada rasa benci, kecewa, dan cemburu yang dalam sekali di matanya. Apa kalian punya hubungan di masa lalu?"

Jantung Arsen berdegup kencang secara tidak teratur. Kata tunangan yang diucapkan Aurelia terasa seperti guratan tebal yang makin menegaskan batas status mereka. Pernikahan bisnis keluarga mereka memang sedang digagas, walau Arsen belum pernah mengiyakannya secara resmi.

"Jangan mengada-ada," jawab Arsen dingin, mencoba memotong percakapan.

"Dia hanya staf biasa yang tidak tahu sopan santun. Lagipula, pembahasan ini membuang waktu."

"Baguslah kalau begitu," sahut Aurelia santai seraya menyapu bibirnya dengan serbet kain.

"Soalnya kalau sampai ada karyawan kelas bawah yang berani ganggu hubungan kita, aku tidak akan segan-segan minta Papi memecatnya hari itu juga. Kamu tahu sendiri kan seberapa besar saham Papi di Pratama Group?"

Arsen mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rasa mual mendadak menguasai perutnya. Kata-kata Aurelia yang angkuh biasanya tak pernah mengganggunya, namun hari ini, mendengarnya membuat dada Arsen terasa sangat sesak. Bayangan Tsania yang tadi pagi berdiri tegak meski tubuhnya gemetar parah kembali berputar.

Kenapa dia tidak mau mengalah sedikit saja? Kenapa dia harus memaksakan diri masuk kerja dalam kondisi mengenaskan seperti itu? Apakah rasa bencinya padaku jauh lebih besar daripada rasa sayangnya pada dirinya sendiri?

Ponsel Arsen di atas meja mendadak bergetar hebat. Nama Danu, sekretaris utamanya terpampang di layar.

Arsen langsung meraih ponselnya dan menggeser layar. "Ya, Danu?"

"Arsen!" suara Danu dari seberang telepon terdengar sangat panik dan tidak beraturan.

"Apa kamu masih makan siang dengan Aurelia? Tapi ada keadaan darurat di kantor!"

"Ada apa?" suara Arsen mendadak menajam, firasat buruk langsung menghantam dadanya.

"Tsania, Arsen! Tadi Mbak Maya menemukan Tsania sudah pingsan tidak sadarkan diri di lantai ruang kerjamu! Hidungnya sempat mengeluarkan darah dan suhunya tinggi sekali!"

Degh.

Darah di sekujur tubuh Arsen seolah berhenti mengalir. Pegangannya pada telepon mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. "Apa kamu bilang?!"

"Iya, Arsen! Mbak Maya panik dan langsung menghubungi ambulance. Sekarang Tsania sedang dilarikan kembali ke RS YPK Mandiri dalam kondisi koma ringan karena dehidrasi parah dan komplikasi infeksi paru-paru! Apa yang kamu lakukan padanya, Arsen? Kenapa kondisinya bisa separah itu? Apa kalian tak bisa bicarakan baik-baik masalah kalian di masa lalu? Jangan menyiksa dia seperti itu tanpa tahu alasan pastinya...!"

Tuuuuutt

Arsen menutup panggilan sepihak dari Danu, Sekretaris utama sekaligus temannya yang tahu hubungan dia dan Tsania di masa lalu.

"Arsen? Ada apa?" tanya Aurelia bingung melihat perubahan raut wajah Arsen yang mendadak pucat pasi.

Arsen tidak menjawab pertanyaan Aurelia. Pria itu berdiri begitu cepat hingga kursi kayunya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berderit nyaring di dalam restoran.

"Arsen! Kamu mau ke mana?!" teriak Aurelia ikut berdiri, wajahnya menunjukkan kekagetan luar biasa.

"Saya ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda," potong Arsen cepat, suaranya bergetar hebat, sebuah emosi yang belum pernah disaksikan oleh Aurelia sebelumnya.

"Tapi makan siang kita belum selesai! Danu kan bisa mengurus masalah kantor!" protes Aurelia seraya memegang lengan Arsen.

Arsen menghentakkan tangannya, melepaskan cengkeraman Aurelia secara kasar. "Lepaskan, Aurelia! Ini urusan sangat penting!"

Tanpa mempedulikan Aurelia yang berteriak memanggil namanya di tengah restoran yang megah itu, Arsen membalikkan badan dan berlari kencang menuju mobilnya. Ego, gengsi, dan amarah balas dendam yang dipeliharanya selama berbulan-bulan seketika hancur berkeping-keping, digantikan oleh rasa takut luar biasa yang mencengkeram dadanya: takut kehilangan Tsania untuk selamanya.

Suara raungan sirine ambulans membelah jalanan Jakarta yang mulai padat di siang hari. Di dalam ruang perawatan intensif RS YPK Mandiri, suasana mencekam begitu terasa. Dokter dan dua orang perawat sibuk memasang monitor jantung dan alat bantu pernapasan pada Tsania.

Raihan, yang baru saja menerima kabar dari Maya saat sedang rapat di sekitar area Menteng, langsung membatalkan janji bisniskunya dan berlari menuju lorong rumah sakit. Di depan pintu IGD, ia menemukan Maya sedang duduk menangis terisak-isak dengan kemeja yang ternoda bercak darah kering milik Tsania.

"Mbak Maya!" panggil Raihan dengan napas terengah-engah.

"Bagaimana kondisi Tsania?!"

Maya mendongak, matanya sembab dan merah.

"Mas Raihan..." tangis Maya pecah lagi.

"Tsania... Tsania nekad masuk kerja tadi pagi! Dia mencabut infusnya sendiri! Dan tadi dia pingsan di dalam ruangan si iblis itu sampai hidungnya pendarahan!"

Raihan memejamkan mata erat-erat, mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar. Kemarahan menjalar di dalam dadanya.

"Atasannya benar-benar tidak punya hati nurani! Bagaimana bisa dia membiarkan wanita dalam kondisi kritis bekerja?!"

"Dia sengaja menyiksa Tsania, Mas! Aku yakin itu!" bisik Maya di antara isak tangisnya.

Tak lama kemudian, langkah kaki yang berat dan terburu-buru bergema di lorong rumah sakit. Arsen muncul dengan napas memburu, jas hitamnya sudah ditanggalkan, kemeja putihnya kusut, dan rambutnya berantakan. Matanya liar mencari keberadaan ruang perawatan Tsania.

Saat mata Arsen berbenturan dengan sosok Maya dan Raihan di depan pintu IGD, ia langsung melangkah lebar mendekat.

1
Jumi Saddah
semoga lancar deh,,tidak ada yg menggagalkan,,biar semua kembali ke tempat nya sebagai mesti nya💪💪💪arsen semangat
kymlove...
sabar nya tinggal 2 hari lagi, kalau sehari up 2 x berarti kurang 4+1 part lagi untuk menjelang malam Sabtu, kalau sehari up sekali berarti nunggu kurang 2-3 part lagi menjelang Sabtu malam... jadi harus bisa sesabar itu nunggunya aku🥲🤣
Oma Gavin
menunggu sabtu lama banget 🥺
nely_48
cinta mu begitu besar n tulus pd arsen ya tsania ☹️
nely_48
sama² terluka n hancur,,,
nely_48
semoga tsania mendengarkan curhatan mu ya arsen
nely_48
tenang tsania karna itu ada
nely_48
udh ga sabar nunggu detik² bpak nya arsen n aurelia live
nely_48
tsania km tenang, jgn histeris gtu,
nely_48
langkah yg tepat arsen,, liatt dr jauh az gpp, pastikan bpak dajjal mu itu hancur kehilangan semua harta n nama yg sll dia agung²kan
nely_48
gila bpak nya arsen jahat nya udh level dajjal
Eva Karmita
Tsania please jgn berpikir yg tidak" cukup kamu diam tenang jgn sampai membuat kesalahan dan itu bisa membuat Arsen dlm bahaya...ini demi keselamatan kamu dan Arsen 🥺
Eva Karmita
syukurlah Nia sudah mendengar semua pengakuan Arsen 🥺
Eva Karmita
bukan Arsen tidak mau mendengarkan penjelasan mu tapi kamu Nia yg ngak pernah mau menjelaskan dengan Arsen 🥺 ... kalian berdua sama"terluka dan korban ke jahat si Bisma dan keluarga Aurel, semoga kesalah pahaman ini cepat terbongkar
kymlove...
lalu kamu mau apa tsania?? pergi lagi dan berharap arsen akan tenang hidup nya?? atau mau menghalangi niat arsen untuk membongkar kejahatan bapaknya!!! trs apa lagi yang mau kamu mau?? sudah tau kalian sama2 korban kekejaman bapak nya arsen, harus nya kamu kalau bisa dukung tindakan arsen, jangan malah menghalangi dengan alasan takut arsen di hancur kan lagi, INGAT SEBELUM INI KALIAN JUGA UDAH HANCUR!! JANGAN SELALU JADI LEMAH ATAS NAMA CINTA!! CUKUP SUDAH PENDERITAAN MU INI!!
kymlove...
sabtu malam nanti segera lah tiba!! tapi ini. masih senin sore jadi kira2 kurang berapa. part lagi untuk mencapai. sabtu itu🥲 gak sabar banget. lihat para orang jahat itu hancur...
kymlove...: kayaknya kita harus sabar dulu nunggu sabtu nya kk.. soalnya sekarang masih malam selasa🤣😀
total 2 replies
Oma Gavin
kenapa menuju sabtu saja lama banget
Sri Suryati
kan Arsen nanya stania . kenapa kamu meninggalkan aku
kymlove...
kalian semua sama-sama jadi korban tapi menurut ku tsania lebih menyakitkan sampai kehilangan orang tuanya dan masih harus menerima kebencian yang mendarah daging dari keluarga arsen, jadi kalau dengan arsen menghancurkan keluarga nya dan langsung tsania maafin gitu aja, kayaknya gak terlalu adil banget buat tsania yang tersiksa terlalu lama...
gina altira
Puas kamu Arsen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!