Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 : Kamu itu sakit atau tidak
Nadira meletakkan map berisi laporan pemeriksaan pasien di atas meja Direktur. "Ini laporan pemeriksaan seluruh pasien Bangsal Mawar, Pak."
Direktur rumah sakit segera mengambil map itu sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Baik. Terima kasih, Suster Nadira."
Nadira mengangguk sopan. "Kalau begitu saya permisi."
Setelah pintu tertutup, pria berjas itu mengembuskan napas lega. "Hampir saja."
Direktur tersenyum tipis. "Dia tidak mendengar apa-apa. Aku akan pastikan tidak ada yang mencurigai kita."
Pria berjas itu mengangguk sebelum meninggalkan ruangan melalui pintu belakang.
Sementara itu, di Bangsal Mawar...
Adrian sedang duduk di kursi dekat jendela ketika seorang petugas datang membawa obat-obatan.
"Sudah waktunya minum obat."
Adrian hanya melirik sekilas. Petugas itu mengeluarkan beberapa kapsul dan meletakkannya di telapak tangan Adrian.
"Ayo, telan."
Adrian menatap obat itu beberapa saat. Ia tahu, jika terus menolak, mereka akan menyuntiknya dengan obat penenang. Dengan perlahan ia memasukkan obat itu ke mulut. Petugas memperhatikan hingga Adrian meneguk segelas air putih.
"Bagus."
Setelah yakin obat telah diminum, petugas pun keluar. Beberapa menit berlalu, Adrian mencoba memuntahkan obat seperti biasanya. Namun kali ini... salah satu kapsul telah terlanjur larut.
"Aduh..."
Kepalanya mendadak terasa berat. Pandangannya mulai kabur. Ia mencoba berdiri, tetapi kedua kakinya kehilangan tenaga.
Bruk!
Tubuh Adrian ambruk menghantam lantai.
Di ruang perawat...
"Suster Nadira!" Seorang perawat berlari tergesa-gesa. "Pasien kamar tujuh pingsan!"
Wajah Nadira langsung berubah panik. "Adrian?"
Ia spontan berlari menuju kamar nomor tujuh. Saat pintu dibuka, Adrian sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Ya Tuhan..." Nadira segera berlutut di sampingnya. "Adrian... Adrian!" Ia menepuk pelan pipi pria itu.
Tidak ada respons.
"Nadi lemah..." gumamnya sambil memeriksa pergelangan tangan Adrian. "Cepat panggil dokter!"
Beberapa perawat segera berlari, tak lama kemudian dokter jaga datang sambil mendorong brankar.
"Angkat dia ke ruang observasi!"
Dengan sigap mereka memindahkan tubuh Adrian. Nadira ikut mendorong brankar sambil terus memperhatikan wajah pucat pria itu. Entah mengapa... dadanya terasa sesak melihat Adrian dalam keadaan seperti itu.
Di ruang observasi... Dokter segera memasang infus dan memeriksa tekanan darah Adrian. "Hipotensi... tekanan darahnya turun cukup drastis."
Nadira berdiri di samping ranjang dengan wajah cemas. "Dok, apa penyebabnya?"
Dokter melirik hasil pemeriksaan sekilas. "Mungkin tubuhnya belum bisa beradaptasi dengan obat."
Jawaban itu terdengar sederhana, namun Nadira masih merasa ada yang janggal. "Kalau begitu, apakah dosis obatnya perlu dikurangi?"
Belum sempat dokter menjawab...
Direktur rumah sakit tiba-tiba masuk ke ruangan. "Tidak perlu... Biarkan semua tetap sesuai prosedur."
Dokter langsung mengangguk. "Baik, Pak."
Direktur kemudian menoleh kearah Nadira. "Kamu kembali bekerja saja. Pasien ini akan kami tangani."
Nadira tampak ragu. "Tapi, Pak... saya ingin tetap mendampinginya."
Direktur menggeleng tegas. "Tidak perlu... nanti setelah kondisinya stabil, kamu boleh kembali."
Mau tak mau Nadira menuruti perintah atasannya. Ia melangkah keluar dengan perasaan gelisah. Sesaat sebelum pintu tertutup, ia sempat menoleh. Dilihatnya Adrian masih terbaring tak sadarkan diri, wajahnya semakin pucat.
Tanpa disadari, jemarinya mengepal kuat. "Aku harap kamu baik-baik saja..." bisiknya lirih.
Begitu Nadira pergi, senyum ramah di wajah Direktur menghilang. Ia memandang dokter jaga dengan tatapan tajam.
"Pastikan pasien itu tetap berada di bawah pengaruh obat Jangan sampai dia terlalu cepat sadarkan diri."
Dokter itu tampak ragu. "Pak... kalau dosisnya terus ditambah, saya khawatir akan membahayakan kondisinya."
Direktur mendekat. "Kerjakan saja, kalau tidak... orang lain yang akan menggantikan posisimu."
Dokter itu menelan ludah, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menatap botol obat penenang di atas meja.
Kini suara monitor detak jantung terdengar teratur. Adrian masih terbaring tak sadarkan diri. Infus menetes perlahan, sementara wajahnya terlihat jauh lebih pucat dibandingkan sebelumnya.
Dokter jaga berdiri di samping ranjang dengan raut wajah gelisah. Tangannya beberapa kali mengepal sebelum akhirnya menatap botol obat penenang yang berada di atas meja.
"Apa aku harus melakukan ini...?" gumamnya lirih.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Direktur rumah sakit masuk dengan langkah tenang. "Kenapa belum kau diberikan?"
Dokter itu menoleh. "Pak Direktur, tekanan darahnya masih rendah. Kalau dosis obat ditambah lagi, saya khawatir kondisinya akan semakin memburuk."
Direktur itu menatapnya tajam. "Dokter Bima. Saya rasa Anda masih ingat siapa yang membantu melunasi hutang rumah sakit anak Anda."
Wajah Dokter Bima langsung berubah pucat, ia menggigit bibir bawahnya. Ancaman itu membuatnya tak mampu berkata apa-apa lagi. Dengan tangan gemetar, ia mengambil spuit berisi cairan bening. Saat jarum hampir menyentuh selang infus Adrian...
"Tunggu!" Suara seorang perawat membuat keduanya menoleh.
Nadira berdiri di ambang pintu sambil membawa hasil pemeriksaan laboratorium. "Maaf, Pak. Hasil darah pasien Adrian sudah keluar."
Direktur segera mengubah ekspresinya menjadi ramah. "Oh... letakkan saja di meja."
Nadira menghampiri meja dokter, tanpa sengaja matanya menangkap spuit yang masih berada di tangan Dokter Bima.
"Dok, bukankah pasien baru saja mendapat obat tadi siang?"
Dokter Bima tampak gugup. "I-iya... ini hanya vitamin."
"Vitamin?" Nadira mengernyit. "Kalau vitamin biasanya warnanya kuning, kan?"
Belum sempat Dokter Bima menjawab...
Direktur lebih dulu menyela. "Nadira. Kamu terlalu banyak bertanya."
Ucapan itu membuat Nadira langsung menundukkan kepala. "Maaf, Pak."
"Silahkan kembali ke bangsal."
"Baik."
Nadira pun keluar dari ruangan. Namun langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Entah mengapa, ia merasa semua orang bersikap aneh sejak Adrian dirawat.
Setelah Nadira pergi, Dokter Bima mengembuskan napas panjang. "Hampir saja."
Direktur menatapnya dingin. "Jangan sampai dia curiga."
"Saya mengerti."
Dengan perasaan bersalah, Dokter Bima akhirnya menyuntikkan cairan tersebut ke dalam selang infus Adrian.
Beberapa detik kemudian...
Alis Adrian sedikit berkerut. Kelopak matanya bergerak pelan.
"Dia akan sadar!" seru Dokter Bima.
Direktur segera mendekat. Namun bukannya membuka mata, Adrian kembali terkulai lemah. Tubuhnya kembali kehilangan kesadaran.
Direktur tersenyum puas. "Bagus, biarkan dia tetap seperti ini."
Sementara itu, Nadira kembali ke ruang perawat. Namun pikirannya terus dipenuhi wajah Adrian. Ia membuka berkas medis pasien itu sekali lagi.
Semakin lama membaca, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan. "Tidak ada riwayat gangguan jiwa sejak kecil, tidak pernah menjalani terapi psikiatri, tidak ada catatan rawat inap sebelumnya..."
Nadira mengernyit. "Lalu kenapa diagnosisnya bisa langsung gangguan jiwa berat, ini sangat aneh." Ia membalik halaman berikutnya. Matanya membulat. "Semua hasil pemeriksaan psikiater... ditandatangani oleh dokter yang sama." Perasaan tidak nyaman mulai menyelimuti hatinya. "Sebenarnya kamu itu sakit jiwa atau tidak sih, Adrian Mahendra?"