NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Pemilik Baru Klub Utama

"Pak, saya sudah bilang keputusan komite final."

Pak Harjono menghadang Raka di lobi Klub Utama Surabaya tiga hari kemudian dengan wajah yang sama seperti sebelumnya: sopan, dingin, dan yakin pagar tua masih berdiri di belakangnya. Bedanya, kali ini gerbang dibuka karena Bayu berjalan di depan sambil membawa map legal.

Fajar menikmati setiap langkah. "Udara di dalam ternyata sama saja, Bos. Kirain oksigennya harus punya silsilah."

Harjono menatapnya tajam. "Klub ini bukan tempat lelucon."

Bayu membuka map.

"Benar. Ini tempat rapat pemegang saham. Perkenalkan, Pak Harjono, pemilik mayoritas baru Klub Utama Surabaya: Pak Raka Surya Pratama, melalui struktur PT Langit Sembilan. Total kepemilikan 67 persen."

Harjono mengambil dokumen. Jarinya gemetar sebelum wajahnya sempat mengaku kalah.

"Tidak mungkin. Penjualan saham harus melalui notifikasi komite."

"Sudah. Pasal tujuh ayat tiga. Notifikasi dilakukan setelah akta jual beli saham ditandatangani. Sebelum itu, tidak ada perintah keluar. Anda sendiri yang menyusun aturan itu dua belas tahun lalu untuk memudahkan anggota lama menjual kepada keluarga dekat. Sayangnya, celah yang dibuat untuk orang dalam juga bisa dipakai oleh orang yang membaca."

Fajar berbisik, "Bayu, menikahlah dengan pasal itu."

Bayu tidak menoleh. "Saya tidak menikahi benda yang lebih bodoh dari saya."

Lima anggota komite datang terburu-buru. Ada yang memakai jas tanpa dasi, ada yang masih memegang cangkir kopi. Mereka membaca dokumen bergantian. Tidak ada yang bisa membantah angka 67 persen.

Raka berjalan ke ruang utama. Kursi kulit besar di tengah ruangan biasanya hanya dipakai ketua kehormatan. Harjono ingin berkata sesuatu, tetapi Bayu sudah lebih dulu menarik kursi itu sedikit ke belakang.

Raka duduk.

Hening.

Bukan karena semua orang setuju. Karena semua orang sedang menghitung ulang siapa yang boleh berbicara.

"Tenang," kata Raka. "Saya tidak datang untuk membakar klub ini."

Salah satu komite, Bu Ratna, bertanya hati-hati, "Apa tujuan Bapak membeli Klub Utama?"

"Menghapus aturan yang menolak manusia karena nama belakangnya tidak cukup tua."

Harjono langsung menjawab, "Tradisi itu menjaga kualitas anggota."

"Tidak. Perilaku menjaga kualitas. Kontribusi menjaga kualitas. Integritas menjaga kualitas. Silsilah hanya membuat orang malas membuktikan diri."

Kata-kata itu memukul ruangan tua yang selama ini terbiasa dengan bahasa lebih bundar.

Raka meletakkan surat penolakan di meja.

"Saya bahkan tidak mendaftar. Nama saya diajukan orang lain, lalu Anda gunakan untuk membuat saya berdiri di luar pagar. Itu bukan tradisi. Itu pertunjukan kecil untuk menunjukkan siapa yang boleh masuk."

Harjono pucat.

Bayu membagikan rancangan keputusan pemegang saham.

"Agenda hari ini sederhana: penghapusan syarat silsilah keluarga, pembentukan komite etika keanggotaan baru, audit penolakan dua puluh tahun terakhir, dan evaluasi jabatan sekretaris."

Harjono berdiri. "Anda tidak bisa mempermalukan saya di klub yang saya jaga seumur hidup."

Raka menatapnya. "Saya tidak mempermalukan Anda. Saya membaca arsip Anda. Empat puluh tujuh orang ditolak. Beberapa pengusaha, beberapa dokter, beberapa seniman, semua karena tidak punya rekomendasi keluarga lama. Minggu depan saya mengundang mereka ke sini."

Komite bergemuruh.

Fajar tersenyum lebar. "Pesta untuk yang tertolak. Enak judulnya."

Satu anggota komite mencoba menolak dengan alasan citra. Hendra yang ikut hadir sebagai saksi akhirnya bicara.

"Citra klub ini sudah membusuk pelan-pelan karena kalian terlalu sibuk memoles kenangan. Raka hanya membuka jendela."

Nama Hendra masih cukup berat untuk membuat ruangan diam lagi.

Mimpi memberi notifikasi.

[Pengaruh sosial meningkat. Struktur kepemilikan Klub Utama terkunci. Loyalitas staf inti belum stabil.]

Raka tidak mengharapkan loyalitas hari itu. Ia hanya butuh aturan berubah di atas kertas.

Keputusan ditandatangani. Harjono tidak kehilangan jabatan langsung, tetapi kuasanya dipotong. Semua penolakan baru harus melalui komite etika yang diawasi pemilik mayoritas. Audit dimulai. Data 47 orang dikirim ke Fajar untuk undangan.

Saat Raka berdiri hendak pergi, ia berhenti di depan Harjono.

"Pak Harjono, minggu depan Anda tetap hadir."

"Untuk apa?"

"Menyambut tamu. Termasuk 47 orang yang Anda tolak selama dua puluh tahun."

Wajah Harjono memutih.

Di pintu keluar, penjaga yang dulu menyerahkan amplop kini membungkuk terlalu dalam.

Fajar menatap gerbang tua yang sama.

"Bos, rasanya gimana masuk lewat pintu yang kemarin nutup?"

Raka memasukkan surat penolakan ke map. Tidak satu pun dibuang. Benda itu bukti sebelum menjadi kenangan.

Raka juga meminta laporan keuangan klub dibuka di layar. Angka-angkanya tidak seanggun furnitur kayu jati di ruangan itu. Iuran anggota menurun, biaya perawatan naik, dapur merugi, dan beberapa acara keluarga lama dibayar terlambat. Klub yang mengaku menjaga kemurnian ternyata bertahan dengan menunda tagihan vendor.

"Pak Harjono," kata Raka, "tradisi tidak membayar listrik?"

Wajah beberapa komite berubah. Harjono mencoba menjawab bahwa itu hanya masalah arus kas, tetapi Bayu sudah menunjuk satu baris lain: pembayaran renovasi ruang billiard kepada perusahaan milik kerabat anggota komite dengan harga terlalu tinggi.

"Audit penuh," kata Raka.

Bu Ratna, yang sejak tadi hati-hati, akhirnya mengangguk. Ia belum berada di pihak Raka. Namun ia melihat kesempatan menyelamatkan klub dari orang-orang yang terlalu lama bersembunyi di balik kata warisan. Keputusan audit membuat dua anggota komite lain langsung berkeringat.

Raka tidak perlu membentak. Ia hanya mengubah ruangan dari ruang nostalgia menjadi ruang bisnis. Di sana, nama keluarga tidak bisa menutup invoice, dan tongkat perak tidak bisa menghapus angka merah.

Setelah rapat, satu pelayan tua diam-diam menghampiri Fajar dan berkata bahwa selama ini staf juga takut pada Harjono. Jadwal lembur tidak jelas, tips acara besar sering hilang. Fajar melapor kepada Raka. Raka langsung menambahkan evaluasi hak staf ke agenda audit. Kalau pintu dibuka untuk anggota baru tetapi dapur tetap ditindas, perubahan itu hanya cat baru di dinding busuk.

Di akhir rapat, Raka meminta semua staf klub dikumpulkan sebentar di aula samping. Ia memberi kepastian dengan kalimat pendek: tidak ada pemecatan massal, gaji tertunda dibayar, dan jalur keluhan dibuka langsung ke manajemen baru. Beberapa staf saling memandang tidak percaya. Mereka terbiasa mendengar pergantian pemilik berarti pemotongan.

Seorang pelayan perempuan berusia empat puluhan menunduk dan berkata, "Terima kasih, Pak. Kami cuma ingin kerja tenang." Raka menjawab bahwa kerja tenang adalah hak yang tercatat, lengkap dengan tanda tangan dan saksi. Kalimat itu sampai ke telinga komite lama. Mereka semakin paham bahwa pemilik baru tidak hanya mengambil kursi utama; ia mengambil hati orang-orang yang selama ini membuat klub berjalan.

Sebelum keluar, Raka meminta papan aturan lama di lorong diturunkan. Tidak dibuang. Disimpan sebagai bukti bahwa aturan buruk pernah terlihat terhormat.

"Lebih baik daripada mengetuk."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!