Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 — PERTANYAAN YANG TIDAK TERJAWAB
Malam itu, langit di atas Pesantren Al-Faruqi seolah enggan menumpahkan hujannya lagi, menyisakan hawa dingin yang mengendap kaku di balik kisi-kisi jendela. Di kamar lantai dua, Aurel tidak tidur semalaman.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan kertas surat tua milik almarhumah ibunya yang tinta hitamnya memudar berputar-putar di benaknya. Tatapan mata Nadia yang jernih saat berdiri di teras sore kemarin, serta suaranya yang halus namun sarat bobot misteri, terus berulang bak pita rekaman yang rusak:
Pernikahan kalian bukan sekadar kebetulan.
Aurel berbaring miring menatap dinding kamar yang temaram. Di seberangnya, di balik selimut tipis di atas sofa, Rasyid tertidur dalam keheningan yang rapuh. Aurel mendengar embusan napas suaminya yang teratur, tetapi alih-alih memberikan kedamaian, suara itu justru makin menyiksa ulu hatinya. Rasa hangat dan kepedulian yang baru saja tumbuh mekar di antara mereka kini tertutup kabut tebal berupa ketakutan: Apakah Rasyid bertahan di sisinya karena benar-benar menginginkannya, atau sekadar menjalankan amanah janji orang tua yang tak sanggup ia tolak?
Ketika azan subuh berkumandang dari menara masjid utama, Aurel langsung bangkit dari ranjangnya. Ia tidak menunggu Rasyid terbangun. Ia membasuh wajahnya di kamar mandi, mengganti piyamanya dengan celana kain hitam dan tunik abu-abu, lalu melangkah keluar kamar.
Pagi itu, Aurel menanti di teras samping rumah.
Ia tidak ikut menyiapkan sarapan di dapur bersama Nur Aini atau bercanda dengan Salma. Matanya terus terpaku pada selasar beraspal menuju aula madrasah tempat Rasyid mengajar santri pagi.
Pukul delapan lewat sepuluh menit, sosok yang ditunggunya akhirnya muncul.
Rasyid melangkah menyusuri selasar halaman dengan ketenangan khasnya. Pria itu mengenakan baju koko katun warna putih bersih, sarung tenun hijau zamrud, dan peci hitam polos. Kitab tebal bermerek pita merah ada di genggaman tangan kirinya.
Melihat Rasyid berjalan mendekati tangga teras, Aurel langsung berdiri dari kursi rotannya. Tanpa basa-basi, ia melangkah cepat mencegat suaminya di anak tangga teratas.
"Rasyid," panggil Aurel.
Suaranya tidak tinggi, namun nada tegas dan serak akibat tidak tidur semalaman membuat langkah Rasyid terhenti seketika.
Rasyid mendongak. Binar matanya yang jernih menyapu raut wajah Aurel yang tampak pucat dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Binar cemas langsung membayang di mata Rasyid.
"Ya, Aurel?" sahut Rasyid halus seraya membetulkan letak kitab di tangannya. "Kamu... sudah bangun dari tadi? Wajahmu tampak lelah sekali."
"Aku mau tanya sesuatu," potong Aurel tajam. Ia tidak membalas perhatian kecil itu.
Rasyid memperhatikan raut tegang di wajah istrinya. Ia mengangguk pelan, memberikan seluruh perhatiannya. "Kenapa, Aurel? Tanya apa?"
Aurel tidak menjawab dengan kata-kata. Dari saku tuniknya, ia mengeluarkan selembar kertas tua yang terlipat rapi—surat almarhumah ibunya yang ditemukannya di rumah lamanya kemarin. Aurel mengulurkan kertas itu tepat di depan dada Rasyid.
"Jelasin ini ke aku," tuntut Aurel pelan, jemarinya meremas tepi kertas.
Rasyid menatap lembaran kertas bergaris yang disodorkan Aurel. Keningnya berkerut pelan saat mengenali tulisan tangan di atasnya. Rasyid meraih surat itu dengan gerakan yang amat tenang, membukanya, lalu membaca baris demi baris tulisan tangan almarhumah Rina Nathania.
Aurel tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Rasyid. Ia mencari jejak syok, ketakutan, atau rasa bersalah.
Namun, ekspresi wajah Rasyid berubah secara berangsur. Ketenangan santainya luntur, berganti menjadi guratan ketegangan yang amat halus. Rahangnya rapat, dan matanya meredup dipenuhi rasa iba serta keraguan yang teramat berat.
Aurel menyadari perubahan ekspresi itu seketika. Dadanya mencelos.
"Kamu tahu kan?" sergap Aurel, suaranya bergetar menahan air mata yang mulai berkaca-kaca. "Kamu udah tahu soal surat ini dari sebelum kita nikah?"
Rasyid perlahan melipat kembali kertas tua itu dengan teramat rapi. Ia mengulurkannya kembali pada Aurel tanpa menatap lurus ke dalam mata istrinya—sebuah gesture langka yang menegaskan adanya rahasia yang ia tahan.
"Aku tahu sedikit, Aurel," jawab Rasyid rendah. Suaranya jernih, namun berat oleh beban batin.
"Sedikit itu apa?!" desak Aurel, melangkah satu tindak lebih dekat. "Kenapa ibuku nulis surat ini untuk Bah Abdul dua belas tahun lalu? Kenapa ibuku bilang keluargamu menyelamatkan keluarga kami dari musibah besar? Dan kenapa ibuku minta kamu sama aku disatukan?!"
Pertanyaan-pertanyaan itu terlontar seperti amunisi yang menembus keheningan teras pagi.
Rasyid menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara pagi yang dingin mengisi paru-parunya. Pria itu menatap netra cokelat terang milik Aurel yang kini memancarkan rasa terluka dan krisis kepercayaan yang amat besar.
"Aku belum bisa menjawab semuanya, Aurel," kata Rasyid pelan namun mantap.
Aurel merasa emosinya mendadak membumbung tinggi. "Kenapa?! Kenapa kamu selalu main rahasia-rahasiaan sama aku?! Kamu yang selalu minta aku buat terbuka, tapi sekarang kamu sendiri yang nutup pintu rapat-rapat!"
"Karena ini bukan rahasia milikku untuk kubagikan, Aurel," tegas Rasyid. Suaranya tidak tinggi, tetapi mengandung batas kehormatan yang tak tergoyahkan. "Ada bagian dari masa lalu ini yang seharusnya ayahmu sendiri—Pak Hamdan—yang menjalaskannya padamu. Bukan aku, dan bukan Bah Abdul."
Jawaban itu bukannya menenangkan, melainkan justru membakar rasa curiga Aurel hingga ke puncaknya.
Aurel tertawa tipis—sebuah tawa kering dan penuh kepahitan. Ia merebut kertas surat itu dari tangan Rasyid, meremasnya pelan lalu memasukannya kembali ke saku tuniknya.
"Lucu ya," bisik Aurel seraya menatap Rasyid dengan pandangan penuh kekecewaan. "Semua orang di sekitar aku selalu bilang 'nanti ada waktunya', 'ini bukan kapasitasku', 'tanya ayahmu'. Kalian semua memperlakukan aku kayak anak kecil yang cuma boleh terima jadi dari keputusan yang kalian bikin dua belas tahun lalu."
"Aurel, bukan begitu—" Rasyid mencoba mengulurkan tangannya hendak menyentuh bahu Aurel.
"Jangan sentuh aku, Rasyid," potong Aurel dingin seraya melangkah mundur dua tindak.
Aurel menatap suaminya dengan mata yang tergenang air mata jernih. "Aku mau ketemu Ayah sekarang juga. Dan kalau ternyata kamu nikahin aku cuma demi menjalankan amanah janji keluarga... aku nggak akan pernah dimaafin kamu."
Aurel berbalik dan melangkah lebar-lebar menunju arah garasi samping tempat mobilnya terparkir, meninggalkan Rasyid yang berdiri sendirian di anak tangga teras dengan dada yang serasa terhimpit batu besar.