Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — INFORMASINYA SALAH. DIA BUKAN ORANG BIASA!
“Jangan lama-lama.”
Adrian masih memegang ponselnya ketika suara sistem kembali terdengar di kepalanya.
【Peringatan.】
【Sinyal ancaman baru terdeteksi.】
Adrian berhenti.
“Hah?”
Dia perlahan menurunkan ponselnya.
Baru saja dia hendak kembali ke permainan, sesuatu melintas sangat cepat di sisi wajahnya.
Sret!
Adrian spontan memiringkan kepala.
Sebuah benda tajam melewati telinganya dan menancap pada tiang besi di belakang.
Adrian menoleh.
Sebuah pisau.
“Serius?”
Belum sempat dia menarik napas, seorang pria muncul dari balik bayangan.
Gerakannya sangat cepat.
Tidak seperti para pembunuh sebelumnya.
Pria itu langsung menerjang.
Adrian mengangkat tangan.
Buk!
Serangan pertama berhasil ditahan.
Namun kekuatan lawannya membuat Adrian terdorong setengah langkah.
Adrian mengangkat alis.
“Oh.”
Pria itu kembali menyerang.
Kali ini dengan pukulan bertubi-tubi.
Adrian menghindar ke kiri.
Pukulan kedua datang dari kanan.
Dia menunduk.
Serangan ketiga menyapu bagian belakang kepalanya.
Adrian melompat mundur.
“Lumayan.”
Pria itu tidak menjawab.
Dia justru mempercepat serangan.
Adrian akhirnya berhenti menghindar.
Saat sebuah pukulan meluncur ke arah wajahnya, Adrian menangkap pergelangan tangan lawan.
Tubuhnya berputar.
Lengan pria itu ditarik melewati bahunya.
Krek!
Sendinya terkunci.
Pria itu meringis.
Adrian mendorongnya ke bawah.
Namun pria itu masih mampu bertahan.
Dia memutar tubuh dan melepaskan diri.
Keduanya kembali berdiri berhadapan.
Adrian mulai serius.
“Berarti kalian punya satu orang yang agak kuat.”
Pria itu menatap Adrian dengan dingin.
“Kau belum melihat semuanya.”
Adrian tersenyum.
“Kalau begitu tunjukkan.”
---
Tidak jauh dari sana, beberapa orang yang masih mampu berdiri menyaksikan pertarungan tersebut.
Mereka adalah anggota kelompok kedua yang baru saja menyaksikan pemimpin mereka dikalahkan.
Namun sekarang muncul orang lain.
Seseorang yang sejak awal tidak ikut menyerang.
Dia berdiri di balik bangunan tua, mengenakan pakaian gelap tanpa tanda.
Namanya Iron Fang.
Dia adalah salah satu petarung khusus yang dikirim sebagai cadangan.
Ketika melihat Adrian masih berdiri setelah menghadapi puluhan orang, ekspresinya berubah.
“Tidak mungkin.”
Rekannya menoleh.
“Apa?”
Iron Fang tidak menjawab.
Matanya terus mengikuti gerakan Adrian.
“Kecepatan itu...”
Dia mengepalkan tangan.
“Informasi yang kita terima salah.”
“Seberapa salah?”
Iron Fang menarik napas.
“Dia bukan orang biasa.”
---
Di sisi lain kota tua, suara tembakan tiba-tiba terdengar.
DOR!
Adrian langsung memiringkan tubuh.
Peluru lewat di sampingnya.
Dia melihat ke arah datangnya tembakan.
Jauh di atas sebuah bangunan tua, seseorang sedang membidiknya.
Penembak runduk.
Adrian menyipitkan mata.
“Lagi?”
Penembak itu menarik pelatuk.
DOR!
Kali ini Adrian bergerak bahkan sebelum suara tembakan terdengar.
Tubuhnya bergeser.
Peluru menghantam tanah.
Brak!
Adrian melihat bekas tembakan.
Kemudian menatap bangunan tersebut.
“Main dari jauh?”
Dia mengambil sebuah batu kecil.
Tangannya bergerak.
Sret!
Batu itu melesat.
Jarak ratusan meter seolah tidak berarti.
Penembak di atas bangunan baru saja hendak mengisi ulang ketika—
Brak!
Batu menghantam senjatanya.
Senapan terlempar.
Penembak tersebut terpaku.
“Apa...?”
Adrian sudah berbalik.
Dia tidak punya waktu untuk memperhatikan ekspresinya.
Ada orang lain yang datang.
Dari kiri.
Dari kanan.
Dari belakang.
Mereka terus berdatangan.
Adrian mendesah.
“Benar-benar tidak habis-habis.”
Dia melihat ponselnya.
Pertandingan masih berjalan.
“Kalau aku sampai kena hukuman karena meninggalkan permainan, kalian yang bayar.”
---
Di dalam kendaraan komando, Sienna hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Dia menghindari tembakan itu?”
Teknisi mengangguk.
“Bukan hanya menghindari.”
Dia memperbesar rekaman.
“Dia bergerak sebelum penembak menarik pelatuk.”
Sienna terdiam.
“Tidak mungkin.”
Teknisi menelan ludah.
“Bu... kemampuan reaksinya sudah di luar perkiraan kita.”
Sienna kembali melihat layar.
Titik-titik yang mewakili kelompok pembunuh terus berkurang.
Satu demi satu.
“Berapa orang yang masih aktif?”
“Kurang dari setengah.”
“Dan Adrian?”
“Masih berdiri.”
Sienna menghela napas.
“Orang itu benar-benar monster.”
---
Di kota tua, Adrian mulai kehilangan kesabaran.
Seorang pria menyerang dengan tongkat besi.
Adrian menghindar.
Dia menangkap ujung tongkat.
Menarik.
Lawannya kehilangan keseimbangan.
Adrian memutar tongkat tersebut dan menghantam kaki pria itu.
Buk!
Pria itu jatuh.
Dua orang lain datang dari belakang.
Adrian tidak menoleh.
Kakinya bergerak ke belakang.
Duk!
Tumitnya menghantam perut salah satu lawan.
Tubuhnya terlipat.
Adrian berputar.
Sikutnya menghantam rahang lawan kedua.
Buk!
Pria itu langsung jatuh.
Adrian menatap sekeliling.
“Masih ada?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Beberapa pembunuh justru mulai mundur.
Adrian mengerutkan kening.
“Jangan mundur.”
Mereka menatapnya seperti melihat orang gila.
Adrian menunjuk mereka.
“Kalian tadi yang datang.”
Dia menghela napas.
“Sekarang malah kabur?”
Salah satu dari mereka berteriak,
“Dia bukan manusia!”
Yang lain langsung berbalik dan lari.
Adrian menggaruk kepala.
“Kenapa malah jadi begitu?”
Dia hendak mengejar ketika suara sistem terdengar.
【Peringatan.】
【Ancaman jarak jauh terdeteksi.】
Adrian berhenti.
Matanya langsung mengarah ke sebuah gedung tinggi.
Perasaan aneh muncul di kepalanya.
Bukan suara.
Bukan bayangan.
Hanya semacam dorongan naluriah.
Bahaya.
Adrian langsung bergerak.
BOOM!
Sebuah peluru berkaliber besar menghantam tempat dia berdiri.
Ledakan kecil terjadi.
Debu dan serpihan batu beterbangan.
Adrian berguling ke balik tembok.
Dia mengangkat kepala.
“Wah.”
Dia menyentuh rambutnya.
Masih utuh.
Namun ponselnya hampir terlepas dari saku.
Adrian langsung memeriksanya.
Layar masih menyala.
Aman.
“Untung.”
Dia mengembuskan napas lega.
Kemudian wajahnya berubah.
“Siapa yang nembak?”
---
Di puncak gedung tua yang berjarak lebih dari satu kilometer dari lokasi Adrian, seorang pria perlahan menurunkan senapan runduk berukuran besar.
Julukannya Ghost.
Dia adalah penembak utama kelompok ketiga.
Di sampingnya terdapat pengamat yang terus memperhatikan layar.
Ghost menatap lubang bekas tembakan melalui teropong.
“Dia menghindar?”
Pengamat mengangguk cepat.
“Ya.”
“Mustahil.”
“Pelurunya bahkan sudah berada di jalur tembak.”
Ghost mengatur ulang posisi.
“Tidak ada manusia yang bisa melakukan itu.”
Dia kembali membidik.
“Target sudah bergerak ke balik perlindungan.”
Pengamat menatap layar.
“Apakah kita lanjutkan?”
Ghost tersenyum dingin.
“Tentu.”
Dia menarik napas.
“Kalau satu peluru tidak cukup...”
Jarinya menyentuh pelatuk.
“Gunakan lebih banyak.”
---
Adrian baru saja keluar dari balik tembok ketika suara tembakan lain terdengar.
DOR!
Dia menghindar.
Peluru menghantam bangunan.
DOR!
Tembakan kedua.
Adrian melompat ke samping.
DOR!
Tembakan ketiga.
Dia bergerak semakin cepat.
Setiap peluru melewati posisi yang baru saja ditinggalkannya.
Adrian akhirnya berhenti di balik sebuah pilar beton.
“Orang ini cerewet juga.”
Dia mengintip.
Tembakan kembali datang.
DOR!
Pilar beton di depannya terkikis.
Adrian menatap kerusakan itu.
Kemudian melihat ke arah gedung.
“Jauh banget.”
Dia mengeluarkan ponsel.
Membuka kamera.
Kemudian mengarahkannya ke gedung tersebut.
“Zoom...”
Layar memperbesar gambar.
Adrian akhirnya melihat sosok di atas gedung.
“Ketemu.”
Dia menyimpan ponselnya.
Kemudian berdiri.
Namun sebelum bergerak—
DOR!
Peluru kembali datang.
Adrian menunduk.
Peluru melewati bagian atas kepalanya.
Dia menghela napas.
“Sudah.”
Adrian menatap gedung itu.
“Sekarang giliranku.”
---
Ghost kembali menatap teropong.
Target berdiri.
Dia bahkan tidak bersembunyi lagi.
Ghost tersenyum.
“Bodoh.”
Dia membidik kepala Adrian.
“Sekarang kau tidak punya tempat untuk lari.”
Jarinya menekan pelatuk.
Namun sebelum tembakan dilepaskan—
Sesuatu menghantam wajahnya.
Brak!
Ghost terlempar ke belakang.
Senapan terlepas dari tangannya.
Dia menatap benda yang baru saja mengenai wajahnya.
Sebuah baut besi.
Ghost menatap ke bawah.
Tidak ada siapa-siapa.
Kemudian dia melihat ke arah jauh.
Adrian berdiri di jalan.
Jarak lebih dari satu kilometer.
Dan pemuda itu baru saja melempar baut ke arahnya.
Ghost membeku.
“Tidak mungkin.”
Pengamat di sampingnya bahkan kehilangan kata-kata.
“Dia... melemparnya dari sana?”
Adrian mengangkat tangan dari kejauhan.
“Oi!”
Ghost tidak bisa mendengar suaranya.
Namun gerakan bibir Adrian jelas terlihat.
“Turun.”
Ghost merasakan bulu kuduknya berdiri.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia merasa bukan sedang memburu seseorang.
Dia sedang diburu.
---
Di bawah gedung, Adrian sudah bergerak.
Tubuhnya melesat melewati gang.
Dia tidak perlu menggunakan tangga.
Satu pagar.
Satu dinding.
Satu atap rendah.
Semuanya dilewati dengan cepat.
Beberapa pembunuh mencoba menghalangi.
Namun mereka bahkan tidak sempat menyentuhnya.
Adrian terus bergerak menuju posisi Ghost.
Sementara di belakangnya, kelompok pembunuh yang tersisa mulai panik.
“Dia menuju ke arah penembak!”
“Cepat hentikan!”
“Jangan biarkan dia sampai ke sana!”
Mereka mengejar.
Namun jarak terus bertambah.
Adrian jauh lebih cepat.
---
Ghost akhirnya mengambil pistol cadangan.
Dia mundur.
“Jangan mendekat!”
Adrian muncul di pintu gedung.
Ghost mengangkat pistol.
Tangannya gemetar.
Adrian menatapnya.
“Kau tadi nembak aku?”
Ghost menelan ludah.
“Siapa kau?”
“Aku sudah bilang.”
Adrian melangkah maju.
“Adrian.”
“Tidak mungkin.”
Ghost menggeleng.
“Data kami mengatakan kau hanyalah target biasa.”
Adrian mengangkat bahu.
“Data kalian salah.”
Ghost menembak.
Adrian menggeser kepala.
Peluru lewat.
Adrian langsung berada di depannya.
Satu pukulan menghantam perut.
Buk!
Ghost terjatuh.
Pistol terlepas.
Adrian mengambil senapan runduk yang tadi terjatuh.
Dia melihatnya.
“Berat.”
Dia menimbangnya sebentar.
“Kalau dijual mungkin lumayan.”
Ghost terbaring di lantai sambil menatap Adrian.
“Kau...”
Adrian menoleh.
“Apa?”
“Informasi kami... salah.”
Adrian tersenyum.
“Ya.”
Dia meletakkan senapan.
“Dari awal.”
---
Beberapa menit kemudian, suara sistem kembali terdengar.
【Tahap lanjutan terdeteksi.】
Adrian menatap panel.
Namun kali ini ekspresinya tidak langsung senang.
Ada sesuatu yang berbeda.
【Terdeteksi peningkatan tingkat ancaman.】
【Kelompok berikutnya telah mengubah strategi.】
Adrian mengangkat alis.
“Berarti masih ada?”
【Benar.】
【Mereka tidak akan datang untuk pertarungan biasa.】
Adrian menyeringai.
“Lebih menarik.”
Dia kembali ke bawah.
Namun sebelum pergi, dia mengambil ponselnya.
Layar gim masih menyala.
Adrian melihat skor.
Matanya langsung membesar.
“Lho?”
“Timku hampir kalah?”
Wajahnya berubah.
“Gawat.”
Dia langsung memasukkan ponsel ke saku.
“Yang lain nanti saja.”
Adrian berlari kembali menuju menara air.
“Aku harus menang dulu.”
Di kejauhan, beberapa kelompok bersenjata yang masih tersisa mulai bergerak.
Mereka mengira Adrian sedang sibuk menghadapi ancaman.
Mereka salah.
Saat ini, satu-satunya hal yang benar-benar membuat Adrian panik bukanlah para pembunuh.
Melainkan kemungkinan kalah dalam pertandingan gimnya sendiri.
Dan tanpa mereka sadari...
gelombang berikutnya sudah bergerak menuju Darsen.