Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Ciiiit.
Sebuah taksi biru berhenti tepat di depan pelataran lobi utama Rumah Sakit Medika Sentosa.
Rizal turun dari taksi dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu terakhir dari dompetnya kepada sang sopir.
Pemuda itu kini berdiri di depan gedung megah berlantai lima belas yang menjulang tinggi menantang langit Jakarta.
Dia menatap layar ponselnya yang retak untuk memeriksa kotak masuk emailnya.
[Sistem telah mentransfer kepemilikan seratus persen saham Rumah Sakit Medika Sentosa atas nama Anda.]
[Semua dokumen legalitas, sertifikat, dan akta notaris telah diatur secara otomatis dan aman.]
Senyum percaya diri mulai mengembang di wajah Rizal yang biasanya selalu terlihat lelah.
Rumah sakit swasta elit yang melayani kalangan atas ini sekarang benar-benar miliknya seutuhnya.
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki Rizal berayun pelan memasuki lobi utama yang berlapis marmer mengkilap.
Pakaian kasualnya yang kusam dan sepatu ketsnya yang sudah mengelupas tampak sangat kontras dengan suasana mewah di sekitarnya.
Beberapa perawat dan pengunjung sempat meliriknya dengan tatapan meremehkan.
Rizal mengabaikan mereka dan berniat langsung menuju meja resepsionis untuk mencari ruang direktur.
"Rizal? Sedang apa gembel sepertimu di sini?"
Sebuah suara melengking yang sangat familiar tiba-tiba menghentikan langkah pemuda itu.
Rizal menoleh perlahan dan matanya langsung menyipit tajam.
Nadia berdiri tidak jauh darinya dengan mengenakan gaun merah mencolok dan tas tangan bermerek yang baru.
Wanita yang baru saja menipunya beberapa jam lalu itu sedang menggandeng lengan seorang pria berdandan necis.
"Wah, dunia ini ternyata sempit sekali ya, Nadia."
Rizal menjawab dengan nada datar tanpa menunjukkan emosi sedih sedikit pun.
Nadia mendengus kasar dan menatap Rizal dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan jijik.
"Kamu mengikutiku sampai ke sini ya? Dasar pria menyedihkan!"
"Mengikutimu? Jangan terlalu percaya diri, aku punya urusan sendiri di sini."
Pria necis di sebelah Nadia tiba-tiba tertawa kecil dan menepuk bahu kekasih barunya itu.
"Sayang, inikah mantan pacarmu yang miskin dan bodoh itu?"
Nadia langsung bersandar manja di bahu pria itu sambil tersenyum merendahkan.
"Iya Mas Raka, dia ini pria yang uang tabungannya aku pakai untuk liburan kita ke Bali besok."
Raka, pria necis itu, menatap Rizal dengan dagu terangkat tinggi.
"Namaku Raka, aku adalah pengusaha muda dan pemilik beberapa showroom mobil mewah di Jakarta."
"Aku tidak bertanya siapa namamu dan apa pekerjaanmu."
Rizal membalas ucapan Raka dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Wajah Raka sedikit memerah karena merasa diremehkan oleh pria berpakaian lusuh di depannya.
"Berani sekali kamu bersikap sombong di depanku, dasar gelandangan."
"Lalu aku harus bersikap bagaimana pada orang yang menampung barang bekasku?"
Plak!
Nadia memukul udara dengan tangannya karena tidak terima disebut barang bekas.
"Jaga mulutmu Rizal! Kamu itu cuma pecundang yang baru dipecat dari pekerjaan rendahanmu!"
"Dan kamu adalah penipu yang memakan uang hasil keringat orang lain."
"Uang seratus juta itu bukan apa-apa bagi Mas Raka, dia bisa memberiku sepuluh kali lipat dalam sehari!"
Nadia terus memamerkan Raka untuk menjatuhkan harga diri Rizal.
Raka yang merasa dibanggakan kembali membusungkan dadanya dengan sombong.
"Tentu saja, uang seratus juta itu hanya uang jajan sehari-hariku."
Ting!
[Mendeteksi adanya kebohongan yang diucapkan di sekitar Tuan.]
[Kebohongan: Uang seratus juta adalah uang jajan sehari-hari Raka. Faktanya, dia sedang terlilit hutang pinjaman online.]
Suara mekanis sistem tiba-tiba bergema di dalam kepala Rizal.
Rizal hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar fakta yang dibongkar oleh sistemnya.
"Uang jajan sehari-hari ya? Hebat sekali Tuan Raka ini."
"Tentu saja, lagipula orang miskin sepertimu mau apa ke rumah sakit elit ini?"
Raka menunjuk dada Rizal dengan jari telunjuknya.
"Jangan-jangan kamu mau melamar jadi petugas kebersihan ya di sini?"
"Aku datang ke sini untuk memeriksa aset milikku."
Mendengar jawaban Rizal, Nadia dan Raka langsung tertawa terbahak-bahak hingga menarik perhatian orang-orang di lobi.
"Aset milikmu? Kamu bilang rumah sakit ini aset milikmu?"
Nadia memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Rizal, kamu pasti sudah gila karena aku putuskan dan aku ambil uangmu."
Raka menggelengkan kepalanya dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat.
"Sayang, sepertinya mantanmu ini butuh dirawat di bangsal kejiwaan."
"Mas Raka benar, orang miskin ini sudah kehilangan akal sehatnya."
"Biar aku beritahu kamu sesuatu anak muda, aku ini kenal dekat dengan Direktur rumah sakit ini."
Raka menepuk dadanya sendiri dengan penuh kebanggaan.
"Aku bisa menyuruh Direktur Gunawan untuk melemparmu keluar dari sini sekarang juga!"
Ting!
[Mendeteksi adanya kebohongan yang diarahkan kepada Tuan.]
[Kebohongan: Raka kenal dekat dengan Direktur Gunawan dan bisa menyuruhnya.]
[Memproses manipulasi realitas...]
[Manipulasi berhasil. Direktur Gunawan saat ini sedang turun ke lobi untuk menemui Anda sebagai pemilik sah rumah sakit.]
Rizal tersenyum lebar mendengar notifikasi dari sistem tersebut.
Sistemnya benar-benar pintar dalam memanfaatkan kebohongan musuh untuk mempermalukan mereka sendiri.
"Oh ya? Kamu kenal dekat dengan Direktur Gunawan?"
"Tentu saja! Kami sering bermain golf bersama setiap akhir pekan!"
Raka berbohong dengan sangat lancar tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kalau begitu, mari kita buktikan seberapa dekat kamu dengannya."
Rizal melipat tangannya di dada sambil menatap ke arah lift VIP yang baru saja terbuka.
Seorang pria paruh baya mengenakan jas dokter yang sangat rapi berjalan tergesa-gesa keluar dari lift.
Pria itu diikuti oleh beberapa staf administrasi dan kepala keamanan di belakangnya.
"Lihat itu sayang, Direktur Gunawan kebetulan sedang turun ke lobi."
Nadia menunjuk rombongan dokter tersebut dengan mata berbinar.
"Mas Raka, cepat suruh dia mengusir gembel ini dari hadapanku."
Raka sebenarnya mulai berkeringat dingin karena dia sama sekali tidak mengenal Direktur Gunawan secara pribadi.
Namun demi menjaga gengsinya di depan Nadia, Raka memberanikan diri melangkah maju.
"Selamat siang, Direktur Gunawan!"
Raka menyapa dengan suara lantang sambil mengulurkan tangannya.
Direktur Gunawan yang sedang berjalan terburu-buru itu hanya melirik Raka sekilas tanpa menghentikan langkahnya.
Beliau benar-benar mengabaikan uluran tangan Raka dan terus berjalan melewatinyanya begitu saja.
Tangan Raka menggantung di udara dengan wajah yang perlahan memerah menahan malu.
Nadia mengerutkan keningnya melihat kejadian canggung tersebut.
"Mas Raka, kok dia mengabaikanmu?"
"Mungkin... mungkin dia sedang buru-buru sayang, wajar saja orang sibuk."
Raka mencoba mengelak dengan alasan yang dibuat-buat.
Namun pandangan Raka dan Nadia tiba-tiba membeku saat melihat ke mana arah tujuan Direktur Gunawan.
Pria paruh baya nomor satu di rumah sakit itu berhenti tepat di hadapan Rizal.
Bruk.
Direktur Gunawan menundukkan kepalanya hingga sembilan puluh derajat di depan Rizal yang berpakaian lusuh.