Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 ~ Menyatu
Eliza tertegun sejenak, menatap tajam ke arah Evan yang meski tampak goyah dan berbau alkohol, berdiri kokoh bagai benteng tak tergoyahkan di hadapannya.
"Kau yakin sanggup menuntunnya dalam keadaanmu sendiri yang begitu?" sinis Eliza, menatap merendah penampilan Evan yang tampak linglung.
"Saya baik-baik saja, Nona. Tuan Damian adalah tanggung jawab saya," jawab Evan tegas, meski bicaranya sedikit pelan dan berat. Tanpa menunggu balasan lagi, Evan langsung menyangga tubuh Damian yang berat dan hangat luar biasa itu.
Damian yang sadarnya mulai menipis, hanya pasrah membiarkan dirinya dituntun. Ia merasakan bahu yang kokoh namun entah mengapa terasa kecil dan ramping itu menopangnya dengan hati-hati. Panas di dalam tubuhnya semakin tak tertahankan, membuatnya tanpa sadar merapatkan tubuh lebih dekat ke sumber dukungan di sampingnya, mencari kenyamanan sesaat.
Mereka pun berjalan beriringan, langkah mereka terhuyung namun terus maju menembus keramaian menuju lorong kabin yang lebih sepi. Evan berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya, berjuang melawan kepala yang berputar hebat, namun nalurinya tak membiarkan ia menyerahkan tuannya pada orang lain.
Sesampainya di depan pintu kabin utama, Evan mengeluarkan kartu akses dengan tangan gemetar, lalu mendorong pintu itu terbuka. Ia menuntun Damian masuk ke dalam, lalu perlahan merebahkan tubuh pria itu di atas ranjang empuk.
Evan menghela napas panjang, hendak berbalik untuk pergi dan beristirahat di kabinnya sendiri yang ia rasa sangat butuhkan. Namun, belum sempat ia melangkah, tangan Damian tiba-tiba mencengkeram kuat pergelangan tangannya. Sentuhan itu begitu hangat dan membakar kulit.
"Jangan pergi..." bisik Damian parau, matanya terpejam rapat, napasnya memburu tak beraturan. "Tubuhku... terasa sangat panas...."
Belum sempat Evan bergerak menjauh, tiba-tiba tarikan kuat terasa pada pergelangan tangannya. Tubuhnya yang sedang limbung tak berdaya menahan sentakan itu, seketika terhuyung dan jatuh terbaring di atas kasur empuk.
Belum sempat Evan mengumpulkan kesadarannya kembali, bayangan tubuh besar dan berat langsung menindihnya. Damian kini berada di atasnya, napasnya panas dan memburu, kedua tangannya menahan pergelangan tangan Evan di samping kepala dengan kekuatan yang tak terduga. Mata pria itu terlihat sayu namun memancarkan hasrat yang membara, seolah hilang sudah sikap dingin dan berwibawanya.
"Tu... Tuan Damian?!" seru Evan terkejut, kepalanya serasa berputar hebat, bercampur rasa panik luar biasa. Ia berusaha memberontak pelan, namun tubuh Damian terasa begitu berat dan tak tergoyahkan, sementara efek alkohol di kepalanya membuat tenaganya terkuras habis.
Damian seolah tak mendengar panggilan itu. Ia menunduk mendekatkan wajahnya, mencium aroma samar yang tercium begitu memikat. Bibirnya bergerak mendekat ke telinga Evan, suaranya terdengar berat dan penuh kegelapan.
"Panas... semuanya terasa membakar..." gumamnya tidak jelas, lalu tanpa sadar ia mulai menggesekkan wajahnya di leher Evan yang lembut, membuat gadis di bawahnya membeku ketakutan sekaligus mendebarkan.
Evan merasa darahnya seolah berhenti mengalir. Tubuhnya kaku sebatang kayu, terperangkap di bawah beban pria yang ia hormati sekaligus ia takuti identitasnya terbongkar. Rasa panas yang memancar dari tubuh Damian terasa menular, bercampur dengan efek alkohol yang masih menguasai akal sehatnya, membuat pikirannya semakin kabur.
"Tu... Tuan, sadarlah... Saya Evan..." suaranya bergetar hebat, berusaha mengingatkan meski napasnya tersendat.
Namun Damian seolah tak mendengar. Ia terlalu terbuai oleh rasa terbakar yang menyiksa di dalam dirinya, dan kehangatan tubuh di bawahnya terasa begitu pas untuk meredakannya. Tangannya yang besar mulai bergerak tak sadar, meraba lekuk tubuh Evan yang ramping, terasa berbeda, jauh lebih lembut dibandingkan tubuh laki-laki pada umumnya.
Damian mengerang pelan, bibirnya menyapu rahang Evan turun ke leher, membuat gadis itu merinding hebat.
"Kau... lembut sekali..." gumam Damian samar, pikirannya sudah terlalu terbelenggu obat itu untuk mempertanyakan keanehan tersebut. Ia hanya tahu, ia menginginkan sentuhan ini lebih jauh lagi.
Evan merasakan bahaya yang mengancam nyawanya sekaligus topeng yang ia pakai selama tiga tahun mulai retak perlahan. Ia memberontak lemah, namun tenaganya telah habis tersedot mabuk.
"Jangan... Tuan, tolong..." mohonnya lirih, matanya berkaca-kaca terperangkap dalam situasi yang mustahil ini.
Tanpa menunggu perlawanan lebih lanjut, tangan Damian mulai meraba kerah kemeja yang dikenakan Evan. Dengan gerakan kasar namun terburu-buru, ia merobek sedikit kancing atasnya, membuat bahu halus dan kulit putih bersih itu terekspos keluar di bawah cahaya remang kamar.
Evan memejamkan mata rapat, napasnya tercekat. Rasa malu dan takut bercampur menjadi satu, namun tubuhnya yang sedang di bawah pengaruh alkohol tak sanggup berbuat banyak.
"Wangi..." gumam Damian samar, menempelkan bibirnya tepat di bahu yang terbuka itu. Ia menciumi kulit itu dengan penuh lapar, seolah menemukan sumber ketenangan yang selama ini ia cari dalam kebingungannya.
Evan gemetar hebat. Setiap sentuhan itu terasa begitu nyata, membakar kulitnya, dan mengancam akan membongkar jati dirinya yang paling rahasia. Ia sadar, satu langkah lagi, dan tak akan ada yang bisa menghentikan semuanya.
Damian tak lagi menahan diri. Ia menunduk dalam, menyatukan bibirnya dengan bibir Evan dalam ciuman yang lapar, panas, dan penuh kebutuhan.
"Eumh..." desah Evan lolos halus, matanya terpejam rapat merasakan hebatnya tekanan itu. Tangannya tanpa sadar mencengkeram bahu pria itu erat.
Damian merespons dengan gerakan semakin liar, tangannya bergerak lincah merambat ke seluruh lekuk tubuh di bawahnya. Setiap sentuhan jari yang hangat membuat tubuh Evan melengkung tak berdaya.
"Akh..." desahannya kembali terdengar lebih nyaring, napasnya memburu dan wajahnya memerah padam.
Pakaian mereka perlahan terlepas satu per satu. Kulit mereka bersentuhan langsung, membara dan panas. Damian menciumi setiap inci tubuh yang terbuka itu, membuat Evan merinding hebat.
"Ahh... eughh..." Evan tergagap, kepalanya semakin pening namun perasaannya terbawa arus yang tak bisa dilawan.
Saat akhirnya mereka menyatu sepenuhnya, desahan panjang dan dalam lolos dari mulut keduanya bersamaan.
"Aahh..." Damian mengerang berat, menekan gerakannya penuh gairah.
"Eumh... Akh..." Evan menggigit bibirnya namun suaranya tetap lolos di setiap gerakan yang dilakukan Damian. Tubuhnya berguncang hebat, terasa nikmat namun asing, membuatnya semakin terbuai dalam kegelapan malam itu.
"Eughh... Ahh..." Suara napas dan desahan mereka saling bersahutan, memenuhi ruangan kabin yang remang itu. Damian bergerak dengan ritme yang memabukkan, seolah melepaskan semua beban dan rasa panas yang menyiksa di dalam dirinya.
Semuanya berlangsung panjang dan mendalam, penuh dengan suara desahan yang bergema di setiap puncak kenikmatan yang mereka rasakan bersama, hingga kelelahan akhirnya menyelimuti keduanya.
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya