"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 — Lupus Bukan Lagi Rahasia
Anindya membuka laporan itu sendiri.
"Protein urine naik. Kreatinin masih dalam batas, tapi trennya buruk. Komplemen turun. Dokter reumatologi curiga flare dengan keterlibatan ginjal awal."
Surya duduk di sebelahnya di taman. Cincin pertunangan belum satu jam berada di jarinya.
"Kapan biopsi?"
"Setelah evaluasi nefrologi dan pengulangan pemeriksaan. Belum ada keputusan."
"Aku kosongkan jadwal besok."
Anindya menatapnya. "Kamu tidak melakukan biopsi saya."
"Aku tahu. Aku ikut sebagai pasangan."
"Dan kamu tidak menghubungi lima profesor sebelum saya selesai memilih dokter."
Surya menghapus tiga nama yang sudah dia ketik di ponsel.
"Empat profesor," katanya.
"Surya."
"Sudah dihapus."
Mereka menjalani proses itu tanpa menyembunyikan apa pun. Pemeriksaan ulang tetap abnormal. Nefrolog menjelaskan pilihan biopsi, risiko perdarahan, kemungkinan klasifikasi nefritis lupus, dan bagaimana hasilnya akan mengubah terapi.
Anindya menandatangani persetujuan setelah bertanya panjang. Surya tidak menambahkan tanda tangannya karena tubuh itu bukan miliknya.
Biopsi menunjukkan keterlibatan ginjal yang masih dapat ditangani, belum gagal ginjal. Terapi imunosupresif disesuaikan. Tekanan darah, infeksi, kepatuhan obat, dan rencana kehamilan masa depan dibahas secara terbuka.
Sebelum terapi berubah, tim memeriksa vaksinasi, risiko tuberkulosis, hepatitis, interaksi obat, dan rencana pencegahan infeksi. Anindya meminta salinan lengkap untuk dirinya sendiri. Dia memilih menunda pembicaraan kehamilan sampai penyakit stabil dan tidak memakai obat yang berisiko pada janin.
Bu Rumi sempat menawarkan kamar rawat privat dan tiga konsultan tambahan. Anindya menerima kamar yang diperlukan untuk privasi, tetapi menolak dokter tambahan yang tidak punya peran jelas.
"Saya pasiennya. Rapat keluarga dapat menunggu," katanya.
Surya mendukung keputusan itu tanpa berbicara menggantikannya.
"Jangan gunakan kalimat dua puluh tahun tinggal lima puluh persen lagi," kata dokter reumatologi. "Angka lama itu berasal dari kelompok tertentu dan tidak menentukan umur pribadi. Kita punya data dan obat yang lebih baik, tetapi tetap harus serius."
Surya mengangguk.
Dulu, angka itu membuatnya memandang Level Sepuluh sebagai satu-satunya cahaya. Sekarang dia memahami perbedaan antara berharap pada Penyembuhan Super dan mengabaikan perawatan yang tersedia hari ini.
Dia tetap ingin mencapai Level Sepuluh.
Dia juga memastikan Anindya minum obat malam itu.
Masalah muncul tiga hari kemudian.
Surya mengganti jadwal jaga Anindya tanpa bertanya, melarangnya masuk ruang isolasi, dan meminta katering mengubah semua makanannya. Ketika Anindya mengetahui perubahan itu, dia masuk ke kantor kepala IGD dan mengunci pintu.
"Kamu berjanji keputusan tentang tubuh saya tetap milik saya."
"Aku cuma mengurangi risiko."
"Tanpa bicara dengan saya. Kamu sedang mengontrol saya dengan suara lembut."
Surya tidak membela diri.
Kalimat itu tepat.
"Maaf," katanya. "Jadwalnya aku kembalikan. Kita susun ulang bersama dokter okupasi."
Anindya meletakkan telapak tangan di meja. Jari-jarinya sedikit gemetar, entah karena marah atau obat.
"Saya tidak ingin mati," katanya pelan. "Saya juga tidak ingin menghabiskan hidup dengan diperlakukan seperti orang yang sudah hampir mati."
"Aku mengerti."
"Belum. Tapi kamu bisa belajar."
Mereka membawa konflik itu ke atap rumah sakit setelah jam kerja. Kota Surabaya berkilau di bawah, dan suara ambulans naik seperti gema.
Di atap itu, Anindya menceritakan hal yang tidak pernah dia ucapkan saat rahasianya pertama terbuka. Kematian hanya salah satu ketakutannya. Ia juga takut kehilangan fungsi ginjal, bergantung pada orang lain, dan melihat cinta berubah menjadi kewajiban.
"Kalau suatu hari saya perlu dialisis, jangan bilang hidup saya selesai," katanya.
"Tidak akan."
"Kalau saya marah, jangan menyebut semua emosi sebagai efek lupus."
"Baik."
"Kalau kamu kasihan, jangan menikahi saya."
Surya mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin pasangannya. "Terlambat. Saya melamar karena kamu galak pada jurnal buruk."
Anindya tertawa, dan ketegangan di bahunya sedikit turun.
Surya bercerita bahwa setiap kali melihat hasil ginjal Anindya, dia kembali ke hari pertama mengetahui diagnosis SLE. Dia takut waktu habis sebelum tiga tugas selesai.
"Tugas pertama sudah selesai," katanya. "Masih dua. Salah satunya proyek medis militer."
Anindya tidak menanyakan bagaimana dia tahu. Dia sudah belajar menerima bahwa sebagian jawaban Surya datang dari tempat yang tidak bisa dijelaskan.
"Kalau kamu mengejar tugas itu sambil menghancurkan tubuhmu, saya akan punya dokter sakti yang meninggal duluan," katanya.
"Stamina saya sembilan setelah minum Botol Energi Besar."
"Kamu belum meminumnya. Masih tersimpan di inventaris misterius yang juga tidak bisa saya lihat. Jadi Stamina kamu tetap enam."
Surya berkedip. "Kamu terlalu pintar untuk rahasia sistem."
"Saya hanya mengingat semua kebohongan burukmu."
Mereka menyusun aturan baru. Penilaian dokter okupasi menentukan jadwal Anindya. Hasil laboratorium dibahas bersama bila Anindya memilih. Surya boleh mengingatkan obat sekali, tidak lima kali. Bila ada tanda flare berat, Anindya wajib melapor dan tidak menghilang.
Kehidupan sehari-hari kembali, tetapi tidak sama.
Pada rapat pertama setelah flare, seorang residen memandang Surya sebelum menerima tugas dari Anindya. Surya langsung mengembalikan keputusan kepadanya.
"dr. Anindya yang memimpin kasus ini. Arahkan jawaban Anda kepadanya."
Anindya tidak mengucapkan terima kasih. Dia melanjutkan pembahasan syok septik seolah koreksi batas itu memang sudah seharusnya terjadi.
Di pagi hari, Surya memasak telur terlalu matang. Anindya mengkritiknya seperti menilai jurnal buruk. Di rumah sakit, mereka bekerja di ruangan berbeda dan tidak memakai hubungan untuk mengubah keputusan klinis.
Pada malam yang sulit, Surya duduk di lantai kamar mandi saat Anindya mual karena obat. Dia tidak berkata akan menyembuhkan semuanya. Dia hanya memegang rambutnya dan mengganti air minum.
Sistem muncul tanpa suara jenaka.
『Penyembuhan Super tetap tersedia setelah tiga tugas Level Sepuluh selesai. Namun mencintai seseorang bukan alasan untuk menunda perawatan yang sudah ada.』
"Saya tahu."
『Kali ini benar-benar tahu?』
"Sedang belajar."
Beberapa minggu kemudian, parameter ginjal Anindya membaik sebagian. Hasil itu memberi mereka ruang bernapas, meski penyakitnya belum sembuh.
Surya menyimpan dua puluh Suntikan Penguat di inventaris. Sistem pernah menjelaskan bahwa tiga dosis mungkin membalikkan gagal ginjal Anindya, tetapi kondisi itu belum terjadi dan obat tersebut bukan alasan untuk melewati terapi standar. Menggunakannya tanpa kebutuhan, tanpa penjelasan, atau sekadar menenangkan ketakutannya sendiri akan melanggar semua janji yang baru mereka susun.
Untuk saat ini, dia memilih menunggu bersama data.
Pak Hendra datang membawa amplop hitam dengan segel negara.
"Undangan tertutup," katanya. "Tim medis militer meminta kepala IGD dengan pengalaman wabah dan bedah lapangan. Nama kamu ada di urutan pertama."
Surya tidak membuka amplop itu sendirian.
Dia meletakkannya di depan Anindya.
Rahasia lupus sudah berakhir.
Mulai sekarang, keputusan besar juga tidak boleh menjadi rahasia.
Termasuk keputusan yang dapat memisahkan mereka selama berbulan-bulan.