Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta yang Berubah Gelap
Lampu-lampu sorot kekuningan memantul elegan di lantai gorden beludru aula ballroom hotel bintang lima malam itu. Suara denting gelas kristal, alunan musik klasik dari grup kuartet gesek, serta gelak tawa para pengusaha papan atas memenuhi udara. Ini adalah malam perayaan ekspansi bisnis Pratama Group—sebuah pesta megah yang Arga rancang bukan sekadar untuk unjuk gigi, melainkan sebagai panggung pertunjukan bagi skenario pembalasannya.
Nabila tampil sangat memukau. Ia mengenakan gaun malam berwarna hitam pekat dengan aksen perak di bagian pinggang yang mempertegas lekuk tubuhnya. Di pergelangan tangannya, gelang emas putih dari Arga berkilau indah di bawah paparan lampu kristal. Ia berjalan bersisian dengan Arga, tersenyum anggun kepada setiap kolega bisnis yang menyapa.
"Pak Arga, istri Anda sungguh memesona. Pasangan yang sangat serasi," puji salah satu investor asing sambil mengangkat gelasnya.
"Terima kasih, Pak Hendra. Nabila adalah alasan saya bekerja keras selama ini," jawab Arga ramah. Ia merangkul pinggang Nabila hangat, menatap istrinya dengan pendar mata penuh kebanggaan yang terlatih.
Di balik senyuman itu, benak Arga menghitung detik demi detik. Ia meredam denyut kepedihan yang sempat berdesir ketika merasakan tubuh Nabila sedikit menegang saat Reza muncul dari balik kerumunan tamu
Reza melangkah percaya diri dengan stelan tuxedo buatan Italia. Tampak segar, percaya diri, dan penuh aura kemenangan setelah dana 50 miliar masuk ke rekening proyeknya tadi siang.
"Selamat malam, Pasangan Emas," sapa Reza renyah. Matanya melirik Nabila sekejapan—sebuah kontak mata terselubung penuh pendar rahasia yang tidak melekat lebih dari dua detik, namun cukup tajam untuk ditangkap oleh Arga. "Pesta yang sangat luar biasa, Ga. Kamu memang tidak pernah setengah-setengah."
"Tentu saja, Za. Untuk merayakan kesuksesan bersama, aku harus menyiapkannya dengan sempurna," balas Arga tenang. Ia memanggil pelayan dan mengambil tiga gelas champagne . "Apalagi malam ini adalah malam keberuntunganmu juga, bukan?"
Nabila tertawa halus, menyentuh lengan Reza secara refleks sebelum buru-buru menariknya kembali saat menyadari keramaian sekitar. "Iya, Mas Arga benar. Reza kan baru dapat suntikan dana besar dari Mas. Harusnya Reza yang traktir kita setelah ini."
"Tenang saja, Bi—maksudku, Nabila. Apapun untuk kalian berdua," potong Reza cepat, sedikit tergagap di suku kata pertama, lalu melempar tawa renyah untuk menutupi kecanggungannya.
Chemistry terlarang di antara mereka begitu pekat. Cara Reza menatap lekuk leher Nabila saat Arga sedikit memalingkan wajah, dan bagaimana Nabila menggigit bibir bawahnya pelan saat Reza memuji gaunnya—semua itu adalah koreografi pengkhianatan yang sangat nyata. Arga menyerap setiap detail rasa sakit itu, mengendapkannya menjadi racun dingin di dasar hatinya.
Tiba-tiba, musik berhenti. Pembawa acara mengumumkan bahwa tiba waktunya untuk penayangan video dokumenter perjalanan sepuluh tahun Pratama Group serta pemberian apresiasi khusus kepada mitra strategis.
Lampu aula perlahan diredupkan hingga sekeliling menjadi gelap gulita. Hanya layar proyektor raksasa di panggung utama yang menyala terang. Para tamu bertepuk tangan, bersiap menyaksikan pencapaian sang taipan muda.
Nabila merapat ke sisi Arga dalam kegelapan, menggenggam tangannya. "Mas, aku bangga banget sama kamu," bisiknya jujur, terselip rasa kagum pada sosok suami yang selalu berdiri paling tinggi.
Arga menggenggam balik tangan Nabila—erat, dingin, tanpa kehangatan. "Lihatlah layarnya, Nabila. Momen ini khusus disiapkan untuk orang-orang yang berjasa."
Layar raksasa itu mulai menampilkan slide foto-foto awal berdiri usaha Arga. Musik latar terdengar menggugah. Namun, di menit ketiga, saat gambar memperlihatkan foto Arga dan Reza berjabat tangan di kantor pertama mereka, tampilan layar mendadak mengalami glitch singkat.
Garis-garis digital merusak gambar. Tiba-tiba, warna video berubah menjadi monokrom yang kelam. Musik latar yang tadinya megah melambat, berubah menjadi nada rendah yang menggebu dan tegang, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat seluruh ruangan mendadak hening.
"Lho, kok videonya begini?" gumam Nabila bingung, matanya menatap layar.
Reza di sisi lain mengernyitkan dahi. "Ada masalah teknis mungkin?"
Di layar, tulisan besar berwarna putih muncul di atas latar hitam: "KEBERHASILAN DIBANGUN DI ATAS KEPERCAYAAN. NAMUN APA YANG TERJADI JIKA KEPERCAYAAN ITU DIBELI OLEH PENGKHIANATAN?"
Bisik-bisik kebingungan mulai menjalar di antara ratusan tamu undangan. Nabila merasakan genggaman tangan Arga di jemarinya mengendur perlahan.
Sensasi dingin menjalar di tengkuk Reza saat slide berikutnya menampilkan potongan dokumen audit internal perusahaan yang memperlihatkan alokasi dana fiktif—dokumen yang seharusnya terkunci rapat di brankas pribadinya. Gambar itu hanya bertahan selama tiga detik sebelum layar kembali normal dan menampilkan video promosi biasa seolah tak terjadi apa-apa.
Namun, tiga detik itu sudah cukup untuk mencabut warna dari wajah Reza dan membuat jantung Nabila berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.
Lampu aula perlahan menyala kembali. Para tamu bertepuk tangan canggung, sebagian masih berbisik-bisik bingung dengan 'pesan singkat' di tengah video tadi.
Arga memutar tubuhnya menghadap Nabila dan Reza. Di bawah pendar lampu yang kini terang benderang, Arga menyunggingkan senyum paling hangat yang pernah mereka lihat—senyuman yang justru membuat bulu kuduk Reza berdiri tegak.
"Maaf ya, sepertinya ada sedikit kesalahan teknis dari tim katering dan media," kata Arga dengan nada sangat santai, mengusap lembut pipi Nabila yang agak pucat. "Tapi pesan tadi cukup berkesan, bukan?"
Nabila menelan ludah dengan susah payah, menatap Arga dengan tatapan ragu. "M-mas... maksud tulisan di layar tadi apa?"
Arga menatap Nabila, lalu mengalihkan pandangannya pada Reza yang kini sibuk mengusap keringat dingin di lehernya.
"Hanya pengingat kecil untuk kita semua," bisik Arga sangat pelan, matanya berkilat tajam di balik keheningan pesta. "Bahwa pesta yang paling megah sekalipun... bisa berubah gelap hanya dalam hitungan detik."
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt