NovelToon NovelToon
Nur Halimah (Harga Sebuah Ketulusan)

Nur Halimah (Harga Sebuah Ketulusan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.

Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.

Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.

Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.

Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.

Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.

Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syarat sah warisan

Pagi ini meja makan terasa lebih dingin dari biasanya. Hanya ada Halimah dan Bu Ramlah. Sarapan yang dimasaknya dari jam 5 pagi, tidak ada yang menyentuh.

Rengganis tidak pulang tadi malam, wanita janda itu menginap di apartemen kekasihnya. Sementara Rita, menginap di kantor, karena pekerjaannya menumpuk minggu ini.

Bu Ramlah meletakkan cangkir teh dengan bunyi keras seperti di banting, "Masih betah duduk di situ? Malu nggak sih, sudah di gugat cerai, masih nyaman tinggal di sini!"

Halimah menunduk, tangannya meremas ujung jilbabnya, "Aku belum tanda tangan surat itu, Ma. Aku mau nunggu Mas Rangga pulang dulu. Aku mau dengar langsung dari mulut mas Rangga."

Bu Ramlah menyeringai, lalu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Halimah, "Nih! Baca sendiri kalau nggak percaya! Rangga sendiri yang mengirim surat gugatan cerai itu, dia yang memintaku untuk memberikan surat itu sama kamu."

Mata Halimah membaca isi pesan di layar ponsel mertuanya. Di sana, sangat jelas Rangga mengatakan perihal ia yang sudah menggugat Halimah.

"Rangga udah capek, dia udah bosan sama kamu! 5 tahun nikah nggak ngasih cucu! Dia udah nemu yang bisa ngasih dia anak dan ngasih saya cucu!"

"Maaf, Ma. Tapi, selama Mas Rangga belum bicara apapun sama aku... surat ini cuma kertas, Ma. Aku masih istri Mas Rangga. Aku punya hak untuk dengar langsung dari mulutnya." jawab Halimah dengan suara gemetar.

Mendengar jawaban itu, membuat Bu Ramlah naik pitam. Ia membanting sendok dengan kuat ke hadapan Halimah, "Hak?! Kamu nggak punya hak apa-apa di rumah ini! Kalau seminggu lagi kamu nggak tanda tangan juga, aku yang akan usir kamu dari rumah ini!"

Setelah berteriak memaki Halimah, Bu Ramlah langsung pergi meninggalkan meja makan dengan banyak lauk yang belum tersentuh sedikit pun.

Suasana mendadak hening. Hanya suara jam dinding yang mengisi telinga Halimah. Perlahan ia mengambil surat itu, melipatnya rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku dasternya.

"Aku akan menunggu kamu, Mas." lirihnya pelan.

Halimah berdiri, membereskan meja seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi begitu sampai di dapur, tubuhnya lemas bahkan hampir luruh ke lantai jika tangannya tidak berpegangan erat di wastafel.

"Ya Allah... astaghfirullah," jeritnya tertahan di ikuti air mata yang jatuh ke wastafel.

Sementara itu, di ruang makan keluarga Surya justru terasa sedikit mencengkam pagi ini. Amanda bahkan belum mengeluarkan satu patah kata pun dari mulutnya. Padahal, biasanya ia akan banyak berbincang dengan Wulan, adik iparnya.

Pertengkaran hebat dengan Daffa tadi malam, sangat menguras energinya. Bahkan hampir semalaman Amanda tidak bisa memejamkan matanya.

Di hadapannya duduk seorang pria yang dua tahun lebih muda darinya, yaitu Ahmad Nugraha Surya, adik bungsunya yang duduk bersampingan dengan istrinya, Wulan.

"Kapan kalian berangkat ke Swiss?" tanya Abimanyu memecah sunyi.

Ahmad menoleh, tersenyum lembut sambil menuang air ke dalam gelas istrinya. "Rencana minggu depan, Pa. Sekalian Wenny sama Winda juga libur kuliah."

Abimanyu mengangguk paham, tangannya mulai menyendok bihun goreng kedalam piringnya.

"Mbak Manda, juga mau ke Singapura, kan?" ucap Wulan mengajak kakak iparnya ngobrol.

Namun, Amanda hanya mengangguk acuh. Membuat Wulan menghela napas dengan memalingkan wajah agar ekspresi kesalnya tidak terlihat jelas oleh Kakak Iparnya.

Tidak lama kemudian Daffa turun dengan langkah santai seolah tidak ada yang terjadi tadi malam. Ia duduk di kursi samping Amanda, sementara di seberangnya duduk kedua sepupunya, Wenny dan Winda.

"Seger ya, setiap pagi selalu keramas," sindir Wulan pada Daffa yang membuatnya mendapat cubitan pelan di paha oleh suaminya.

"Buah memang tidak pernah bisa jatuh jauh dari pohonnya. Bukan begitu, Wulan?" celetuk Amanda ikut menyindir Daffa.

"Ya, tentu saja, Mbak Amanda," sahut Wulan pelan dengan bibir bersungut kesal karena mendapat cubitan dari suaminya tadi.

Daffa tersenyum sinis menanggapi sindiran dua wanita yang sangat tidak menyukainya di rumah ini.

Setelah seluruh anggota keluarga berkumpul dan suasana hening, Abimanyu memberi isyarat pada Hanif. Asisten pribadinya itu pun berdiri dan membuka berkas di tangannya.

"Sebelum kita sarapan," ujar Abimanyu dengan suara berat, "Hanif akan membacakan poin penting dari surat wasiat terbaru saya, terkait kepemilikan Surya Holding."

Semua mata tertuju pada Hanif.

"Berdasarkan isi dokumen ini," bacanya tegas, "Surya Holding selaku induk perusahaan akan diserahkan sepenuhnya kepada Tuan Muda Daffa Nugraha Surya. Namun, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam waktu empat bulan ke depan yaitu Tuan Muda Daffa wajib menikah secara sah."

Suasana hening sejenak, sebelum Hanif melanjutkan.

"Selain itu, surat wasiat ini juga menegaskan bahwa pernikahan kontrak tidak diakui sebagai syarat sah. Jika terbukti Tuan Muda Daffa melakukan hal tersebut, maka hak warisnya gugur seketika dan Surya Holding akan diserahkan seutuhnya kepada Tuan Ahmad Nugraha Surya."

Suasana meja makan mendadak hening total. Hanya suara denting sendok yang terlepas dari tangan Wulan dan kedua putrinya yang terdengar nyaring memecah keheningan.

Daffa menatap kakeknya dengan tatapan tidak percaya, lalu tertawa pendek yang terdengar sinis, "Kek?! Apa saya tidak salah dengar? Menikah? Dalam waktu empat bulan?"

Abimanyu menatapnya tajam tanpa berkedip, "Kamu tidak salah dengar, Daffa. Itu syarat mutlak hak waris."

"Konyol," cibir Daffa sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangan di dada.

"Ini syarat sah waris," balas Abimanyu tegas. "Bukankah Kamu ingin diakui dan dihargai sebagai pemimpin? Maka mulailah dengan kesempatan yang Kakek berikan ini."

Amanda yang sedari tadi diam akhirnya menyahut lembut namun menusuk, "Dia tidak akan bisa, Papa. Buat apa membuang waktu memberi kesempatan padanya. lebih baik menyerahkan perusahaan pada Ahmad. Lagi pula, dia hanya ingin menghabiskan seumur hidupnya bermain-main dengan wanita-wanita murahan sama seperti bajingan itu."

Rahang Daffa mengeras, sorot matanya tajam menatap wajah Amanda, "Jangan pernah menyebut Papa saya bajingan. Dia bukan lelaki seperti yang Anda tuduhkan!" tegasnya penuh penekanan.

Di ujung meja, Wulan menyeringai kecil, berbisik pelan pada suaminya namun cukup terdengar, "Daffa terlalu sombong, kan Mas?"

Ahmad menepuk pelan punggung tangan istrinya, lalu menatap Daffa, "Tenanglah dulu Daffa. Lagi pula, kamu punya cukup waktu untuk menemukan calon istri, bukan?"

Seringai sombong terlihat di wajahnya, "Menikah dalam waktu empat bulan kedepan? Ide yang bagus."

Sorot matanya melirik ke samping, melihat reaksi Amanda yang ternyata wanita itu tampak tenang dengan menyuap bihun goreng di piringnya.

"Saya terima syarat dari Kakek. Saya akan menikah secara sah. Jika perlu, kurang dari empat bulan," ucap Daffa lantang. Dagunya terangkat, matanya menantang semua orang di ruangan itu.

Abimanyu mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sorot matanya melembut saat menatap cucunya, "Kakek percaya. Kamu bisa, Daffa."

Di kursi sampingnya, Amanda menyandarkan punggung ke kursi. Senyumnya sinis sebelum ia terkekeh pelan, cukup keras untuk didengar semua orang. "Oh... berani sekali!"

Dalam hati Amanda berkata lirih, "Kita lihat saja, anak kucing. Seberapa jauh kamu bisa bertaruh... sebelum aku yang menghabisi mu."

Bersambung....

...S****elamat membaca!! ...

...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. 🤗✌️🙏...

...Like, Komen dan Subscribe ya 😁😀...

1
sunaryati jarum
Jangan sampai Daffa terpengaruh rayuan Tasya.Hatinya teguh untuk Halimah.Segera beri karma Ny Amanda dan Robert, kecelakaan itu pasti olah Amanda .
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aduh bahaya. hati-hati Halimah
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Betul sekali itu mbok
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
harus nya datang
Alia Chans
Ternyata gitu " Daffa masih punya pri kemanusiaan ya/Slight//Slight/
sunaryati jarum
Umpan kamu tidak akan kepancing Daffa , karena Daffa dan Halimah sudah berkomitmen bekerja sama.Lagian Daffa sedikit nyaman dengan ketulusan Halimah .Jangan kira Rangga dan Santi Halimah sekarang,Nyonya.
My_Lucia
astaghfirullah... apa kamu ga sakit hati ...
My_Lucia
uang yang berbicara ini sihhh 🤭
My_Lucia
eeehh ... gmna konsepnya ... bukannya kamu istrinya...
My_Lucia
keknya salah paham deh
My_Lucia
Iiiiiiuuu... ternyata dia udah separooo dari dulu
My_Lucia
jatuh harga dirinya 😂
My_Lucia
Amanda ini .. Emak macam apa ya,.. dia ibu kandung Daffa kan..
sunaryati jarum
Rencana kalian gagal ,karena Daffa dan Halimah saat ini baru hubungan saling menguntungkan.Mereka saling kerjasama ,Daffa memperoleh haknya sedangkan Halimah membalaskan sakit hatinya pada mantan suami dan keluarganya
RahmaYesi: mantap. senang deh, KK bisa menangkap apa yang ingin Author sampaikan melalui bab ini. 🤗
sehat selalu ya kak 🫰
total 1 replies
Lia Aulia
Thor 😡😡😭😭
Lia Aulia
eh Daffa gak ngasih uang kah??
Lia Aulia
jangan sampe ada drama empati ya Thor. gak suka banget aku, sumpah
Lia Aulia
jangan sampai cinta lama bersemi kembali Thor. aku ngambek kalau gitu
Lia Aulia
ya tergantung perlakuan si Daffa lah mbok. kalua daffanya jahat, kabur aja lagi
Lia Aulia
oh jadi Daffa benaran mirip bapaknya suka main wanita??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!