"Ternyata aku ... istri kedua?"
Mendapatkan sosok suami yang nyaris sempurna seperti Azzam Naufal Ardana membuat Azra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia, terlebih mengingat masa lalunya yang kelam. Namun, delapan tahun menikah dan dikaruniai dua anak, Azzam tetap menyembunyikannya dari dunia luar dan enggan mengenalkannya pada keluarga besar.
Azra memilih patuh dan bungkam, sampai sebuah fakta pahit mengoyak paksa kesabarannya.
"Ini kesakitan paling hebat yang pernah kurasakan seumur hidupku. Kamu menipuku, Mas!"
"Lampiaskan amarahmu, Azra. Asal jangan pernah meminta cerai."
Azra didera bimbang. Di satu sisi, anak-anaknya butuh sosok ayah. Di sisi lain, ia enggan menjadi orang ketiga. Namun, Hana ... istri pertama Azzam justru melontarkan kalimat yang membuat Azra tercengang.
"Aku tahu semua tentangmu, Azra. Tetaplah menjadi istri Mas Azzam."
"Kau gila?"
Saat cinta berubah menjadi penipuan yang rumit, haruskah Azra bertahan demi kebahagiaan anak-anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu?
Hari ini, guna mengalihkan penat sekaligus memanjakan keluarganya, Azzam mengajak keluarga kecilnya itu pergi berbelanja di sebuah mal besar di pusat kota Bandung. Maira sejak masuk ke area swalayan sudah terus mengoceh dan mengomel akibat stok jajanannya di rumah yang sudah habis total. Tidak tahan dengan rengekan melengking sang putri, akhirnya Azzam memutuskan membawa mereka semua pergi berbelanja saat ini juga.
"Maila bawa kelanjang cendili! Bawa kelanjang cendiliiii!" pekik anak itu heboh.
Dengan kekuatan penuh, ia menarik sebuah keranjang plastik kecil beroda miliknya sendiri. Bocah perempuan itu bersikeras tidak mau jajanannya dicampur oleh barang belanjaan yang lain.
"Maira, ih! Jangan serakah! Kata Abi kita tidak boleh serakah tahu!" omel Adam kesal melihat tingkah adiknya.
Maira mendelik, tangannya bersedekap dada. "Ini bukan celakaaaah, tapi pintal. Abang itu nda pintal. Celakah, celakah ... yang halam itu cuman babi!" ucap Maira ketus, lalu melengos pergi mendahului mereka. Ia meninggalkan Adam yang seketika menganga tak percaya di tempatnya berdiri akibat doktrin fikih sepihak adiknya itu.
"Abi, lihat anak Abi itu?" protes Adam pada sang ayah, mengadu dengan wajah jengkel.
Azzam hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah melihat kelakuan putrinya. "Itu adek kamu, Kak."
"Loooh, tapi kan itu anak Abi juga!" protes Adam makin kesal karena merasa tidak dibela.
Bocah laki-laki itu akhirnya berlalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya, buru-buru menyusul sang adik yang tampaknya siap memborong satu rak jajan.
Azzam terkekeh pelan melihat interaksi kedua anaknya. Ia kemudian menoleh, menatap sang istri yang sejak tadi terlihat berdiri bingung di depan deretan rak, beralih dari satu produk ke produk lain.
"Kamu mau belanja apa, Humairah?" tanya Azzam lembut.
"Tidak tahu, Mas. Aku bingung," gumam Azra.
Mata indahnya kemudian tertuju pada jajaran cokelat berbentuk telur yang dikemas menarik di rak bagian atas. Azra mengulurkan tangannya, mengambil satu butir cokelat itu lalu menatap Azzam dengan pandangan ragu.
"Aku ... boleh ambil ini? Tidak apa-apa kan kalau aku makan ini?" tanya Azra hati-hati.
Azzam menatap camilan yang dipegang istrinya. Itu adalah cokelat anak-anak yang berhadiah mainan kecil di dalamnya. Secara fungsional, menurut Azzam lebih baik Azra memilih cokelat batangan biasa yang jauh lebih premium. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Azzam sangat mengerti mengapa istrinya masih menyukai jajanan anak-anak. Azra hanya sedang mencoba mengabulkan keinginan masa kecilnya yang kelam dan tidak pernah tersampaikan dahulu.
"Boleh, Sayang. Ambil saja sekotak, taruh di sini," ucap Azzam tulus sembari menunjuk troli besar yang ia dorong.
"Eh, jangan ah, kebanyakan. Satu saja sudah cukup," tolak Azra merasa tidak enak.
"Sudah, tidak apa-apa," desak Azzam. Pria itu mengulurkan tangan, mengambil satu kotak utuh isi cokelat telur tersebut dan meletakkannya ke dalam troli mereka.
Melihat tindakan suaminya, Azra tiba-tiba mengulas senyum. "Bukan satu kotak itu yang aku mau, Mas ... tapi satu rak."
"Heuh?" Azzam melongo seketika.
Sebelum suaminya sempat bereaksi, Azra dengan gerakan cepat kembali mengambil kotak-kotak jajanan lain dari rak dan memasukkannya ke dalam troli hingga bertumpuk. "Sudah, ayo! Aku mau beli keperluan yang lain," ajak Azra riang, lalu berjalan lebih dulu mendahului Azzam yang masih tertegun.
Langkah Azzam melambat saat melewati etalase produk kebutuhan wanita. Matanya tertuju pada barisan pembalut. Tanpa berpikir panjang, ingatan bawah sadarnya langsung mengenali merek dan varian yang biasa digunakan oleh Azra. Azzam mengambil beberapa pak pembalut tersebut dan meletakkannya ke dalam troli tanpa bertanya lagi.
Beberapa saat kemudian, Azra kembali untuk meletakkan barang belanjaannya yang lain. Namun, gerakannya terhenti seketika saat matanya menangkap benda yang baru saja dimasukkan suaminya ke dalam troli.
"Loh ... kamu ngapain ngambil ini, Mas?" tanya Azra heran, mengernyitkan alisnya.
"Ya untuk kamu pakai, Sayang. Memangnya untuk siapa lagi?" jawab Azzam heran, merasa tindakannya sudah sangat benar sebagai suami perhatian.
Azra berdecak pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Stok di rumah itu masih ada banyak, Mas. Sudah, kembalikan lagi ke rak. Kamu ini ... kelakuanmu seperti pria yang punya istri dua saja, sampai harus menyetok pembalut terus-menerus," omel Azra santai sembari mengambil kembali pembalut itu dan menatanya kembali ke rak etalase.
DEG!
Kalimat santai yang keluar dari mulut Azra seketika bagai petir yang menyambar di siang bolong bagi Azzam. Seluruh persendiannya mendadak kaku. Jantungnya berdegup luar biasa kencang, memompakan rasa panik yang menjalar hingga ke ujung jari. Tanpa sadar, cengkeraman tangan Azzam pada pegangan besi troli menguat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin tipis mulai membasahi pelipisnya. Kalimat Azra barusan terlalu tepat sasaran, menghantam langsung pada rahasia terdalamnya yang paling ia takuti.
"Sudah semua, kan? Ayo kita jalan lagi," ajak Azra, berbalik tanpa menyadari perubahan drastis pada raut wajah suaminya yang mendadak pias.
BRUGH!
Suara benturan yang cukup keras diikuti jeritan melengking dari arah lorong sebelah seketika memecah ketegangan Azzam. Azra menoleh dengan cepat, matanya membulat sempurna melihat putri kecilnya sudah terduduk di lantai swalayan setelah menabrak anak kecil lain yang seusianya. Keranjang belanjaan Maira terguling, membuat seluruh jajanan yang sudah ia kumpulkan berserakan di lantai.
Dengan sigap, Azra segera berlari mendekat untuk menolong putrinya.
"Dacal jangklik! Mau putal badan itu lihat duluuuuu! Jangan main putal ajaaaa! Badannya gemblot begitu, pelutnya nablak Mai tahu!" omel Maira meledak-ledak penuh kekesalan, menggosok pinggulnya yang bertubrukan dengan lantai saat Azra membantunya berdiri.
"Ada yang sakit enggak, Nak? Mana yang luka?" Azzam datang bergegas, mengabaikan trolinya demi mengecek keadaan putrinya dengan raut panik.
"Cakit cemuaaa, Abi! Lihat itu olang malah diam aja!" adu Maira kesal, menunjuk dengan jari telunjuk mungilnya pada anak laki-laki yang tadi ditabraknya.
Azzam perlahan menolehkan pandangannya pada anak laki-laki yang tengah sibuk merapikan pakaiannya sendiri akibat tabrakan tadi. Namun, begitu manik mata Azzam menangkap wajah anak itu, dunianya seolah runtuh detik itu juga. Seluruh pasokan udara di paru-parunya menguap.
Anak laki-laki bertubuh gempal itu ... adalah Ibrahim keponakannya.
Ibrahim mendongak, sepasang mata bulatnya balas menatap Azzam. Kerutan di dahi anak itu perlahan memudar, digantikan oleh binar pengenalan yang instan. "Angkel Ail jam-jam?" cicit Ibrahim dengan suara cadelnya yang khas.
"Ibrahim ...," gumam Azzam tertahan di kerongkongan.
Ketakutan luar biasa menyerang pertahanan Azzam. Matanya bergerak liar, menatap ke segala penjuru arah dengan rasa waswas yang memuncak. Jika Ibrahim ada di sini, itu artinya keluarganya yang lain juga berada di sekitar tempat ini. Berada di satu tempat yang sama bersama Azra dan anak-anaknya adalah mimpi buruk terbesar yang selalu berusaha ia hindari.
Tanpa membuang waktu lebih lama dan sebelum rahasianya terbongkar, Azzam langsung menyambar tubuh Maira ke dalam gendongannya dengan terburu-buru.
"Mas!" panggil Azra kaget melihat kepanikan suaminya.
"Ayo kita ke kasir sekarang, Sayang. Keburu antreannya penuh dan panjang," ajak Azzam dengan nada suara yang bergetar panik, melangkah lebar meninggalkan lorong tersebut tanpa memedulikan belanjaan yang berserakan.
Azra yang ditinggalkan hanya bisa menatap suaminya dengan perasaan bingung yang mendalam. Sikap Azzam terlampau aneh dan mencurigakan, namun melihat suaminya sudah berjalan jauh ke depan, ia terpaksa mendorong troli dan mengikuti langkah terburu-buru itu dengan sejuta pertanyaan yang mengendap di kepalanya.
Sementara itu, Ibrahim yang ditinggalkan begitu saja berkedip bingung. Merasa yakin dengan penglihatannya, bocah itu berniat mengejar langkah kaki Azzam. "Angkel Ail jam-jam!"
SET!
Sebuah tangan kedodoran tiba-tiba menyambar pergelangan tangan Ibrahim dari belakang, menariknya dengan tegas sebelum anak itu melangkah lebih jauh.
"Mau ke mana kamu, Ibrahim? Benar-benar tidak bisa dibilangin ya, nanti kalau hilang dan Abi marah bagaimana?!" tegur Khodijah kesal.
"Umi, Angkel Ail jam-jam dicini ... itu tadi Angkel Ail jam-jam, Umi!" adu Ibrahim menunjuk-nunjuk koridor kasir yang sudah menjauh dengan wajah hampir menangis.
Khodijah menghela napas lelah, mengusap dahi putranya yang berkeringat. "Mirip aja kali itu, mukanya orang kan banyak yang sama. Sudah, ayo jalan. Capek Umi mengejar kamu dari tadi. Nanti kalau kamu nakal lagi, Umi jual baru tahu rasa kamu ya," omel Khodijah gemas, menarik paksa tangan Ibrahim untuk berjalan ke arah berlawanan.
Ibrahim hanya bisa pasrah diseret, air mata kecil mulai mengenang di pelupuk matanya karena merasa tidak dipercayai. "Olang di bilangin nda pelcaya ... hiks .... actagaa," bisik anak itu sedih, menatap nanar ke arah lorong kasir tempat di mana ok nya itu menghilang.
nanti kamu jd duta istighfar buat ummahmu
ummah pilih kasih za Mai 🤣
dia akan jd garda terdepannya ummah