Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Jus yang Kemanisan
Udara dingin khas Bandung yang menusuk hingga ke tulang tidak pernah sedikit pun menyurutkan beban yang menumpuk di pundak Mahira.
Sebelum jam dinding menunjukkan pukul empat pagi, saat seluruh isi rumah megah itu masih terlelap nyaman di balik selimut tebal, Mahira sudah harus berdiri kaku di dapur. Bagi wanita berusia dua puluh lima tahun itu, subuh bukanlah tanda dimulainya hari baru yang penuh harapan, melainkan awal dari siklus kelelahan yang seolah tak pernah berujung.
Tanpa sempat memanjakan diri atau sekedar menikmati secangkir teh hangat dalam ketenangan, jemarinya yang dingin sudah harus bergelut dengan tumpukan bahan makanan untuk sarapan seluruh kebutuhan keluarga Ziko.
Rumah dua lantai berarsitektur modern minimalis itu berdiri gagah di kawasan elit. Dindingnya didominasi warna putih bersih dengan lantai marmer yang selalu berkilauan. Namun bagi Mahira, kemewahan itu tak ubahnya sangkar emas yang dingin. Tidak ada sudut di rumah ini yang terasa ramah baginya.
Sebagai seorang istri dari pemilik perusahaan yang tengah berkembang pesat, Mahira tidak memiliki asisten rumah tangga satu pun. Bukan karena Ziko tidak mampu menyewa jasa pembantu, melainkan karena Bu Rani, ibu mertuanya, secara tegas melarangnya.
"Untuk apa menyewa pembantu kalau di rumah ini ada kamu?" Kalimat Bu Rani dua tahun lalu masih terngiang jelas di ingatan Mahira. "Kamu itu tidak bekerja, Hira. Tidak menghasilkan uang sepeser pun untuk Ziko. Jadi sudah sepatutnya kamu membalas kebaikan anak saya dengan mengurus rumah ini sampai tuntas. Anggap saja itu bentuk tahu diri."
Mahira menghela napas panjang, mengusap peluh halus di dahi dengan punggung tangannya yang terasa kasar. Jemari yang dulu dikenal sangat lihai menari di atas papan ketik laptop untuk menganalisis data finansial tingkat tinggi, kini dihiasi bekas luka kapalan tipis akibat terlalu sering mengupas bumbu, mencuci piring, dan memegang gagang sapu.
"Hira! Mana jus jeruk saya?" Suara lengkingan Bu Rani memecah kesunyian pagi dari arah ruang makan.
Mahira terperanjat kecil. Dengan cekatan, ia mengelap tangannya pada apron kain yang sudah agak melar di bagian pinggangnya. Ia dengan sigap mengambil gelas berisi jus jeruk murni yang baru saja disaringnya, lalu melangkah tergesa menuju ruang makan.
Di sana, Bu Rani sudah duduk anggun dengan pakaian sutra berwarna merah marun. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipoles riasan tipis meski hari masih sangat pagi.
Di sampingnya, Ziko duduk mengamati layar tablet premiumnya, tampil rapi dalam balutan kemeja putih yang disetrika licin, tentu saja oleh tangan Mahira sejam yang lalu.
"Ini jus jeruknya, Bu," ucap Mahira lembut sambil meletakkan gelas kaca itu perlahan di samping piring Bu Rani.
Bu Rani meraih gelas tersebut, menyesapnya sedikit, lalu seketika dahinya berkerut dalam. Wajahnya menampilkan ekspresi jijik yang dibuat-buat sebelum menghempaskan gelas itu kembali ke meja hingga airnya terciprat ke atas taplak meja putih.
"Manis sekali! Kamu mau membuat saya kena gula darah, ya?" bentak Bu Rani seraya menatap Mahira penuh permusuhan. "Sudah berapa kali saya bilang, saya tidak mau pakai gula sama sekali. Kenapa otakmu ini sulit sekali diberi tahu, sih?"
Mahira menunduk. "Maaf, Bu. Saya tadi hanya menambahkan sedikit madu murni agar tidak terlalu asam untuk lambung Ibu...."
"Alasan! Jangan sok pintar di depan saya!" potong Bu Rani keras. "Ziko, lihat istrimu ini. Diajari hal sepele seperti membuat jus saja tidak pernah becus. Selalu saja membantah kalau dikasih tahu!"
Mahira menatap suaminya dengan tatapan berharap. Ia ingin Ziko menyahut, membela bahwa niatnya baik demi kesehatan sang ibu. Namun Ziko bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Pria itu menghembuskan napas jengkel, tampak terganggu oleh kegaduhan di meja makan.
"Hira, kalau Ibu minta A, lakukan A. Tidak usah sok tahu menambah madu segala," ujar Ziko dingin tanpa menatap wajah istrinya. "Ganti jusnya sekarang. Jangan buang-buang waktu, aku ada rapat penting jam delapan."
Nada suara Ziko begitu datar, tanpa emosi, tanpa menyisakan sedikit pun celah kepedulian. Bagi Ziko, Mahira hanyalah elemen pelengkap di rumahnya, seorang wanita sederhana yang kebetulan berstatus istri, namun lebih sering diperlakukan sebagai pengurus rumah tangga yang tak digaji.
"Baik, Mas," lirih Mahira. Ia mengambil kembali gelas itu dan melangkah mundur menuju dapur.
Ziko kemudian beranjak dari kursi setelah menghabiskan sarapan tanpa pernah mengajak Mahira duduk bersama. "Bu, Ziko berangkat dulu."
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," jawab Bu Rani manis.
Ziko berjalan menuju pintu depan. Mahira bergegas menghampirinya, membawa tas kerja kulit dan jas suaminya. "Mas, jasnya," kata Mahira.
Ziko mengambil jas itu tanpa mengucap terima kasih. Saat Mahira mengulurkan tangan untuk menyalami tangannya seperti yang biasa dilakukan seorang istri, Ziko justru berbalik begitu saja dan melangkah keluar rumah. Tangan Mahira tergantung di udara, hampa dan dingin.
"Ingat Hira." Suara Bu Rani terdengar dari belakang. "Setelah ini, bersihkan seluruh kaca jendela lantai atas dan cuci sprei kamar tamu. Jangan malas-malasan!"
Mahira berdiri mematung di ambang pintu yang terbuka. Pandangannya menatap mobil Ziko yang perlahan menghilang di balik pagar besi. Mahira menatap jemarinya sendiri. Dulu, jemari ini dipuji oleh para kolega bisnis karena ketajamannya menyusun strategi investasi jutaan dolar. Kini, ia tak ubahnya bayangan tak berharga yang hanya dipanggil saat butuh dilayani, dan dihina saat dianggap tak berguna.
Jangan lupa dukungannya ya... 🥰🥰🥰