Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Les Catacombes
Paris memiliki dua kota.
Yang pertama...
Kota yang kalian lihat di kartu pos.
Menara Eiffel.
Museum.
Kafe.
Musisi jalanan.
Lampu-lampu yang membuat semua orang jatuh cinta.
Yang kedua...
Berada jauh di bawah kaki semua orang.
Gelap.
Lembap.
Sunyi.
Dan hampir tidak pernah dikunjungi.
Aku membawa mereka menuju kota yang kedua.
── Maël kepada kalian ──
Kalian tahu kenapa anak jalanan selalu punya tempat menghilang?
Karena kami tidak punya pilihan.
Orang kaya menyimpan uangnya di bank.
Kami...
Menyimpan rahasia kami di tempat yang bahkan polisi malas datangi.
── Kembali ke cerita ──
Kami menuruni tangga besi tua yang tersembunyi di balik gudang kosong.
Pintunya sudah berkarat.
Pierre menutupnya kembali setelah kami masuk.
Suara langkah para pengejar terdengar semakin dekat.
"Mereka masuk gang!"
teriak seseorang di luar.
Aku memberi isyarat agar semua tetap diam.
Beberapa detik kemudian...
Suara langkah itu menjauh.
Léo mengembuskan napas lega.
"Astaga..."
"...aku hampir mati."
Aku menepuk bahunya.
"Belum."
"Jangan ngomong gitu!"
Tangga itu terus menurun.
Sepuluh meter.
Dua puluh meter.
Udara mulai berubah.
Lebih dingin.
Lebih lembap.
Bau tanah memenuhi hidung.
Camille menyalakan senter kecil.
Cahayanya memantul pada dinding batu kapur yang sudah berusia ratusan tahun.
"Ini..."
bisiknya.
"...aku belum pernah ke sini."
Pierre mengangguk.
"Bagus."
"Semakin sedikit orang yang tahu..."
"...semakin aman tempat ini."
Henri memperhatikan lorong panjang di depan kami.
"Catacombes."
gumamnya.
Aku mengangguk.
"Sebagian."
"Bukan bagian wisata."
Lorong itu bercabang ke segala arah.
Tanpa papan petunjuk.
Tanpa cahaya.
Kalau tidak mengenalnya...
Seseorang bisa berputar-putar berjam-jam.
Aku berjalan paling depan.
Langkahku mantap.
Léo menatapku heran.
"Kok kau hafal?"
Aku tersenyum.
"Dulu waktu musim dingin..."
"...aku tidur di sini."
"Kau serius?"
"Iya."
"Aku pikir cerita hidupku sudah sedih."
── Maël kepada kalian ──
Lucu ya.
Waktu kecil aku menganggap tempat ini seperti taman bermain.
Padahal...
Di balik dinding-dinding ini...
Tersimpan jutaan tulang manusia.
Kalau dipikir sekarang...
Aku memang anak yang aneh.
── Kembali ke cerita ──
Kami tiba di sebuah ruangan bundar.
Di tengahnya terdapat meja kayu tua.
Beberapa lilin.
Dan coretan-coretan di dinding.
Pierre menghela napas lega.
"Masih utuh."
Étienne mengamati ruangan itu.
"Tempat persembunyian?"
Aku mengangguk.
"Bukan cuma milikku."
"Dulu..."
"...banyak anak jalanan tidur di sini."
Henri melihat sebuah gambar di dinding.
Seekor burung layang-layang.
Digambar menggunakan arang.
Di bawahnya tertulis kalimat kecil.
"Personne n'est oublié."
"Tak seorang pun dilupakan."
Henri tersenyum tipis.
"Aku ingat tulisan ini."
Aku menoleh.
"Bapak pernah ke sini?"
Henri mengangguk pelan.
"Lima belas tahun lalu."
"Aku sering membawa makanan."
Aku membeku.
"Hah?"
"Jadi..."
"...orang yang sering meninggalkan roti di lorong itu..."
"...Bapak?"
Henri tertawa kecil.
"Akhirnya kau tahu juga."
Aku memukul pelan bahunya.
"Kenapa tidak pernah bilang?"
"Kau tidak pernah bertanya."
"Masuk akal."
Tiba-tiba...
Pierre mengangkat tangannya.
"Diam."
Semua langsung terdiam.
Dari kejauhan...
Terdengar suara langkah kaki.
Tok...
Tok...
Tok...
Bukan satu orang.
Banyak.
Henri langsung mematikan senter.
Ruangan menjadi gelap gulita.
Aku hanya bisa mendengar napas orang-orang di sekitarku.
Langkah itu semakin dekat.
Semakin jelas.
Lalu...
Sebuah cahaya senter menyapu lorong di depan kami.
"Mereka masuk."
bisik Pierre.
"Bagaimana mungkin?"
tanya Camille.
"Ada yang membocorkan tempat ini?"
Aku menggeleng.
"Tidak."
"Lalu?"
"Mereka mengikuti jejak sepatu kita."
Henri mengumpat pelan dalam bahasa Prancis.
Aku berpikir cepat.
Lorong di sebelah kiri buntu.
Lorong kanan menuju sungai bawah tanah.
Lorong depan...
Menuju ruang tulang.
Aku menoleh kepada Léo.
"Ingat waktu kita main petak umpet?"
"Iya."
"Kau selalu kalah."
"Itu bukan inti pembicaraannya."
Aku tersenyum.
"Kali ini..."
"...kita yang jadi hantu."
Léo mulai memahami maksudku.
Wajahnya perlahan berubah menjadi senyum jahil.
"Oh..."
"Aku suka ide ini."
Kami masuk ke lorong sempit yang dipenuhi tumpukan tengkorak dan tulang-belulang.
Senter dimatikan.
Hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari lorong utama.
Aku mengambil sebuah batu kecil.
Lalu melemparkannya ke lorong sebelah.
Tok!
Salah satu pengejar langsung berteriak.
"Ke sana!"
Mereka semua berlari ke arah suara itu.
Aku menahan napas.
Sampai suara langkah mereka menghilang.
Léo menutup mulutnya sendiri agar tidak tertawa.
"Itu berhasil."
bisiknya.
Aku mengangguk.
"Jalanan mengajarkanku satu hal."
"Apa?"
"Kalau kau tidak bisa menang..."
"...buat lawanmu tersesat."
Kami keluar perlahan.
Namun baru beberapa langkah...
Seseorang berdiri di ujung lorong.
Sendirian.
Tidak memakai jas hitam.
Tidak memakai topeng.
Melainkan mantel panjang berwarna cokelat tua.
Pria itu menepuk tangan pelan.
Tep.
Tep.
Tep.
"Bagus."
katanya dengan suara tenang.
"Sangat bagus."
Henri langsung mengangkat revolver.
Pria itu tersenyum tipis.
"Turunkan."
"Kita sama-sama tahu..."
"...kau tidak akan menembak di tempat sempit seperti ini."
Aku memperhatikan wajahnya.
Usianya sekitar enam puluh tahun.
Rambutnya putih rapi.
Tongkat kayu hitam berada di tangan kirinya.
Yang membuatku merinding...
Adalah matanya.
Dingin.
Tanpa amarah.
Tanpa kebencian.
Seolah sedang melihat bidak catur.
Bukan manusia.
Ia menatap lurus ke arahku.
"Jadi..."
"...akhirnya kita bertemu."
Aku belum pernah melihatnya.
Tetapi...
Entah mengapa.
Aku tahu.
Inilah orang yang selama ini dicari semua orang.
Henri mengucapkan namanya dengan suara berat.
"...Lucien Vallois."
Pria itu sedikit membungkukkan badan.
"Senang akhirnya masih ada yang mengingatku."
Lalu ia kembali menatapku.
Senyumnya tipis.
Hampir seperti seorang kakek yang sedang menyapa cucunya.
Namun kalimat berikutnya membuat bulu kudukku berdiri.
"Bonjour, Maël."
"Aku sudah mencarimu selama lima belas tahun."
Lorong kembali sunyi.
Aku menggenggam ketapelku erat.
Untuk pertama kalinya...
Aku berdiri tepat di depan orang yang mengubah hidupku.
Dan firasatku mengatakan...
Pertemuan ini...
Tidak akan berakhir dengan damai.