NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008: Sepuluh Kali Undian dan Dunia Baru

Rumah kecil itu terasa berbeda saat mereka pulang.

Dindingnya tetap sama. Meja kayu tua di ruang tengah juga belum berubah. Udara di dalamnya terasa lebih ringan, seperti ada seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah bertahun-tahun membiarkan asap masuk.

Bu Sri masuk lebih dulu, meletakkan tas, lalu langsung menuju dapur. Kebiasaannya ketika emosinya penuh: mencari gelas, merebus air, membuat sesuatu agar tangan tidak gemetar.

"Ma, duduk dulu," kata Ratna.

"Mama bikin teh sebentar."

"Teh bisa nanti."

Bu Sri berhenti. Ratna memeluknya dari belakang. Pelukan itu kecil dan canggung. Bu Sri menangis tanpa suara.

Pak Harto berdiri di ruang tengah. Ia memandang jam dinding, lalu kursi plastik, lalu Bima. Seperti orang yang baru pulang dari perang kecil dan belum percaya tidak ada yang mengejar.

"Papa salah," katanya tiba-tiba.

Bima menoleh. "Salah apa, Pak?"

"Terlalu lama membiarkan mereka bicara begitu. Papa pikir kalau diam, semua cepat selesai. Ternyata diam membuat mereka makin berani."

Bu Sri menghapus air mata. "Mas, jangan salahkan diri sendiri. Kita cuma tidak mau ribut."

"Ributnya tetap datang," kata Pak Harto. Ia menghela napas. "Cuma selama ini yang luka kita sendiri."

Ratna menatap Bima, matanya masih merah tetapi bersinar. "Mas Bima tadi keren sekali. Aku hampir tepuk tangan kalau Mama tidak mencubit pahaku."

Bu Sri langsung menepuk lengan Ratna. "Kamu ini."

Bima tertawa kecil. Hangat keluarga itu masuk pelan ke dadanya. Di kehidupan sebelumnya, ia selalu menganggap rumah hanya tempat menaruh tubuh. Di sini, rumah adalah orang-orang yang bisa menangis karena harga diri satu sama lain.

"Mulai sekarang," kata Bima, "kalau ada yang menekan keluarga kita pakai kata keluarga, kasih tahu aku. Jangan ditelan sendiri."

Pak Harto mengangguk pelan. "Tapi kamu juga hati-hati. Lina dan Darmawan tidak akan diam."

"Saya tahu."

Siska juga tidak akan diam. Bima melihat cukup banyak malam ini: lensa ponsel yang mencari potongan salah, bibir yang cepat membentuk narasi korban, dan mata yang lebih marah karena gagal merekam kekasaran daripada karena ibunya dipermalukan.

Setelah memastikan Bu Sri benar-benar duduk dan Pak Harto minum obat dengan air putih, Bima masuk ke kamarnya.

Kamar itu sempit. Kasur menempel dinding, meja kecil di dekat jendela, kipas angin berputar dengan suara tua. Namun bagi Bima, ruangan ini lebih penting daripada ruang VIP restoran tadi. Di sinilah dunia barunya benar-benar membuka pintu.

Ia mengunci pintu, duduk di tepi kasur, lalu memanggil SBE.

Panel biru keemasan muncul.

[Misi Gathering Lebaran Selesai]

[Peringkat: S]

[Hadiah tersedia]

[1. Poin +4.500]

[2. Bonus Proteksi Keluarga +1.000 Poin]

[3. Paket Undian Sepuluh Kali]

[4. Level naik]

Bima menekan klaim.

Cahaya tipis menyapu penglihatannya.

[Level Tuan Rumah: 2 -> 5]

[Total Poin saat ini: 5.803]

[Undian Sepuluh Kali siap digunakan]

Bima menghembuskan napas. "Mulai."

Roda undian muncul seperti lingkaran logam transparan. Sepuluh titik cahaya berputar cepat, lalu pecah satu per satu.

[Putih: Paket mi instan rasa soto]

[Putih: Stiker motivasi murahan]

[Hijau: Makanan Pemulih Ringan x3]

[Putih: Voucher kopi minimarket]

[Biru: Drone Bayangan]

[Putih: Payung lipat anti ribut]

[Hijau: Saldo rekening Rp5.000.000]

[Putih: Handuk olahraga]

[Ungu: Peretas Tingkat Tinggi]

[Hijau: Kartu SIM cadangan terverifikasi]

Bima menatap dua hadiah berwarna paling terang.

[Drone Bayangan - Langka/Biru]

[Drone mikro tak terlihat oleh mata biasa. Dapat mengikuti target, merekam audio visual, dan mengirim feed ke panel SBE. Batas operasi awal: 3 kilometer. Rekaman harus dikonversi menjadi sumber bukti wajar sebelum dipakai dalam jalur hukum publik.]

[Peretas Tingkat Tinggi - Epik/Ungu]

[Kemampuan memahami, melacak, memulihkan, dan mengamankan data digital tingkat lanjut. Penggunaan untuk proses hukum harus menghasilkan jejak bukti legal: metadata, saksi perangkat, tangkapan layar, log server, atau laporan ahli.]

Bima tersenyum dingin.

Sistem ini memberi lebih dari kekuatan untuk memukul orang di meja makan. Ia memberi mata, tangan, dan jalan untuk menghancurkan kebohongan sampai ke akarnya.

Ia memilih aktivasi Drone Bayangan.

Udara di atas telapak tangannya bergetar. Sesuatu sebesar biji kacang muncul, hitam transparan, lalu menghilang seperti bayangan yang ditelan cahaya. Namun di panel SBE, titik kecil bergerak patuh.

[Target awal disarankan: Siska Kurniawan]

Bima menyipit. "Kenapa?"

[Analisis perilaku: niat balas dendam tinggi. Risiko reputasi keluarga meningkat.]

Ia tidak perlu diyakinkan dua kali.

"Ikuti Siska. Jaga jarak. Rekam hanya yang berkaitan dengan ancaman terhadap saya atau keluarga."

[Perintah diterima.]

Panel feed muncul beberapa menit kemudian. Gambar awal bergetar di atas jalan Waringin, lalu melewati kaca sebuah hotel kecil dekat alun-alun. Di salah satu kamar, Siska duduk di ranjang dengan wajah masih merah karena marah. Lina mondar-mandir di belakangnya, sedangkan Darmawan berbicara lewat telepon di balkon.

Siska menekan ponselnya keras-keras. Layar feed memperbesar daftar panggilan. Nama Melati muncul.

"Mel," kata Siska begitu sambungan terangkat. Suaranya tidak lagi manja. Dingin dan rusak. "Aku butuh bantuan. Ada orang yang harus dihancurkan. Namanya Bima."

Suara perempuan di seberang terdengar samar. Kata-katanya masih cukup jelas. "Yang sepupu kamu itu? Yang bikin malu di restoran?"

"Iya. Aku punya beberapa video. Dia kelihatan galak, sok benar, sentuh gelas Papa, terus bikin Mama nangis. Kalau dipotong benar, orang bakal lihat dia sebagai anak durhaka yang mempermalukan tante sendiri di hari Lebaran."

Bima bersandar di kursinya. Tatapannya tetap, suhu di matanya turun.

Siska melanjutkan, "Fifi bisa bantu edit. Tambah caption yang bikin orang emosi. Jangan langsung tuduh berat dulu. Mulai dari narasi: laki-laki kasar, keponakan tidak tahu diri, keluarga miskin tapi sombong. Kalau ramai, baru kita dorong lebih jauh."

Suara lain masuk, mungkin panggilan grup. Fifi. "Kalau mau viral, harus ada korban. Kamu nangis depan kamera. Bilang kamu trauma. Jangan terlalu rapi, nanti orang curiga."

Siska tertawa pendek. "Aku bisa nangis kapan saja. Yang penting Bima jatuh dulu. Setelah itu keluarganya juga ikut malu. Mereka pikir bisa keluar dari restoran seperti pahlawan? Lihat saja."

[Sumber ancaman reputasi terkonfirmasi.]

[Target: Siska Kurniawan, Melati, Fifi]

[Potensi kasus: manipulasi video, fitnah, pencemaran nama baik, hasutan perundungan daring.]

[Misi baru akan aktif setelah serangan publik pertama terdeteksi.]

Bima mematikan suara feed, tetapi membiarkan rekaman berjalan.

Ia tidak marah seperti di restoran. Marah di restoran masih punya panas. Yang ia rasakan sekarang lebih dingin daripada itu. Siska baru saja membuat pilihan. Ia punya kesempatan berhenti, lalu memilih merusak hidup orang lain demi menutup rasa malu keluarganya.

Bima membuka folder baru di panel SBE.

Nama folder: Kasus Siska.

Ia memasukkan feed pertama, waktu, lokasi, dan daftar nama. Lalu ia mengaktifkan Peretas Tingkat Tinggi untuk pertama kali. Struktur data ponsel, jaringan hotel, dan jejak aplikasi tidak langsung ia serang. Ia hanya membaca pinggiran yang aman: metadata publik, pola unggahan, akun-akun yang sering berinteraksi dengan Siska.

Beberapa nama muncul. Melati. Fifi. Dua akun cadangan. Satu akun gosip lokal Waringin.

Bima tersenyum tipis.

"Kalian ingin main opini," gumamnya. "Baik. Tapi opini tanpa bukti hanya panggung. Dan panggung paling mudah runtuh kalau tiangnya dipotong."

Di feed, Siska mulai melatih ekspresi menangis di depan kamera ponsel.

Bima menatapnya tanpa berkedip.

Malam ini ia mendapatkan uang lima juta, level lima, drone tak terlihat, dan kemampuan merobek jejak digital. Hadiah terbesarnya adalah jalan untuk menyerang balik.

Hadiah terbesar adalah mengetahui bahwa musuh berikutnya cukup bodoh untuk menyerang lebih dulu.

Dan di dunia baru itu, orang yang berniat menusuk dari belakang sebaiknya memastikan tidak ada mata tak terlihat di atas kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!