Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 - AKU TIDAK PERGI
Eh? Wulan tercengang saat mendengar kata-kata itu. Dari maksudnya, sepertinya Nalendra tidak punya niat untuk tinggal malam ini. Padahal ini malam pernikahan mereka, dan ia tidak menyangka pria itu akan memilih pergi begitu saja.
Tetapi sebelum ia sempat memikirkan bagaimana harus membalas kata-katanya, ia mendengar Nalendra berdiri dan sepertinya hendak berjalan keluar. Tanpa memikirkan hal lain, Wulan melepas kerudung penghalang di kepalanya, berdiri, dan berlari mencoba menangkapnya. Ia tidak akan membiarkan pria ini pergi — bukan malam ini, bukan lagi.
Wulan terlalu cemas untuk bangun, dan ia gagal mengendalikan kekuatannya, jadi Wuri yang sangat kuat itu memukul mundur Nalendra dua atau tiga langkah, lalu menekannya erat-erat ke pintu. Suara benturan kecil terdengar, dan Nalendra terpaksa berhenti dengan punggung menempel di daun pintu.
Nalendra tidak menyangka ia akan melemparkan dirinya ke pelukannya seperti ini, dan tanpa peringatan, gadis kecil itu menabrak dadanya sekuat tenaga. Untuk sesaat, pangeran yang selalu tenang itu pun kehilangan keseimbangan.
Napas Wulan sedikit cepat. Nalendra sedikit terkejut dan tanpa sadar mengulurkan tangan untuk memeluknya agar ia tidak jatuh ke tanah. Tangan itu terangkat lebih dulu daripada pikirannya, seperti kebiasaan lama yang telah tertanam terlalu dalam.
Wuri selalu menghindarinya sebelumnya, setiap kali melihatnya, ia selalu seperti melihat binatang prasejarah yang siap menerkam. Nalendra telah menyadari keanehan perubahannya dalam dua hari ini, tetapi karena ia beberapa hari yang lalu baru saja bangun setelah jatuh ke air, ia hanya mengira gadis itu sedikit bingung dan belum pulih benar.
Ia sudah lama mengagumi Pangeran Cendana, dan baru saja ia melihat Wulan dan Pangeran Cendana bertingkah begitu dekat dan seperti sepasang kekasih. Pria itu pastilah orang yang ingin ia nikahi. Hatinya sedikit sakit. Saat ini, sepertinya ia sudah tidak punya alasan lagi untuk tinggal di ruangan ini. Semakin lama ia berada di sini, semakin terasa bahwa ia hanyalah orang asing yang tidak diundang.
Jadi bagaimana jika ia meminta Sultan Kanaka untuk menikahkan mereka, lalu bagaimana jika Wuri menjadi Putri Senja yang sah? Pangeran Cendana benar, orang yang ia cintai bukanlah dia. Memikirkan hal ini, ia menertawakan dirinya sendiri. Ia, panglima besar Bala Senja yang ditakuti seluruh Kesultanan, ternyata tidak lebih dari seorang pria yang mengejar bayangan seorang gadis yang tidak pernah memandangnya.
Wulan tidak menyadari banyaknya pemikirannya. Ia hanya meraih kerah bajunya erat-erat, menatapnya, menggigit bibir, dan bertanya, "Mau ke mana?" Suaranya bergetar, tetapi tangannya tidak mau melepaskan kerah jubah hitam itu, seperti takut begitu ia mengendurkan genggamannya, pria itu akan menghilang dari hadapannya selamanya.
Pada malam pernikahan di kehidupan sebelumnya, Nalendra tidak tinggal di kamarnya. Wulan mengingatnya dengan jelas, karena malam itu adalah salah satu penyesalan terbesarnya — pria yang selalu setia menunggu itu bahkan tidak bersedia berbagi satu malam dengannya.
Ia tahu pikirannya tidak ada di sini, jadi ia tidak pernah memaksanya. Selama lima tahun, ia membiarkan Wulan melakukan segalanya sesukanya dan tidak pernah menyentuhnya di luar batas. Di saat-saat paling intim, ia hanya mengkhawatirkan apakah ia terluka dan membawanya kembali ke kamar. Kelembutan itu dulu tidak pernah Wulan hargai, dan kini ia menyesali setiap detik kebodohannya.
Jadi, apakah ia akan berangkat hari ini juga? Wulan menggigit bibirnya semakin erat, menahan perasaan takut yang mulai merambat di dadanya. Ia tidak akan membiarkan sejarah yang sama terulang dua kali.
Nalendra menatap matanya yang berkedip-kedip, mengulurkan tangan untuk membantunya melepas aksesori rambut yang rumit di kepalanya, mengusap rambutnya, dan menghela napas. "Proses hari ini rumit, dan kamu lelah sepanjang hari. Beristirahatlah yang baik, ya?" Gerakannya lembut, tetapi jawabannya tetap menghindar dari pertanyaan yang sebenarnya.
"Apakah kamu tidak di sini?" Wulan mengabaikan kata-katanya, hanya memegang tangannya erat-erat dan bertanya dengan keras kepala. Ia tidak mau mendengar alasan, tidak mau mendengar pengalihan, ia hanya ingin satu kepastian.
Nalendra menghela napas, menepuk kepalanya dengan nyaman, menariknya untuk duduk di tempat tidur, tetapi tetap menghindari menjawab, "Beristirahatlah." Ia meletakkan tangan di pundak Wulan, berusaha menenangkan gadis yang sedang gelisah itu.
"Nalendra, aku..." Wulan menggigit bibirnya, seolah mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. "Aku minta maaf padamu. Itu adalah kesalahanku sebelumnya, tetapi sekarang kamu dan aku sudah menikah, aku tidak akan memikirkan orang lain lagi." Kata-kata itu keluar pelan, tetapi setiap suku katanya penuh ketulusan yang tidak bisa dipalsukan.
Ia menatapnya dengan hati-hati, matanya sedikit merah. "Bisakah kamu... bisakah memaafkanku?" Suaranya nyaris pecah, dan untuk sesaat ia tampak seperti gadis kecil yang takut ditolak oleh orang yang paling ia sayangi.
Nalendra menatapnya dengan saksama, seolah ingin melihat ke dalam hatinya melalui matanya. Wulan menatap matanya tanpa berniat menghindari rasa bersalah, dan ada ketegasan serta keikhlasan di matanya yang jernih. Tidak ada kepalsuan di sana, tidak ada permainan.
Setelah sekian lama, Nalendra menghela napas, dan tiba-tiba mengulurkan tangan untuk menutupi matanya. Suaranya agak dalam. "Aku tidak akan pergi." Hanya kalimat singkat itu, tetapi di dalamnya tersimpan janji yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah ia ucapkan sebelumnya.
Ini bukan tentang memaafkan atau tidak. Lagi pula, ia tidak pernah mendiskusikan sebelumnya dengan Wulan tentang meminta Sultan Kanaka menikahkan mereka. Apalagi orang yang ia sukai saat itu bukanlah dirinya. Lagipula, meski ia mengeluh tentangnya, itu wajar. Ia tidak punya keluhan apa pun, karena semua yang ia lakukan selama ini adalah keputusannya sendiri.
Nalendra tidak tahu apa yang dipikirkan Wulan. Ia telah mengambil keputusan. Tidak peduli apa yang terjadi malam ini, ia tidak akan membiarkannya pergi. Karena di kehidupan sebelumnya tidak ada hubungan nyata antara suami dan istri, mereka hanya memiliki nama suami istri. Hari ini ia akan mengukuhkan kenyataan pasangan ini, dimulai dari malam yang seharusnya menjadi milik mereka berdua.
Tuhan memberinya kesempatan untuk memulai kembali. Ia juga telah melihat dengan jelas orang yang ia cintai. Kenapa ia masih harus malu? Ia sudah merasakan sakitnya kehilangan di kehidupan sebelumnya. Tidak semua orang bisa kehilangan lalu menemukan kembali. Dan Wuri tidak pernah menjadi orang yang pemalu; ia hanya menyukai seseorang jika ia benar-benar menyukainya, dan ia tidak akan pernah menyembunyikannya.
Wulan menurunkan tangannya dan melirik sepasang lilin merah bermotif naga dan burung hong di atas meja yang hampir padam. Saat itu sudah lewat tengah malam, dan Nalendra memadamkan dian teratai emas di ruangan itu, hanya menyisakan cahaya lilin yang redup. Sepasang lilin merah itu menyala pelan, menerangi wajah mereka berdua dengan lembut.
Ruangan menjadi gelap dalam sekejap, dan ada keheningan di luar jendela. Nalendra berbaring di sampingnya, menepuk kepalanya dengan nyaman, dan menarik selimut brokat, hanya memperlihatkan wajah kecilnya. Ia berkata, "Baiklah, tidurlah." Suaranya lembut, seperti bisikan yang menenangkan.
Wulan tercengang: "..."
Ini akhirnya? Semua ketegangan yang ia rasakan sejak tadi, semua rasa malu yang ia kumpulkan, semua keberanian yang ia kumpulkan untuk menghadapi malam ini — hanya berakhir dengan ajakan tidur?
Itu saja! Wulan tidak tahu harus tertawa atau marah. Ia menatap Nalendra yang sudah berbaring tenang di sampingnya, dan perasaan campur aduk memenuhi dadanya.
Aroma dingin milik Nalendra masih melekat di napasnya, dan Wulan mencoba sebaik mungkin untuk bersandar padanya. Ia merapatkan tubuhnya, merasakan kehangatan yang aneh di balik kesejukan itu, dan untuk sesaat semua kekhawatirannya mencair.
"Ini... akhirnya?" Wulan tidak percaya, mengulang pertanyaan yang sama dengan nada yang nyaris tidak terdengar. Ia menatap Nalendra dari samping, masih menunggu sesuatu yang lebih.
Nalendra tidak bisa menahan diri dan tertawa. "Wuri, perempuan harus dilindungi undang-undang." Jawabannya singkat, tetapi ada kilatan kelembutan di matanya, dan Wulan menyadari bahwa pria ini sedang menjaga sesuatu yang menurutnya belum waktunya.
Wuri mendengus dengan jijik. Sialan sikapnya yang pendiam. Jika ia terus menahan diri seperti ini, suaminya akan pergi. Dalam kehidupan ini, ia akan bersikap tanpa pamrih, sepanjang waktu, dan tanpa malu-malu. Tetap padanya! Ia mengerucutkan bibir, lalu dengan berani merangkul lengan Nalendra dan menempelkan pipinya di dada pria itu, menolak untuk melepaskannya.
Sepanjang malam itu, Wulan tidak pernah melepaskan pegangannya pada Nalendra. Ia berbicara dengan suara pelan, bercerita tentang hal-hal kecil yang selama ini ia simpan, dan Nalendra mendengarkan sambil sesekali mengusap rambutnya. Ketika fajar akhirnya menyelinap masuk melalui celah jendela, keduanya masih terjaga — bukan karena keintiman yang berlebihan, tetapi karena keduanya sama-sama takut kehilangan momen yang telah mereka tunggu selama dua kehidupan.