Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Penempaan Bilah Nihilitas dan Ujian Pohon Berakal
Aura keabadian yang ditinggalkan oleh Naga Primal Kronos masih menyelimuti dasar jurang, tetapi sisa-sisa kedamaian itu segera tergantikan oleh tekad yang membakar jiwa Kala. Bocah yang kini telah melangkah ke Ranah Penempa Jiwa Tingkat Awal itu berdiri di hadapan sisa kerangka sang naga. Tulang belakang Kronos yang berkilau hitam legam tampak seperti barisan logam mistis yang belum tersentuh oleh tangan manusia.
Kala tahu, kekuatan mata saja tidak akan cukup untuk menebas takdir yang mengunci dunia ini. Dia membutuhkan perpanjangan dari jiwanya sendiri. Sebuah senjata.
Kala melangkah mendekati tulang belakang naga. Mengikuti insting purba yang kini mengalir dalam darah naganya, dia mengulurkan tangan kanan. Sinar keperakan memancar dari telapak tangannya, menyelimuti bagian tulang ekor Kronos yang paling padat. Dengan satu sentakan batin yang kuat, Kala menarik sumsum dan inti dari tulang tersebut.
WUUUSH!
Api jiwa berwarna perak menyembur dari dada Kala, membungkus material tulang naga itu di udara. Tanpa tungku penempaan, tanpa martil, Kala menggunakan kehendak batinnya sendiri untuk menekan dan membentuk logam hitam itu selama berhari-hari. Di bawah pengawasan konstelasi bintang yang berputar di dalam mata Black Hole-nya, struktur tulang yang tadinya tebal perlahan-lahan menyusut, memanjang, dan menipis.
Proses itu memakan waktu empat puluh sembilan hari di dalam ruang isolasi jurang. Selama itu pula, Kala tidak makan ataupun minum; energinya murni disokong oleh transformasi Qi dari inti naga.
Pada hari terakhir, api perak itu padam dengan sentakan kejut yang kuat.
Di hadapan Kala, melayang sebilah pedang yang sangat unik. Pedang itu berjenis Jian—pedang lurus dua sisi khas para pendekar, namun bentuknya luar biasa tipis, hampir setipis selembar kertas. Bilahnya berwarna hitam kelam, seolah sengaja menyerap cahaya di sekelilingnya. Di sepanjang garis tengah bilah tipis itu, terdapat guratan halus berwarna perak yang berdenyut pelan, beresonansi secara mistis dengan detak jantung Kala. Ketika Kala menggenggam gagangnya, pedang itu tidak mengeluarkan suara tebasan angin biasa, melainkan dengungan frekuensi rendah yang sunyi namun menggetarkan ruang di sekitarnya.
"Aku akan menamaimu... Bilah Nihilitas Kosmos," bisik Kala.
Namun, saat pedang itu sepenuhnya terbentuk, sebuah getaran destruktif meledak. Karena bilahnya terlalu tipis dan mengandung energi hampa dari naga waktu, hawa pembunuh yang dipancarkannya mulai mengikis realitas di sekeliling gua. Batu-batu di sekitarnya menua dan retak menjadi abu hanya karena terpapar auranya. Pedang ini terlalu liar. Jika dibiarkan tanpa pelindung, pedang ini akan melahap energi kehidupan Kala sendiri sebelum dia sempat menggunakannya.
Dia membutuhkan sarung pedang yang mampu menyegel kehancuran ini.Mengingat petunjuk terakhir dari
Mengingat petunjuk terakhir dari memori naga, Kala melangkah meninggalkan dasar jurang melalui celah kuno yang menembus hingga ke bagian belakang benua fana—sebuah wilayah terlarang yang dijaga ketat oleh klan besar bernama Klan Badai Hijau. Tempat itu adalah Hutan Akalbuana.
Berbeda dengan dataran salju hitam di Perguruan Pedang Langit, Hutan Akalbuana dipenuhi oleh vegetasi hijau yang sangat lebat namun memancarkan aura yang mencekam. Pepohonan di tempat ini bergerak secara halus, seolah-olah memiliki mata yang mengawasi setiap penyusup. Di sinilah Kala berjalan dengan pedang telanjang di tangannya yang terus mendengung, mengikis daun-daun yang layu sebelum sempat menyentuh tanah.
Setelah menembus kabut tebal selama tiga hari, Kala tiba di sebuah tanah lapang purba. Di pusatnya, berdiri sebuah pohon raksasa yang batangnya setinggi gunung kecil. Daun-daunnya tidak berwarna hijau, melainkan putih keperakan dengan urat-urat daun yang bersinar seperti rasi bintang di langit malam. Itulah Pohon Akalbuana (The Sentient World Tree).
Saat kaki Kala melangkah ke area akar pohon tersebut, sebuah tekanan batin yang sangat agung menghantam isi kepalanya. Semburan angin hijau berputar kencang, mencoba mengusir Kala kembali ke luar hutan.
"Siapa yang berani membawa bilah pembawa maut dari naga terkutuk itu ke tanah suciku?!"
Sebuah suara wanita yang anggun, misterius, sekaligus penuh wibawa bergema langsung di dalam kesadaran Kala. Suara itu berasal dari pohon itu sendiri. Pohon Akalbuana memiliki kecerdasan berpikir dan telah hidup sejak awal waktu diciptakan.
Kala menancapkan kakinya dalam-dalam ke tanah, menolak untuk mundur meski tekanan angin dari sang pohon mulai merobek pakaian raminya. Dia membuka penutup kain yang sejak tadi menyembunyikan matanya. Kedua netra Black Hole miliknya berkilat, memancarkan pusaran galaksi mini yang langsung mengunci pandangan ke arah jantung pohon.
"Namaku Kala," jawabnya tenang, suaranya menggaung mantap di tengah badai. "Aku datang untuk meminta sepotong jantung kayumu demi dijadikan sarung dari bilah ini."
Pohon Akalbuana terdiam sejenak. Daun-daun peraknya bergemerisik kencang, seolah sedang membaca garis takdir dan masa lalu yang melekat pada tubuh bocah di depannya. "Netra Kosmos... Jadi kau adalah anomali yang ditakuti oleh para bajingan di langit itu? Bocah kecil, dewa-dewa elemental telah berulang kali datang ke sini, menawarkan jutaan persembahan hanya untuk mendapatkan satu cabang kayuku, dan aku menolak mereka semua. Mengapa aku harus memberikannya kepada seorang bocah fana penuh dendam seperti dirimu?"
"Karena mereka yang kau sebut dewa adalah para penjahat yang merusak tatanan waktu dunia ini," Kala melangkah maju satu langkah lagi, getaran energinya mulai bangkit. "Mereka membunuh keluargaku hanya untuk hiburan takdir mereka. Jika kau memberikan kayumu, aku bersumpah tidak hanya akan menyegel pedang ini, tetapi aku akan menggunakan benturan energi mereka untuk menghentikan kegilaan para dewa di atas langit sana!"
Mendengar tantangan itu, Pohon Akalbuana melepaskan sebuah ujian mental. Seketika, kesadaran Kala ditarik ke dalam ilusi masa lalu yang mengerikan. Dia dipaksa melihat kembali momen di mana Maryam ditendang hingga tewas, dan bagaimana leher Ayla robek oleh bilah angin di depan matanya sendiri. Ilusi itu terjadi berulang-ulang, ribuan kali dalam hitungan detik, mencoba menghancurkan batin Kala dengan penyesalan dan keputusasaan yang abadi.
Jika itu adalah kultivator biasa, jiwa mereka pasti sudah retak dan menjadi gila. Namun, di dalam pusaran ilusi itu, mata Black Hole Kala justru berputar semakin cepat. Bukannya hancur oleh kesedihan, kegelapan di matanya justru menelan seluruh rasa sakit itu, mengubahnya menjadi tekad yang sedingin es absolut.
"Waktu tidak bisa diputar kembali untuk saat ini..." bisik Kala di dalam ilusinya. "Tapi aku yang akan menentukan kapan waktu mereka berakhir!"
PRANG!
Dunia ilusi itu hancur berkeping-keping seperti kaca. Kala kembali berdiri di dunia nyata, napasnya memburu, namun matanya menatap Pohon Akalbuana dengan ketajaman yang tidak tergoyahkan.
Pohon purba itu tertegun. Badai angin hijau yang tadinya mengamuk tiba-tiba reda sepenuhnya. Suara wanita misterius itu kembali terdengar, kali ini dengan nada yang mengandung sedikit rasa hormat dan kepatuhan.
"Luar biasa... Kau tidak dikendalikan oleh dendammu, melainkan kau yang mengendalikan dendam itu menjadi hukummu sendiri. Sangat baik, Kala. Aku telah muak melihat kemunafikan penguasa langit. Anggap saja ini adalah taruhanku untuk masa depan semesta."
CRACK.
Sebuah cabang kayu yang terletak di bagian paling suci dari jantung pohon itu patah dengan sendirinya. Cabang kayu berwarna putih perak itu melayang jatuh, mendarat dengan lembut di tangan kiri Kala. Begitu menyentuh kulit Kala, kayu itu langsung menyusut dan membentuk dirinya sendiri menjadi sebuah sarung pedang yang sangat pas untuk bilah tipis miliknya.
Sarung pedang itu tampak ramping, elegan, dan di permukaannya terukir urat kayu berbentuk rasi bintang galaksi yang bersinar redup. Begitu Kala memasukkan Bilah Nihilitas Kosmos ke dalam sarung kayu tersebut...
CLANG!
Sebuah dentingan besi dan kayu bergema secara magis. Seluruh hawa pembunuh yang tadinya merusak realitas langsung lenyap seketika, terkunci sempurna di dalam pelukan kayu spiritual Yggdrasil. Hubungan harmonis antara pedang tulang naga (penghancur ruang) dan sarung kayu spiritual (penahan waktu) telah tercipta.
"Ingat, anak muda," suara wanita dari pohon itu kini bergema langsung dari dalam sarung pedang yang dipegangnya, menandakan bahwa kecerdasan gaib sang pohon telah menyatu sebagai penasihat batin Kala. "Pedang dan sarung ini kini adalah satu kesatuan Hukum. Ketika kau menarik bilah tipis ini keluar sepanjang sepuluh sentimeter, benturan energi hampa naga dan energi kehidupan dariku akan memicu kejutan kosmik yang membekukan waktu di sekitarmu. Namun, hukum alam tidak bisa dikelabui. Kau hanya bisa menghentikan mereka yang ranah kekuatannya setara atau di bawahmu. Jika kau memaksakannya pada yang lebih kuat, tekanan balik dari ruang yang menolak berhenti akan menghancurkan organ dalammu sendiri."
Kala mengikatkan sarung pedang putih perak itu di pinggang kirinya. Tangan kanannya bertumpu pada gagang pedang hitamnya.
"Aku mengerti," ucap Kala datar. "Tingkat pengetahuanku saat ini sudah cukup. Sekarang, saatnya semut-semut di Perguruan Pedang Langit membayar hutang darah mereka."
Kala berbalik, melangkah keluar dari Hutan Akalbuana dengan langkah yang mantap. Tahap persiapannya telah selesai. Perjalanan berdarahnya untuk meruntuhkan perguruan pertama di dunia fana akan segera dimulai.