"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Mobil BMW itu melaju perlahan melewati sebuah bangunan yang begitu akrab di benak Ibra.
Sebuah pesantren.
Tatapannya mengikuti bangunan itu hingga perlahan menghilang dari kaca spion.
Belasan tahun yang lalu, tempat itulah yang menjadi rumah keduanya. Di sana ia belajar mengaji, menghafal Al-Qur'an, dan menimba ilmu agama dari para kiai yang begitu dihormatinya.
Namun semua berubah ketika usianya menginjak tiga belas tahun. Ayahnya dipindahtugaskan ke Jakarta, memaksa mereka meninggalkan kota itu beserta seluruh kenangan yang ada.
Kehidupan di kota besar perlahan menyeretnya ke arah yang berbeda. Kesibukan, ambisi, dan kerasnya persaingan membuat ilmu agama yang dahulu begitu dijaganya mulai terabaikan. Salat sering ditunda, mengaji menjadi kebiasaan yang hilang, sementara hatinya semakin jauh dari ketenangan yang dulu pernah ia rasakan.
Tak jarang penyesalan datang menyergap di malam-malam yang sunyi. Ditambah lagi trauma masa lalu yang belum pernah benar-benar sembuh, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang dingin, sulit mengekspresikan perasaan, dan cenderung menutup diri dari orang lain.
Pandangannya beralih ke kursi belakang. Arjun telah terlelap dengan kepala bersandar di sandaran kursi, wajah polosnya terlihat begitu damai.
Tanpa sadar, sudut bibir Ibra melunak.nHanya sesaat.nIa kembali teringat pada pesan terakhir almarhum ibunya sebelum berpulang.
"Ibra... jangan terus hidup dengan luka yang kamu simpan sendiri. Berubahlah. Jadilah ayah yang hangat untuk Arjun. Anak itu tidak butuh ayah yang sempurna, dia hanya butuh ayah yang bisa membuatnya merasa dicintai."
Pesan itu terus terngiang hingga sekarang. Ibunya juga memintanya melakukan satu hal lagi.
Kembali ke pesantren tempat ia pernah menimba ilmu. Menemui para guru yang dahulu membimbingnya. Meminta maaf atas semua tahun yang telah ia lewatkan tanpa kabar.
Dan... Menemui seorang gadis.
Teman masa kecilnya. Gadis yang begitu disayangi almarhum ibunya hingga berkali-kali disebut dalam setiap doa dan pesannya.
"Kalau Allah masih mengizinkan kalian bertemu, temuilah dia."
Ibra mengembuskan napas pelan. Entah gadis itu masih mengingatnya atau tidak.
Kemungkinan besar tidak. Saat ia meninggalkan kota ini, usianya sudah tiga belas tahun. Sementara gadis kecil itu baru berusia sekitar tiga tahun.
Barangkali, wajahnya pun sudah lama hilang dari ingatan gadis itu.
"Kalau memang berjodoh..." gumam Ibra lirih. "Pasti Allah akan mempertemukan kami dengan cara-Nya."
Tanpa ia sadari, beberapa menit yang lalu takdir telah mempertemukannya dengan seseorang yang selama ini diminta ibunya untuk ia temui.
Hanya saja... Tak satu pun dari mereka menyadarinya.
***
Azel akhirnya tiba di daycare milik umanya. Ia memarkirkan motornya, lalu melangkah masuk ke dalam bangunan dengan pakaian yang masih dipenuhi bercak lumpur.
Senyum ramah para pengasuh langsung menyambut kedatangannya. Namun, beberapa di antara mereka tampak heran melihat penampilan Azel yang berantakan.
"Astaga, Ning, habis kehujanan?" tanya salah seorang pengasuh.
Azel mengembuskan napas panjang. "Bukan kehujanan... korban genangan air gara-gara orang yang nyetirnya kayak lagi balapan."
Sambil masih mengomel pelan, ia berjalan menuju ruang kerja umanya. Selain ingin bertemu, ia juga berniat menjemput sang uma agar mereka bisa pulang bersama.
"Assalamu'alaikum, Uma."
"Wa'alaikumussalam. Iya, masuk saja, Zel."
Azel membuka pintu ruang kerja sang uma. Perempuan paruh baya yang semula sedang merapikan beberapa berkas itu langsung mendongakkan kepala.
Namun, begitu melihat penampilan putrinya, dahinya seketika berkerut. "Astaghfirullah..."
Pandangannya menyapu pakaian Azel yang dipenuhi bercak lumpur, kerudung yang masih lembap, hingga sepatu yang tak kalah kotornya.
"Kenapa baju kamu kotor begitu, Nak?" tanyanya khawatir sambil berdiri dari kursinya.
Azel mengembuskan napas panjang, masih kesal mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. "Tadi di jalan ada genangan air, Uma. Aku sudah pelan-pelan lewatnya. Eh, tiba-tiba ada mobil dari belakang ngebut, langsung nerobos genangan. Byur! Air bercampur lumpurnya nyiprat semua ke aku."
Ia merentangkan kedua tangannya, memperlihatkan pakaian yang dikenakannya. "Lihat, Uma. Jaket almamater, kerudung, bahkan gamis yang di dalam juga ikut basah dan kotor."
"Innalillahi... kasihan sekali kamu."
"Iya. Mana orangnya nyebelin lagi."
"Terus dia kabur?"
"Nggak. Aku kejar sampai berhasil aku hadang."
Sang uma menatap Azel dengan mata membulat. "Kamu ngejar mobilnya?"
"Iya."
"Ya Allah, Zel. Untung nggak kenapa-kenapa."
Azel hanya meringis kecil. "Yang bikin kaget, ternyata yang nyipratin aku itu ayahnya Arjun."
"Arjun siapa?"
"Arjun, salah satu anak yang dititipkan di sini."
"Oh..." sang Uma mengangguk pelan. "Mungkin dia anak yang baru beberapa bulan ini, ya? Soalnya Mbak Hesti memang pernah cerita ada anak yang hanya dititipkan beberapa jam setiap hari."
Azel mengangguk.n"Iya, Uma."
"Kamu juga tau sendiri, akhir-akhir ini Uma jarang ke daycare karena harus bolak-balik Jakarta-Bandung untuk urusan keponakan kamu. Jadi banyak anak baru yang belum sempat Uma kenal."
"Iya, tadi juga aku baru tau ternyata ayahnya yang jemput."
"Lalu bagaimana? Ayahnya minta maaf?"
Azel mendengus pelan. "Awalnya malah nyebelin banget."
"Kenapa memang?"
"Dia bilang, 'Oh, ternyata ada orang.'"
Sang uma menghela napas sambil menggeleng pelan. "Lalu?"
"Terus dia bilang aku terlalu kecil sampai nggak kelihatan."
Uma spontan tertawa kecil meski berusaha menahannya. "Astaghfirullah... kok bisa begitu?"
"Lucu ya, Uma? Aku yang jadi korban malah dibilang kecil."
"Terus akhirnya?"
"Ya... akhirnya sih minta maaf."
"Alhamdulillah."
"Tapi minta maafnya juga nyebelin."
"Memangnya bagaimana?"
"'Oke. Maaf. Selesai?'"
Sang uma kembali terkekeh pelan. "Kayaknya orangnya memang sulit mengekspresikan diri."
"Itu bukan sulit, Uma. Itu namanya bikin emosi."
Mendengar putrinya masih menggerutu, sang uma tersenyum tipis lalu mengusap kepala Azel dengan penuh kasih sayang. "Sudahlah. Yang penting kamu tidak kenapa-kenapa. Sekarang kita pulang dulu. Kamu harus segera mandi air hangat dan ganti baju, nanti masuk angin."
Azel mengangguk. "Iya, Uma."
***
Begitu mobil BMW itu memasuki halaman rumah, Ibra mematikan mesin dan menoleh ke kursi belakang.
Arjun masih terlelap. Bocah itu bahkan tidak terbangun saat sabuk pengamannya dilepaskan.
Ibra membuka pintu belakang, lalu mengangkat tubuh kecil putranya dengan hati-hati. Kepala Arjun secara refleks bersandar di bahunya, sementara kedua tangan mungilnya memeluk leher sang ayah.
Ibra melangkah masuk ke dalam rumah yang begitu sunyi. Setelah menaiki tangga, ia membuka pintu kamar Arjun.
Perlahan, ia membaringkan putranya di atas ranjang. Dengan gerakan yang nyaris tanpa suara, ia melepaskan sepatu sekolah yang masih melekat di kaki Arjun, kemudian merapikannya di samping tempat tidur. Kaus kaki kecil itu pun ia lepaskan agar putranya bisa tidur lebih nyaman.
Saat Ibra hendak menarik selimut, suara lirih terdengar dari bibir Arjun yang masih terpejam.
"...Aku pengen punya Mama...."
Deg!
Gerakan tangan Ibra seketika terhenti. Dadanya terasa sesak. Tatapannya tak lepas dari wajah putranya yang masih tertidur lelap, seolah kalimat itu hanyalah igauan biasa.
Namun bagi Ibra.... Kalimat sederhana itu terasa seperti menghunjam tepat ke dalam hatinya.
Ia tau, selama 5 tahun hidupnya, Arjun tidak pernah benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu.
Memang, almarhum ibunya telah mencurahkan seluruh cinta kepada Arjun sejak bayi. Bocah itu tumbuh dalam pelukan sang nenek, tidak pernah kekurangan perhatian maupun kasih sayang.
Tetapi... Kasih sayang seorang nenek tetap tidak akan pernah sama dengan pelukan seorang ibu. Dan Ibra menyadari itu.
Selama ini ia terlalu sibuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan luka masa lalu hingga lupa bahwa putranya juga memikul kehilangan yang sama. Bahkan mungkin, jauh lebih berat.
Arjun kehilangan sosok ibu sebelum sempat mengenalnya.
Sementara dirinya, ia justru gagal menjadi ayah yang mampu mengisi kekosongan itu.
Rasa bersalah perlahan memenuhi dadanya.
"Ayah minta maaf..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Jemarinya mengusap lembut rambut Arjun. "Ayah masih belajar."
Ia kemudian menyelimuti tubuh kecil itu hingga ke dada. Beberapa saat Ibra hanya berdiri memandangi putranya, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
Dengan langkah pelan, ia mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur yang temaram.
Pintu kamar ditutup perlahan agar tidak membangunkan Arjun.
Begitu berada di luar, Ibra menyandarkan punggungnya pada dinding lorong. Matanya terpejam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar merasa bahwa kehidupan yang dingin dan penuh luka yang ia jalani seharusnya tidak ikut diwariskan kepada putranya.
Arjun berhak tumbuh dalam kehangatan.
Dan mungkin... Sudah saatnya ia menepati janji yang pernah ia ucapkan kepada almarhum ibunya.
***
"Huft... Alhamdulillah, akhirnya bersih juga. Tinggal nunggu kering, deh."
Azel mengembuskan napas lega sambil merapikan jemuran. Jaket almamater, gamis, dan kerudung yang baru saja selesai ia cuci kini tergantung berjajar di bawah hangatnya sinar matahari sore.
"Ning."
Azel menoleh. "Iya, Mbak?"
Seorang perempuan paruh baya menghampirinya sambil membawa keranjang berisi pakaian bersih. "Kenapa nggak minta tolong saya aja buat nyuci semuanya?"
Perempuan itu adalah Mbak Ratna, khadijah ndalem yang sudah lama bekerja di rumah tersebut. Bagi Azel, Mbak Ratna sudah seperti keluarga sendiri.
Azel tersenyum.n"Nggak apa-apa, Mbak. Mbak Ratna kan sudah banyak kerjaan. Lagian ini baju aku sendiri, masa masih nyuruh Mbak juga. Aku masih bisa nyuci sendiri, kok."
Mbak Ratna tersenyum haru. "Ning memang dari dulu baik banget."
Azel terkekeh kecil. "Ih, Mbak. Masa cuma gitu aja dibilang baik?"
"Iya, Ning. Soalnya nggak semua orang mau ngerjain sendiri kalau di rumah ada yang bisa bantu."
Azel hanya mengangkat bahu. "Selama aku masih mampu, ya aku kerjain sendiri. Kasihan juga kalau semua dibebanin ke Mbak."
Wajah Mbak Ratna semakin teduh mendengarnya. "Masya Allah... semoga Allah selalu jaga Ning."
"Aamiin."
Azel kemudian menyenggol pelan lengan Mbak Ratna sambil tersenyum usil. "Tapi... yang paling penting sekarang, Mbak Ratna masak yang enak buat aku, ya."
Mbak Ratna langsung tertawa. "Hahaha... itu mah sudah pasti, Ning."
"Hari ini masak apa?"
"Kesukaan Ning."
Mata Azel langsung berbinar. "Serius? Jangan bilang..."
Mbak Ratna mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Ada ayam goreng, sayur asem, sama sambal dadak."
"Masya Allah!"
Azel langsung memegang perutnya. "Pantesan dari tadi perut aku demo."
Mbak Ratna menggeleng geli melihat tingkah gadis itu. "Ya sudah, cepat mandi dulu. Habis itu baru makan."
"Siap, Mbak Ratna!"
Dengan langkah ringan, Azel berlari kecil masuk ke dalam rumah, meninggalkan Mbak Ratna yang hanya bisa tersenyum sambil menggeleng pelan melihat tingkah ceria gadis yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah