"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damara Lexander Veldens
Jika Jogja adalah panggung bagi fajar yang tenang dan ambisi yang tertata rapi milik Kayna, maka Jakarta adalah Istana beton berdarah tempat malam berkuasa tanpa ampun. Di tengah-tengah kepulan polusi dan gemerlap lampu kota yang tak pernah tidur, berdiri sebuah monolit kaca hitam setinggi lima puluh lantai di kawasan pusat bisnis Jakarta. Papan nama di lobi utama memancarkan kemewahan yang dingin dan absolut: Veldens Management.
Di lantai teratas gedung tersebut, atmosfer ruangan terasa begitu mencekam hingga helaan napas pun terdengar seperti sebuah pelanggaran. Di balik meja kerja raksasa yang terbuat dari kayu jati kuno berlapis marmer hitam, seorang pria duduk dengan keanggunan seorang raja yang sedang mengawasi daerah jajahannya.
Damara Lexander Veldens. Di usianya yang baru menginjak dua puluh delapan tahun, pria berdarah campuran Indo-Belanda itu telah menjelma menjadi sosok paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti di industri hiburan dan fashion internasional. Sebagai CEO tunggal Veldens Management, satu petikan jarinya bisa mengangkat seorang model amatir menjadi bintang kelas dunia dalam semalam—atau sebaliknya, menghancurkan karier seorang selebritas papan atas hingga tak bersisa hanya dengan satu kedipan mata.
Secara fisik, Damara—atau yang lebih kerap disapa Pak Mara oleh para bawahannya—adalah definisi dari ketampanan yang berbahaya. Garis rahangnya yang tegas dan tajam seolah dipahat oleh seniman berhati dingin. Rambut gelapnya ditata rapi ke belakang, mempertegas kening dan sepasang mata elang berwarna abu-abu gelap kebiruan—warisan genetik murni dari ayahnya, Nollan Andriaan Veldens, sang miliuner Belanda. Namun, tatapan mata itu sama sekali tidak memiliki kehangatan; kosong, tajam, dan sanggup menguliti keberanian siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama. Pagi ini, ia mengenakan setelan tiga potong jas hitam premium yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna, memancarkan aura dominasi mutlak seorang diktator.
Di hadapannya, seorang wanita muda yang dikenal sebagai supermodel papan atas Indonesia sekaligus ikon fashion Asia, sedang berlutut di atas lantai marmer yang dingin dengan air mata yang merusak riasan wajah mahalnya.
"T-tolong saya, Pak Mara... Saya mohon, beri saya satu kesempatan lagi," tangis wanita itu bersujud, bahunya berguncang hebat karena ketakutan. "Saya mengaku salah karena telah menerima kontrak dari agensi saingan tanpa persetujuan Anda. Tapi saya bersumpah, saya tidak membocorkan rahasia desain eksklusif Veldens!"
Mara tidak bergerak. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen laporan keuangan di tangannya. Ia meraih cangkir porselen berisi espresso hitam pekat, menyesapnya perlahan dengan gerakan yang begitu tenang, seolah wanita yang menangis histeris di depannya hanyalah sebutir debu yang tidak berarti.
"Di dalam duniaku, Renata," suara Mara akhirnya terdengar. Suara itu berbariton rendah, berat, terdengar begitu tenang namun membawa hawa dingin yang sanggup membekukan darah di dalam nadi. "Hanya ada dua jenis manusia. Mereka yang patuh, dan mereka yang dihancurkan. Kamu sudah memilih opsi kedua saat kamu menandatangani kontrak bodoh itu di belakangku."
"Pak Mara, saya memohon pada Anda! Jika Anda memutus kontrak saya secara sepihak dan mem-blacklist nama saya, karier saya di seluruh dunia akan mati! Tidak akan ada satu pun desainer atau majalah yang mau memakai saya lagi!" ratap Renata dengan suara parau, mencoba meraih ujung sepatu pantofel mengilap milik Mara.
Sebelum tangan Renata sempat menyentuh sepatunya, Mara sedikit menggeser kakinya dengan tatapan jijik. Ia menutup dokumen di depannya dengan ketukan pelan yang terdengar seperti vonis mati di ruang sidang.
"Karier? Kamu salah paham, Renata," Mara menundukkan kepalanya sedikit, menatap wanita itu dengan senyuman tipis yang sangat mengerikan—senyuman seorang predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya. "Bukan aku yang mematikan kariermu. Kamu sendiri yang membunuhnya saat berpikir bahwa kamu cukup penting hingga bisa mengelabui seorang Veldens. Juan, bawa dia keluar. Mulai detik ini, hapus namanya dari seluruh jaringan agensi global. Dia tidak ada lagi di industri ini."
"Baik, Tuan," seorang asisten pria berbadan tegap yang berdiri di sudut ruangan segera maju, menarik Renata yang terus menjerit dan menangis keluar dari ruangan kantor yang luas itu.
Begitu pintu ganda berlapis peredam suara itu tertutup rapat, keheningan kembali menguasai ruangan. Mara menyandarkan punggungnya pada kursi kulit premium, wajahnya kembali datar tanpa emosi. Kekuasaannya di dunia bisnis fashion hanyalah satu dari sekian banyak topeng yang ia kenakan. Di balik tirai legalitas Veldens Management, Mara memikul warisan yang jauh lebih pekat dan berdarah: Mafia Lexans.
Sebuah organisasi bawah tanah internasional yang diwariskan oleh kakeknya, Willem Veldens. Jaringan perdagangan senjata api ilegal kelas kakap dan operasi hitam yang terorganisasi dengan sangat rapi, bersih, dan tak tersentuh oleh hukum negara mana pun. Jika di siang hari ia adalah seorang CEO flamboyan yang dikagumi, maka di malam hari ia adalah sang Capo berdarah dingin yang mengatur perputaran senjata di wilayah Asia Tenggara bahkan lebih luas lagi. Bagi Mara, manusia hanyalah bidak catur, dan dunia adalah papan permainan yang harus tunduk di bawah perintahnya.
Pintu kantornya kembali terbuka tanpa ketukan. Hanya ada satu orang di dunia ini yang berani masuk ke ruang kerja Damara Lexander Veldens tanpa izin terlebih dahulu.
Seorang wanita paruh baya dengan keanggunan aristokrat sejati melangkah masuk. Johanna Marelia Veldens, ibu kandung Mara, anak dari penguasa perkebunan sawit raksasa di Sumatra dan Kalimantan. Mengenakan gaun tenun sutra tradisional yang dipadukan dengan perhiasan mutiara langka, Johanna memancarkan wibawa yang setara dengan putranya.
"Kamu masih saja keras kepala dan tidak punya belas kasihan pada bawahanmu, Mara," ujar Johanna sembari meletakkan tas jinjing mewahnya di atas sofa kulit.
Ekspresi dingin di wajah Mara sedikit mengendur, digantikan oleh kepatuhan formal seorang anak terhadap ibunya. "Belas kasihan adalah kelemahan yang sangat mahal di bidang ini, Ma. Apa yang membawa Mama datang ke kantor sepagi ini? Bukankah Mama seharusnya masih berada di Sumatra?"
Johanna tersenyum tipis, melangkah mendekati meja kerja putranya. "Mama sengaja kembali lebih cepat karena ada urusan yang jauh lebih penting daripada sekadar memeriksa hasil panen sawit. Ini tentang masa depanmu, dan masa depan dinasti Veldens."
Mara menaikkan satu alisnya, ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. "Jika ini tentang daftar putri konglomerat yang Mama susun untuk diperkenalkan padaku, kupikir aku sudah memberikan jawaban yang jelas. Aku tidak punya waktu untuk bermain rumah-rumahan dengan wanita-wanita manja yang hanya mengincar nama belakangku."
"Kali ini berbeda, Mara," potong Johanna dengan nada suara yang berwibawa namun penuh penekanan. "Dia bukan salah satu dari wanita sosialita tidak berguna yang biasa kamu temui di kelab malam atau pesta amal. Dia adalah Kayna Ramida. Putri dari Liliana, pemilik Butik LiLYRa yang menjadi mitra fashion utama kita, dan Erick, pengusaha kuliner legendaris itu."
Mendengar nama itu, Mara terdiam sejenak. Ingatannya berputar pada laporan bisnis bulanan Butik LiLYRa cabang Jogja yang belakangan ini menunjukkan lonjakan grafik keuntungan yang luar biasa ekstrem di bawah pengelolaan seorang gadis muda berusia dua puluh tiga tahun.
"Kayna Ramida..." Mara menggumamkan nama itu dengan nada datar, seolah sedang mengecap rasa dari kata-kata tersebut. "Gadis kecil dari Bandung yang ambisius itu? Aku tahu dia pintar mengelola bisnis ibunya. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dia masih terlalu muda dan tidak menarik bagiku."
"Jangan meremehkannya, Mara," Johanna terkekeh pelan, matanya berbinar dengan kilatan yang sulit diartikan. "Mama sudah bertemu dengannya secara langsung di Jakarta minggu lalu. Dia bukan harimau sirkus yang bisa kamu jinakkan dengan uang atau kekuasaanmu. Gadis itu memiliki sepasang mata elang yang persis sepertimu—penuh ambisi, keras kepala, berprinsip kuat, dan mutlak menolak untuk dikendalikan oleh siapa pun. Sangat jarang ada yang seperti ini. Dan Liliana sempat sangat khawatir karena putrinya itu agak menolak pertemuan kita. Tapi tenang saja, pertemuan akan tetap berlangsung."
Mendengar kalimat terakhir ibunya, gerakan tangan Mara yang hendak mengambil pulpen premiumnya mendadak terhenti di udara. Sepasang mata abu-abunya yang dingin seketika menyipit tajam. Aura intimidatif yang pekat mendadak menguar dari tubuhnya, membuat suhu di dalam ruangan itu terasa turun drastis.
Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, Damara Lexander Veldens selalu menjadi pusat gravitasi. Pria, wanita, rekan bisnis, hingga musuh-musuh di dunia bawah tanah selalu berlutut dan memohon di hadapannya. Tidak pernah ada satu makhluk hidup pun yang berani mengucapkan kata 'tidak' atau menolak apa pun yang berkaitan dengan namanya.
"Dia... menolakku?" desis Mara, suaranya kini terdengar lebih rendah, membawa nada berbahaya yang sanggup membuat merinding.
"Ya," Johanna tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi putranya yang mulai terpancing. "Dia bahkan menolak untuk di kenalkan denganmu." Johana semakin memancing Mara.
Ia kembali menatap ibunya dengan sepasang mata abu-abu yang kini berkilat penuh obsesi yang kelam. "Katakan pada keluarga LiLYRa, Ma. Makan malam minggu depan di Jakarta harus tetap berjalan sesuai rencana. Aku sendiri yang akan menyambut gadis pemberani itu."
"Sudah dulu, Mama mau lanjut belanja. Sampai bertemu di acara makam malamnya ya, Sayang." Johanna meninggalkan ruangan putranya dengan perasaan senang karena telah berhasil membuat putranya mau menghadiri acara makan malam dengan keluarga Liliana. Meskipun harus di kompori dulu.
Mara bersandar kembali pada kursinya. Kali ini, sebuah tawa rendah yang dingin dan terdengar sangat maskulin keluar dari tenggorokannya.
Mengapa ada seorang gadis kecil di kota kecil seperti Johja yang memiliki keberanian sebesar itu untuk menolak seorang penguasa sepertinya? Sifat diktator dan arogansi absolut di dalam darah Mara seketika bergejolak hebat. Penolakan dari Kayna tidak membuatnya mundur, melainkan menyulut sebuah percikan ketertarikan yang gelap dan berbahaya di dalam lubuk hatinya.
"Menarik," ucap Mara perlahan, jemarinya mengetuk meja marmer dengan ritme yang konstan, seolah-olah sedang menghitung mundur waktu menuju kehancuran mangsa barunya. "Keras kepala, ambisius, dan berani menolakku bahkan sebelum kami bertemu... Dia pikir dia siapa?"
Mara mengambil ponsel pribadinya, menekan sebuah nomor khusus yang langsung terhubung dengan kepala intelijen pribadinya di jaringan Mafia Lexans.
"Kirimkan seluruh data pribadi, jadwal harian, dan setiap detail kehidupan Kayna Ramida ke mejaku dalam waktu dua jam," perintah Mara tanpa basa-basi begitu telepon diangkat, lalu memutus sambungan.
Mara tersenyum sinis, membayangkan bagaimana wajah cantik yang digambarkan ibunya itu akan memucat saat berhadapan langsung dengan dominasi mutlaknya.
Di dalam benak sang tirani, sebuah rencana perburuan yang kejam telah dimulai. Kayna Ramida boleh saja merasa dirinya adalah ratu di atas takhta sutranya di Jogja, tetapi begitu ia menginjakkan kaki di wilayah kekuasaan Damara Lexander Veldens di Jakarta, gadis itu akan segera menyadari bahwa dirinya hanyalah seekor burung merpati cantik yang sedang berjalan sukarela masuk ke dalam sangkar emas milik sang predator malam.
"Kamu ingin bermain denganku, Kayna?" bisik Mara pada keheningan ruangan setelah ibunya pergi. "Akan kupastikan kamu memohon untuk dilepaskan setelah seluruh duniamu berada di bawah kendaliku."
...●Bersambung●...