Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Sang Naga Memasuki Provinsi dan Jebakan Hak Paten
Tiga hari kemudian.
Gedung Pusat Pameran Internasional Jiangbei berdiri megah bagaikan raksasa baja dan kaca di pusat Ibukota Provinsi. Dibandingkan dengan Kota Jiangcheng, Jiangbei adalah lautan yang jauh lebih dalam, dipenuhi oleh hiu-hiu bisnis raksasa dan keluarga-keluarga kuno yang telah berkuasa selama berabad-abad.
Pagi itu, KTT Bisnis Kosmetik Nasional resmi dibuka. Ratusan kamera media berkedip, meliput kedatangan para konglomerat dari seluruh penjuru negeri.
Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam—fasilitas VVIP yang diatur oleh Master Tang—berhenti di karpet merah. Pintu terbuka, dan Su Yuhan melangkah keluar.
Ia mengenakan setelan bisnis putih gading yang elegan, memancarkan aura seorang Ratu Es yang berwibawa. Di lehernya, terkalung liontin Giok Hetian pemberian Ye Chen yang bersinar lembut. Di belakangnya, Ye Chen menyusul dengan pakaian kasual namun rapi, bertindak layaknya asisten pribadi sekaligus pengawal.
Begitu Yuhan muncul, puluhan wartawan langsung merangsek maju.
"Direktur Su! Benarkah Salep Dewi Luo bisa menghilangkan bekas luka bakar permanen?"
"Direktur Su, apakah Anda berencana memonopoli pasar perawatan kulit Tiongkok?"
"Nyonya Su, kudengar Anda sedang berkonflik dengan Keluarga Utama Su di provinsi ini. Bagaimana komentar Anda?"
Yuhan tersenyum profesional, menolak menjawab pertanyaan sensitif, dan berjalan masuk ke dalam ruang pameran utama dengan dikawal oleh tim keamanan. Ye Chen berjalan di sisinya, matanya yang setajam elang menyapu seluruh ruangan, mengawasi setiap pergerakan yang mencurigakan.
Di dalam aula pameran, booth milik Grup Kosmetik Su menjadi pusat perhatian. Puluhan distributor besar dari berbagai provinsi mengantre panjang hanya untuk melihat sampel Salep Dewi Luo.
Namun, tepat ketika Yuhan bersiap untuk naik ke podium presentasi, suasana aula mendadak hening.
Dari arah pintu masuk VIP, sekelompok pria berjas hitam berjalan masuk dengan formasi menekan. Kerumunan otomatis terbelah, tak berani menghalangi jalan. Di tengah formasi itu, berjalan seorang pria paruh baya dengan tongkat berkepala naga emas. Wajahnya keras, matanya memancarkan arogansi dan kekejaman absolut.
Itu adalah Su Zheng, Kepala Keluarga Utama Su Provinsi Jiangbei. Di sampingnya, duduk di kursi roda otomatis bermotor, adalah Su Wenyuan—pangeran yang telah dicacatkan Ye Chen, menatap ke arah Yuhan dan Ye Chen dengan kebencian yang nyaris mengeluarkan darah.
Melihat kedatangan raksasa lokal itu, para distributor yang tadinya mengantre di booth Yuhan perlahan mundur, wajah mereka memucat. Di Provinsi Jiangbei, menyinggung Su Zheng sama dengan bunuh diri secara ekonomi.
"Paman Besar," sapa Yuhan dingin, memaksakan dirinya untuk tetap tenang meski telapak tangannya sedikit berkeringat.
Su Zheng berhenti tepat di depan booth Yuhan. Ia tidak membalas sapaan itu. Matanya langsung menatap tajam ke arah Ye Chen yang berdiri santai di belakang Yuhan. Aura membunuh memancar kuat dari tubuh pria paruh baya itu.
"Jadi ini menantu benalu yang berani mencelakai putraku?" suara Su Zheng terdengar berat dan menggema. "Kalian berdua punya nyali yang besar berani menginjakkan kaki di Jiangbei."
"Kami datang untuk berbisnis yang legal, bukan untuk mencari masalah," jawab Yuhan tegas, mengangkat dagunya. "Jika Paman Besar ingin membalas dendam pribadi, ini bukan tempatnya. Ratusan media sedang menonton."
"Membalas dendam? Hahaha!" Su Zheng tertawa keras, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Yuhan, kau terlalu meninggikan dirimu. Untuk menghancurkan serangga sepertimu, aku tidak butuh kekerasan."
Su Zheng mengangkat tangannya. Seorang asisten berjas rapi melangkah maju dan memberikan sebuah map dokumen resmi berpita merah kepada Su Zheng.
"Aku datang ke sini hari ini di depan seluruh media nasional untuk membersihkan nama Keluarga Su dari pencuri kotor sepertimu!" deklarasi Su Zheng dengan suara lantang.
Kerumunan tersentak. Kamera para wartawan langsung menyorot mereka.
Yuhan mengernyitkan dahi. "Pencuri? Apa maksudmu?!"
Su Zheng mengangkat dokumen itu tinggi-tinggi. "Ratusan tahun yang lalu, leluhur Keluarga Su kita adalah tabib istana. Mereka mewariskan sebuah resep rahasia penyembuhan kulit. Resep itu adalah milik mutlak Keluarga Utama Su. Dan kau, cabang keluarga rendahan... telah mencuri resep itu dan menamainya Salep Dewi Luo!"
"Omong kosong!" Yuhan marah besar, wajahnya memerah. "Resep ini tidak ada hubungannya dengan Keluarga Su! Kau hanya mengarang cerita untuk merampas produkku!"
Su Ming, yang ternyata juga mengekor di belakang Su Zheng bak anjing penjilat, maju ke depan. "Jangan berbohong, Yuhan! Kami tahu dari mana kau mendapatkannya. Kau menyusup ke brankas kakek sebelum beliau meninggal!"
Tuduhan palsu itu begitu kotor dan tak tahu malu hingga membuat Yuhan kehabisan kata-kata.
Su Zheng menyeringai sinis, lalu memanggil seseorang dari kerumunan. "Direktur Biro Hak Paten Jiangbei, silakan maju."
Seorang pria gemuk berseragam dinas melangkah ke depan, didampingi dua petugas keamanan pameran. Ia menatap Yuhan dengan tatapan merendahkan.
"Berdasarkan laporan dari Keluarga Utama Su dan bukti dokumen sejarah yang mereka lampirkan, kami dari Biro Hak Paten Provinsi menyatakan bahwa paten atas Salep Dewi Luo sedang dalam sengketa serius," ucap pria gemuk itu. Ia menunjuk ke arah booth Yuhan. "Oleh karena itu, kami menyita seluruh produk sampel ini, dan melarang Grup Kosmetik Su untuk memproduksi, menjual, atau mempresentasikan produk ini sampai batas waktu yang tidak ditentukan!"
"Bawa produk-produk itu!" perintah Direktur Biro Hak Paten.
Petugas keamanan berseragam melangkah maju untuk menyita toples-toples kristal di atas meja pameran.
Yuhan merasa dunia di sekelilingnya runtuh. Inilah kekuatan Keluarga Utama di kandang mereka sendiri! Mereka bisa mengubah hitam menjadi putih, kebohongan menjadi kebenaran legal, hanya dengan satu jentikan jari. Media akan memberitakan Grup Su sebagai pencuri, dan perusahaannya akan hancur seketika!
"Siapa yang berani menyentuh barang istriku, aku akan mematahkan tangannya."
Suara yang sangat tenang, namun membekukan udara di dalam aula itu tiba-tiba terdengar.
Ye Chen melangkah maju. Ia berdiri tepat di depan meja pameran, menghalangi para petugas. Matanya yang hitam legam menatap Direktur Biro Hak Paten seolah menatap mayat.
Petugas keamanan itu terhenti, merasakan hawa dingin merayapi tulang punggung mereka.
Su Wenyuan, yang duduk di kursi roda, menjerit histeris. "Ayah! Tangkap dia! Penjarakan anjing itu! Dia mencoba melawan petugas negara!"
Su Zheng tersenyum puas. Inilah yang ia tunggu-tunggu. "Direktur Biro, kau lihat sendiri. Selain mencuri, mereka juga menolak penyitaan. Panggil polisi bersenjata."
Direktur pria gemuk itu mendengus. "Bocah, menyingkir! Atau kau akan menghabiskan sisa hidupmu di penjara atas pasal melawan hukum!"
Namun, Ye Chen sama sekali tidak bergeser. Sebaliknya, ia merogoh saku dalam jasnya, dan dengan gerakan santai, melempar sebuah dokumen bersampul emas tebal tepat ke wajah pria gemuk itu.
Plak!
Dokumen itu jatuh ke lantai. Pria gemuk itu murka. "Beraninya kau—!"
"Sebelum kau memanggil polisi, babi gemuk," Ye Chen memotong dengan nada mengejek. "Buka dan baca dokumen itu dengan mata rabunmu. Baca keras-keras siapa pemilik paten Salep Dewi Luo."
Melihat kepercayaan diri Ye Chen, Direktur itu ragu-ragu. Ia membungkuk, mengambil dokumen itu, dan membukanya.
Saat matanya membaca stempel holografik di halaman pertama, keringat sebesar biji jagung langsung mengucur dari dahinya. Wajah arogannya seketika berubah menjadi kertas putih pucat. Tangannya bergetar hebat seolah memegang besi panas.
"I-ini... stempel ini..." suara pria gemuk itu bergetar.
"Baca." Perintah Ye Chen. Sepatah kata itu mengandung tekanan True Qi yang menghantam dada Direktur itu hingga membuatnya nyaris berlutut.
"P-Pemilik paten sah dari formula... Salep Dewi Luo... adalah..." Pria gemuk itu menelan ludah, suaranya pecah karena teror absolut. "...Konsorsium Naga Hitam Global yang berbasis di Jenewa, Swiss. Dan hak eksklusif distribusinya diberikan secara absolut kepada... Nyonya Su Yuhan dari Jiangcheng."
Keheningan seketika menyelimuti aula raksasa itu. Hanya terdengar suara dengungan kamera wartawan.
Su Zheng terbelalak lebar. "Apa yang kau bicarakan?! Konsorsium Global?! Jangan bercanda! Dokumen itu pasti palsu!"
"Palsu?" Ye Chen terkekeh dingin. "Dokumen itu dilegalisasi langsung oleh Organisasi Hak Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) dengan jaminan keamanan tingkat A. Hukum negara mana pun, apalagi hukum birokrasi rendahan di provinsimu ini, tidak memiliki yurisdiksi untuk menyita aset milik Konsorsium Naga Hitam."
Malam sebelum mereka berangkat ke Jiangbei, Ye Chen telah menggunakan privilese dari Kartu Hitam Naga Tertinggi miliknya. Kartu itu bukan sekadar alat pembayaran tanpa batas; kartu itu adalah kunci yang menghubungkannya dengan kekaisaran bisnis Keluarga Ye di luar negeri. Dalam hitungan jam, tim pengacara top dunia di Jenewa telah mengurus seluruh paten perlindungan global untuk produk istrinya.
Direktur Biro Hak Paten mundur dua langkah, mengembalikan dokumen itu ke meja dengan tangan gemetar. Ia tahu betul lambang naga melingkar bersayap di dokumen itu. Siapa pun yang berani mengganggu aset Konsorsium Naga Hitam akan lenyap dari muka bumi, beserta seluruh karir dan keluarganya.
"T-Tuan Su Zheng..." Direktur gemuk itu menunduk ketakutan. "M-maafkan saya. Biro kami... tidak memiliki wewenang atas paten internasional ini. S-saya permisi!"
Tanpa menunggu balasan, Direktur biro dan anak buahnya lari terbirit-birit meninggalkan aula, seolah dikejar hantu.
Wajah Su Zheng memerah padam, urat-urat di kepalanya nyaris pecah karena amarah dan rasa malu yang luar biasa. Rencana sempurnanya untuk menghancurkan Yuhan di depan media nasional, hancur lebur hanya dengan selembar kertas dari menantu sampah itu!
Kamera media langsung beralih menyorot Su Zheng dengan agresif.
"Tuan Su, apakah Anda baru saja memfitnah Grup Kosmetik Su?"
"Tuan Su, apakah ini upaya monopoli kotor dari Keluarga Utama?"
"Diam kalian semua!" raung Su Zheng, membanting tongkat naganya ke lantai.
Ia menatap Ye Chen dengan mata yang memancarkan kebencian sedalam samudra. "Ye Chen... jangan berpuas diri. Hukum bisnis mungkin tidak bisa menyentuhmu karena bekingan luar negerimu. Tapi malam ini... hukum rimba di Jiangbei akan memintamu membayar darah anakku!"
Setelah melepaskan ancaman terang-terangan itu, Su Zheng berbalik dan memerintahkan pengawalnya mendorong kursi roda Su Wenyuan keluar dari aula.
Yuhan menghela napas lega hingga tubuhnya nyaris limbung. Ye Chen segera memegang pinggang istrinya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja," Yuhan tersenyum tipis, menatap suaminya penuh kekaguman. "Dari mana kau mendapatkan dokumen jenewa itu, Ye Chen?"
"Aku punya beberapa teman yang bekerja di luar negeri," Ye Chen mengedipkan mata dengan santai.
Namun, senyum di wajah Ye Chen tidak sampai ke matanya. Pandangannya beralih menembus dinding kaca aula pameran, menatap sebuah gedung tinggi di seberang jalan.
Di atap gedung itu, berjarak ratusan meter, dua sosok berpakaian bela diri tradisional sedang berdiri menatap ke arah aula. Jarak sejauh itu mustahil dilihat oleh manusia normal. Namun mata Ye Chen menangkap aura mereka yang menjulang layaknya pedang berdarah.
Dua Grandmaster Sejati dari Asosiasi Bela Diri, batin Ye Chen dingin. Malam ini, sepertinya aku harus kembali mengotori tanganku sebelum pelelangan Teratai Salju besok.