Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ruhi dan Herman yang berdiri tak jauh darinya tampak kebingungan melihat perubahan sikap Rukmini yang mendadak bungkam secara tiba-tiba.
"Ibu kenapa lagi sih?" tanya Ruhi dengan nada ketus bercampur cemas. "Tiba-tiba diam seperti melihat hantu. Kita ini sedang pusing memikirkan barang yang hilang!"
Rukmini tidak mampu menjawab. Tenggorokannya serasa terikat tali yang sangat erat. Matanya bergerak liar menyapu setiap sudut ruang. Udara pagi yang seharusnya segar kini mendadak berganti menjadi apek bercampur bau amis darah yang kental.
"Sudah! Jangan bikin berisik lagi, bikin makin panas kepala!" bentak Herman kasar. Pria itu menatap mertuanya dengan pandangan tajam. "Mbok Siti! Cepat buatkan teh hangat! Jangan cuma berdiri seperti patung!"
"B-baik, Pak." jawab Mbok Siti gemetar, bergegas melangkah menuju dapur dengan ketakutan.
Namun, baru saja Mbok Siti menghilang di balik dinding dapur, teror berikutnya langsung datang menghantam.
Kringgg... Kringgg... Kringgg...
Telepon rumah yang berada di meja sudut mendadak berdering nyaring. Suaranya melengking memecah ketegangan, membuat Ruhi dan Herman tersentak.
Ruhi menghela napas panjang lalu mendekati telepon tersebut. "Siapa pula pagi-pagi begini yang menelepon?" gumamnya seraya mengangkat gagang telepon. "Halo? Selamat pagi?"
Tidak ada suara jawaban manusia dari seberang garis telepon. Hanya ada suara desis angin yang bising.
"Halo?! Ini siapa sih?!" desak Ruhi mulai jengkel.
Tiba-tiba, dari dalam gagang telepon, terdengar suara bisikan anak kecil yang melengking dan dingin, tepat di lubang telinga Ruhi:
"Nenek mana...? Gendis mau main lagi... Hihihihi..."
Ruhi membeku seketika. Wajahnya yang semula merah padam karena kesal berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Tangan wanita itu gemetar hebat hingga gagang telepon terlepas dari genggamannya dan jatuh membentur lantai dengan suara keras.
Herman melangkah lebar dengan cengkeraman kasar di bahu istrinya. "Ada apa denganmu?!, makin tidak jelas saja rumah ini!" bisiknya keras, menunjuk gagang telepon yang kini tergantung bergoyang di udara. Dari gagang telepon yang menggantung itu, tawa melengking Gendis masih terdengar samar-samar sebelum akhirnya berubah menjadi nada tut-tut-tut yang panjang.
Belum sempat Herman meluapkan kemarahannya, dari arah dapur terdengar jeritan histeris Mbok Siti yang memecah udara!
"AAAARRRGGGHHH! NYONYAAA!"
Herman mencengkeram lengan Ruhi dan menyeretnya ikut berlari menuju dapur, meninggalkan Rukmini yang terduduk kaku di sofa. Namun, Rukmini yang diliputi rasa takut luar biasa tidak berani ditinggal sendirian. Dengan kaki yang lemas dan gemetar, ia memaksa dirinya merangkak dan berjalan tertatih menyusul ke dapur.
Di dalam dapur, Mbok Siti sudah terduduk di lantai dekat kompor, menutup matanya rapat-rapat sambil menunjuk ke arah teko di atas kompor.
"Ada apa lagi, Mbok?! Jangan teriak-teriak seperti orang gila!" bentak Herman berang sambil mendatangi kompor.
Namun, saat matanya melirik ke dalam teko yang baru saja diisi air oleh Mbok Siti, kemarahan Herman langsung tertahan di tenggorokan. Air yang dimasak di dalam teko itu bukan lagi air bening, melainkan cairan merah pekat yang mendidih meronta-ronta, menguapkan bau busuk daging terbakar yang sangat menyengat!
"Setan!" umpat Herman penuh nada ancaman dan kegelisahan, melangkah mundur sembari mendorong Ruhi ke belakang tubuhnya.
Rukmini yang baru sampai di ambang pintu dapur menyaksikan pemandangan itu dan langsung menangis tanpa suara. Ia tahu betul, ini adalah balasan atas semua kekejamannya di masa lalu. Nina dan tidak akan membiarkannya hidup tenang walau hanya satu detik.
Seketika, seluruh lampu di dapur berkedip-kedip cepat sebelum akhirnya padam total, melempar ruangan itu ke dalam kegelapan.
Di tengah kegelapan itu, dinding-dinding dapur yang semula bercat putih bersih mulai berubah. Dari celah-celah tembok, mengalir cairan merah pekat yang menetes deras, membasahi lantai.
Mbok Siti sudah tidak kuat lagi, ia langsung pingsan.
Dan dari arah ruangan yang paling gelap, bayangan dua sosok perlahan terbentuk.
Seorang wanita dengan wajah hancur mengelupas menggendong balita yang kepalanya berlubang. Arwah Nina berdiri di tengah kegelapan, menyeringai lebar hingga memamerkan deretan giginya yang hitam.
"Bagaimana hidangan paginya, Ibu.?" suara Nina bergaung dari segala arah, memantul di dalam kepala Rukmini. "Apakah rasanya sepadan dengan penderitaanku dan anakku dulu...?"
Rukmini tak sanggup lagi menahan beban teror yang bertubi-tubi. Ia berlutut di lantai dapur yang mulai tergenang darah gaib, memegang kepalanya yang serasa mau pecah.
Herman yang panik meninggalkan istri dan mertuanya berlari keluar.
"Dasar Setan alas." Makinya.
Sedangkan di dalam, Ruhi dan Rukmini saling berpelukan karena ketakutan.
"Kenapa kalian takut padaku? Bukankah kalian sangat membenciku." Suara ganda Nina menggema di ruang gelap itu.
"Pergi kau setan. Jangan ganggu kami." Sentak Ruhi.
Hantu Nina melayang mendekati mereka berdua. Bau busuk langsung menusuk hidung mereka.
"Hihihihi.... Aku tidak akan pergi dari hidup kalian, sebelum balas dendamku menghancurkan hidup kalian semuaaa." Teriaknya.
Ruhi dan Rukmini semakin gemetar. Namun setelah mengatakan semua itu, Hantu Nina langsung hilang di barengi dengan lampu yang menyala kembali. Dan keadaan dapur seperti semula. Tak ada cairan merah dan bau busuk.
"Bu apakah setan itu sudah pergi?" Tanya Ruhi gemetar.
"Sepertinya sudah." Jawab Rukmini terbata.
Mereka pun bernapas lega.
"Sekarang kamu percaya kan pada ibu jika Nina menjadi setan.?"
Ruhi tak menjawab. Ia masih menenangkan diri atas kejadian yang baru saja ia alami.
****
Setelah kejadian hari itu, kondisi Rukmini kini benar-benar memprihatinkan. Tubuh tuanya demam tinggi akibat rasa takut yang luar biasa. Namun, tanpa ia ketahui, badai yang jauh lebih besar sedang menerjang kehidupan menantu kesayangannya, Herman.
Di depan gedung kantor Herman yang megah, situasi sudah tak terkendali. Puluhan orang berkumpul memadati halaman, membentangkan spanduk-spanduk besar bertuliskan "Herman Penipu!", "Kembalikan Uang Kami!", dan "Tutup Kantor Penipu!". Teriakan serta seruan kemarahan membumbung tinggi menembus udara siang.
"Kembalikan uang kami! Herman penipu!" teriak seorang pria berjas lusuh, diikuti gelombang sorakan murka dari massa.
Para pendemo adalah klien dan mitra bisnis yang tergiur investasi bodong tawaran Herman. Pola transaksi mencurigakan yang selama ini disembunyikan Herman akhirnya terbongkar. Janji keuntungan melimpah hanyalah bualan manis untuk memeras uang mereka demi gaya hidup mewahnya. Satu per satu korban bersuara, mengurai benang kusut kejahatan Herman hingga menyulut kemarahan publik.
Di dalam ruangan ber-AC yang dingin, Herman berkeringat dingin. Kejayanya berada di ujung tanduk. Ketakutan merayapi dadanya saat mendengar massa mulai menggedor kaca depan. Panik, Herman melangkah cepat menyelinap menuju pintu belakang, berniat kabur melewati gang sempit.
Krieeett...
Herman menyibak pintu belakang dan bernapas lega melihat jalanan sepi. Namun, nasib baik telah meninggalkannya. Beberapa pendemo yang bersiaga di gang belakang langsung melihat pergerakannya.
"Itu dia! Herman mencoba kabur!" teriak seorang pendemo.
"Kejar! Jangan biarkan penipu itu lari!"
Massa berlarian mengepung gang. Herman berlari sekuat tenaga, namun langkahnya terhenti saat puluhan orang menyudutkannya di tembok buntu. Tanpa ampun, seorang pria berbadan tegap menerjang dan membanting Herman ke tanah.
Bugggh!
"Rasakan ini, penipu!"
Cemoohan dan pukulan melayang bertubi-tubi ke tubuh Herman. Pria yang biasanya berpenampilan necis itu kini merintih kesakitan di atas tanah, memeluk kepalanya yang berdarah. Beruntung bagi nyawanya masih selamat.
Sirine polisi meraung menghampiri. Pihak kepolisian segera membubarkan massa dan menyeret Herman yang babak belur ke dalam mobil tahanan untuk memproses hukum perbuatannya.
Sementara itu di rumah, Ruhi sedang sibuk menyiapkan makan siang sembari merawat ibunya yang terbaring lemas. Dering telepon rumah yang nyaring mengejutkannya.
"Halo?"
"Selamat siang, bisa saya bicara dengan bu Ruhi istri dari pak Herman?"
"Iya dengan saya sendiri."
"Ini dari kantor polisi. Kami ingin memberitahukan bahwa suami Anda saat ini berada dalam penanganan kami atas kasus penipuan."
Bagai disambar petir di siang bolong, Ruhi membelalak. "Apa?! Kenapa?! Suami saya kenapa, Pak?!"
Petugas polisi menjelaskan detail kericuhan dan penangkapan Herman. Gagang telepon terlepas lemah dari tangan Ruhi. Dunianya serasa runtuh seketika.
Rukmini yang berjalan tertatih keluar, menyadari wajah pucat pasi putrinya. "Ruhi... ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanyanya cemas.
Ruhi merosot di lantai, menangis histeris. "Ibu... Mas Herman di kantor polisi! Dia... dia ditangkap karena menipu!"
Pernyataan itu membuat Rukmini memegang dadanya yang sesak.
"Aku harus ke kantor polisi sekarang, Bu," isak Ruhi menyapu air matanya. "Ibu tidak apa-apa kalau aku tinggal sebentar?"
"Pergilah, Ruhi... Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi," bisik Rukmini lemas.
Dengan hati hancur, Ruhi membelah kemacetan jalanan menuju kantor polisi. Di sana, air matanya menetes deras saat melihat Herman duduk tertunduk di balik jeruji besi dengan wajah penuh memar.
"Mas Herman!" teriak Ruhi menempelkan wajahnya di besi pembatas.
Herman hanya mampu mendongak lemah, menatap istrinya dengan sorot mata penuh penyesalan. "Maafkan aku, Dek... Maafkan aku..."
Perkataan itu menjadi jawaban yang menghancurkan sisa harapan Ruhi.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭