"Aku melakukan semua ini hanya untuk menguji cintanya. Apa dia dapat bertahan dengan aku yang penderita kanker dan miskin. Kalau tidak dapat bertahan, itu artinya dia tidak tulus. Dan tidak pantas memasuki keluarga Wiguna."
Felicia tertegun mendengar percakapan kekasihnya dengan teman-temannya. Dirinya melakukan dua pekerjaan sekaligus, hanya untuk mengobati kekasihnya yang menderita kanker. Hampir setiap hari memakan mie instan hingga sempat mengalami radang usus.
Tapi dua tahun itu hanya pengujian cinta?
Nona muda yang kabur dari perjodohan hanya untuk kekasihnya ini. Ternyata cintanya dianggap begitu murahan.
Dalam keputusasaan, Felicia mengemasi barang-barangnya. Memalsukan kematiannya agar tuan muda keluarga Wiguna tidak mencarinya lagi.
Dirinya menghubungi keluarganya, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun.
"Ayah, aku bersedia menikah dengan Gabriel."
Wanita yang berkemas, akan ada saatnya meninggalkan segalanya.
"A...aku tidak akan mencintainya lagi..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prioritas
Romi perlahan membuka matanya, pria yang mulai terbangun menatap ke arah Citra yang memegang handphonenya.
“Citra…” ucapnya merenggangkan otot-ototnya.
Dengan cepat Citra menghapus pesan yang dikirimkannya kepada Felicia. Wajahnya pucat pasi, sama sekali tidak menduga Romi akan terbangun secepat ini.
“Kenapa kamu memegang handphoneku?” Tanya Romi tidak mengerti.
“A…aku…tadi ada pesan masuk. Tadi ada yang telepon, Aku kira telepon penting tapi ternyata hanya penipuan asuransi.” Wanita yang berusaha keras untuk tersenyum. Bagaimana tidak gugup, ini adalah pembunuhan berencana. Dirinya sama sekali tidak boleh ketahuan.
"Hari ini aku harus siap-siap, malam ini aku akan menghubungi Felicia agar dia pergi ke rumah sakit. Kemudian aku akan menyatakan cinta kepadanya, sembari melamarnya. Ada banyak kegiatan dan persiapan..." keluhnya bangkit dari tempat tidur berukuran king size.
Di atas tempat tidur ada Rio yang masih terlelap begitu nyenyak. Tommy berada di sofa, sedangkan Dwika berada di kamar mandi membersihkan dirinya.
Di rumah Citra memang sengaja disiapkan satu kamar untuk menginap bagi sahabat-sahabatnya. Sebuah pertemanan yang terjalin dari kecil hingga dewasa.
Citra menghela nafas merasa lega sejenak. Sepertinya Romi sama sekali tidak curiga bahwa dirinya mengutak-atik handphone Romi. Itu bagus! benar-benar bagus.
Mungkin karena gerakan Romi yang terbangun. Atau karena suara percakapan mereka, Rio juga ikut bangkit dari tempat tidurnya.
Pemuda yang mendengar percakapan antara Romi dan Citra. Matanya menatap ke arah Romi yang meninggalkan kamar, mungkin hendak membersihkan dirinya.
"Citra, Ada yang ingin aku katakan padamu. Malam ini, jangan ganggu Romi dan Felicia." Peringatan yang diucapkan oleh Rio.
"Mana mungkin aku mengganggu mereka. Aku tulus ingin Romi meraih kebahagiaannya dengan Felicia." Kalimat yang diucapkan oleh Citra penuh senyuman.
"Aku tahu kamu menyukai Romi semenjak kamu kembali dari luar negeri. Kalian memang dekat, bahkan lebih dekat daripada Romi dan Felicia sendiri. Jika dikatakan hubungan sebagai kekasih, kamu lebih mendekati hubungan sebagai kekasih dibandingkan dengan Romi dan Felicia." Rio menghela nafas kembali melanjutkan kata-katanya.
"Tapi untuk menghancurkan hubungan temanmu sendiri dan kekasihnya... Aku sama sekali tidak setuju. Lagi pula karaktermu dan Romi sama sekali tidak cocok. Seperti api bertemu dengan api... Sedangkan Romi dan Felicia, bagaikan api bertemu dengan air. Felicia dapat mengendalikan Romi, dan Romi semoga saja akan menjadi lebih dewasa dan dapat melindungi Felicia." Nasehat yang diucapkan oleh Rio, melangkah meninggalkan Citra.
Wanita yang mengepalkan tangannya. Kenapa semua hal bagus harus menjadi milik Felicia? Wanita itu hanya beruntung karena memiliki wajah yang cantik. Apalagi kelebihannya selain wajahnya?
***
Romi benar-benar mempersiapkan segalanya. Pemuda yang bahkan memesan mawar juliet. Meletakkan berbagai dekorasi di rumah sakit.
Hanya untuk menunggu hal yang akan terjadi sore ini. Cincin pernikahan sudah disiapkannya untuk melamar Felicia.
2 tahun ini Felicia sudah cukup menderita. Ditambah dengan hal yang dilakukan olehnya sebelumnya. Benar-benar terkesan menyudutkan Felicia.
Romi meraih handphonenya, hendak menghubungi Felicia agar datang ke rumah sakit malam ini. Tapi, ketika Romi ingin mengambil handphonenya, Citra menghentikannya.
"Nanti saja hubungi Felicia kalau semuanya sudah siap. Atau kalau tidak nanti sore saja hubungi Felicia. Jangan menghubunginya sekarang, kamu tidak ingin dia terburu-buru ke tempat ini bukan? nanti rencanamu bisa gagal. Ini adalah kejutan terbesar... sekali seumur hidup." Citra tersenyum, lebih tepatnya berusaha keras untuk tersenyum.
Hari masih siang saat ini. Sedangkan rencana pembunuhan akan dilakukan sekitar jam 7 malam. Jika Romi menghubungi Felicia saat ini dan mengkonfirmasi tentang lokasi pertemuan mereka di rumah sakit, bukan di danau mentari. Maka semua rencananya akan gagal.
"Benar! wanita miskin itu pasti akan senang setengah mati, setelah menerima lamaran darimu." Dwika menepuk bahu Romi.
"Baik! aku akan mengikuti saran dari kalian saja." Romi tersenyum, lebih tepatnya berusaha keras untuk tersenyum. Ada perasaan berat yang tidak mengenakkan dalam dirinya, seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga malam ini.
Tidak! sudah pasti ini hanya perasaan tegang karena akan melamar Felicia malam ini. Pemuda yang kembali membuka kotak cincin yang dibawa olehnya. Sebuah cincin berlian dengan harga ratusan juta rupiah. Sudah pasti akan melingkar di jemari indah kekasihnya.
Namun, tiba-tiba saja sebuah pesan masuk di handphonenya. Sebuah pesan yang dikirimkan oleh Felicia.
'Romi, Aku harap kamu akan tetap sehat, menjalani hidup dengan baik. Seperti matahari pagi yang selalu menghangatkanku.'
Sebuah pesan aneh terdengar ganjil. Namun seperti kata teman-temannya setelah malam Ini dirinya dapat menjalin hubungan dengan bebas, menjadikan Felicia sebagai nyonya Wiguna.
Wanita yang dicintainya sejak lama. Entah kenapa kenangan saat Felicia menatapnya, ketika dirinya menarik tangan Felicia yang hampir diserempet oleh motor terbayang. Kenangan saat wanita itu menatap sinis kepadanya. Tapi menghela nafas membelikan nasi bungkus padanya, makanan pertama yang paling layak dimakannya setelah 2 hari kelaparan.
Wanita yang tersenyum sembari mengurusnya. Senyuman yang begitu hangat meyakinkan Romi bahwa Felicia adalah cinta sejatinya. Cinta sejati yang tidak akan pernah meninggalkannya.
"Kenapa melamun!" Tommy mengejutkannya.
"Aku sedang terbayang saat pertama kali bertemu dengan Felicia." Romi menghela nafas kasar.
"Romi, aku punya satu saran untukmu. Setelah mengumumkan hubunganmu dengan Felicia. Jagalah jarak dari Citra, kita berlima merupakan teman dari kecil. Aku tahu hal itu, tapi Citra menciummu begitu bebas. Terkadang merayap mengecup pipi dan lehermu dengan dalih mabuk. Semuanya terkadang terjadi di hadapan Felicia. Suatu keajaiban Felicia tidak memutuskan hubungannya denganmu." Tommy menghela nafas kasar ingin menasehati sahabatnya.
"Tentu saja Felicia sama sekali tidak marah. Dia itu pengertian dan mengetahui kami hanyalah teman, sama sekali tidak memiliki hubungan lain selain teman." Penjelasan yang diucapkan oleh Romi seakan-akan tidak mendengarkan nasehat sahabatnya.
"Aku hanya memberikan nasehat padamu. Terserah kamu mau mendengarkannya atau tidak. Tapi Felicia juga manusia yang mempunyai hati, dia bisa cemburu, dia bukanlah malaikat yang kebetulan jatuh ke dunia. Romi coba posisinya kita balik sekarang, Felicia memiliki teman masa kecil. Temannya itu sering mengecup pipinya, temannya itu bahkan terkadang mencium bibirnya. Apa kamu dapat mentolerir pertemanan mereka?" Tommy mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja tidak! Felicia adalah kekasihku! walaupun itu teman masa kecil, tapi sama sekali tidak berhak mencium dan bermesraan dengan Felicia!" kalimat yang begitu tegas dari Romi.
"Nah! begitu juga dengan hubunganmu dan Citra. Bagaimana Felicia dapat tersenyum melihat semuanya? bagaimana juga Felicia dapat begitu tegar ketika dipaksa mendonorkan darah untuk Citra. Padahal itu akan membahayakan nyawa Felicia sendiri. kamu harus tahu mana yang teman, dan mana yang kekasih. Harus mengetahui dimana prioritasmu seharusnya ditempatkan."
gmna dwika org yg selalu km belaa ,,
ni laa asli nya ,,
kyk lame turah dapat bahan baru buat konten gosip nya 🤣🤣🫣
kebenaranpun menemukan jalannya