NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020: Menggratiskan Tanker

Malam itu, laut Surabaya tidak gelap sepenuhnya.

Di kejauhan, lampu kapal bergerak pelan seperti titik-titik kuning di atas air hitam. Angin membawa bau solar, garam, dan besi basah. Udara masih panas meski jam sudah lewat tengah malam.

Hendra berdiri di atas perahu mesin kecil yang ia beli tunai siang tadi.

Tanpa awak.

Tanpa nama.

Tanpa orang yang bisa bertanya mengapa seorang pria berjas gelap mendekati jalur tanker penyelundup sendirian.

Ponselnya menyala sebentar.

Pesan Bang Hantu masih sama.

Titik tunggu baru. Pukul satu lewat.

Di layar peta, titik itu berada sedikit lebih jauh dari dermaga lama. Cukup jauh dari kamera pelabuhan. Cukup dekat dengan jalur transfer muatan Bang Macan.

Bang Macan mengira Hendra datang untuk membeli solar besar.

Para awak tanker mengira malam ini hanya operasi gelap biasa.

Tidak satu pun dari mereka tahu, pembeli itu tidak berniat menawar.

Ia berniat mengambil semuanya.

Lampu tanker muncul dari sisi timur.

Kapal itu besar, lambungnya hitam, namanya sengaja ditutup cat baru. Di dek, beberapa orang bergerak dengan senter kecil. Mesin kapal berdengung berat, memukul air perlahan.

Hendra mematikan mesin perahunya.

Ia membiarkan arus membawa perahu mendekat.

Saat jarak tinggal belasan meter, ia mengangkat jangkar kecil yang sudah diikat tali baja tipis, memutarnya sekali, lalu melempar.

Kait itu menancap di pagar bawah kapal.

Tubuh Hendra melompat.

Dulu, sebelum Unsur Logam, lompatan seperti itu berarti bunuh diri.

Sekarang, telapak kakinya menyentuh lambung, jarinya mencengkeram celah besi, lalu tubuhnya naik seperti bayangan yang menempel pada baja.

Ia tiba di dek tanpa suara besar.

Seorang awak berbalik.

"Siapa—"

Hendra sudah berada di depannya.

Satu pukulan pendek ke rahang.

Tubuh pria itu jatuh sebelum sempat berteriak.

Dua orang lain mengangkat senjata.

Hendra mengambil batang pipa di dekat tangki, menangkis moncong pertama, lalu menendang lutut orang kedua. Bunyi logam beradu dengan tulang tertahan oleh deru mesin kapal.

Orang ketiga menekan pelatuk.

DOR!

Peluru menghantam pagar baja di belakang Hendra.

Hendra maju lurus.

Pistol itu kembali menyalak dua kali, tetapi tubuh Hendra sudah berada di sisi penembak. Tangannya menekan pergelangan lawan, memutar, lalu membenturkan bahu pria itu ke dinding kabin.

BUKK!

Senjata jatuh.

Dalam waktu kurang dari satu menit, dek depan bersih.

Hendra tidak membunuh mereka.

Belum perlu.

Ia mengikat para awak yang pingsan dengan kabel kapal, menutup mulut mereka, lalu menyeret mereka satu per satu ke sekoci kecil di sisi kanan. Makhluk hidup tidak bisa masuk ke Ruang Penyimpanan. Aturan itu tidak berubah, dan Hendra tidak berniat menguji ulang di tengah laut.

Di ruang kemudi, kapten tua mengangkat kedua tangan sebelum Hendra bicara.

"Saya hanya bawa kapal," katanya cepat. "Muatan bukan punya saya."

"Kabin emas di mana?"

Wajah kapten berubah pucat.

Jawaban itu cukup.

Hendra menekan bahunya ke kursi.

"Tunjukkan."

Kapten membawanya ke ruang terkunci di bawah dek tengah. Kuncinya ada di balik panel kompas cadangan. Begitu pintu besi dibuka, bau minyak pelindung dan karung goni keluar.

Di dalam ruangan itu, peti-peti kayu tersusun rapat.

Hendra membuka peti pertama.

Emas batangan.

Peti kedua.

Emas.

Peti ketiga.

Masih emas.

Sekitar dua ton.

Lebih dari cukup untuk menuntaskan Unsur Logam.

Kapten menatap wajah Hendra yang tetap tenang. Mungkin ia berharap melihat keserakahan. Mungkin ia berharap Hendra sibuk menghitung sehingga ada celah untuk kabur.

Yang ia lihat hanya mata dingin.

"Masuk ke sekoci," kata Hendra.

"Tuan, kalau kapal hilang—"

"Kau tidak melihat apa pun."

Kapten ingin membantah.

Hendra mengambil satu batang emas, menekannya dengan dua jari.

Permukaan keras itu melengkung sedikit.

Kapten langsung menutup mulut.

Beberapa menit kemudian, semua awak sudah berada di dua sekoci. Tangan mereka terikat, tetapi tali itu cukup longgar untuk dilepas setelah mereka sadar. Mesin sekoci masih ada. Radio darurat juga sengaja tidak Hendra rusak.

Ia bukan datang untuk membuang waktu memburu figuran.

Ia datang untuk bahan bakar dunia baru.

Kembali ke ruang emas, Hendra mengangkat tangan kanan.

Cincin tembaga terasa panas.

Ketika telapak tangannya menyentuh peti pertama, garis emas merambat dari cincin ke seluruh ruangan.

Emas batangan bergetar.

Satu demi satu, peti itu runtuh menjadi cahaya.

Rasa sakit menghantam tulang Hendra.

Ia menggertakkan gigi.

Ini bukan sakit seperti luka.

Ini seperti seluruh rangka tubuhnya dibongkar, dicelupkan ke logam cair, lalu ditempa ulang dari dalam.

Pembuluh di lengannya menonjol. Otot punggungnya menegang. Suara derak halus muncul dari sendi yang mulai menjadi lebih padat.

Emas dua ton menghilang cepat.

Separuh pertama membuat dadanya seperti ditekan batu.

Separuh kedua membuat pandangannya memutih.

Hendra menahan lututnya agar tidak jatuh.

Ia pernah bertahan empat tahun di kiamat.

Ia pernah mati diracun di lantai beton.

Sakit ini tidak akan membuatnya mundur.

Ketika peti terakhir lenyap, cincin di jarinya menyala terang.

Ruang Penyimpanan di dalam kesadarannya bergetar.

Gelap yang semula luas mendadak melebar, terus melebar, seperti gudang kecil yang dindingnya ditarik oleh tangan tak terlihat. Rak-rak stok, drum solar, kendaraan, makanan, obat, semua yang sudah ia kumpulkan tampak mengecil di dalam ruang baru itu.

Sepuluh kali.

Bahkan lebih.

Unsur Logam tuntas.

Hendra membuka mata.

Deru mesin tanker terdengar lebih jernih. Getaran lantai kapal terasa sampai pola bautnya. Ia bisa mencium perbedaan solar, oli, cat, dan karat di udara.

Tubuhnya ringan.

Namun di balik ringan itu ada tekanan baja.

Jauh melampaui kehidupan lalu.

"Berhasil," bisiknya.

Ia naik ke dek utama.

Di sana, tangki-tangki raksasa berisi BBM masih penuh. Di kontainer samping, peti-peti panjang berisi AK, magazen, dan amunisi tersusun rapi. Ada juga beberapa kotak peralatan kapal, suku cadang, pompa, selang besar, dan bahan logistik lain.

Hendra berjalan ke tengah dek.

Sekoci awak sudah menjauh puluhan meter, terbawa arus. Mereka tidak akan melihat detail apa pun selain lampu kapal yang meredup.

Hendra menempelkan telapak tangan ke dinding baja.

Niatnya turun seperti palu.

Masuk.

Untuk sesaat, kapal seberat gunung kecil itu melawan.

Lalu cincin menyala.

Angin di sekitar tanker berputar.

Air laut naik sedikit di sepanjang lambung.

Dalam satu tarikan napas, tanker, BBM, peti senjata, amunisi, pompa, selang, dan semua muatan mati di dalamnya lenyap dari permukaan laut.

Hening.

Gelombang besar menggulung ke tempat kapal itu baru saja berada.

Perahu kecil Hendra terombang-ambing, tetapi ia sudah melompat turun tepat sebelum seluruh lambung masuk ke Ruang Penyimpanan.

Di kejauhan, dua sekoci berputar kacau. Teriakan awak terdengar samar, bercampur bunyi radio darurat.

Mereka akan hidup.

Mereka hanya tidak akan bisa menjelaskan bagaimana tanker 50.000 ton menghilang di depan mata.

Hendra menyalakan mesin perahu.

Ia tidak menoleh lagi.

Di dalam kesadarannya, tanker itu muncul di Ruang Penyimpanan seperti bangunan baja yang dipindahkan utuh dari laut ke malam tanpa waktu.

Lambungnya diam.

BBM di dalam tangki tidak berguncang lagi.

Peti AK, amunisi, selang, pompa, dan peralatan kapal membeku di posisi terakhirnya. Bahkan tetes air laut yang menempel di pagar tidak jatuh.

Ruang yang baru melebar itu tetap terasa luas, tetapi kapal tersebut langsung memakan hampir dua pertiganya.

Hendra tidak kecewa.

Justru sebaliknya.

Ia baru saja memastikan satu hal penting: bahan bakar sebanyak ini tidak akan rusak, tidak akan menguap, dan tidak akan dicuri siapa pun.

Di dunia yang sebentar lagi gelap, solar lebih berharga daripada angka rekening.

Ponselnya bergetar.

Satu panggilan dari nomor Bang Hantu.

Lalu satu lagi.

Hendra melihat layar sebentar, mematikan suara, dan memasukkan ponsel ke saku.

Biarkan mereka mencari kapal yang sudah tidak berada di laut mana pun.

Subuh menyentuh garis pantai saat ia kembali ke darat.

Siang harinya, Hendra sudah berada di Jakarta, di kantor kecil di belakang toko grosir-distributor yang dulu ia beli dari Pak Tono.

Rudi Halim berdiri di depannya, bingung melihat map notaris di atas meja.

"Bang Hendra, ini apa?"

"Toko ini jadi milikmu."

Rudi terdiam.

Hendra menggeser map dan satu amplop rekening.

"Di dalamnya ada dokumen pengalihan usaha, daftar pemasok, dan dana operasional. Pakai untuk keluargamu. Beli makanan, obat, air, genset kecil, solar, apa pun yang bisa bertahan lama."

Rudi menatap map itu seperti takut menyentuhnya.

"Bang, saya kerja sama Abang bukan untuk mengambil toko."

"Saya tahu."

"Kalau ada masalah, saya ikut. Kalau ada utang, saya bantu urus. Tapi ini terlalu besar."

Hendra menatapnya.

Di kehidupan lalu, orang seperti Rudi terlalu sedikit.

Orang yang setia sebelum tahu rahasia.

Orang yang bekerja karena percaya lebih mudah dijaga daripada orang yang melihat keajaiban.

"Rudi," kata Hendra lebih pelan, "dengar baik-baik. Beberapa minggu ke depan, cuaca akan kacau. Harga barang akan naik. Orang akan panik. Jangan debat dengan siapa pun. Bawa keluargamu. Simpan barang. Jangan pamer. Jangan pinjamkan stok ke orang yang tidak kau percaya."

Rudi menelan ludah.

"Ini soal apa, Bang?"

"Soal bertahan hidup."

"Seberapa parah?"

Hendra diam sejenak.

Ia tidak bisa mengatakan semuanya.

Belum.

"Cukup parah sampai aku memberimu toko ini."

Wajah Rudi berubah.

Kali ini ia tidak menolak lagi.

Ia mengambil map dengan kedua tangan.

"Baik, Bang. Saya lakukan."

Hendra menepuk bahunya.

"Jaga keluargamu."

"Abang sendiri?"

Hendra melihat ke arah barat, seolah bisa melihat bukit Bandung dan bunker yang hampir selesai.

"Aku sudah punya tempat."

Malam itu, dalam perjalanan kembali ke Bandung, Hendra menurunkan kaca mobil sedikit.

Udara yang masuk tidak membawa sejuk.

Panas.

Berat.

Tidak wajar untuk malam.

Di layar mobil, suhu luar menunjukkan tiga puluh tujuh derajat.

Hendra menatap langit.

Bintang-bintang terlihat redup di balik kabut panas tipis.

Orang-orang masih tidur, bekerja, tertawa, menghitung uang, mengejar jabatan, dan bertengkar tentang hal kecil.

Mereka tidak tahu, dunia lama sudah berada di ambang pintu.

Hendra menyentuh cincin tembaga di jarinya.

Di dalam Ruang Penyimpanan, tanker raksasa terdiam bersama bahan bakar, senjata, makanan, obat, kendaraan, dan masa depan yang ia rampas sebelum kiamat turun.

Kali ini, saat langit berubah putih, ia tidak akan berdiri di luar pintu siapa pun.

Orang lain yang akan mengetuk pintunya.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!