Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBAGIAN WILAYAH
Pernikahan itu akhirnya benar-benar terjadi. Tidak ada pesta rakyat tujuh hari tujuh malam, tidak ada arak-arakan gajah berlapis emas, dan tidak ada pameran kemewahan ala keraton. Atas titah Anusapati dan tentu saja rengekan keras kepala dari sang mempelai wanita, upacara sakral itu dilangsungkan secara tertutup di padepokan Panawijen.
Mpu Parwa sendiri yang memimpin prosesi tersebut, memberkati cucu perempuannya dengan ksatria bayangan yang merupakan anak didiknya sendiri.
Tentu saja, di keraton Singhasari, keputusan ini memicu pertentangan dari beberapa sesepuh dan bangsawan kolot. "Bagaimana mungkin seorang putri berdarah biru, anak mendiang pendiri Singhasari, dinikahkan dengan seorang pengawal yang asal-usul keluarganya tidak jelas?" protes mereka.
Namun, protes itu hanya sebatas bisik-bisik di belakang. Siapa yang berani melarang? Toh mempelai wanitanya juga sukarela tanpa paksaan, ditambah lagi Raja Anusapati memberikan restu dan dukungan mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Para penentang akhirnya hanya bisa bungkam.
Di hari itu, mengenakan pakaian pengantin ksatria yang sederhana namun gagah, Sena berdiri di altar dengan wajah sedatar tembok. Di sebelahnya, Dewi Rimbu tersenyum begitu cerah hingga nyaris menyilaukan mata, tangannya memeluk erat lengan Sena.
Sena pasrah, menghela napas panjang saat Mpu Parwa merapal doa pemberkatan.
Anusapati yang hadir sebagai saksi utama hanya bisa menahan senyum melihat wajah Sena yang biasanya dingin tanpa emosi, kini terlihat seperti orang yang sudah pasrah pada takdir.
Beberapa hari setelah acara pernikahan yang mengubah status Sena menjadi bagian dari keluarga kerajaan, roda politik Singhasari harus kembali diputar. Waktu untuk bulan madu sudah habis, karena stabilitas takhta Anusapati masih di ujung tanduk.
Di Balairung Istana Singhasari yang megah, Anusapati mengadakan paseban agung atau rapat besar. Seluruh pangeran, senopati, dan pejabat tinggi keraton hadir memadati ruangan. Udara di dalam ruangan terasa dingin dan berat, sarat akan ambisi terselubung dari para bangsawan yang hadir. Sinar matahari menerobos lewat celah-celah pilar jati raksasa, memantulkan kilap perhiasan emas dan genggaman erat para senopati pada hulu keris mereka.
Sena, yang kini resmi menyandang status sebagai pengawal pribadi dan orang kepercayaan raja, berdiri tegap bagaikan bayangan di belakang singgasana Anusapati. Dari posisinya, mata Sena yang tajam menyapu barisan pangeran. Ia bisa melihat riak ketidaksabaran di wajah Tohjaya, serta tatapan selidik dari para senopati tua pengikut setia mendiang Ken Arok. Mereka semua datang dengan prasangka bahwa sang raja baru ini mudah dikendalikan, tanpa tahu bahwa setiap jengkal skenario hari ini telah dirancang untuk menjebak ambisi mereka sendiri.
Sesuai rencana rahasia yang telah mereka susun semalaman, hari ini Anusapati akan memainkan peran sebagai "Raja yang Baik Hati dan Naif". Dengan wibawa seorang raja yang semakin matang namun terdengar merangkul, Anusapati membuka persidangan.
"Singhasari telah melewati masa duka," titah Anusapati, suaranya menggema penuh wibawa di sela-sela pilar jati. "Kini saatnya kita memperkuat fondasi kerajaan ini agar tak mudah digoyahkan. Aku tidak bisa memimpin wilayah yang begitu luas ini sendirian. Oleh karena itu, demi menjaga kemakmuran rakyat dan memperkuat pertahanan batas-batas wilayah, aku memutuskan untuk memberikan tanggung jawab besar kepada saudara-saudaraku."
Anusapati menatap deretan para pangeran. Ia sengaja melewati Mahisa Wonga Teleng terlebih dahulu, dan pandangannya langsung tertuju pada putra Ken Umang.
"Adindaku, Tohjaya," panggil Anusapati dengan senyum hangat.
Tohjaya mendongak, sedikit terkejut.
"Ayahanda telah menaklukkan Kediri dengan susah payah," lanjut Anusapati. "Kediri adalah wilayah terbesar, tersubur, dan paling vital bagi Singhasari. Aku butuh seseorang yang membawa darah Ayahanda secara langsung untuk memimpin di sana. Aku menyerahkan kekuasaan Kediri kepadamu, Adinda Tohjaya."
Keheningan total menyelimuti balairung. Para sesepuh saling pandang tak percaya. Kediri adalah permata mahkota taklukan, bagaimana mungkin raja baru ini menyerahkannya kepada pangeran muda yang sama sekali belum teruji dalam pemerintahan?
Tohjaya menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan seringai lebar di wajahnya. "Bodoh," batin Tohjaya bersorak. "Anusapati benar-benar pengecut yang naif. Dia berusaha mengambil hatiku dengan memberikan wilayah terkaya. Dia menggali kuburnya sendiri."
Di barisan belakang, Pranaraja dan Lembu Ampal juga saling bertukar pandang dengan senyum licik. Mereka melihat ini sebagai kelemahan mutlak Anusapati dan kesempatan emas untuk membangun pasukan sendiri di Kediri.
"Hamba menerima anugerah dan kepercayaan Paduka Raja dengan sepenuh jiwa raga!" seru Tohjaya dengan nada penuh sandiwara kesetiaan.
Dari balik bayangan singgasana, Sena menyeringai tipis. Matanya menatap dingin ke arah Tohjaya yang sedang mabuk kemenangan palsu.
"Silakan nikmati piala beracunmu, Bocah," batin Sena.
Sena tahu persis apa yang akan terjadi. Kediri bukanlah hadiah, melainkan kandang macan. Rakyat dan sisa-sisa bangsawan Kediri masih menyimpan dendam kesumat terhadap Ken Arok yang telah menghancurkan kerajaan mereka. Mengirim putra dari Ken Arok yang minim pengalaman ke sana sama saja dengan melempar sepotong daging segar ke tengah kolam buaya.
Tohjaya yang arogan pasti akan memerintah dengan sewenang-wenang. Harta dan kekuasaan absolut tanpa pengalaman hanya akan membuatnya bablas. Ketika pemberontakan pecah, atau ketika rakyat Kediri akhirnya menjerit dan mengadukan nasib mereka ke Singhasari, Anusapati akan punya alasan emas yang tak terbantahkan.
Anusapati bisa turun tangan dengan dalih mulia: menegakkan keadilan demi penderitaan rakyat.
Ia bisa menyingkirkan Tohjaya dan para mata-matanya secara sah tanpa harus terlihat seperti saudara yang haus darah. Pamor Anusapati di mata rakyat akan meroket sebagai pahlawan keadilan, sementara reputasi Tohjaya akan hancur sebagai pemimpin yang tak becus.
Kudeta bersih tanpa perlu mengotori tangan Anusapati sendiri.
Sidang dilanjutkan, dan pembagian wilayah untuk pangeran lain dilakukan dengan lebih merata. Namun bagi Sena dan Anusapati, bidak catur terpenting baru saja melangkah tepat masuk ke dalam jebakan mereka.
Hari di mana para pangeran harus meninggalkan Singhasari menuju ke wilayah-wilayah yang sudah dibagikan tiba. Umang bersiap pergi bersama anaknya, tetapi Anusapati menahannya dengan dalih etika dan moral: tidaklah pantas jika seorang permaisuri atau selir utama mendiang raja ditelantarkan begitu saja, ikut berpindah-pindah ke daerah seperti rakyat biasa.
"Di sinilah tempat Ibu. Di pusat kerajaan ini, hamba sendiri yang akan menjamin seluruh kebutuhan, keamanan, dan penghormatan tertinggi untuk Ibu sebagai bentuk pengabdian hamba kepada Mendiang Ayahanda. Membiarkan Ibu pergi meninggalkan istana utama hanya akan membuat rakyat menilai hamba sebagai anak durhaka yang mengusir ibu tirinya sendiri."
Anusapati lalu menoleh ke Tohjaya yang tertegun kaku.
"Pergilah ke Kediri, Adinda Tohjaya. Fokuslah mengabdi untuk rakyat di sana, dan tunjukkan kemampuanmu. Jangan risaukan kesehatan dan keselamatan Ibunda. Aku dan para abdi istana ini yang akan memastikannya tetap aman dan dihormati di Singhasari."