kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jejak yang terpisah
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela kamar, menyentuh wajah Seraphina yang baru saja membuka mata.
Tidak ada lagi aroma obat rumah sakit, tidak ada lagi suara sirene yang memekakkan telinga, dan tidak ada lagi sosok laki-laki bernama Dikta yang selalu menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan sekaligus rasa bersalah.
Sera berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya perlahan. Semuanya sudah berakhir.
Seminggu yang lalu, ia meninggalkan apartemen Dikta di pusat kota Jakarta itu, meninggalkan ciuman yang sempat membuatnya goyah, meninggalkan janji yang tak pernah diucapkan, dan kembali ke kehidupan yang dulu ia jalani sebelum kecelakaan itu terjadi.
Kehidupan yang tenang, sederhana, dan jauh dari dua laki-laki yang kini menjadi dua kutub dalam hatinya.
Sera melangkah keluar kamar, menghirup udara pagi di halaman rumahnya yang kecil namun damai.
Di sini, tak ada bayang-bayang Dikta Rey Ibrahim, pengusaha muda yang dulu pernah menjadi suaminya, yang kini berusaha menebus kesalahannya dengan segala cara. Di sini, tak ada pula nama Arga, laki-laki yang tulus mencintainya.
Namun takdir seakan tak pernah berhenti bermain.
Ponsel di saku celananya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat jantung Sera berdegup kencang. Arga.
Ia menghela napas panjang sebelum mengangkat telepon itu.
"Halo..."
"Sera, aku sudah pulang." Suara Arga terdengar hangat dan penuh harap di seberang sana. "Perjalanan dinas di luar kota selesai lebih cepat dari yang aku duga. Aku... aku langsung memikirkanmu begitu mendarat tadi. Bagaimana kabarmu selama aku pergi?"
Sera memejamkan mata. Selama Arga pergi, justru Dikta yang hadir dalam hidupnya, mengganggu ketenangannya, membangkitkan perasaan yang dulu ia kubur dalam-dalam, dan membuatnya goyah.
"Aku baik-baik saja, Arga," jawab Sera lembut, namun ada nada getir yang terselip. "Seminarnya juga berjalan lancar"
Padahal jauh di lubuk hatinya, semuanya sudah berubah. Pertemuan kembali dengan Dikta, kecelakaan dan mendadak jadi perawat mantan suami di rumah sakit, ciuman di toilet rumah sakit dan ruang makan apartemen itu... semuanya telah mengubah peta hatinya tanpa ia sadari.
"Syukurlah," ucap Arga dengan nada lega. "Bisakah kita bertemu hari ini? Aku membawakan oleh-oleh untukmu. Dan... aku ingin bicara sesuatu yang penting, Sera. Sesuatu yang sudah lama ingin aku sampaikan padamu."
Sera terdiam.
Ia tahu apa yang akan dikatakan Arga. Dan ia belum siap untuk itu. Terutama ketika bayangan laki-laki lain masih terlalu jelas menghantui pikirannya.
"Arga... aku butuh waktu," ucapnya pelan namun tegas. "Sekarang ini... aku belum siap untuk membicarakan hal-hal yang serius. Biarkan aku dulu menikmati ketenanganku. Biarkan aku kembali seperti sedia kala."
Di ujung telepon, keheningan menyelimuti cukup lama sebelum suara Arga terdengar kembali, namun kali ini lebih lirih.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi selama aku pergi, Sera?"
Pertanyaan itu menembus hati nuraninya. Sesuatu yang terjadi? Lebih dari itu. Dikta telah kembali. Dan ia, Seraphina, ternyata belum sepenuhnya melepaskan laki-laki itu dari hatinya.
"Tidak ada apa-apa, Arga," jawab Sera, berusaha menahan getaran dalam suaranya. "Aku hanya... hanya sangat lelah karena terlalu banyak seminar. Maafkan aku."
Ia menutup telepon sebelum Arga sempat menjawab. Sera membiarkan ponsel itu tergeletak di meja, lalu memandang langit yang mulai cerah.
Ia telah kembali ke kehidupannya semula. Namun ia sadar, meski raganya jauh dari Dikta dan Arga, hatinya tak lagi utuh untuk salah satu dari mereka. Dua laki-laki itu, dengan cara yang berbeda, telah mengukir jejak yang tak mudah dihapus. Dan di tengah jalan yang sepi ini, Sera harus memilih, kembali ke masa lalu yang penuh luka, atau melangkah ke masa depan yang menawarkan ketulusan?
Pertanyaan itu menggantung di udara, tak ada jawabannya. Hanya waktu yang akan memberi tahu mana jalan yang harus ia tempuh.
...****************...
Sore itu, sinar matahari mulai meredup di balik gedung-gedung kampus, menyisakan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan di sepanjang lorong tempat Sera melangkah. Hari mengajarnya telah usai. Mahasiswa-mahasiswanya telah berhamburan keluar ruangan, meninggalkan kesunyian yang perlahan menyelimuti hatinya juga.
Sera merapikan berkas-berkas di tangannya, berjalan perlahan menuju gerbang kampus. Ia berharap hari ini bisa berlalu tanpa gangguan, tanpa nama-nama itu kembali menyelinap ke dalam pikirannya. Namun takdir seakan selalu punya cara untuk mempertemukan ia dengan apa yang coba ia hindari.
Di bawah pohon rindang dekat gerbang, sosok laki-laki berdiri tegak, menatap lurus ke arahnya. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, senyum hangat yang selalu sama, senyum yang tulus, tanpa kepura-puraan. Arga.
Jantung Sera berdegup tak menentu. Ia berhenti sejenak, ragu untuk melangkah mendekat. Bukankah tadi di telepon ia meminta waktu? Bukankah ia bilang ingin sendiri dulu? Namun di sini, tepat di hadapannya, Arga berdiri seakan tahu bahwa hatinya sebenarnya tak sekuat yang ia kira.
"Arga..." panggilnya pelan saat jarak mereka tinggal beberapa langkah.
Laki-laki itu melangkah mendekat, langkahnya tenang dan penuh kelembutan. "Aku tahu kau bilang butuh waktu, Sera. Tapi aku tak bisa menahan diri. Begitu selesai urusan dengan rektor, aku langsung mencarimu. Aku... merindukan mu Seraphina"
Suaranya lembut, namun terdengar begitu tulus. Arga menatapnya dalam, seakan mencari sesuatu di balik tatapan mata Sera yang terlihat gelisah.
"Kapan kau sampai?" tanya Sera.
"Kemarin sore. Berada jauh darimu, membuatku semakin gelisah... Apalagi ketika kau jarang mengangkat panggilanku... Tapi aku tahu, kau juga pasti sibuk menghadiri seminar." Arga tersenyum tipis, lalu menyerahkan sebuah kotak kecil yang dibawanya. "Ini oleh-oleh. Tempat itu tempat yang pernah kita bicarakan dulu. Aku ingat kau menyukai beberapa makanan khas tradisional disana"
Sera menerima kotak itu dengan tangan yang sedikit gemetar dan rasa bersalah yang semakin dalam. "Kau ingat saja..."
"Segala hal tentangmu, aku ingat, Sera." Arga menatapnya dalam, nada bicaranya berubah lebih serius. "Tapi aku datang bukan hanya untuk memberikan ini. Aku melihat matamu, Sera... ada yang berubah. Sejak aku pergi, ada sesuatu yang terjadi, bukan? Sesuatu yang membuatmu menjauh?"
Angin sore berhembus pelan, mengibaskan ujung rambut Sera.
Ia menunduk, memandang kotak di tangannya. Bagaimana ia harus menjelaskan? Bahwa selama Arga pergi, laki-laki yang pernah menghancurkan hatinya dulu telah kembali? Bahwa Dikta kembali hadir, membawa penyesalan dan kerinduan yang sempat membeku selama lima tahun? Sera terasa jadi seorang pengkhianat diantara mereka.
"Arga..." suaranya tercekat. "Aku... aku sedang berusaha kembali ke kehidupanku yang dulu. Kehidupan yang tenang, tanpa keributan. Tapi ternyata... tidak semudah yang kubayangkan."
Arga mengangguk pelan, seakan memahami meski ia tak tahu penyebab pastinya. Ia tak mendesak, tak menuntut penjelasan. Justru ia tersenyum lembut.
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku tak akan pernah memaksamu, Sera. Aku tahu hatimu sedang berjuang. Dan aku tak ingin menjadi beban tambahan bagimu." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang mantap namun lembut. "Tapi ingatlah satu hal. Aku di sini. Bukan untuk mendesakmu memilih, tapi untuk menunggumu sampai kau siap. Entah itu butuh waktu sebulan, setahun, atau lebih lama lagi. Aku tak akan pergi begitu saja."
Kalimat itu menembus hati Sera. Di hadapannya berdiri laki-laki yang tulus mencintainya, yang bersabar menunggu tanpa menuntut balas. Sementara di sisi lain, Dikta hadir dengan segala luka masa lalu yang belum sepenuhnya kering.
"Maafkan aku, Arga..." ucapnya lirih, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku belum bisa memberikan jawaban apa pun saat ini."
"Tak perlu minta maaf," potong Arga pelan. "Cukup jaga dirimu baik-baik. Dan jika suatu saat kau butuh seseorang untuk mendengarkan, aku selalu ada di sini."
Arga mengangguk lembut, lalu berbalik melangkah pergi, meninggalkan Sera yang masih berdiri terpaku di bawah pohon itu. Di tangannya, kotak berisi oleh-oleh itu terasa begitu hangat, sama hangatnya dengan perasaan Arga yang tak pernah berubah.
Sera menatap punggung laki-laki itu yang perlahan menjauh. Hatinya semakin bimbang.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪