NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Malam semakin larut, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam rumah. Puja masih duduk termenung di ruang keluarga, tidak berani menyentuh makanannya, sementara Jeffry belum juga menampakkan batang hidungnya dari lantai atas.

Tiba-tiba...

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu depan berbunyi nyaring, memecah kesunyian malam.

Jantung Puja langsung berdegup kencang. Siapa yang datang bertamu selarut ini?

Dengan langkah ragu dan perasaan cemas, Puja berjalan mendekati pintu utama.

Sebelum ia sempat memegang gagang pintu, sebuah suara familiar dari luar membuat darahnya mendadak berdesir ngeri.

"Puja? Buka pintu, Ja. Ini aku, Andy!"

Mata Puja membelalak lebar. Mas Andy?! Bagaimana bisa pria itu tahu alamat rumahnya dan datang malam-malam begini?

Sebelum Puja sempat berpikir untuk merespons, derap langkah kaki yang berat tiba-tiba terdengar turun dari lantai atas.

Brak!

Jeffry muncul di ujung tangga dengan wajah dingin tanpa ekspresi.

Pria itu tampaknya baru saja keluar dari kamarnya setelah mendengar keributan di luar.

Sorot mata Jeffry menatap tajam ke arah pintu depan, lalu beralih menatap Puja dengan tatapan penuh selidik dan curiga yang kembali menyala.

"Siapa malam-malam begini?" suara Jeffry terdengar berat, dingin, dan mengintimidasi.

"M-Mas..." Puja terbata, wajahnya sepucat pasi.

"Aku... aku tidak tahu kalau dia akan datang..."

Sebelum Puja bisa menjelaskan lebih jauh, ketukan di pintu kembali terdengar, disusul suara Andy yang memanggil dari luar.

"Ja, kamu belum tidur, kan? Tadi dompetmu sepertinya jatuh di jok motor waktu aku antar pulang tadi sore. Makanya aku langsung ke sini."

Tanpa menunggu izin, Jeffry melangkah melewati Puja dengan rahang mengeras.

Pria itu menarik gagang pintu dan membukanya dengan kasar.

Cklek!

Pintu terbuka lebar. Andy yang berdiri di teras dengan senyum santai seketika tertegun.

Senyum di bibirnya membeku saat mendapati sosok pria berwajah dingin dan berwibawa berdiri di hadapannya—bukan Puja.

Andy mengerjap, menatap penampilan Jeffry dari atas sampai bawah dengan kening berkerut bingung.

"Lho... Mas Jeffry?" ucap Andy terbata, nada suaranya terdengar tidak percaya.

"Mas Jeffry juga tinggal di sini?"

Suasana di teras rumah mendadak membeku. Udara malam yang dingin seolah berubah menjadi bara api yang membakar amarah Jeffry hingga ke ubun-ubun.

Mata Jeffry menatap tajam ke arah Andy, menyipit penuh kebencian.

Pria di hadapannya ini tidak hanya lancang mengantar istrinya pulang, tapi kini dengan tidak tahu malunya datang malam-malam ke rumah mereka dengan alasan yang dibuat-buat.

"Jadi, kamu yang mengantar istriku pulang tadi sore?" suara Jeffry keluar dari sela-sela giginya yang terkatup rapat, terdengar begitu rendah dan mengerikan.

Andy menelan ludahnya, mulai merasakan aura berbahay

a yang menguar dari diri Jeffry."A-Ah... iya, Mas. Tadi dompet Puja—"

Bugh!

Belum sempat Andy menyelesaikan kalimatnya, sebuah hantaman kepalan tangan yang sangat keras telak mendarat di rahang kirinya.

Serangan mendadak itu membuat Andy terhuyung ke belakang, kehilangan keseimbangan, dan langsung tersungkur jatuh ke lantai teras yang keras.

"Mas Jeffry!" teriak Puja histeris, menjerit kencang menyaksikan kekerasan yang terjadi tepat di depan matanya.

Andy mengerang kesakitan sambil memegangi rahangnya yang seketika membiru dan terasa panas.

Sebelum ia sempat bangkit, Jeffry sudah kembali menerjang dengan kemurkaan yang tak terkendali.

Pria itu mencengkeram kerah jaket Andy, menariknya berdiri, lalu melayangkan pukulan kedua yang jauh lebih keras ke arah perut Andy.

"Uhuk!" Andy terbatuk hebat, napasnya seketika sesak.

"Beraninya kamu datang ke rumah saya malam-malam!" bentak Jeffry dengan suara menggelegar yang memecah kesunyian malam.

Ia mengangkat kepalan tangannya bersiap melayangkan pukulan ketiga yang bisa saja menghancurkan wajah Andy sepenuhnya.

Melihat amarah suaminya yang sudah di luar batas kendali dan nyawa Andy yang terancam dalam bahaya, Puja tanpa berpikir panjang langsung berlari menerjang.

Ia melompat di antara kedua pria itu, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memeluk erat tubuh Jeffry dari belakang.

"Mas! Jangan, Mas! Cukup!" teriak Puja histeris, air matanya tumpah ruah membasahi punggung baju suaminya.

"Jangan pukul dia lagi! Kalau Mas bunuh dia, Mas bisa masuk penjara! Kumohon, hentikan, Mas!"

Jeffry yang tangannya masih tergantung di udara menghentikan gerakannya.

Napasnya memburu kencang, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap-luap.

Ia menatap tajam ke arah Andy yang terkapar lemah, lalu melirik ke arah Puja yang kini memeluknya erat-erat sambil menangis ketakutan.

Rasa cemburu, kecewa, dan amarah bercampur aduk di dada Jeffry.

Ia bahkan bisa merasakan tubuh istrinya bergetar hebat dalam dekapan protektif itu—bukan karena membela Andy, melainkan karena ketakutan luar biasa melihat suaminya berubah menjadi pria yang penuh amarah.

Andy, dengan napas tersenggal-senggal dan sudut bibir berdarah, memegangi perutnya yang masih terasa ngilu.

Ia sama sekali tidak menyangka suami Puja memiliki sisi beringas seperti itu.

Menyadari situasi yang semakin berbahaya dan nyawanya bisa melayang jika terus di sana, Andy segera bangkit dengan susah payah.

"Puja, aku pulang dulu ya. Maaf..." cicit Andy terbata-bata, ketakutan setengah mati.

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah mundur, lalu berlari terbirit-birit meninggalkan halaman rumah Jeffry, bahkan melupakan dompet Puja yang tadi dijadikan alasan.

Pintu teras masih terbuka lebar. Angin malam berhembus dingin, namun hawa panas kemarahan masih pekat menyelimuti ruangan itu.

Jeffry perlahan melepaskan rangkulan tangan Puja dari tubuhnya.

Pria itu berbalik badan, menatap tajam ke arah istrinya dengan sorot mata yang menyayat hati—penuh luka, ketidakpercayaan, dan kepahitan yang teramat sangat.

"Kamu membela dia," ucap Jeffry dengan nada suara datar namun dingin menusuk tulang.

"Kamu bahkan rela mempertaruhkan diri

melindunginya dari pukulan Mas."

Puja menggelengkan kepalanya panik, air matanya semakin deras mengalir.

"Mas, bukan begitu... Sumpah, bukan itu maksudku..."

"Terus apa, Puja?!" bentak Jeffry, suaranya kembali meninggi memecah kesunyian malam. Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan nanar.

"Kamu minta maaf sama Andy? Kamu lebih mengkhawatirkan keadaan laki-laki itu ketimbang perasaan Mas yang hancur karena pengkhianatanmu?!"

"Mas, bukan seperti itu!" Puja terisak pilu, mencoba meraih tangan suaminya namun ditepis kasar oleh Jeffry.

"Aku tidak mau Mas kenapa-napa! Aku takut Mas berurusan dengan hukum, aku takut Mas masuk penjara karena membunuh orang! Aku melakukan itu demi kebaikan Mas dan rumah tangga kita!"

Jeffry tertawa hambar, sebuah tawa getir yang sarat akan keputusasaan.

Ia memalingkan wajahnya sejenak, lalu kembali menatap Puja lekat-lekat dengan mata yang memerah.

"Alasan, Puja. Alasan!" ucap Jeffry penuh penekanan, menatap istrinya dengan pandangan menuduh yang menghujam jantung.

"Bilang saja... kalau sebenarnya kamu mencintai Andy!"

Deg!

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Jeffry, bagaikan belati tajam yang langsung menghujam dada Puja tanpa ampun.

"Astaghfirullah, Mas..." cicit Puja, napasnya seolah berhenti seketika.

Tubuhnya terhuyung ke belakang, terkejut luar biasa mendengar suaminya menuduhnya setega itu.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!