NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Langkah Kirei terasa begitu ringan menapaki lantai dua SMA Nusantara pagi itu. Mentari pukul tujuh memancar lembut di sepanjang koridor, menyapu bersih sisa-sisa cemas yang sempat menghimpit sekolah beberapa hari belakangan.

Di sampingnya, Arka berjalan santai—satu tangan mencengkeram tali ransel hitam yang disampirkan di bahu, sementara tangan lainnya sibuk mengacak-acak rambutnya yang berantakan.

"Ngapain lo senyum-senyum sendiri?" tegur Arka, melirik Kirei dari sudut mata dengan cengiran tipis. "Masih kebayang momen di gedung Wijaya Tower kemarin?"

Pipi Kirei mendadak memanas. Ia menoleh cepat, membetulkan letak kacamatanya dengan canggung. "N-nggak ya! Gue cuma lega karena berita skandal itu sudah bersih penuh dan Kakek makin membaik di rumah sakit."

"Masa?" Arka mencondongkan badan, sengaja memotong jalan sampai Kirei terpaksa berhenti mendadak. "Bukan karena lo senang genggaman tangan kita enggak lepas sampai di parkiran?"

"Arka!" bisik Kirei setengah tertahan, melirik cemas ke sekeliling. Beberapa siswa yang melintas mulai berbisik-bisik, tapi kali ini bukan pandangan miring seperti saat Bima masih menebar teror. Sorot mata murid-murid justru dipenuhi rasa penasaran atas kekompakan Ketua OSIS dan kapten tim basket itu.

Sebelum Arka sempat makin menjadi-jadi, ketukan sepatu berhak tinggi terdengar tergesa dari belakang. Maya, Sekretaris OSIS, berlari kecil menghampiri mereka dengan tumpukan map biru di pelukan.

"Kirei! Arka!" panggil Maya terengah-engah. "Untung kalian sudah sampai. Pak Hartawan minta seluruh pengurus OSIS kumpul di ruang rapat sepuluh menit lagi. Ada pengumuman penting dari dinas!"

Kirei menyipitkan mata. "Pengumuman? Soal jadwal Olimpiade?"

Maya menggeleng cepat, napasnya memburu. "Bukan cuma itu. Katanya... ada murid pindahan baru dari sekolah internasional di Surabaya. Dia masuk ke kelas kita, Kirei!"

Kirei dan Arka saling bertukar pandang. Kasus Bima dan Tuan Aditama baru saja beres kemarin sore, dan sekarang sekolah langsung kedatangan murid baru di tengah semester?

Ruang rapat OSIS diselimuti riak bisik-bisik penasaran saat Pak Hartawan berdiri di depan papan tulis. Di sampingnya, berdiri seorang cowok jangkung berseragam rapi tanpa cela.

Rambutnya ditata klimis ke samping, berwajah oriental dengan kulit bersih dan senyum ramah yang mengembang alami—kesan gentleman sempurna yang seketika mencuri perhatian beberapa siswi di ruangan.

"Harap tenang semuanya," Pak Hartawan menepuk tangan dua kali. "Hari ini kita kedatangan siswa baru yang akan masuk kelas XII-IPA 1 sekaligus bergabung sebagai pengurus OSIS divisi Humas. Silakan perkenalkan diri kamu."

Cowok itu melangkah maju setindak, membungkuk sopan.

"Selamat pagi semuanya. Nama saya Dion Hartono," suaranya terdengar hangat dan dalam, memancarkan karisma yang tenang. "Saya pindahan dari SMA Nusantara Utama Surabaya. Mohon bimbingannya dari Bu Ketua dan rekan-rekan OSIS di sini."

Pandangan Dion menyapu isi ruangan, sebelum mengunci tepat pada Kirei di barisan depan. Senyum Dion makin lebar, tapi ada pendar tipis di matanya yang bikin Arka—yang duduk bersandar di pojok belakang—langsung menegakkan posisi tubuhnya.

Dion Hartono? Arka menyipitkan mata. Marga itu tidak asing di telinganya.

"Baiklah, karena Kirei Ketua OSIS sekaligus sekelas dengan Dion, Kirei... kamu yang bertugas mengantar Dion keliling fasilitas sekolah setelah rapat selesai," instruksi Pak Hartawan.

Kirei mengangguk patuh. "Baik, Pak."

Di barisan belakang, Arka mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi, memutar pulpen di jarinya dengan gerakan cepat dan gusar.

Pukul 10.15 WIB.

Area lapangan basket outdoor tampak lengang saat jam istirahat pertama. Kirei berjalan memandu Dion melihat-lihat fasilitas sekolah.

"Dan ini lapangan olahraga utama," terang Kirei ramah, menunjuk ke arah semen hijau. "Biasanya dipakai latihan tim basket dan upacara."

Dion mengangguk-angguk, menyesuaikan ritme langkahnya agar sejajar dengan Kirei. "Sekolah ini luas banget, Kirei. Tapi yang paling berkesan buat gue... justru kepemimpinan lo. Cerita soal keberhasilan lo membersihkan nama baik sekolah kemarin malam sudah sampai ke kepala sekolah di Surabaya."

Kirei tersenyum tipis, mendadak canggung. "Itu... bukan cuma kerja keras gue. Ada tim dan Arka yang banyak membantu."

"Arka?" Dion menghentikan langkah, menoleh menatap Kirei dengan binar ingin tahu. "Kapten tim basket itu, kan? Gue dengar kalian dekat banget belakangan ini. Apa... kalian punya hubungan khusus?"

Pertanyaan frontal itu menyekat tenggorokan Kirei. Belum sempat ia merangkai kata, sebuah bola basket meluncur deras dari arah lapangan, memantul keras di atas semen dan berhenti persis di depan kaki Dion.

Bum!

Dion dan Kirei refleks menoleh.

Arka melangkah mendekat, jersey latihan basketnya agak basah oleh keringat, membingkai postur tubuhnya yang tegap. Tanpa ragu ia memangkas jarak, memungut bola di depan kaki Dion lalu memutarnya santai di atas ujung telunjuk.

"Sori, bola gue lepas," kata Arka dingin, sarat gertakan. Matanya memindai Dion dari ujung kepala sampai kaki. "Murid baru enggak boleh main di area sini kalau belum izin kapten."

Dion tak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia justru terkekeh ramah, mengulurkan tangan pada Arka. "Gue Dion. Murid transfer baru."

Arka melirik tangan Dion sejenak, lalu membalas jabat tangan itu dengan cengkeraman ketat. Kirei bisa melihat urat-urat di lengan Arka mengencang keras.

"Arka," sahut Arka singkat, suaranya memberat.

"Gue sudah banyak dengar tentang lo, Arka," bisik Dion pelan, senyum manisnya tak luntur walau cengkeraman Arka jelas-jelas meremas buku jarinya. "Termasuk... soal bisnis lama keluarga kita yang sempat bersinggungan."

Dada Kirei mendadak berdesir tajam. Bisnis lama keluarga?

Arka menyipitkan mata, menghentakkan cengkeramannya kasar. Kilat emosi yang terendam mendadak membayang pekat di wajahnya.

"Enggak usah membawa-bawa hal yang enggak perlu di sekolah ini, Dion," ancam Arka rendah.

"Gue cuma menyapa kawan lama," Dion terkekeh santai, membalikkan badan menatap Kirei kembali dengan raut manis. "Terima kasih untuk orientasinya, Kirei. Gue ke kelas duluan, ya."

Dion melangkah pergi membelakangi lapangan, menyisakan Kirei dan Arka yang berdiri di bawah sengatan matahari pagi.

Kirei merapat, memegang lengan Arka yang masih kaku tegang. "Arka... lo kenal Dion? Apa maksudnya soal bisnis keluarga?"

Arka menghentikan putaran bola di jarinya, memandang Kirei dengan raut yang mendadak serius dan posesif.

"Dion itu sepupu kandung Bima," bisik Arka tajam. "Dia anak pemilik Hartono Corp... investor utama yang menyokong dana untuk rencana perebutan saham Keluarga Aditama."

Kirei tersentak, napasnya tersangkut di dada.

"Keluarga Aditama mungkin sudah tumbang," Arka merengkuh bahu Kirei, menarik cewek itu mendekat sembari menatap tajam ke ujung koridor tempat Dion menghilang. "Tapi dalang sebenarnya baru saja menginjakkan kaki di sekolah ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!