NovelToon NovelToon
The Extra Who Changed Fate

The Extra Who Changed Fate

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.

Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.

Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.

Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.

Namun kali ini, takdir berubah.

Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.

Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Hari pemungutan suara tiba dengan suasana sekolah yang lebih tegang dari biasanya. Bilik-bilik suara sederhana didirikan di aula, dijaga oleh panitia OSIS yang memastikan setiap siswa memberikan suaranya dengan tertib.

Rean berdiri di depan bilik suara miliknya sendiri, memberikan hak pilihnya untuk kandidat lain — sesuatu yang diwajibkan aturan sekolah, bahkan bagi kandidat yang bersaing.

"Rasanya aneh milih, padahal namaku sendiri juga ada di kertas suara," gumamnya pelan pada Ethan yang berdiri di sampingnya menunggu giliran.

"Itu namanya sportif," Ethan tertawa kecil. "Kamu tetap harus kasih suara buat kandidat yang menurutmu terbaik, meskipun bukan diri sendiri."

Sepanjang hari, hampir seluruh siswa dari berbagai kelas bergantian memberikan suara mereka. Rean menghabiskan waktu menunggu hasil dengan gelisah, meski berusaha menyembunyikannya di balik kesibukan menyelesaikan tugas kepanitiaan lain yang masih menumpuk.

Menjelang sore, seluruh siswa kembali dikumpulkan di aula untuk pengumuman hasil pemilihan. Suasana dipenuhi ketegangan campur antusiasme, dengan kedua kubu pendukung saling melempar semangat masing-masing.

Kepala sekolah naik ke podium, membawa amplop berisi hasil resmi perhitungan suara.

"Setelah melalui proses pemungutan suara yang adil dan transparan," katanya, memulai pengumuman dengan nada formal, "ketua OSIS terpilih untuk periode mendatang adalah—"

Jeda sejenak sebelum kelanjutan kalimat itu membuat seluruh aula menahan napas.

"—Kieran Ashford, dengan selisih suara yang cukup tipis dari kandidat lainnya."

Sorak sorai langsung meledak dari kubu pendukung Kieran, meski tidak seheboh yang biasanya terjadi pada kemenangan telak — selisih suara yang tipis itu sendiri sudah menjadi bukti betapa dekatnya persaingan kali ini.

Rean, yang berdiri di antara kerumunan siswa kelas 10-B, langsung bertepuk tangan tulus untuk lawannya, tidak menunjukkan kekecewaan berlebihan di wajahnya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ethan khawatir, memperhatikan ekspresi Rean yang tetap tenang.

"Aku baik-baik saja," jawab Rean jujur, tersenyum kecil. "Aku sudah senang bisa dapat pengalaman sebanyak ini. Menang atau kalah, aku belajar banyak hal baru."

Kejujuran jawaban itu membuat Ethan dan beberapa teman di sekitarnya justru semakin kagum pada sikap Rean yang menerima hasil dengan lapang dada, bukan sekadar kata-kata basa-basi.

Di panggung, Kieran menerima ucapan selamat dari berbagai pihak, namun matanya sempat mencari sosok Rean di antara kerumunan. Ketika akhirnya menemukannya, ia melihat Rean bertepuk tangan dengan tulus, tanpa secuil pun rasa dengki di wajahnya.

Sesuatu dalam dada Kieran terasa sedikit aneh melihat pemandangan itu — bukan kepuasan penuh atas kemenangannya, melainkan rasa tidak nyaman yang sulit ia jelaskan, seolah kemenangan ini terasa kurang berarti dibanding yang seharusnya ia rasakan.

Usai acara, ketika kerumunan mulai membubarkan diri, Elora menghampiri Rean yang masih berdiri di sudut aula.

"Kamu kelihatan santai banget," katanya, sedikit heran melihat ketenangan Rean meski baru saja kalah dalam pemilihan.

"Aku memang santai, kok," jawab Rean tulus. "Lagian, Kieran memang lebih berpengalaman dariku. Wajar kalau dia menang."

Elora tersenyum kecil mendengar jawaban polos itu, kembali merasakan kekaguman yang sama seperti pertama kali ia mengenal Rean — ketulusan tanpa dibuat-buat yang jarang ia temukan pada orang lain di lingkungannya.

"Aku tetap bangga sama kamu," katanya pelan, sedikit merona mengucapkannya.

"Terima kasih," Rean tersenyum lebar, benar-benar tidak menyadari betapa dalam makna di balik kata-kata sederhana itu bagi orang yang mengucapkannya.

Sore itu, meski hasil pemilihan tidak berpihak padanya, Rean pulang dengan hati yang tetap ringan — sebuah pengalaman baru yang, baginya, jauh lebih berharga daripada sekadar gelar jabatan semata.

---

Malam setelah pengumuman hasil pemilihan, Kieran duduk sendirian di kamarnya, menatap piagam kemenangan yang baru saja diterimanya dari sekolah. Seharusnya ini menjadi salah satu momen paling membanggakan dalam hidupnya — pencapaian yang selama ini selalu ia kejar dengan kerja keras.

Namun entah kenapa, perasaan itu tidak sepenuhnya hadir seperti yang ia bayangkan.

Pintu kamarnya terbuka pelan. Kakaknya masuk membawa dua cangkir cokelat panas, seperti kebiasaan mereka setiap kali ada momen penting yang perlu dibicarakan.

"Selamat," katanya, meletakkan salah satu cangkir di meja Kieran. "Aku dengar kemenangannya cukup tipis."

"Cuma beda beberapa suara," jawab Kieran, menatap piagam di tangannya tanpa benar-benar melihatnya.

"Kamu nggak kelihatan sebahagia yang kupikir," kakaknya duduk di kursi seberang, memperhatikan dengan seksama.

Kieran menghela napas panjang, akhirnya meletakkan piagam itu di meja. "Aku menang bukan karena programku jauh lebih baik. Selisihnya tipis banget. Kalau Rean sedikit lebih berpengalaman kampanye, mungkin hasilnya beda."

"Tapi kamu tetap menang," kakaknya mengingatkan. "Itu fakta yang nggak bisa diubah."

"Aku tahu," Kieran mengangguk, meski suaranya masih terdengar berat. "Tapi rasanya... aneh. Seolah aku menang bukan karena aku benar-benar lebih baik, hanya karena aku lebih dikenal duluan."

Kakaknya terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata sebelum menjawab. "Kieran, kemenangan itu tetap sah. Kamu memang sudah membangun reputasimu lewat kerja keras selama bertahun-tahun sebelum Rean bahkan masuk sekolah ini. Itu bukan sesuatu yang harus kamu rasa bersalah."

"Aku nggak merasa bersalah soal itu," Kieran menggeleng cepat. "Aku cuma... nggak tahu kenapa rasanya nggak sepuas yang kubayangkan."

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Kakaknya menatap Kieran lama, mencoba membaca apa yang sebenarnya bergejolak di balik kata-kata adiknya.

"Ini bukan cuma soal jabatan, kan?" tanyanya akhirnya, langsung menohok inti permasalahan.

Kieran tidak menjawab, tapi diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya.

"Kieran," kakaknya melanjutkan, suaranya melembut, "kamu terus membandingkan dirimu dengan Rean belakangan ini, di semua hal — popularitas, prestasi, bahkan sekarang jabatan OSIS. Tapi apa yang sebenarnya kamu takutkan?"

Pertanyaan itu menggantung lama sebelum Kieran akhirnya menjawab, suaranya nyaris berbisik. "Aku takut kalau semua yang selama ini aku bangun... nggak lagi cukup berarti untuk membuat orang-orang tetap memandangku seperti dulu."

Kakaknya menghela napas panjang, menggenggam bahu Kieran erat. "Nilai dirimu nggak ditentukan dari perbandingan dengan orang lain, Kieran. Kamu tetap Kieran yang sama, dengan segala pencapaian dan kerja kerasmu sendiri, terlepas dari ada atau tidaknya Rean di sekolah ini."

Kieran menunduk, mencoba mencerna kata-kata itu meski hatinya masih dipenuhi kegelisahan yang belum sepenuhnya reda.

"Aku nggak tahu harus mulai dari mana untuk memperbaiki perasaan ini," akunya jujur.

"Mulai dengan berhenti membandingkan," saran kakaknya lembut. "Fokus pada apa yang ingin kamu capai untuk dirimu sendiri, bukan untuk mengalahkan orang lain."

Malam itu, setelah kakaknya meninggalkan kamar, Kieran duduk lama menatap piagam kemenangannya, mencoba menemukan kembali kebanggaan yang seharusnya ia rasakan. Namun jauh di dasar hatinya, bara kecil yang selama ini tumbuh perlahan masih menyala, belum sepenuhnya padam meski nasihat demi nasihat sudah berkali-kali ia terima.

Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus benar-benar menghadapi perasaan itu secara jujur — bukan sekadar menekannya sementara di balik kesibukan dan pencapaian yang terus ia kejar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!