Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Balik dan Murka Sang Papa
Suara wiper mobil yang berdecit ritmis beradu dengan hantaman hujan deras di kaca depan tidak mampu meredam gemuruh di dada Anya. Sepanjang jalan dari Sudirman kembali ke rumahnya di kawasan Jakarta Selatan, pandangan Anya kabur. Bukan hanya karena air hujan, tetapi karena air mata yang terus menerus luruh tanpa bisa dia bendung. Kalimat kejam Edgard merobek habis sisa harga diri yang dia miliki. Perasaanmu itu... hanya obsesi remaja yang egois.
Anya mencengkeram kemudi hingga jemarinya memutih. Amarah, rasa malu, dan patah hati yang teramat hebat bergulung menjadi satu, menciptakan lubang hitam yang menyedot habis seluruh keceriaan dari jiwanya yang baru berusia delapan belas tahun.
Begitu mobilnya berhenti di halaman rumah, Anya langsung keluar menembus sisa hujan tanpa memedulikan tubuhnya yang basah kuyup. Dia membanting pintu depan rumah dengan keras, berniat langsung mengunci diri di kamar dan tidak ingin melihat siapa pun lagi.
Namun, langkah kaki Anya mendadak terhenti di ruang tengah.
Suasana di ruangan itu terasa begitu dingin dan mencekam, melebihi dinginnya air hujan yang membasahi pakaiannya. Di atas sofa, Papa duduk dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang berkilat marah. Di sampingnya, Mama tampak cemas sambil meremas selembar tisu, sementara Joana duduk agak menjauh dengan kepala tertunduk dalam.
"Dari mana kamu, Anya?!" Suara Papa menggelegar, memecah keheningan rumah mewah itu bagai petir.
Anya berdiri mematung di batas karpet ruang tengah. Air menetes dari ujung rambut dan pakaiannya, membasahi lantai marmer. Dia menatap Papanya dengan sisa-sisa keberanian yang rapuh. "Bukan urusan Papa."
"Bukan urusan Papa?!" Papa bangkit berdiri dari sofa dengan sentakan kasar. Dia berjalan mendekati Anya dengan langkah besar yang mengintimidasi. "Edgard baru saja menelepon Papa! Dia menceritakan semuanya! Kamu berani datang ke kantornya, membuat keributan di depan sekretarisnya, berteriak seperti orang gila, dan bahkan menamparnya?! Di mana otakmu, Anya?!"
Anya mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Mendengar nama Edgard disebut oleh Papanya membuat luka di hatinya kembali berdarah. "Anya cuma minta keadilan, Pa! Kenapa semua orang memperlakukan Anya seolah-olah Anya yang bersalah di sini? Anya yang mencintai dia lebih dulu! Anya yang berjuang!"
"Cukup dengan cinta monyetmu yang konyol itu!" bentak Papa tepat di depan wajah Anya. "Perjuangan apa yang kamu maksud? Mengemis perhatian pria yang sama sekali tidak tertarik padamu? Tindakanmu itu bukan perjuangan, Anya! Itu memalukan! Kamu tidak hanya mempermalukan dirimu sendiri, tapi kamu juga mempermalukan nama baik keluarga Bramantyo di depan mitra bisnis terbesar kita!"
"Bram, sudahlah... tenangkan dirimu dulu," Mama mencoba menengahi, memegang lengan suaminya dengan wajah memohon. "Anya sedang emosional, jangan dibentak seperti itu."
"Bagaimana aku tidak membentaknya, Mirna?!" Papa menepis tangan Mama dengan gusar. "Anak ini sudah kelewat batas! Perjodohan Edgard dan Joana ini menyangkut masa depan investasi triliunan rupiah dan kelangsungan perusahaan kita. Dan anak ini... dia hampir merusaknya hanya karena ego remajanya yang tidak mau mengalah!"
Anya tertawa sumbang di sela isak tangisnya yang kembali pecah. Air matanya bercampur dengan sisa air hujan di pipinya. "Ooh... jadi karena uang? Karena investasi triliunan rupiah itu, Papa rela mengorbankan perasaan Anya? Papa lebih peduli pada saham dan bisnis daripada kebahagiaan anak kandung Papa sendiri?"
"Anya, tutup mulutmu!" Papa menunjuk wajah Anya dengan jari gemetar karena amarah yang memuncak. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang susahnya membesarkan dan memberi fasilitas mewah untukmu selama ini! Semua yang kamu pakai, mobil yang kamu kendarai, rumah tempat kamu tinggal, semuanya dari uang bisnis ini! Dan sekarang kamu berani menggugat keputusan Papa?"
Joana akhirnya berdiri, matanya berkaca-kaca menatap adiknya. "Anya... tolong dengarkan Papa. Kakak mohon, jangan membantah lagi. Kita bisa bicarakan ini baik-baik..."
"Enggak ada yang perlu dibicarakan lagi, Kak!" potong Anya dengan suara meninggi, menatap Joana dengan pandangan terluka yang mendalam. "Kak Joana sudah mendapatkan apa yang Kakak mau. Kak Joana menang. Jadi stop berlagak seperti orang suci yang peduli sama aku!"
"Anya! Jaga bicaramu pada kakakmu!" Kali ini, Papa benar-benar kehilangan sisa kesabarannya. Plakat kayu kecil di atas meja hias dekat sana dia pukul hingga menimbulkan suara dentuman yang mengejutkan semua orang di ruangan itu.
Suasana kembali hening, hanya menyisakan suara napas Papa yang memburu dan isak tangis Anya yang tertahan di tenggorokan. Papa menatap Anya dari atas ke bawah dengan pandangan dingin, sebuah pandangan yang menandakan bahwa batas toleransinya telah habis seutuhnya.
"Papa sudah memikirkan ini sejak semalam, dan kelakuanmu hari ini di kantor Edgard semakin memantapkan keputusan Papa," ucap Papa dengan nada suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat datar, tenang, namun teramat kejam. "Kamu tidak bisa tinggal di Jakarta lagi, Anya."
Anya tertegun. Isak tangisnya mendadak terhenti. Dia menatap Papanya dengan mata terbelalak. "Maksud... maksud Papa apa?"
"Papa akan mengurus kepindahan kuliahmu," titah Papa tanpa beban, seolah sedang memindahkan inventaris kantor biasa. "Mulai bulan depan, kamu akan Papa kirim untuk melanjutkan kuliah di Surabaya. Papa sudah menghubungi salah satu universitas swasta di sana melalui relasi Papa."
"Bram! Apa tidak keterlaluan?" Mama memekik kaget, tidak menyangka suaminya akan mengambil keputusan seekstrim itu. "Anya baru delapan belas tahun! Dia belum pernah tinggal jauh dari kita!"
"Ini demi kebaikannya sendiri, Mirna! Dan demi ketenangan rumah ini!" tegas Papa, tidak menerima bantahan dari siapa pun. Pandangannya kembali terkunci pada Anya yang berdiri membeku seperti patung. "Di Surabaya, kamu akan tinggal di apartemen kecil yang dekat dengan kampusmu. Papa tidak akan memberikan fasilitas mobil. Kamu harus belajar mandiri dan menyadari bahwa dunia tidak berputar hanya untuk menuruti keinginanmu."
"Pa... Anya mohon, jangan," Joana ikut menangis, melangkah mendekati Papanya. "Jangan usir Anya hanya karena masalah ini. Biar Joana saja yang bicara dengan Edgard untuk menunda perjodohan ini..."
"Tidak ada yang boleh diubah!" bentak Papa pada Joana. "Keputusan Papa sudah bulat. Anya, jika kamu tetap menolak perjodohan ini dan terus berniat mengacaukan hubungan kakakmu dengan Edgard, maka kamu harus pergi dari rumah ini. Kemasi barang-barangmu. Bulan depan, kamu berangkat ke Surabaya."
Anya merasakan dadanya hancur berkeping-keping hingga menjadi debu. Hukuman ini... pengasingan ini, adalah bukti mutlak bahwa di dalam keluarga ini, dia hanyalah sebuah bidak yang tidak berharga yang bisa dibuang kapan saja jika dianggap mengganggu jalannya permainan besar Papa.
Gadis delapan belas tahun itu memandangi satu per satu orang di hadapannya. Papanya yang berwajah keras tanpa ampun, Mamanya yang menangis pasrah tanpa bisa membela, dan Joana yang menatapnya dengan rasa bersalah yang teramat sangat. Rasa asing yang semalam sempat merayap di dadanya, kini meledak seutuhnya. Rumah ini bukan lagi rumahnya. Keluarga ini bukan lagi tempatnya berlindung.
Anya menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Dia menegakkan bahunya yang gemetar, menatap lurus ke dalam manik mata Papanya dengan tatapan yang tidak lagi menyiratkan rasa takut, melainkan kekosongan yang dingin.
"Papa enggak perlu menunggu sampai bulan depan," ucap Anya, suaranya terdengar sangat tenang, begitu dingin hingga membuat Mama dan Joana merinding mendengarnya. "Anya akan pergi sekarang juga. Anya akan urus kepindahan itu sendiri."
"Anya!" seru Mama histeris.
Anya tidak memedulikan panggilan Mamanya. Dia berbalik dengan sentakan kasar, melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya tanpa menoleh ke belakang lagi. Di dalam kamar, dengan tangan yang gemetar hebat akibat luapan emosi, Anya menarik sebuah koper besar dari dalam lemari. Dia memasukkan pakaiannya secara acak, buku-buku kuliahnya, dan beberapa barang pribadi yang penting.
Dia meninggalkan semua barang mewah pemberian Papanya—perhiasan, tas bermerek, hingga kunci mobil yang dia letakkan begitu saja di atas meja rias. Dia hanya membawa tabungan pribadinya yang tidak seberapa dan beberapa lembar baju. Anya bertekad, begitu dia menginjakkan kaki di kota asing itu, dia akan mengubur dalam-dalam identitasnya sebagai anak manja keluarga Bramantyo. Dia akan memutus semua rantai yang menghubungkannya dengan rasa sakit ini, termasuk dengan pria bernama Edgard Baskoro yang telah mengusirnya tanpa memandang ke belakang.
semangat nulisnya 💪