Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayap Perak Menuju Gerbang Baru
Suara deru turbin pesawat jet pribadi jenis Gulfstream G650ER terdengar halus, bergetar ritmis di bawah lantai kabin mewah yang dilapisi karpet wol tebal berwarna krem. Sinar matahari pagi yang bersih menerobos masuk melalui deretan jendela oval, menerangi ruang interior pesawat yang didesain eksklusif dengan panel kayu mahoni dan kursi kulit eksekutif yang lebar.
Rombongan keluarga besar Bramantyo secara resmi meninggalkan kota Surabaya hari itu. Kota yang selama tiga setengah tahun menjadi saksi bisu pengasingan, air mata, dan transformasi luar biasa seorang Anya Kirana, kini perlahan mengecil di bawah sana, menyisakan hamparan atap rumah dan garis pantai Selat Madura yang menjauh di balik gumpalan awan putih.
Anya duduk di salah satu kursi kapten yang empuk, bersandar nyaman sambil menatap hamparan langit biru di luar jendela. Jubah wisuda hitam dan toga universitasnya kini telah dikemas rapi di dalam bagasi jet. Pakaian perjalanan yang dikenakannya hari ini memancarkan aura wanita dewasa kelas atas yang sangat menawan dan berkelas. Anya mengenakan celana kulot bahan sutra berwarna putih gading yang jatuh dengan anggun, dipadukan dengan atasan blus rajut tanpa lengan berwarna cokelat karamel pas badan yang mengekspos pundak putih cerahnya yang mulus. Siluet tubuh proporsionalnya dengan berat 55 kg dan tinggi 165 cm terlihat begitu seksi sekaligus elegan. Rambut panjang lurusnya yang hitam legam dibiarkan tergerai rapi, bergerak halus setiap kali dia menoleh.
Di seberang meja lipat marmernya, Edgard Baskoro duduk dengan punggung tegapnya yang bersandar santai. Pria dengan struktur wajah setegas aktor dunia dan berahang kokoh mirip Daniel Henney itu telah melepaskan jas formalnya. Dia hanya mengenakan kemeja rajut hitam berkerah rendah yang menonjolkan bentuk lengan dan dada bidang atletisnya dengan sempurna. Jam tangan perak mewahnya berkilau di bawah siraman cahaya matahari kabin. Sepasang mata elangnya yang biasanya tajam dan menakutkan bagi para direktur korporat, pagi ini memancarkan binar kehangatan dan samudra cinta yang teramat dalam saat menatap setiap gerak-gerik Anya.
"Aroma bunga lili ini sangat awet ya, Kak," ucap Anya dengan nada suara baritonnya yang tenang namun terdengar begitu manis dan lembut. Jemari lentiknya bergerak merapikan beberapa kelopak bunga dari buket raksasa kiriman Edgard kemarin yang sengaja dia letakkan di atas meja hias di samping kursinya.
Edgard melengkungkan sudut bibirnya, membentuk senyuman tampan yang seketika menghapus seluruh sisa keangkuhan masa lalunya. Dia mengulurkan tangan kanannya melintasi meja, menangkap jemari lentik Anya dan menggenggamnya dengan kelembutan yang teramat protektif.
"Bunga itu dipilih dari varietas terbaik yang tidak akan layu selama satu minggu, Anya," jawab Edgard dengan suara baritonnya yang berat dan bergetar tulus. "Sama seperti janji saya kemarin di depan gerbang kampusmu. Mulai hari ini, setiap langkah hidupmu, setiap aroma yang mengelilingimu, dan setiap kebahagiaan yang berhak kamu dapatkan adalah tanggung jawab mutlak yang akan saya jaga dengan seluruh hidup saya."
Wajah cantik Anya merona merah samar mendengarkan untaian kalimat penuh komitmen dari sang CEO utama yang kini telah menjelma menjadi pria paling "bucin" secara elegan. Dia tidak menarik jemarinya, melainkan membalas genggaman tangan Edgard dengan binar ketulusan yang utuh di sepasang mata indahnya.
Di bagian kabin tengah yang disekat oleh partisi hias, suasana terasa begitu hangat dan dipenuhi tawa ringan. Papa Bramantyo duduk di kursi khusus dengan posisi kaki yang disandarkan nyaman. Wajah pucatnya setelah serangan stroke kini tampak jauh lebih segar dan bertenaga, memancarkan kebahagiaan seorang ayah yang berhasil membawa putri bungsunya pulang dengan cara yang paling terhormat.
"Baskoro Senior di Jakarta pasti akan terkejut melihat perubahan sikap putranya yang drastis ini, Bram," ucap Mama Mirna sambil menuangkan teh kamomil hangat ke cangkir suaminya, lalu melirik ke arah Joana yang sedang sibuk membaca majalah mode digital.
Papa Bramantyo tertawa kecil, suara tawa yang sarat akan kelegaan yang luar biasa. "Biarkan saja Baskoro Senior mengomel di kantor pusat, Mirna. Perjodohan korporat kaku yang dulu mereka rencanakan terbukti kalah telak oleh ketetapan hati anak muda. Edgard mempertaruhkan posisi merger saham utamanya demi menyusul Anya ke Surabaya, dan hari ini... aku memberikan restu penuh untuk langkah mereka selanjutnya."
Joana menurunkan tablet digitalnya, menatap kedua orang tuanya dengan senyuman tulus tanpa ada sisa rasa cemburu atau bersalah lagi di wajah cantiknya. "Aku sudah menyiapkan konsep gaun pertunangan awal untuk Anya, Pa. Begitu kita mendarat di Jakarta dan kondisi kesehatan Papa semakin stabil minggu depan, kita harus menggelar pesta pertunangan keluarga besar yang paling megah di ibu kota. Adik kecilku tidak boleh tampil biasa saja setelah menyandang gelar kelulusan terbaik."
"Tentu saja, Joana. Kamu yang pimpin seluruh persiapannya bersama tim katering hotel kita," jawab Mama Mirna dengan wajah berseri-seri.
Mendengar percakapan keluarga di kabin tengah yang merencanakan masa depan mereka dengan begitu penuh kasih sayang, Anya menolehkan kepalanya, menatap Edgard dengan senyuman yang teramat manis. Rantai trauma masa remajanya tentang malam perjamuan berdarah di Jakarta kini benar-benar telah meleleh tanpa sisa di atas sayap perak jet pribadi ini.
Dua jam perjalanan udara berlalu dengan kenyamanan yang sempurna. Pesawat jet pribadi Gulfstream itu perlahan menurunkan ketinggiannya, menembus lapisan awan tipis Jakarta sebelum akhirnya roda-roda pendaratannya menyentuh aspal landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan kehalusan tingkat tinggi.
Begitu pintu hidrolik pesawat terbuka di area apron privat, hawa hangat ibu kota dan aroma khas kota metropolitan langsung menyambut mereka. Dua unit mobil sedan hitam mewah beserta empat orang pengawal berjas rapi dari tim keamanan Baskoro Group sudah berdiri bersiap di samping undakan tangga besi.
Edgard melangkah turun terlebih dahulu dengan keanggunan seorang pemimpin utama. Dia berbalik, mengulurkan tangan tegapnya untuk membantu Anya melangkah turun. Anya menyambut uluran tangan tersebut, melangkah anggun menuruni tangga dengan tas ransel kulit hitam minimalisnya yang kembali tersampir di pundak, sementara tangan kirinya mendekap erat map ijazah beludru biru miliknya.
"Selamat datang kembali di Jakarta, Nona Anya Kirana," sapa Siska, sekretaris pribadi Edgard yang sudah menunggu di pelataran apron dengan membungkuk hormat yang penuh rasa segan.
Anya memberikan satu anggukan formal yang tenang dan ramah. "Terima kasih, Mbak Siska."
Edgard membimbing Anya menuju mobil sedan baris pertama yang pintunya sudah dibukakan oleh pengawal. Sebelum Anya masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC dingin, Edgard menahan lengan wanita itu dengan gerakan yang lembut, memaksa Anya untuk menatap matanya sekali lagi di bawah langit Jakarta.
"Sore ini, setelah saya menyelesaikan laporan restrukturisasi merger dengan dewan direksi di kantor pusat Sudirman, saya akan langsung datang ke rumahmu, Anya," ucap Edgard, suaranya bariton, rendah, namun dipenuhi penekanan yang mutlak yang tidak menerima penundaan. "Saya tidak ingin menunggu minggu depan untuk membicarakan tanggal pertunangan resmi kita dengan Papamu. Saya ingin seluruh Jakarta tahu mulai malam ini... bahwa wanita terbaik lulusan Surabaya ini telah sepenuhnya mengunci hati saya."
Anya tertegun sejenak mendengarkan ketetapan hati Edgard yang begitu berapi-api tanpa memberikan celah bagi waktu untuk menunda kebahagiaan mereka. Dia mendongak, menatap garis rahang kokoh Edgard yang tampak begitu tampan di bawah terik matahari siang, lalu mengangguk pelan dengan senyuman termanis yang mengembang di bibir indahnya.
"Iya, Kak Edgard. Anya tunggu di rumah nanti sore," bisik Anya dengan nada suara yang teramat lembut dan penuh kepasrahan cinta yang utuh.
Mobil sedan mewah itu perlahan bergerak meninggalkan area apron bandara, membawa rombongan keluarga Bramantyo kembali menuju kediaman utama mereka di Jakarta Selatan. Kota Jakarta siang ini tidak lagi terasa mencekam atau dingin bagi Anya Kirana; kota ini telah bertransformasi menjadi sebuah panggung megah yang siap menyambut babak baru kehidupan dewasanya sebagai seorang wanita berprestasi yang mandiri, berkelas, dan dicintai seutuhnya oleh pria paling berpengaruh di dunia bisnis ibu kota.
semangat nulisnya 💪