NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3 — Lima Menit

Aula mendadak lebih sunyi daripada ruang operasi.

Petugas humas di sisi panggung memberi isyarat agar siaran diputus. Pak Bambang mengangkat satu tangan, menyuruhnya menunggu.

Surya menatap kamera utama.

"Saya dokter muda. Saya lahir dari keluarga miskin. Motor saya masih kredit, dan sebelum hari ini isi rekening saya bahkan tidak cukup untuk membeli jam tangan Kevin. Semua itu benar."

Komentar live melambat, seolah ratusan ribu penonton menunggu pukulan berikutnya.

"Tapi saat seseorang sekarat, uang Kevin tidak bisa membuat jantungnya berdetak. Tangan saya bisa."

Rizki menutup mulut agar tidak berteriak kegirangan.

Surya melanjutkan, "Tiara memilih pergi setelah lima tahun karena merasa saya tidak punya masa depan. Itu haknya. Yang lucu, Kevin masuk ketika hubungan kami belum selesai, lalu bangga seolah berhasil memenangkan sesuatu. Kalau mau memakai bahasa dia sendiri, ya silakan. Dia cuma orang yang dengan sukarela menerima bekas orang lain, lalu mengira dirinya juara."

Komentar meledak.

Waduh, kena telak.

Uang bisa beli jam, tidak bisa beli kemampuan.

Bang, jangan bunuh dua orang dalam dua hari!

Nama Kevin menghilang dari kolom komentar.

Tiara masih mencoba membalas, tetapi komentarnya tenggelam di antara ribuan akun yang mengutip kalimat Surya. Di tempat lain, Kevin meneleponnya dengan suara dingin.

"Kenapa semua orang sekarang menertawakan gue gara-gara lo?"

"Kevin, dengar dulu. Dia sengaja—"

"Selesai. Jangan hubungi gue lagi."

Sambungan terputus.

Tiara menatap layar ponselnya. Akses kartu tambahan yang diberikan Kevin sudah diblokir. Mobil yang menjemputnya tiap pagi dibatalkan. Dalam waktu kurang dari satu menit, kehidupan mewah yang dipilihnya menguap.

Di aula, Surya tidak tersenyum.

"Pertanyaan berikutnya," katanya.

Ketika siaran selesai, Pak Bambang memanggilnya turun dari panggung.

"Jawabanmu efektif," ujar Direktur itu. "Tapi lain kali, jangan ubah konferensi pers rumah sakit menjadi sidang percintaan."

"Siap, Pak."

Pak Hendra menepuk pundak Surya. "Saya tidak menyuruh kamu begitu."

"Tapi Bapak bangga?"

"Sedikit. Jangan besar kepala."

Bu Ratna lewat di belakang mereka. "Sedikit apanya? Senyum Bapak kelihatan dari parkiran."

Pak Hendra langsung memasang wajah datar. "Kalian semua kembali ke IGD. Pasien tidak sembuh hanya karena dokter masuk live."

Beberapa jam kemudian, suara roda brankar berderak keras melewati pintu IGD.

Seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun terjatuh dari lantai tujuh proyek bangunan. Helm proyek menyelamatkan kepalanya, tetapi tungkai bawah kanannya membengkok pada tiga titik yang tidak wajar.

Ayahnya berlari di belakang brankar dengan sandal berbeda warna.

"Tolong anak saya, Dok!"

Surya mengambil alih pemeriksaan primer. Jalan napas aman. Napas cepat, tetapi suara paru simetris. Tekanan darah masih stabil. CT kepala tidak menunjukkan perdarahan. Masalah terburuk berada di tungkai.

Hasil X-ray memperlihatkan tibia patah pada tiga tempat, membentuk empat fragmen. Salah satu ujung tulang menekan jaringan lunak dan hampir menembus kulit.

"Butuh operasi fiksasi," kata dr. Wahyu Prabowo setelah melihat gambar. "Siapkan pelat dan sekrup."

Ayah pasien berdiri di dekat pintu, memegang kertas administrasi dengan kedua tangan. Wajahnya semakin pucat setiap membaca angka.

Surya mendekat. "BPJS-nya aktif, Pak?"

Pria itu menggeleng. "Tunggakan, Dok. Saya baru kerja lagi dua minggu. Uang muka alatnya empat juta. Saya... saya belum punya."

Dia menatap anaknya yang masih mengerang di balik tirai.

"Kalau boleh, jangan operasi dulu. Saya cari pinjaman. Besok pagi pasti dapat."

"Fragmennya menekan jaringan. Menunggu bisa memperburuk kerusakan dan membuat operasinya lebih besar."

Bahu pria itu jatuh.

Untuk sesaat Surya melihat wajah ayahnya sendiri—lelaki kurus yang menahan sakit karena takut biaya rumah sakit, sampai penyakitnya terlambat ditangani. Surya berusia enam belas tahun ketika peti mati ayahnya diturunkan ke tanah.

Dia tidak bisa mengubah masa lalu.

Tapi dia bisa menghentikan satu keluarga mengulangnya.

Surya membuka aplikasi bank. Hadiah Rp150.000.000 baru masuk siang tadi. Dia mentransfer Rp4.000.000 ke kasir rumah sakit dengan nomor registrasi pasien sebagai keterangan.

"Uang muka sudah dibayar," katanya.

Ayah pasien menatap notifikasi pada kertas pembayaran, lalu Surya. "Dokter... saya tidak bisa mengembalikan secepatnya."

"Saya tidak sedang memberi pinjaman. Temani anak Bapak. Itu yang dia butuhkan."

Mata pria itu memerah. Tangannya terangkat seolah ingin meraih Surya, tetapi berhenti karena ragu.

"Terima kasih, Dok. Saya tidak akan lupa."

Cahaya tipis bergerak di dasar Botol Pahala. Belum penuh, tetapi jelas bertambah.

Bu Ratna menyaksikan dari meja perawat. Kali ini dia tidak mengatakan apa pun. Hanya menutup kembali formulir yang tadi hendak diberikannya dan membantu mempercepat proses administrasi.

Pasien dibawa ke OK Bedah Ortopedi menjelang malam. Setelah anestesi, dr. Wahyu dan dr. Mahmud meninjau kembali gambar sebelum memulai fiksasi internal.

Pengeras suara tiba-tiba memanggil tim trauma.

Seorang pekerja lain datang dengan batang baja menembus dada.

"Saya ke IGD," kata dr. Wahyu. "Mahmud, ikut. Kasus itu butuh dua operator. Kalian bertiga tunggu. Jangan mulai sebelum kami kembali."

Pintu menutup.

Di dalam OK hanya tersisa Surya, seorang dokter muda lain, perawat instrumen, dan pasien yang sudah teranestesi. Pelat operasi telah dibuka. Waktu berjalan, sementara tungkai semakin bengkak.

Surya menatap X-ray di monitor.

Pengalaman reposisi tingkat dunia di kepalanya bereaksi seperti mesin yang baru dinyalakan. Garis tarikan, sudut rotasi, tekanan yang diperlukan, dan urutan mengembalikan fragmen muncul satu demi satu.

Patahannya buruk.

Namun belum tentu memerlukan pelat.

"Kita tunggu," kata perawat instrumen, menangkap arah pandang Surya. "Instruksi Pak Wahyu jelas."

"Kalau bengkaknya bertambah, reduksi tertutup akan makin sulit."

Dokter muda di sampingnya menelan ludah. "Lo mau ngapain?"

"Reposisi manual."

"Tiga patahan? Itu bukan dislokasi bahu, Surya."

"Saya tahu."

"Kalau salah, fragmen bisa merobek pembuluh. Kita semua tamat."

Surya memeriksa kembali nadi dorsalis pedis, warna kulit, dan hasil pencitraan. Pasien sudah memiliki persetujuan tindakan ortopedi, tetapi perubahan teknik tetap harus dapat dipertanggungjawabkan.

Dia tidak bertindak karena ingin pamer.

Dia bertindak karena setiap menit membuat pilihan yang lebih ringan semakin sulit.

"Catat waktu mulai," katanya. "Kalau dalam lima menit posisi tidak sempurna, kita hentikan dan tetap lakukan fiksasi sesuai rencana."

Perawat itu ragu, lalu melihat tangan Surya yang tidak bergetar sedikit pun.

"Pukul 20.17."

Surya memegang tumit dan bagian proksimal tungkai. Dia memberi traksi perlahan untuk mengembalikan panjang tulang, kemudian memutar beberapa derajat.

Krek.

Fragmen pertama masuk.

Dokter muda di sampingnya membelalakkan mata.

Surya tidak berhenti. Tekanan telapak kirinya menahan garis fraktur tengah. Jari kanan mencari tonjolan tulang terakhir melalui kulit yang bengkak.

Tarik.

Tahan.

Putar.

Krek.

Garis tungkai berubah. Bengkok yang tadi tampak mengerikan menghilang.

"C-arm," perintah Surya.

Gambar fluoroskopi muncul di monitor.

Keempat fragmen tibia berjajar pada poros yang sama. Celah fraktur rapat. Panjang tungkai kembali simetris. Tidak ada rotasi sisa yang berarti.

Perawat melihat jam.

"Empat menit tiga puluh delapan detik."

Tak seorang pun bersuara.

Surya memasang imobilisasi sementara dan memeriksa nadi distal sekali lagi. Tetap kuat.

Pintu OK terbuka dengan keras.

dr. Mahmud masuk lebih dulu, wajahnya merah karena marah. "Siapa yang memindahkan pasien? Kenapa meja fiksasi belum—"

Matanya jatuh pada tungkai yang sudah lurus.

"Apa yang kalian lakukan?"

"Reposisi tertutup," jawab Surya.

"Tanpa menunggu saya? Tiga fraktur segmental? Kamu mau menghancurkan kariermu sendiri?"

"Lihat fluoroskopinya dulu, Dok."

"Saya tidak perlu—"

dr. Wahyu masuk di belakangnya, meraih cetakan gambar sebelum dan sesudah. Dia menempelkannya berdampingan pada panel cahaya.

Gambar pertama menunjukkan tulang yang pecah dan terpuntir.

Gambar kedua menunjukkan poros yang nyaris sempurna.

dr. Mahmud berhenti bicara.

Dia mendekat, mengukur sudut dengan mata, lalu meminta proyeksi tambahan. Hasilnya sama. Posisi itu melampaui batas aman untuk menghindari operasi besar.

Posisinya lebih rapi daripada banyak hasil fiksasi terbuka.

"Anjir," katanya pelan.

Perawat instrumen menunduk untuk menyembunyikan senyum.

dr. Wahyu memandang Surya seperti baru menemukan alat bedah yang selama ini hilang dari rumah sakit.

"Siapa yang mengajarimu?"

"Saya memahami prinsipnya, Pak. Tadi kondisinya memungkinkan."

"Memahami prinsip tidak membuat tangan orang bisa melakukan ini."

Pintu kembali terbuka. Pak Hendra datang setelah memastikan pasien trauma dada ditangani timnya.

dr. Wahyu langsung berdiri di hadapannya.

"Hendra, anak ini pindah ke ortopedi. Saya yang urus."

dr. Mahmud mengangkat kepala. "Tunggu. Saya yang pertama melihat hasilnya."

Pak Hendra mengambil dua lembar X-ray, memeriksanya, lalu melipat tangan di dada.

"Kalian mau merebut Surya?"

"Kami mau memakai bakat sesuai tempatnya," kata dr. Wahyu.

Pak Hendra tersenyum tipis.

"Mau merebut anak saya? Tidak ada pintunya."

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!