Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33
Hujan deras mengguyur kota sejak senja turun, menyapu jalanan aspal dengan air yang melimpah dan mengiringi gemuruh petir yang menyambar di langit malam. Di dalam sanggar rias miliknya yang biasa riuh oleh tawa para calon pengantin, Anindiya berdiri seorang diri. Tidak ada karyawan di tempat ini; sejak awal, Anindiya hanya dibantu oleh Rina, asisten pribadinya yang setia—yang sayangnya, beberapa hari lalu ditemukan tewas gantung diri di ruang ganti akibat teror gaun tersebut.
Anindiya mengunci setiap pintu serta jendela rapat-rapat. Tidak boleh ada lagi korban jiwa. Setelah saska, Larasati dan Rina yang malang, ia bersumpah malam ini teror kelam yang merayap dari masa lalu harus berakhir—di tangannya sendiri.
Di tengah ruangan utama yang remang-remang, gaun pengantin putih gading itu berdiri anggun di atas manekin . Dalam kegelapan yang hanya diterangi satu lampu remang di sudut ruangan, kain putih gadingnya tampak memancarkan cahaya redup yang dingin dan tidak alami. Suasana sanggar terasa begitu dingin; udara di sekitar berangsur-angsur dingin, diiringi aroma melati busuk yang menyengat, menyeruak mengalahkan wangi aromaterapi yang biasa memenuhi sanggar.
Anindiya menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang bak genderang perang. Di atas meja rias kayu di hadapannya, ia telah menyiapkan dua benda: sepasang gunting kain besar berbahan baja tajam dan sebuah pemantik api. Cahaya kilat dari luar sesekali menyinari wajah Anindiya yang pucat, menampakkan kilat keberanian yang tersisa di matanya.
Sssshhh... Anindiya...
Bisikan itu mulai bergema. Bukan lagi sekadar halusinasi atau gesekan angin di balik dinding, melainkan suara berdesis melengking yang keluar dari sudut-sudut ruangan yang gelap. Bayangan-bayangan di dinding mulai memanjang dan bergerak liar, seolah-olah memiliki kehidupan sendiri.
Pakailah... Anindiya... Jadilah pengantinku...
Cermin-cermin besar berkaca tebal yang melapisi sekeliling dinding sanggar mendadak berembun tebal. Dari balik lapisan uap dingin itu, sesosok bayangan wanita bergaun putih dengan wajah hancur dan tubuh berlumuran darah segar perlahan muncul. Matanya melotot tajam, memancarkan kepedihan, pengkhianatan, dan dendam membara yang telah menumpuk dan terkunci selama puluhan tahun.
"Tidak!" tegas Anindiya, suaranya bergetar namun penuh penekanan. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak akan membiarkanmu melukai siapa pun lagi! Cukup saskia, Larasati, dan Rina yang jadi korban ketidaktahuanku!"
Jraarr!
Jeritan histeris melengking memecah keheningan malam. Suara itu begitu keras hingga memekakkan telinga dan menggetarkan selaput gendang pendengaran. Dalam hitungan detik, cermin-cermin rias di sekeliling ruangan pecah berkeping-keping, menyebarkan ribuan serpihan kaca tajam yang berhamburan ke seluruh lantai seperti hujan kristal.
Udara dingin yang menusuk tulang mendadak berembus kencang di dalam ruangan tertutup itu. Dorongan tak terlihat melemparkan Anindiya hingga tersungkur keras ke lantai . Belum sempat ia bangkit, jemari gaib yang terasa dingin bagai es dan berlendir darah mencengkeram lehernya dari belakang. Cengkeraman itu menekan saluran pernapasan Anindiya dengan begitu kuat, menghentikan aliran udara ke paru-parunya.
Anindiya terbatuk, matanya mulai membelalak saat pasokan oksigennya terputus. Penglihatannya perlahan membayang, berganti menjadi gambaran masa lalu yang dipaksa masuk ke dalam pikirannya: seorang gadis muda bergaun putih yang sama, tersenyum bahagia di depan cermin pada tahun 1980-an... lalu sosok pria yang mendekat dari belakang... pisau yang mengilap... jeritan histeris... dan darah merah segar yang membasahi gaun putih itu tepat di hari bahagianya.
Rasa sakit, keputusasaan, dan kebencian dari ingatan itu membanjiri benak Anindiya. Gadis itu tidak pernah menikah. Ia mati bersama impiannya, dan jiwanya menolak untuk pergi, mengutuk setiap benang kain yang terpercik darahnya.
'Aku harus berjuang demi Rina...' batin Anindiya di tengah rasa sesak yang membakar tenggorokannya.
Dalam rasa sakit yang luar biasa dan pandangan yang kian menggelap, Anindiya menggerakkan jemarinya di atas lantai. Ia mengingat kata-kata kakek tua di kawasan kota tua tadi siang: jiwa wanita itu terikat pada setiap jahitan dan benang yang menahan bentuk gaun tersebut. Kebencian sang pengantin terkurung rapat di dalam struktur kainnya. Selama gaun itu berdiri utuh sebagai wujud pakaian pengantin, kutukan itu tidak akan pernah padam.
Jemari Anindiya menyentuh gagang besi yang dingin. Gunting kain.
Sambil menahan cengkeraman tak terlihat yang kian mencekik lehernya, Anindiya mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Ia menyeret tubuhnya merayap di atas lantai yang dipenuhi pecahan kaca. Serpihan tajam merobek kulit telapak tangan dan lututnya, mengalirkan darah hangat, namun Anindiya mengabaikan rasa perih itu. Matanya hanya tertuju pada satu titik: manekin kayu di tengah ruangan.
"Jika kau tidak bisa mendapatkan kebahagiaanmu..." jerit Anindiya dengan suara parau yang tersisa di tenggorokannya, "...jangan seret wanita lain termasuk Rina ke dalam nerakamu!"
CRAS!
Anindiya menghujamkan mata gunting baja itu tepat ke bagian dada gaun putih tersebut. Dengan gerakan cepat dan penuh kemarahan, ia memotong tali korset dan jahitannya secara liar.
Jeritan histeris yang jauh lebih memekakkan telinga menggelegar di dalam sanggar. Angin kencang berputar hebat di tengah ruangan, mengacak-acak kain-kain lain, merobohkan rak, dan menerbangkan sisa-sisa pecahan kaca. Sosok gaib wanita di depannya meraung kesakitan—seolah-olah setiap tebasan gunting Anindiya pada kain itu adalah sabetan pisau yang merobek kulit dan dagingnya sendiri.
Anindiya tidak berhenti. Rasa takutnya kini sepenuhnya berganti menjadi kemarahan atas kematian Rina. Ia terus menggunting, merobek, dan menguraikan rajutan kain putih itu benang demi benang. Ia memotong renda-renda rumit di bagian lengan, merobek kain tulle bertumpuk di bagian rok, dan memisahkan setiap lapisan kain satin hingga gaun itu kehilangan bentuk anggunnya.
Darah gaib yang dingin menetes dari serat-serat kain yang terputus, membasahi tangan Anindiya. Namun, dengan setiap jahitan yang terputus, cengkeraman di leher Anindiya terasa makin melonggar.
Anindiya mengambil pemantik api dari saku pakaiannya, menyalakannya, dan menyulut benang-benang utama yang telah terurai dari jantung gaun itu. Api kecil membakar benang berdarah tersebut dengan cepat, menghasilkan asap tipis beraroma kemenyan dan melati yang perlahan memudar.
Jeritan histeris dan raungan dendam dari sosok gaib itu perlahan mulai berubah. Nada kemarahan yang membara berangsur-angsur melunak, berganti menjadi suara isak tangis pilu seorang wanita muda yang sangat kesepian, patah hati, dan lelah menanggung beban dendam selama puluhan tahun.
Bruk.
Potongan kain terakhir jatuh meluncur ke lantai. Gaun pengantin yang tadinya dipuja karena keindahannya yang memikat kini hanyalah tumpukan kain robek, benang terurai, dan kain hangus yang tak lagi berbentuk di atas lantai.
Seketika, angin kencang di dalam ruangan mendadak mereda. Suara tangisan pilu sosok wanita itu perlahan menghilang menjauh, bergaung makin tipis hingga akhirnya benar-benar lenyap ditelan suara gemericik hujan yang masih membasahi atap sanggar. Bau melati busuk yang selalu hadir di sanggar selama berhari-hari mendadak hilang, tergantikan oleh aroma tanah basah dan udara segar malam hari yang masuk melalui celah ventilasi.
Anindiya terduduk lemas di antara pecahan kaca cermin dan tumpukan benang putih yang hancur. Dadanya kembang dan mengempis dengan cepat, meraup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya yang sempat terkunci. Darah segar menetes pelan dari luka kecil di jemarinya, membasahi lantai kayu, namun napasnya kini terasa sangat lega.
Di depannya, manekin itu kini berdiri kosong dan telanjang. Tidak ada lagi cahaya dingin, tidak ada lagi bisikan gaib, dan tidak ada lagi aura menakutkan yang menyelimutinya.
Ketika fajar perlahan menyingsing di ufuk timur, menyusupkan sinar keemasan di balik jendela sanggar yang retak, Anindiya mengusap wajahnya dan menatap pantulan dirinya pada pecahan kaca terbesar di lantai. Wajahnya penuh dengan bekas asap menghitam dan luka goresan kecil, namun matanya memancarkan kedamaian yang sudah lama hilang—meski hatinya tetap menyisakan duka mendalam atas kepergian Rina.
Di balik pantulan dirinya, tidak ada lagi sosok pengantin berdarah yang berdiri mengintai. Kutukan gaun pengantin dari butik tua di kota tua itu telah benar-benar terputus, bersamaan dengan terurainya benang terakhir di lantai sanggarnya.