Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.
Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.
Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.
Salah satunya adalah kakek Shen yifan.
Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Pelajaran terakhir dari sang kakek
Begitu kubah energi merah pekat yang mengunci kota hancur menjadi serpihan cahaya, Shen Yifan langsung melesat bagai anak panah. Langkah kakinya sempoyongan di antara puing-puing bangunan yang masih membara dan mengepulkan asap hitam. Memorinya menuntunnya menyusuri jalanan yang kini telah rata, mencari satu-satunya tempat yang berarti baginya: kedai kecil tempat kakeknya biasa meracik dan berdagang pil obat.
“Kakek! Kakek, di mana, Jawab aku, Kek!”
Air mata Shen Yifan mengalir deras, membasahi wajahnya yang cemong oleh jelaga. Dengan kedua tangan telanjang, ia mulai menggali dan melempar bongkahan batu serta reruntuhan kayu yang menyala, tidak peduli kulit telapak tangannya melepuh dan berdarah.
“Uhuk... uhukkk! Uhuk!”
Sebuah suara batuk yang parau dan sangat ia kenali terdengar samar dari balik runtuhan dinding besar. Pendengaran Shen Yifan menegang. Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari kencang menuju sumber suara.
“Kakek! Kau masih hidup, Kek!!”
Rasa lega yang teramat besar membuncah di dada Shen Yifan. Di balik runtuhan tembok raksasa yang miring, tampak sebuah pelindung batin berwarna merah redup yang menahan beban batu di atasnya. Di dalam ruang sempit yang terlindungi itu, seorang lelaki tua berambut putih tengah terduduk.
Melihat cucunya datang, sang kakek justru memaksakan sebuah senyuman kecil, bahkan terkekeh pelan meski napasnya berat. “Ahaha... batuk... Kakek tua ini masih cukup tangguh untuk mati, Xiao Fan.”
“Syukurlah... Akhirnya—” Kalimat Shen Yifan terputus. Ia segera mendekat, bersiap mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggeser reruntuhan tembok yang menghimpit pelindung tersebut.
Namun, mata sang kakek mendadak membelalak ngeri melihat sesuatu di belakang punggung cucunya.
“Awas! Menyingkir!!”
Sebuah partikel hitam sisa ledakan Asura tiba-tiba melesat cepat dan mulai berkedip tidak stabil tepat di belakang Shen Yifan, siap untuk meledak dalam hitungan detik. Tanpa sempat mengaktifkan kembali pelindung merahnya karena kehabisan energi, sang kakek menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk menerjang maju, memutar posisi tubuh mereka, dan mendekap Shen Yifan erat-erat di bawah badannya.
Ledakan kecil namun berdaya rusak tinggi itu menghantam punggung sang kakek telak.
“Urghhh!!”
Sebuah rintihan berat lolos dari mulut orang tua itu. Detik berikutnya, cairan kental beraroma anyir memancar deras, menetes mengalir membasahi wajah Shen Yifan yang terpaku kaku.
“Ka... Kakek...?” Suara Shen Yifan bergetar lirih, nyaris tak terdengar. Matanya menatap horor ke arah sang kakek yang kini bersimbah darah dari berbagai luka robek di tubuhnya.
“Uhuk! Hahaha, Xiao Fan, syukurlah, akhirnya kau selamat.” Meskipun napasnya kian tersengal dan darah terus menyembur dari mulutnya, orang tua itu masih sempat tersenyum lega karena tubuhnya berhasil menjadi perisai sempurna bagi cucunya.
“Kakek, bertahanlah! Jangan banyak bicara lagi! Aku, aku akan mencari sisa-sisa pil obat di kedai! Aku akan mengobatimu!” Shen Yifan panik setengah mati. Dengan tubuh gemetar, ia mencoba bangkit, namun cengkeraman lemah tangan kakeknya di pundaknya membuat ia tertahan.
Sang kakek menggelengkan kepalanya pelan, matanya menyiratkan kedamaian sekaligus kepasrahan. “Kakek sudah terlalu tua, Xiao Fan. Waktuku sudah habis, tubuh ini tidak akan sempat lagi diselamatkan... Kakek akan segera meninggalkan dunia ini.”
“Apa yang Kakek bicarakan?! Jangan berkata begitu! Pasti sempat, Kek! Pasti!” Air mata Shen Yifan tumpah semakin deras. Ia menjerit frustrasi, menolak menerima kenyataan kejam ini.
Sang kakek menarik tubuh rapuh cucunya ke dalam dekapan hangat untuk terakhir kali.
“Ingat ini baik-baik, Xiao Fan. Di dunia ini, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Walau aku hanyalah kakek angkat yang memungutmu, ketahuilah bahwa aku menyayangimu sepenuh hatiku, melebihi apa pun.” Kakek itu menjeda kalimatnya, mengumpulkan sisa kesadaran. “Haha... Xiao Fan, sebelum pergi, Kakek akan mengajarkanmu sebuah teknik rahasia untuk membuat pil untuk terakhir kalinya. Jadi, apakah kau sudah siap?”
Kakek perlahan melepaskan pelukannya. Shen Yifan, dengan dada yang sesak oleh isak tangis yang tersedu-sedu, akhirnya mengangguk pasrah demi memenuhi permintaan terakhir sang kakek.
“Bagus. Sekarang, ambil posisi meditasi, tenangkan pikiranmu, dan tutup matamu!” perintah sang kakek tegas namun lembut.
Shen Yifan menurut. Ia langsung duduk bersila di atas tanah berdebu dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Melihat cucunya telah siap, sang kakek mengangkat jari telunjuknya yang gemetar. Di ujung jari itu, sebuah api spiritual berwarna merah menyala. Tanpa sepengetahuan Shen Yifan, kakeknya berniat menyegel dan mewariskan seluruh api tersebut langsung ke dalam dahi sang cucu.
Proses transfer spiritual itu berlangsung menegangkan selama beberapa menit. Namun, tepat ketika pusaran energi itu hampir selesai terserap sempurna, sebuah tawa arogan yang menggelegar memecah keheningan dari atas langit.
“Hahaha! Ternyata kau bersembunyi di sini, bangka tua!”
Sesosok pria dengan jubah mewah yang memancarkan aura tirani melayang turun dari langit malam. Itu adalah sang Pemimpin Kota.
“Xiao Fan, cepat kabur dari sini sekarang juga!” seru Kakek mendadak panik, mendorong bahu cucunya.
Shen Yifan membuka matanya dan mendongak ke langit dengan raut bingung sekaligus terkejut. “Eh? Itu... itu Tuan Penguasa Kota? Kenapa kita harus kabur darinya, Kek?”
“Benar, orang tua bangka!” Pemimpin Kota mendarat dengan dentuman keras, menatap kakek dengan mata penuh keserakahan. “Serahkan Flame Devouring milikmu, dan aku mungkin akan membiarkan jasadmu utuh!”
“Apa? Flame Devouring? Apa maksudnya semua ini?” Shen Yifan sama sekali tidak mengerti arti dari istilah yang mereka sebutkan.
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan lagi!”
Dengan sisa energi hidupnya, Kakek menggerakkan jarinya membentuk segel rumit, memutar aliran udara hingga menciptakan sebuah pusaran spasial mini yang berputar cepat di samping mereka.
“Sialan, Kau mau kabur. Mati kau, bangka tua!” Pemimpin Kota yang menyadari rencana tersebut langsung mengamuk dan melesat maju dengan pedang terhunus.
Tanpa ragu, Kakek mencengkeram pakaian Shen Yifan dan melemparkan tubuh pemuda itu langsung ke dalam pusaran spasial.
“Ingat ini baik-baik, Xiao Fan! Pemimpin Kota inilah yang telah memusnahkan kota ini beserta seluruh rakyatnya, Jika kau ingin membalaskan dendam kami, jadilah kuat, Kau harus tahu, orang di belakang Pemimpin Kota ini sangatlah kuat!”
Kakek memberikan senyuman terakhirnya yang paling tulus tepat di detik-detik sebelum tubuh Shen Yifan tersedot sepenuhnya oleh pusaran ruang.
“Kakek... TIDAAAKKKKK!” Jeritan histeris Shen Yifan menggema memecah malam sebelum sosoknya lenyap, meninggalkan pusaran spasial yang langsung tertutup rapat.
Di saat yang sama, Kakek mengerahkan seluruh sisa Qi-nya untuk menahan tebasan pedang Pemimpin Kota yang hendak menusuk dadanya. Tangan tua itu mencengkeram bilah pedang yang tajam hingga berdarah.
“Kakek tua sialan, kau curang juga rupanya!” maki Pemimpin Kota dengan wajah memerah murka karena buruannya lolos.
Kakek batuk darah, namun matanya menatap tajam penuh ancaman. “Ingatlah kata-kataku... suatu hari nanti, bocah itu akan kembali dan menjadi ancaman terbesar dalam hidupmu!”
Sambil tertawa lepas, Kakek membalikkan aliran energi di dalam dantiannya, memicu kehancuran inti spiritualnya sendiri.
“Sial, dia mau bunuh diri. Tidak sempat lagi—” Pemimpin Kota berusaha mundur sekuat tenaga, namun terlambat.
Ledakan penghancur diri dari sang kakek pecah dengan dahsyat, menelan seluruh tempat itu dalam kilatan cahaya batin yang membutakan.