Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penerimaan yang Ikhlas
Kamar yang semula terasa mencekam kini diselimuti oleh keharuan yang mendalam.
Fatimah masih setia bersimpuh di sisi ranjang, menggenggam erat tangan kanan Ayah yang terasa semakin dingin.
Setiap embusan napas pria paruh baya itu terdengar berat, seolah harus melewati perjuangan yang luar biasa di dalam dadanya.
Di ambang pintu, Ibu dan Faisal berdiri dalam diam, menyeka air mata mereka yang terus meluncur tanpa suara.
Fatimah menatap lekat-lekat wajah pucat sang ayah. Rasa perih di hatinya akibat impian kuliah yang runtuh kini telah berganti sepenuhnya menjadi rasa bersalah dan cinta yang membuncah.
Ilmu agama yang ia timba selama bertahun-tahun di pesantren akhirnya menuntun jiwanya pada satu titik kesadaran: rida Allah terletak pada rida orang tua, dan tidak ada pengorbanan yang sia-sia di mata-Nya jika dilakukan demi sebuah bakti.
"Ayah..."
Fatimah membuka suara, nadanya kini terdengar begitu lembut, tenang, dan tertata, kehilangan seluruh riak kemarahan yang sempat menyala kemarin malam.
"Fatimah yang harus minta maaf, Yah. Fatimah yang bersalah karena sempat menolak dan membuat Ayah merasa sedih."
Ayah menatap putrinya dengan pandangan mata yang sayu namun menyiratkan rasa syukur yang teramat besar.
"Kamu... tidak marah lagi pada Ayah dan Ibu, Nak?"
Fatimah menggelengkan kepalanya pelan. Ia meletakkan tangan kurus Ayah di pipinya, membiarkan kehangatan sisa-sisa kekuatan sang ayah menjalar ke wajahnya.
"Tidak, Ayah. Fatimah tidak marah sama sekali. Fatimah menerima perjodohan ini dengan hati yang lapang dan ikhlas,"
Ucap Fatimah tegap, setiap katanya keluar dari lubuk hati yang paling dalam.
"Jika pernikahan ini adalah keinginan terbesar Ayah, dan jika dengan cara ini Fatimah bisa membuat Ayah bahagia, maka Fatimah rida."
"Fatimah percaya pilihan Ayah dan Ibu adalah yang terbaik untuk masa depan Fatimah."
Mendengar pengakuan yang begitu tulus dari bibir putrinya, setitik air mata mengalir dari sudut mata Ayah yang mulai berkerut.
Senyumnya mengembang lebih lebar dari sebelumnya, sebuah senyuman kelegaan yang seolah mengangkat separuh beban berat yang selama ini menghimpit dadanya yang sakit.
"Alhamdulillah... Terima kasih, Fatimah."
"Kamu benar-benar anak yang saleha..."
"kebanggaan Ayah."
Bisik Ayah, suaranya terputus-putus oleh rasa haru.
Ibu yang sejak tadi menahan tangis langsung berjalan mendekat, ikut berlutut di samping Fatimah dan mengusap pundak putrinya dengan penuh rasa terima kasih.
Faisal pun mengembuskan napas lega, bersyukur badai besar yang sempat mengancam keutuhan keluarga mereka akhirnya mereda oleh keikhlasan seorang adik perempuan yang luar biasa.
Sejak detik itu, Fatimah benar-benar mengubur seluruh ambisinya tentang dunia kampus.
Brosur-brosur universitas yang sempat membuatnya cemburu pada Fadia kini tak lagi menarik perhatiannya.
Fokusnya beralih sepenuhnya untuk mempersiapkan diri menyambut lembaran baru yang akan segera dibuka.
Di sepertiga malamnya, di atas sajadah yang menjadi saksi bisu air matanya, Fatimah tak lagi meratap.
Ia melantunkan doa-doa kepasrahan, memohon agar pria bernama Rayhan yang berusia tiga puluh delapan tahun itu benar-benar menjadi imam yang bisa menuntunnya menuju surga.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan persiapan pernikahan yang terhitung cepat dan sederhana.
Sesuai dengan permintaan Ayah, pernikahan tidak perlu dirayakan dengan pesta yang mewah, melainkan cukup dengan akad nikah yang sakral di hadapan penghulu dan keluarga dekat.
Fatimah melewati setiap prosesnya dengan ketenangan yang mengagumkan.
Aura kedewasaan dan ilmu agamanya terpancar jelas dari bagaimana ia bersikap menghadapi takdir yang mendadak ini.
Sesuatu yang ia benci di awal, kini ia bungkus rapat-rapat dengan selimut keikhlasan, bersiap melangkah menuju altar pernikahan demi mempersembahkan bakti terakhirnya untuk sang ayah.