Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 – Pengujian Sihir
Fajar baru saja menyingsing, menyisakan sisa kabut dingin yang menempel di rumput dan bebatuan, ketika Mizuna menuntun Haruto menuju dataran tinggi di bagian belakang danau. Tempat ini berbeda jauh dari tepian yang damai: hamparan batu datar berwarna abu-abu gelap membentang luas, di permukaannya terukir puluhan lingkaran sihir kuno dengan garis-garis halus yang samar berkilau perak saat tersentuh cahaya matahari pertama. Simbol-simbol yang tidak dikenal Haruto tersusun rapi di sepanjang lingkaran itu, seolah menyimpan kekuatan yang telah tertidur selama berabad-abad.
Daichi berdiri di pinggir lapangan batu, punggungnya bersandar pada batang pohon tua sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap lingkaran sihir itu dengan pandangan berharga.
"Lihat susunan garisnya," gumamnya pelan. "Tempat ini dulunya adalah tempat pengujian bagi murid-murid penyihir air zaman dulu. Hari ini sepertinya latihan yang sebenarnya baru benar-benar dimulai."
Pochi melompat lincah dari samping dan mendarat tepat di bahu kiri Haruto, tubuhnya yang kenyal menekan sedikit ke bawah.
"Pyoo!" suaranya terdengar bersemangat namun tenang, seolah memberi isyarat agar tidak gugup.
Haruto menarik napas panjang, menghirup udara pagi yang sejuk hingga memenuhi paru-parunya, lalu mengembuskannya perlahan. Ia merasakan aliran mana di dalam dadanya bergerak halus, jauh lebih teratur dibandingkan beberapa hari lalu.
"Aku siap, Guru Mizuna," ucapnya mantap.
Mizuna berhenti tepat di tengah lingkaran sihir terbesar, lalu berbalik menatapnya. Wajahnya tetap tenang, namun ada sorot keseriusan yang lebih dalam dari biasanya di matanya yang sejernih air.
"Hari ini bukan tentang seberapa besar sihir yang bisa kau keluarkan, bukan tentang seberapa keras kau berusaha," ucapnya pelan namun tegas. "Melainkan tentang pengujian. Pengujian atas dirimu sendiri, dan atas hubunganmu dengan mana yang ada di dalam tubuhmu."
"Pengujian?" Haruto memiringkan kepala sedikit.
"Ya. Pengujian apakah kau benar-benar telah memahami arti ketenangan, dan apakah kau sanggup menjadi tuan bagi kekuatan yang kau miliki." Mizuna menunjuk ke ruang kosong tepat di pusat lingkaran sihir itu. "Duduklah di sana."
Haruto melangkah masuk ke dalam lingkaran. Saat kakinya menyentuh garis terluar, samar-samar ia merasakan getaran halus menjalar naik ke pergelangan kakinya, seolah tempat ini menyambut kehadiran mananya. Ia pun duduk bersila dengan tegak, meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut.
"Selama pengujian ini berlangsung, ada satu larangan mutlak," kata Mizuna sambil menatapnya tajam. "Kau tidak boleh sama sekali mencoba mengeluarkan sihir ke luar tubuh. Tidak setetes air pun boleh kau panggil, tidak ada satu pun getaran kekuatan yang boleh kau kirim ke udara."
Haruto mengerutkan kening bingung. "Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Satu hal saja: kendalikan seluruh manamu. Rapikan setiap alirannya, arahkan ke setiap sudut tubuhmu, dan jangan biarkan satu pun bocor keluar. Mana itu seperti air dalam wadah retak—jika kau tidak waspada, ia akan merembes pergi tanpa kau sadari."
Haruto mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam sekali lagi, lalu memejamkan mata rapat.
Perlahan, ia mulai merasakan keberadaan mana di dalam dirinya. Seperti dulu, awalnya masih ada arus yang berantakan: sebagian bergerak terlalu cepat di sepanjang lengan, sebagian lagi tertahan di bagian dada, sebagian lain melayang tanpa tujuan di perut. Namun kali ini ia tidak panik, tidak mencoba menekan atau memaksanya berubah. Ia hanya mengingat pelajaran kemarin.
Tenang... jangan memaksa... biarkan mana mengalir sesuai kehendakmu, bukan sebaliknya...
Satu per satu ia arahkan arus yang menyimpang. Seperti membimbing sungai yang meluap kembali ke alur aslinya, ia membiarkan mana bergerak perlahan, menyusuri jalur-jalur energi di tubuhnya yang kini mulai terasa jelas seperti urat nadi. Sedikit demi sedikit, kekacauan itu mereda. Aliran yang tadinya saling bertabrakan kini menyatu menjadi satu arus besar yang tenang namun kuat.
Mizuna memperhatikan dengan saksama, matanya menangkap perubahan samar di permukaan kulit Haruto.
"Bagus," bisiknya pelan. "Tapi belum cukup. Masih ada celah kecil di bahu kanan. Perbaiki lagi."
Latihan Tanpa Henti
Waktu pun berlalu seolah berhenti berputar di dataran batu itu.
Matahari perlahan naik tinggi ke langit, memancarkan panas yang menyengat di atas batu. Keringat dingin lalu keringat panas membasahi dahi dan punggung Haruto, menembus kain bajunya hingga warnanya berubah gelap. Beberapa kali konsentrasinya buyar: sekali karena rasa lelah yang tiba-tiba menyerang, sekali karena teringat wajah orang tuanya di kampung halaman, sekali lagi karena kaget mendengar suara burung elang melengking tinggi di atas sana.
Setiap kali itu terjadi, aliran mana langsung menjadi liar. Ia merasakan hawa panas menyembur keluar dari pori-porinya, garis-garis di lingkaran sihir di bawahnya berkedip samar seolah menahan luapan yang lolos. Namun Haruto tidak langsung menyerah. Setiap kali gagal, ia menggeleng pelan, menarik napas panjang, menghapus keringat di wajah dengan lengan baju, lalu kembali memejamkan mata dan memulai dari awal lagi. Ia tidak lagi mengeluh, tidak lagi bertanya berapa lama lagi harus menunggu.
Menjelang sore, Daichi berjalan mendekat sambil membawa mangkuk kayu berisi sup sayur hangat dan sepotong roti. Ia meletakkannya pelan di atas batu datar di samping Haruto.
"Matahari sudah hampir terbenam. Beristirahatlah sebentar, makan sedikit dulu," ucapnya lembut. "Tubuhmu butuh tenaga untuk menahan aliran mana itu."
Haruto membuka matanya perlahan, pandangannya sedikit kabur namun tetap teguh. Ia menatap sup yang mengepul itu sebentar, lalu menggeleng pelan.
"Belum sekarang," jawabnya suaranya sedikit parau namun jelas. "Kalau aku berhenti sekarang, aku harus memulainya lagi dari nol. Aku ingin menyelesaikan pengujian ini sampai benar-benar selesai."
Daichi tersenyum lebar, matanya menyiratkan rasa bangga yang tulus. "Bagus. Semangat dan keteguhan hatimu perlahan mulai terlihat. Itu jauh lebih berharga daripada sekadar kekuatan sihir yang besar."
Belum sempat Daichi melangkah pergi, sesuatu yang bulat meluncur cepat di atas batu dan berhenti tepat di samping mangkuk sup. Pochi mendorong sebuah buah beri berwarna merah tua ke arah lutut Haruto dengan ujung tubuhnya.
"Pyoo..." ucapnya seolah membujuk.
Haruto tersenyum tipis. Ia mengambil buah itu, memakannya dalam sekali telan, lalu meneguk sedikit air dari botol yang disiapkan Daichi. Tanpa menunda lagi, ia kembali memejamkan mata dan menyusun ulang konsentrasinya.
Matahari pun akhirnya menghilang di balik punggung bukit, digantikan oleh remang senja yang perlahan berubah menjadi gelap pekat. Langit dipenuhi ribuan bintang yang berkelap-kelip, udara malam menjadi dingin dan menusuk tulang, namun Haruto tetap duduk di posisi yang sama persis.
Mizuna masih berdiri di pinggir lingkaran, matanya tak lepas dari muridnya.
"Dia belum bergerak sedikit pun... belum juga menyerah," gumamnya pelan pada diri sendiri, nada suaranya tak lagi setenang tadi.
Daichi duduk bersila di samping Mizuna sambil menyalakan api unggun kecil untuk menghangatkan udara sekitar.
"Dulu aku juga pernah di sini, menjalani pengujian yang persis sama," katanya sambil menatap nyala api.
Mizuna menoleh sekilas, lalu tersenyum jahil. "Tapi kau menyerah sebelum tengah malam, kan? Bilang kakimu kesemutan parah dan perutmu sakit lapar."
Daichi terbatuk kaget, wajahnya memerah di bawah cahaya api. "Itu... itu cerita lama! Tidak usah diceritakan lagi di depan anak muda ini!"
Mizuna tertawa pelan, suara tawanya menyatu dengan suara jangkrik di kejauhan. Namun matanya kembali menatap Haruto dengan kekaguman yang makin dalam.
Hingga Keesokan Pagi
Cahaya ungu pucat kembali muncul di ufuk timur. Fajar kedua telah tiba. Dua puluh empat jam penuh telah berlalu sejak Haruto pertama kali duduk di tengah lingkaran sihir itu.
Tubuhnya tampak sangat lelah: lingkaran gelap mengelilingi matanya, bahunya terkulai sedikit karena kelelahan, namun postur duduknya tetap tegak, tidak berubah sedikit pun. Yang paling mencolok adalah wajahnya—tidak ada lagi keraguan, kepanikan, atau ketegangan di sana. Hanya ada ketenangan yang sama seperti permukaan danau saat tidak ada angin.
Perlahan kelopak matanya terangkat. Ia menatap Mizuna yang sedang berjalan menghampirinya.
"Mizuna..." panggilnya pelan, suaranya lembut namun mantap. "Aku... kurasa sekarang aku bisa merasakan setiap inci mana di tubuhku. Aku tahu di mana letaknya, ke mana ia bergerak, dan bagaimana mengaturnya. Tidak ada lagi bagian yang tersembunyi atau yang tidak kukenal."
Mizuna berhenti tepat di depan lingkaran sihir, lalu mengangguk perlahan dengan senyum yang sangat lebar.
"Kalau begitu... mari kita lakukan percobaan terakhir."
Haruto tidak bertanya apa maksudnya. Ia hanya kembali memejamkan mata. Menarik napas perlahan melalui hidung, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya melalui mulut dengan tempo yang sama persis.
Aliran mana yang sebelumnya bergerak seperti sungai yang deras kini terasa jauh lebih tenang, padat, dan menyatu. Ia tidak mengirimnya ke mana pun, tidak membiarkannya menyebar ke udara—ia hanya menampungnya, merapatkannya, dan membuatnya semakin murni di dalam tubuhnya.
Perlahan, cahaya biru muda mulai muncul di sekeliling tubuhnya. Tidak terang dan menyilaukan seperti api, melainkan lembut dan menyebar merata seperti cahaya bulan di permukaan air.
Daichi berdiri perlahan, matanya terbelalak menatap pemandangan itu.
"Mana itu..." bisiknya takjub. "Sangat padat, sangat murni... dan sama sekali tidak bocor keluar. Mustahil bagi pemula."
Pochi yang sejak tadi diam di bahu Haruto pun ikut memancarkan cahaya biru yang sama. Cahaya dari tubuhnya menyatu sempurna dengan cahaya yang mengelilingi Haruto, seolah keduanya kini berdetak pada irama yang sama persis.
"Itu dia," kata Mizuna pelan, matanya tak berkedip. "Pertahankan seperti ini. Jangan hentikan."
Haruto terus berkonsentrasi. Cahaya biru semakin terang, namun tetap tenang. Angin yang tadinya diam mulai berputar perlahan di sekeliling lingkaran sihir, mengangkat debu dan daun kering ke udara. Jauh di belakang sana, permukaan danau yang tenang bergetar halus seolah menanggapi panggilan energi itu. Garis-garis perak di lingkaran sihir kuno di bawahnya kini menyala terang satu per satu, memancarkan kekuatan yang telah lama terpendam.
Daichi menepuk-nepuk mulutnya yang terbuka lebar. "Luar biasa... benar-benar luar biasa. Tidak pernah aku lihat hal seperti ini pada seseorang yang baru belajar beberapa minggu."
Perlahan namun pasti, tubuh Haruto mulai bergerak naik dari permukaan batu. Satu sentimeter... lima sentimeter... sepuluh sentimeter... Ia melayang diam di udara tanpa sandaran apa pun, tanpa satu pun gerakan tangan atau kaki. Mana yang ia kendalikan begitu rapat dan begitu murni hingga menopang berat tubuhnya sendiri di udara. Udara di sekelilingnya tampak beriak halus seperti di atas air yang dipanaskan matahari.
Bahkan Mizuna yang biasanya selalu tenang pun kini matanya memancarkan kekaguman yang tulus.
"Pengendalian mananya... hampir sempurna," bisiknya.
Haruto sama sekali tidak menyadari dirinya sedang melayang. Di dalam kesadarannya, ia hanya merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak datang ke lembah ini, mana di dalam tubuhnya tidak lagi terasa seperti sesuatu yang asing atau liar. Ia terasa seperti bagian dari dirinya sendiri, seperti tangan dan kaki yang bisa digerakkan sesuka hati tanpa perlu berpikir dua kali.
Beberapa saat kemudian, cahaya biru perlahan meredup dan menghilang. Tubuh Haruto turun pelan dan mendarat kembali di atas batu tanpa suara sedikit pun.
Ia membuka matanya, menatap sekeliling dengan wajah bingung.
"Eh? Apa pengujiannya sudah selesai?" tanyanya polos.
Daichi tertawa keras sambil menunjuk ke arah tempat Haruto duduk tadi.
"Haruto... kau tahu tidak? Tadi kau melayang di udara selama beberapa saat."
"...Hah?" Haruto berkedip berkali-kali, lalu menoleh ke bawah, lalu ke arah Mizuna. "Melayang? Maksudku... aku?"
Pochi melompat ke depan wajahnya, mengangguk dengan semangat. "Pyoo! Pyoo!"
Mizuna berjalan masuk ke lingkaran sihir, lalu berjongkok di depan muridnya.
"Ya, kau," ucapnya mantap. "Kau telah lulus ujian pengendalian mana dengan nilai yang jauh melampaui harapanku. Kau telah membuktikan bahwa kau bisa menahan, merapikan, dan menguasai kekuatan di dalam dirimu." Ia tersenyum lalu menambahkan, "Tetapi jangan cepat puas. Ini baru langkah pertama dari perjalanan yang sangat panjang."
Haruto tersenyum lebar hingga matanya menyipit, rasa lelah seolah hilang tertutup rasa bahagia.
"Aku mengerti. Aku tidak akan berpuas diri."
Mizuna lalu mengangkat telunjuk kanannya. Tanpa mantra tanpa gerakan lain, setetes air bening sebesar bola pingpong terbang dari arah danau, melayang perlahan dan berhenti tepat di depan wajah Haruto. Air itu berputar pelan namun bentuknya tidak berubah sedikit pun.
"Mulai besok, kita berhenti berlatih menahan mana," katanya. "Kita akan mulai mempelajari sihir pertamamu: Water Ball. Mantra paling dasar, namun menjadi fondasi bagi seluruh penyihir air di dunia ini. Jika kau bisa menguasainya dengan sempurna, bentuk sihir yang lebih hebat akan mudah kau pelajari kelak."
Mata Haruto langsung berbinar terang, semangatnya kembali membara. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas lutut.
"Baik, Guru Mizuna! Aku tidak akan mengecewakanmu!"
Di atas dataran batu yang disinari matahari pagi, petualangan Haruto sebagai seorang penyihir air sungguhan akhirnya baru saja dimulai.