Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : Sambutan Srigala dan Takhta Es
Matahari terbit di ibu kota Oakhaven, Frosthelm, tidak membawa kehangatan emas seperti di Valenica. Di sini, sang fajar menembus kabut murni dengan warna perak yang dingin, menyinari dinding-dinding kastil yang dipahat langsung dari kaki gunung es. Kota ini adalah sebuah mahakarya dari batu hitam dan kristal es yang tak pernah mencair, sebuah benteng perkasa yang memancarkan aroma kekuatan militer mutlak.
Kereta pengganti yang membawa Putri Aurelia melintasi gerbang kota disambut oleh keheningan yang mencekam. Tidak ada sorak-sorai rakyat, tidak ada taburan bunga. Ribuan sepasang mata penduduk Utara menatap kereta asing itu dengan pandangan curiga dan dingin. Bagi mereka, Aurelia adalah perwakilan dari wilayah Selatan yang lemah dan penuh tipu muslihat.
"Jangan masukkan tatapan mereka ke dalam hatimu," suara Cassian terdengar dari sisi luar jendela, di mana ia menunggangi kuda hitamnya dengan gagah. "Orang-Utara tidak memercayai senyuman palsu atau diplomasi di atas kertas. Mereka hanya memercayai kekuatan."
Aurelia menarik napas dalam-dalam, membenarkan posisi mahkota perak kecilnya yang tersemat di atas rambut pirang keperakannya. "Aku tidak datang ke sini untuk mencari teman, Pangeran. Aku datang untuk memastikan kerajaanku tidak musnah."
Kereta akhirnya berhenti di pelataran istana utama, The Frosthold. Ketika pintu dibuka, udara dingin yang ekstrem langsung menyergap, namun Aurelia melangkah keluar dengan kepala tegak, menolak untuk terlihat menggigil di hadapan barisan penjaga berzirah baja berat yang berbaris di sepanjang tangga marmer hitam.
Mereka langsung dituntun menuju Aula Takhta Es. Ruangan itu begitu luas hingga suara langkah kaki mereka menggema seperti ketukan lonceng kematian. Di ujung aula, di atas takhta yang dipahat dari kristal es biru pekat, duduk sang penguasa Utara: Raja Valerius—nama yang sama dengan paman Aurelia yang berkhianat, namun pria di atas takhta ini jauh lebih mengerikan. Tubuhnya besar, rambut dan janggutnya seputih salju, dan matanya setajam elang yang siap menerkam mangsa.
Di sisi kiri dan kanan takhta, berdiri para jenderal perang dan tetua klan Valenica, termasuk seorang wanita muda berambut merah berzirah lengkap bernama Lady Kara, yang menatap Aurelia dengan kebencian yang terang-terangan.
"Jadi, inilah mawar rapuh yang dibawa putraku dari Selatan?" suara Raja Valerius menggelegar, menggetarkan pilar-pilar es di dalam aula. "Dia terlihat seperti ranting kering yang akan patah pada badai pertama, Cassian. Apakah kau yakin wanita ini layak melahirkan penerus garis darah serigala?"
Pertanyaan yang merendahkan itu membuat suasana aula menjadi sangat tegang. Para jenderal tersenyum sinis, menantikan reaksi sang Putri yang mereka duga akan menangis atau ketakutan.
Sebelum Cassian sempat angkat bicara untuk membelanya, Aurelia melangkah maju tiga langkah. Gaun sutra birunya menyapu lantai es dengan suara desau yang halus. Ia menekuk lututnya sedikit, memberikan penghormatan formal yang sempurna, namun matanya menatap lurus ke arah sang Raja purba tanpa ada secercah pun rasa takut.
"Yang Mulia Raja Valerius," suara Aurelia bergema dengan jernih dan tegas. "Ranting yang Anda sebutkan ini baru saja bertahan dari serangan sepuluh pembunuh bayaran di Pegunungan Frostbite, dan tangan ini—" Aurelia mengangkat tangan kanannya yang masih terbalut kain kasa bernoda darah kering, "—telah menghantam kepala musuh hingga hancur dengan lentera besi yang menyala. Jika Anda mencari wanita yang hanya tahu cara bersolek dan menangis, Anda salah memilih sekutu. Tetapi jika Anda mencari seseorang yang sanggup berdiri di samping putra Anda saat badai terburuk menghantam Valenica, maka saya adalah orangnya."
Hening seketika mencekik Aula Takhta. Cassian yang berdiri di samping Aurelia menahan napas, matanya berkilat penuh kekaguman yang tak bisa disembunyikan. Keberanian Aurelia adalah perjudian tingkat tinggi; di Utara, menghina atau menantang Raja bisa berarti hukuman mati.
Detik-detik berlalu bagai siksaan, hingga tiba-tiba, tawa menggelegar keluar dari mulut Raja Valerius. Tawa yang berat dan tulus, membuat para jenderalnya saling berpandangan dengan bingung.
"Hahaha! Berani sekali kau, Bocah!" Raja Valerius bangkit dari takhtanya, melangkah turun mendekati Aurelia. Langkah kakinya terasa berat dan berwibawa. Ia berhenti tepat di depan Aurelia, menatap luka di tangan sang Putri. "Kau memiliki api di dalam tubuhmu yang dingin itu. Aku suka. Selatan ternyata tidak seluruhnya berisi pengecut."
Raja Valerius beralih menatap Cassian. "Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi di Katedral Langit. Bersiaplah. Karena setelah itu, paman wanita ini di Selatan harus merasakan pembalasan atas darah yang ia tumpahkan di perbatasan kita."
Saat Raja meninggalkan aula diikuti oleh para penasihatnya, Lady Kara melangkah mendekati Aurelia. Ia berhenti cukup dekat, memberikan tatapan memperingatkan. "Jangan senang dulu, Putri Oakhaven. Menangkan hati Raja adalah satu hal, tetapi bertahan hidup di malam pengantin bersama Panglima Tertinggi kami adalah hal lain. Valenica tidak ramah bagi orang asing."
Setelah Kara pergi, aula menjadi sepi. Tinggal Aurelia dan Cassian yang berdiri di bawah bayang-bayang takhta es.
Cassian mendekat, memecah jarak di antara mereka. Ia meraih tangan Aurelia yang terluka dengan kelembutan yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar mereka. "Kau baru saja melakukan sesuatu yang gila, Aurelia. Ayahku bisa saja memenggal kepalamu."
"Tapi dia tidak melakukannya," balas Aurelia, napasnya memburu akibat sisa adrenalin. "Aku lelah menjadi mangsa, Cassian. Jika aku harus hidup di antara serigala, aku harus menunjukkan bahwa aku bisa menggigit."
Cassian tersenyum—senyuman yang kali ini terasa hangat dan tulus di matanya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Aurelia, berbisik dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Aurelia meremang. "Kalau begitu, bersiaplah, Putriku. Karena kau baru saja membuktikan kepada seluruh Utara bahwa kau adalah serigala betina yang sah untuk takhta ini. Dan aku... dengan senang hati akan membantumu mengasah gigimu."
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"