SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 SEKOLAH
Setelah Bu Fitri bisa tenang, ia lanjutkan untuk memasak singkong rebus. Meskipun lumayan sering suaminya berlaku kasar saat emosi, dia tetap menjadi istri yang baik.
Ditengah segala kesulitan ekonomi yang dialami, ia tetap berusaha sekuat mungkin bertahan.
Itu semua dikarenakan ia sangat berharap besar bahwa masa depan anaknya yaitu Gendis, bisa berubah jauh lebih baik di masa depan nanti.
Gendis pun akhirnya mandi. Setelah selesai, ia langsung menuju kamar. Memakai seragam sekolah SD nya, dan mempersiapkan peralatan sekolah yang amat sangat sederhana.
Gendis hanya memilik satu buah tas saja, itu pun sudah tampak lusuh. Karena tas itu tidak dia dapatkan dari hasil kerja keras orang tuanya. Melainkan didapat dari pemberian orang lain yang bersimpati dengan kondisi Gendis serta keluarganya.
Di dalam tas itu, juga hanya ada dua buah buku tulis, satu buah pensil, dan juga sebuah penghapus.
Tidak ada buku khusus braille (buku khusus untuk orang yang buta), atau alat belajar lain yang mendukung keterbatasan matanya itu.
Ketika semuanya sudah dipersiapkan, Gendis pun berjalan ke meja dapur. Memakan singkong rebus yang sudah matang bersama sang Ibu.
Sedangkan Pak Diki, setelah bertengkar dengan istrinya barusan, dia hanya duduk diam di teras rumah sederhananya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Pak Diki. Memang setiap ada pertengkaran, ia pun tak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa meminta maaf setelah semuanya mereda, dan melupakan semua itu. Seolah tidak terjadi apapun.
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳
Sinar matahari mulai terasa hangat...
Menandai sebuah hari yang baru...
Orang-orang pun mulai beraktifitas seperti biasa. Ada yang berangkat kerja dengan kendaraan. Ada yang berangkat ke pasar untuk berdagang. Dan lainnya.
Begitu pun dengan Pak Diki yang kini sedang membonceng Gendis menggunakan sepeda.
Angin semilir pagi menerpa wajah Gendis yang sedang dibonceng Bapaknya. Suara kicauan burung terdengar merdu. Beberapa warga yang menyapa mereka dengan hangat.
Semuanya terasa baik-baik saja...
Tapi tidak bagi Gendis...
Selama di jalan, ia terus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa membantu orang tuanya.
Anak seusia Gendis, seharusnya tidak perlu memikirkan hal itu. Akan tetapi, kondisi kehidupan keluarga memaksa dirinya untuk jauh berpikir lebih dewasa dari pada anak-anak seusianya.
Kehidupan yang serba pas-pasan, bahkan lebih sering serba kekurangan itu, membuat mental Gendis dipaksa untuk belajar tentang arti kesabaran, kerja keras, dan kedewasaan.
Meskipun ia juga sama sekali tidak bisa membantu sang Bapak dan sang Ibu untuk menambah penghasilan.
"Ya Alloh, gimana caranya supaya aku bisa kasih uang sama Bapak dan Ibu?"
Itulah pertanyaan yang setiap hari ia pikirkan...
.....
.....
🌳🌳🌳🏫🌳🌳🌳
Sesampainya di depan gerbang sekolah...
Pak Diki menghentikan gowesan di sepedanya...
"Nah... Udah sampe..." kata Pak Diki.
Gendis pun turun dari sepeda, sambil dibantu oleh sang Bapak.
"Belajar yang bener ya Gendis. Jangan males." ucap Pak Diki sambil mengusap kepala anaknya itu.
"Iya Pak..." jawab Gendis sambil mencium tangan kanan Bapaknya itu.
"Ya udah, masuk sana."
"Iya Pak, aku sekolah dulu ya Pak. Bapak juga hati-hati nanti di tempat kerja." ucap Gendis.
"Iya..." jawab Pak Diki singkat.
Gendis berjalan dengan tongkat di tangan kanannya, masuk ke dalam area sekolah.
Pak Diki sejenak melihat anaknya itu di depan gerbang. Terlihat wajahnya sedikit murung. Namun terdapat sebuah harapan besar juga pada Gendis. Dan juga setumpuk pikiran yang berat soal biaya sekolah anaknya itu.
Dan Pak Diki pun kembali menggowes sepedanya, segera menuju ke tempat proyek bangunan yang sedang ia kerjakan.
.....
.....
Gendis melangkah perlahan dan hati-hati...
Dengan tongkatnya yang tak berhenti meraba sekitar...
Terdengar suara anak-anak SD lain yang tampak sangat bahagia dan senang pagi ini...
Ada yang berlarian sambil bermain, ada yang saling mengobrol soal mainan, ada juga yang sedang mengobrol orang tuanya yang mengantar sampai ke depan kelas.
Tampak sangat jelas, postur tubuh Gendis yang lebih tinggi dari teman-teman sebayanya itu. Melangkah perlahan menuju kelasnya.
Dan...
Di depan kelasnya Gendis...
Ternyata sudah berdiri seorang guru perempuan yang menjadi wali kelasnya...
"Eeeh... Gendis... Udah sampe ya..."
Sapa sang wali kelas, yang bernama Bu Rahayu itu.
Gendis pun meraba baju Bu Rahayu, dan Bu Rahayu segera menyentuh tangan Gendis. Gendis pun mencium tangan Bu Rahayu.
"Ayok, langsung masuk kelas ya Gendis..." ucap Bu Rahayu.
"Iya Bu..." jawab Gendis.
Ia melangkah masuk ke dalam kelasnya. Seketika terdengar jelas riuhnya suasana kelas.
Semua teman sekelasnya masih saling bermain, bercanda, ada juga yang berlarian kesana kemari.
Gendis duduk di bangku paling belakang. Dan dia juga duduk sendirian. Meski bangku di paling belakang ada dua. Gendis melepas tasnya, dan ditaruh di atas meja.
Selama menunggu pelajaran dimulai, Gendis biasanya hanya duduk saja di bangku paling belakang. Terkadang ia juga mengobrol dan bercanda dengan teman-temannya.
Gendis hampir tidak pernah jajan atau beli makan di sekolah. Itu disebabkan karena hampir tidak pernah orang tuanya memberikan uang jajan untuk Gendis.
Ketika teman-temannya masih sedang bermain sambil menunggu jam pelajaran pertama dimulai, Bu Rahayu, wali kelas Gendis, masuk ke dalam kelas, dan menghampiri Gendis.
Bu Rahayu duduk di bangku sebelah Gendis...
"Gendis yang cantiiik..." ucap Bu Rahayu.
"Eh, iya Bu Rahayu?"
"Kamu udah sarapan belum di rumah?" tanya Bu Rahayu dengan lembut.
"Udah Bu..." jawab Gendis sambil tersenyum.
"Bener udah makan?"
"Iya Bu, udah kok..."
"Makan apa tadi?"
"Eemm... Singkong Bu..."
"Waaah... Enak banget tuh makan singkong pagi-pagi... Singkongnya dimasak apa?"
"Hehe... Direbus aja sama Ibuku Bu..."
Bu Rahayu ini memang wali kelas yang amat perhatian dengan Gendis. Bahkan perhatiannya terasa lebih besar bagi dirinya dari pada kepada teman-temannya yang lain.
Sebagai wali kelas, Bu Rahayu sudah pasti memahami kondisi keluarga Gendis. Ia bisa merasakan bagaimana beratnya kehidupan Gendis. Apalagi ditambah dengan kondisi fisik Gendis yang tidak senormal muridnya yang lain.
"Oh direbus ya singkongnya... Hehehe... Ibu juga suka loh makan singkong rebus Nak." kata Bu Rahayu dengan tersenyum tulus, sambil mengusap lembut pundak Gendis.
"Hehe... Iya kah Bu?" tanya Gendis, sambil tersenyum juga. Menatap ke arah wali kelasnya itu.
"Iya loh... Nanti kalo Ibu main ke rumahmu, masakin Ibu singkong rebus ya... Hehehe..."
"Hehehe... Iya Bu... Boleh..." jawab Gendis, merasa senang dengan Bu Rahayu.
Sungguh, perlakuan penuh perhatian seperti inilah yang bisa membuat Gendis merasa lebih nyaman dan tidak merasa sendirian di sekolah ini.
Sebenarnya guru-guru yang lain juga memperlakukan Gendis dengan perhatian dan kasih sayang juga. Tapi, Bu Rahayu ini terasa lebih bagi Gendis.
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏫🌳🌳🌳
Singkat cerita...
Gendis menjalani hari ini di sekolah dengan menyenangkan...
Semua pelajaran bisa ia ikuti dengan cukup baik, meskipun ia mengalami beberapa kesulitan karena matanya yang buta itu.
Tapi, dengan dibantu oleh guru mata pelajaran, dan juga dibantu oleh teman-temannya, Gendis bisa sedikit lebih mudah belajarnya.
Dan akhirnya, jam pulang sekolah pun tiba...
"KRIIIIIIIIING...."
Seluruh teman-teman sekelas Gendis tampak riang menyambut bel pulang sekolah yang berdering itu.
Semuanya segera bersaliman dengan guru pelajaran terakhir setelah selesai berdoa pulang.
Dan Gendis pun kembali merapikan alat-alat belajarnya ke dalam tasnya yang tampak lusuh itu.
Ia segera memegang tongkatnya, dan berdiri dari bangku. Berjalan menuju keluar kelas.
Tepat ketika Gendis berjalan di depan ruang guru, Bu Rahayu memanggilnya. Membuat langkah Gendis terhenti.
"Gendis..."
"Eh, iya Bu?" sambil ia menoleh ke arah ruang guru itu.
Bu Rahayu menghampiri dirinya. Dan berkata...
"Nak, ke ruang guru dulu sebentar yuk, ada yang mau Ibu omongin sama kamu."
"O-oh... Iya Bu..." jawab Gendis.
Bu Rahayu dan Gendis pun masuk ke dalam ruang guru, dan langsung duduk di salah satu sofa di sudut ruangan.
"Gendis..." suara Bu Rahayu lembut.
"Iya Bu?"
"Eemm... Ibu minta maaf ya sebelumnya..." ucap Bu Rahayu pelan, sambil menarik napas agak berat.
"Eh, minta maaf kenapa Bu?"
"Eemm... Begini Nak, Ibu dapat titipan surat buat orang tua kamu."
"Surat apa Bu?" tanya Gendis penasaran.
Bu Rahayu berdiri, berjalan sebentar ke arah mejanya. Langsung ia ambil sebuah amplop yang berisi surat tersebut.
Dan kembali duduk di sebelah Gendis...
"Surat ini dari kepala bagian TU Nak..." jawab Bu Rahayu sambil memberikan surat itu ke Gendis.
"Ibu pesen sama kamu ya Nak, nanti kamu kasih surat ini ke orang tuamu." ucapnya.
Tampak raut wajah Bu Rahayu sedikit kasihan saat surat itu sudah ditangan Gendis. Sepertinya ia sudah tahu surat itu berisi pemberitahuan apa untuk orang tua Gendis.
"Iya Bu... Nanti sampe di rumah saya kasih ke Ibu saya ya Bu." jawab Gendis.
"Iya Nak..." respon wali kelasnya itu singkat.
"Ya sudah... Oh iya, kamu siang ini pulang sama siapa Nak?" tambahnya sambil mengusap lembut kepala Gendis.
"Eemm... Kayaknya aku pulang sendiri Bu." jawab Gendis.
"Loh? Bapakmu gak jemput?"
"Enggak Bu kayaknya... Soalnya Bapak baru dapet kerja lagi Bu. Jadi kayaknya sekarang masih di tempat kerja." jelas Gendis.
"Oh... Begitu... Alhamdulillah kalo Bapakmu udah dapet kerja lagi. Semoga bisa dapetin uang yang banyak ya Nak..."
"Iya Bu..."
"Maafin Ibu ya, hari ini lagi gak bisa anter kamu pulang juga. Soalnya Ibu ada rapat sama guru-guru siang ini."
"Hehe... Iya Bu, gak apa-apa kok."
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya Gendis."
"Iya Bu... Aku pamit pulang ya Bu..."
"Iya Nak..."
Akhirnya Gendis pun berpamitan, dan segera meninggalkan sekolah.
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
"Tuk tuk tuk tuk... Tuk tuk tuk tuk..."
Suara dari ujung tongkat Gendis yang meraba jalan setapak menemani setiap langkahnya...
Dengan cahaya matahari yang terasa sedikit menyengat kulitnya siang ini...
Dan juga beberapa suara kendaraan motor yang lalu lalang...
Mata Gendis yang putih itu pun beberapa kali berkedip agak cepat, bahkan ia kucek, ketika ada hembusan angin yang bercampur debu jalan setapak tanah ini.
Di saat ia berjalan sendirian itu, tampak dibelakang Gendis, ada siswi perempuan dari sekolah SD yang sama dengan Gendis, berjumlah 3 orang.
Mereka adalah kakak kelasnya Gendis, yang sudah kelas 4...
Mereka bertiga terlihat menunjuk ke arah Gendis, sambil berbisik-bisik. Terlihat juga ekspresi tertawa-tawa pelan.
Dan...
Mereka bertiga berjalan agak cepat, mencoba menyusul langkah Gendis dj depan...
Langkah 3 orang siswi perempuan itu terlihat agak mengendap-ngendap pelan...
Dan... Ketika sudah dekat dengan Gendis...
Gendis pun bisa merasakan ada yang mendekat dari arah belakangnya. Gendis pun berhenti, dan menoleh ke belakang.
Berdiri diam, sambil menatap dengan mata butanya yang putih itu.
Mereka bertiga justru diam, tanpa ada suara, justru mereka menutup mulut masing-masing.
Dan salah satu dari mereka berjongkok, mengambil satu genggam tanah berdebu di atas tanah, dan...
"PRAAASSSHHH!!!"
Tanah berdebu itu dilemparkan ke wajah Gendis.
"AAAHHH!!!" teriak Gendis spontan, merasakan perihnya tanah itu di ke dua matanya.
"AAAHHH!!! ADUUUHHH!!!" suara Gendis sambil memegangi matanya. Dan tongkatnya pun terjatuh dari tangan.
"AHAHAHAHAHAHAHAHA...."
Tiga orang siswi perempuan itu tertawa terbahak-bahak, melihat Gendis yang sedang meringis merasakan perih.
"AHAHAHAHA... MAKANYA KALO JALAN PAKE MATA DONG!!!"
Ucap salah satu dari mereka...
Justru semakin kurang ajarnya, salah satunya lagi mendorong tubuh Gendis...
"Aaahhh... Aduuuhhh... Matakuuu..." Gendis pun jatuh terduduk di atas jalan tanah itu.
"Aaahhhh... Hiks hiks... Ibuuu.... Matakuuu..."
Gendis terduduk di atas jalanan, sambil mulai menangis. Memegangi ke dua matanya yang masih terasa sangat perih.
"AHAHAHAHAHAHA... DASAR BUTAAA!! DASAR BUTAAA!!"
Ledek mereka bertiga, sambil tertawa terbahak-bahak meninggalkan Gendis...
😆😆 lanjut kak👍👍👍