"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEBAKAN DI BALIK DINDING KACA
Zaid berdiri mematung di tengah koridor fakultas yang mulai sepi. Lembaran kertas kumal di genggamannya terasa panas, seolah-olah alamat gudang tua di pinggiran Jakarta Barat itu ditulis dengan tinta api. Otaknya berputar cepat. Informasi dari Sherly bisa jadi adalah kunci untuk mengakhiri teror Raka, atau justru sebuah umpan matang untuk menyeretnya masuk ke dalam jebakan maut.
"Zaid!"
Sebuah panggilan berat membuyarkan lamunan Zaid. Haikal berjalan cepat dari arah tangga darurat, wajahnya yang biasa tenang kini tampak tegang dengan guratan kecemasan yang jelas.
"Ada apa, Kal?" tanya Zaid, langsung menyembunyikan kertas dari Sherly ke dalam saku celananya.
Haikal menarik Zaid agak menjauh dari koridor utama, menuju sudut yang lebih sepi di dekat loker mahasiswa. "Gue baru dapat info dari anak-anak intel jalanan kita. Raka baru saja mindahin sebagian besar motor anak-anak Macan Hitam. Mereka nggak nongkrong di basis biasa. Kota lagi bersih, Zaid. Terlalu bersih untuk ukuran Raka yang lagi berniat balas dendam. Ini mencurigakan."
Zaid mendengus kecut, tangannya meraba kertas di dalam sakunya. "Mereka nggak di jalanan, Kal. Mereka lagi ngumpul di satu tempat. Nunggu waktu yang pas buat nerkam."
"Lo tahu di mana?" mata Haikal memicing tajam.
Zaid terdiam sejenak. Ia tahu Haikal adalah sahabat terbaiknya, namun jika ia memberi tahu tentang keterlibatan Sherly dan alamat gudang itu sekarang, Haikal pasti akan melarangnya bergerak sendiri. Dan Zaid tidak ingin melibatkan lebih banyak orang dalam urusan yang seharusnya ia selesaikan sebagai seorang suami.
"Gue masih nyari tahu," bohong Zaid, suaranya terdengar datar tanpa emosi. "Yang penting sekarang, lo tetap awasin fakultas Khadijah. Kelasnya selesai satu jam lagi. Gue mau ke bengkel sebentar, ambil beberapa alat."
Haikal menatap Zaid dengan pandangan menyelidiki selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Oke. Jangan lakuin hal bodoh, Zaid. Ingat posisi lo sekarang."
"Gue ingat," jawab Zaid singkat sebelum berbalik dan melangkah lebar meninggalkan gedung fakultas.
Bukannya pergi ke bengkel seperti yang ia katakan pada Haikal, Zaid justru menuntun motor sport -nya keluar dari gerbang kampus dengan kecepatan tinggi. Deru mesin motornya membelah jalanan Jakarta yang masih menyisakan genangan air pasca hujan semalam. Pikirannya berkecamuk. Ia harus memastikan sendiri apakah alamat yang diberikan Sherly itu valid atau tidak sebelum hari kelulusan tiba.
Perjalanan menuju Jakarta Barat memakan waktu hampir empat puluh lima menit. Daerah itu adalah kawasan industri tua yang dipenuhi oleh gudang-gudang kontainer dan pabrik yang sudah tidak beroperasi. Udara di sana terasa pekat oleh debu dan aroma karat.
Zaid memarkir motornya beberapa ratus meter dari titik lokasi, menyembunyikannya di balik reruntuhan bangunan kosong. Ia berjalan kaki dengan mengendap-endap, jaket kulit hitamnya terpasang rapat, menutupi kemeja kampusnya. Matanya yang tajam menyapu sekeliling.
Gudang tua bernomor 44 itu tampak sepi dari luar. Pintunya yang terbuat dari seng tebal tampak berkarat dan tertutup rapat. Namun, insting Zaid menangkap sesuatu yang ganjil. Ada beberapa pasang jejak ban motor yang masih segar di atas tanah berlumpur di depan gerbang.
Zaid mendekati dinding samping gudang, mencari celah di antara dinding seng yang renggang untuk melihat ke dalam. Ia mengintip dengan napas yang tertahan.
Di dalam ruangan yang luas dan remang-sudut itu, tampak belasan motor berjajar rapi. Di tengah ruangan, beberapa orang sedang berkumpul di sekitar meja kayu. Dan di sana, duduk dengan angkuh sambil memainkan sebilah pisau lipat, adalah **Raka**.
Namun, bukan keberadaan Raka yang membuat darah Zaid mendadak mendidih hingga ke ubun-ubun. Melainkan sebuah papan tulis besar di balik meja tempat Raka duduk. Di papan itu, tertempel beberapa foto rahasia.
Foto Khadijah saat berjalan di koridor kampus, foto Khadijah saat turun dari mobil Zaid, bahkan ada foto denah rumah Habib Umar di Jakarta dengan beberapa coretan spidol merah yang menandai titik-titik lemah penjagaan.
"Jadi, kapan kita gerak, Bos?" terdengar suara salah satu anak buah Raka memecah keheningan gudang.
Raka terkekeh, suara tawanya yang serak menggema di dinding seng. "Hari kelulusan. Waktu si berandalan itu lagi sibuk pakai toga dan ngerasa hidupnya paling bahagia. Kita ambil ceweknya tepat di depan hidungnya. Gue mau lihat, apa dia masih bisa belagu setelah mainan sucinya itu kotor di tangan kita."
Zaid mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya. Rahangnya mengeras sempurna, matanya memancarkan kilat amarah yang begitu pekat. Zaid yang liar, Zaid sang monster jalanan yang selama ini ia kurung demi Khadijah, seolah-olah mendobrak paksa jeruji besi di dalam dadanya, menuntut untuk dilepaskan.
Ia hampir saja menendang pintu seng itu dan menghajar mereka semua sendirian, sampai sebuah getaran di sakunya kembali menyadarkannya.
Sebuah pesan masuk dari nomor Khadijah:
“Mas Zaid, kelas saya sudah selesai. Mas sudah di depan lobi? Hujan mulai turun lagi di sini.”
Zaid menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menekan monster di dalam dirinya. Ia menatap Raka untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang luar biasa dingin. 'Nikmati sisa harimu, Raka,' bisik Zaid dalam hati.
Ia berbalik dan berlari secepat mungkin kembali ke motornya. Fokus utamanya saat ini adalah keselamatan Khadijah. Urusan dengan Raka akan ia selesaikan dengan caranya sendiri, di waktu yang tepat.
Zaid tiba di kampus dengan tubuh yang agak basah karena hujan yang kembali mengguyur kota. Ia langsung berlari menuju lobi Fakultas Tarbiyah. Dari kejauhan, ia melihat Khadijah sedang berdiri bersama beberapa temannya, tampak tenang dengan cadar hitamnya yang terpasang sempurna.
Begitu melihat Zaid datang dengan napas yang sedikit terengah-engah dan wajah yang luar biasa pucat namun menyiratkan ketegangan, Khadijah segera berpamitan pada teman-temannya dan menghampiri suaminya.
"Mas Zaid? Mas dari mana saja? Kenapa basah begini? Bukankah Mas bilang tadi naik mobil Abi?" rentetan pertanyaan Khadijah menunjukkan kecemasannya.
Zaid tidak menjawab. Ia langsung meraih pergelangan tangan Khadijah dengan genggaman yang sedikit terlalu erat, menuntunnya berjalan cepat menuju area parkir motor tempat ia meninggalkan kendaraan roda duanya.
"Mas... sakit," ringis Khadijah pelan, mencoba mengimbangi langkah lebar Zaid yang terburu-buru.
Zaid tersentak, menyadari kekasarannya yang tidak sengaja. Ia melonggarkan genggamannya namun tetap tidak berhenti melangkah. "Maaf. Kita harus pulang sekarang, Khadijah. Pakai helmmu."
Sepanjang perjalanan pulang di bawah guyuran hujan, keheningan di antara mereka terasa sangat menyesakkan. Khadijah yang duduk di boncengan bisa merasakan betapa tegangnya tubuh Zaid. Pegangan tangan Khadijah di pinggang Zaid justru dipererat, mencoba menyalurkan kehangatan dan ketenangan yang ia miliki pada suaminya yang sedang dilanda badai batin.
Sesampainya di rumah, Zaid langsung menggandeng Khadijah masuk ke dalam kamar mereka, mengunci pintu, dan menutup seluruh tirai jendela dengan rapat, seolah-olah ia sedang mencoba membangun sebuah benteng yang tak kasatmata.
Khadijah melepas cadar dan hijabnya, menampilkan wajahnya yang kini dipenuhi tanda tanya besar. Ia melangkah mendekati Zaid yang sedang berdiri membelakanginya di dekat meja belajar.
"Mas Zaid, cukup," ucap Khadijah, suaranya terdengar bergetar namun tegas. "Jangan sembunyikan saya lagi di balik dinding ketakutan Mas. Mas sudah berjanji di Jogja untuk melibatkan saya. Ada apa sebenarnya? Mas melihat sesuatu tadi?"
Zaid membalikkan badannya. Matanya yang memerah menatap Khadijah dengan tatapan yang sarat akan rasa takut yang mendalam ketakutan kehilangan yang teramat sangat.
"Raka... dia punya foto-fotomu, Khadijah," suara Zaid terdengar serak, nyaris berbisik. Ia melangkah mendekat, meraih kedua tangan istrinya dengan gemetar. "Dia punya denah rumah ini. Dia merencanakan sesuatu yang buruk untukmu di hari kelulusan nanti. Dia ingin menghancurkanku dengan cara menghancurkanmu."
Khadijah tertegun sejenak. Informasi itu tentu saja mengejutkannya, namun alih-alih menangis atau panik seperti wanita kebanyakan, sang Hafizah justru menarik napas dalam-dalam. Ia menggenggam balik tangan Zaid yang dingin dengan begitu erat.
"Lalu, apa Mas Zaid akan membiarkannya?" tanya Khadijah lurus, menatap tepat ke dalam netra suaminya.
"Tentu saja tidak! Aku akan membunuhnya kalau dia berani menyentuhmu!" seru Zaid dengan emosi yang meluap.
Khadijah tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu menenangkan hingga mampu meredam gemuruh di dada Zaid seketika. "Kalau begitu, kenapa Mas harus takut? Mas adalah pelindung yang dikirim Allah untuk saya. Dan di atas segalanya, kita punya Allah yang menjaga kita setiap detik. Raka boleh punya rencana, Mas. Tapi rencana Allah adalah sebaik-baiknya benteng."
Khadijah membawa tangan Zaid ke pipinya, membiarkan kulit kasar suaminya merasakan kehangatan wajahnya. "Jangan biarkan kemarahan Zaid yang dulu mengambil alih. Kita hadapi ini bersama, dengan kepala dingin dan hati yang terpaut pada-Nya. Katakan pada saya, apa yang harus kita lakukan?"
Zaid menatap istrinya dengan rasa takjub yang luar biasa. Wanita bercadar yang dulu ia anggap sebagai beban yang menyesakkan, kini justru menjadi tiang penyangga terkuat di saat dunianya terancam runtuh. Dinding kaca yang ia bangun untuk melindungi Khadijah mungkin telah retak oleh ancaman Raka, namun di balik retakan itu, Zaid melihat sebuah kekuatan baru yang lahir dari keimanan dan cinta istrinya.
Zaid menarik Khadijah ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat seolah tidak ingin membiarkan seujung kuku pun dari bahaya luar menyentuh wanitanya.
"Kita akan buat perhitungan dengan Raka," bisik Zaid di telinga Khadijah, nadanya kini berubah menjadi tenang namun sangat mematikan. "Tapi kali ini, dia yang akan masuk ke dalam jebakannya sendiri."