Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Sepupu
Gunting penata rambut berderit pelan, satu per satu helai rambut panjang, hitam, dan berkilau itu jatuh ke lantai berwarna putih. Gladys menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan napas tertahan, merasakan sensasi ringan yang asing di kepalanya, seolah beban berat yang bertahun-tahun ia pikul ikut luruh bersama potongan rambut itu.
Awalnya matanya berkaca-kaca, namun perlahan ia menarik napas panjang, mencoba menerima perubahan drastis ini sebagai gerbang menuju kehidupan baru. Tak butuh waktu lama bagi penata rambut yang terampil itu membentuknya menjadi potongan rambut pendek rapi, gaya yang maskulin namun tetap rapi, menonjolkan garis rahang halus dan dahi yang bersih. Kini, wajahnya yang biasanya tampil anggun dan elegan berubah menjadi segar, muda, dan sama sekali tak menyerupai sosok Gladys yang dikenal orang-orang.
"Sudah selesai," ucap penata rambut sambil menyeka sisa-sisa rambut di lehernya.
Adnan tersenyum puas melihat hasilnya. "Bagus sekali. Hampir tak bisa dikenali."
Dari salon, mereka langsung bergegas ke pasar yang cukup ramai namun biasa saja, jauh dari toko-toko mewah yang mungkin menyimpan jejak lama. Adnan memilihkan kemeja katun berwarna gelap, celana kain panjang yang longgar, sepatu kets yang nyaman, dan ikat pinggang sederhana, semuanya gaya yang dipakai kaum pria sehari-hari.
Setelah berganti pakaian di ruang pas, Gladys keluar dengan langkah ragu. Bahunya yang terlihat ramping kini tertutup kain yang pas, pinggangnya tak lagi menonjolkan lekuk khas wanita. Ia berdiri tegak di depan cermin toko, matanya berkeliling meneliti setiap sudut tubuhnya.
"Aku... aku benar-benar terlihat seperti pemuda biasa," bisiknya tak percaya, matanya berbinar samar.
"Hampir sempurna," sahut Adnan sambil memperhatikan dengan teliti. "Hanya ada dua hal kecil lagi yang perlu kau latih. Pertama, suaramu. Cobalah buat sedikit lebih berat dan rendah, jangan terlalu lembut atau melengkung seperti biasanya. Kedua, cara berjalan dan sikap tubuhmu. Jangan terlalu halus atau pelan, melangkahlah dengan lebih tegas dan santai, jangan terlalu banyak gerakan tangan yang berlebihan."
Gladys mengangguk serius. Ia mencoba berdeham sejenak, lalu mengucapkan, "Terima kasih, Ad..." suaranya masih agak melengkung. Ia mencoba lagi, berusaha menekan nada bicaranya. "Terima kasih. Bagaimana ini?"
"Lebih baik," puji Adnan sambil tersenyum. "Sekarang coba berjalanlah ke sana kemari, santai saja."
Gladys mencoba melangkah, namun kakinya masih kaku dan terlihat dipaksakan. Ia mencoba lagi, lalu tertawa kecil saat tersandung sedikit. Adnan ikut tertawa melihatnya, tawa ringan yang pertama kali terasa begitu lepas di antara mereka, menghapus ketegangan berat yang semula menyelimuti. Keadaan yang kaku itu perlahan mencair menjadi keakraban yang tulus.
"Lama-lama juga akan terbiasa," ucap Gladys sambil tersenyum lebar, hatinya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Perjalanan selanjutnya menuju rumah Adnan berjalan tenang. Rumah itu terletak di lingkungan perumahan yang sederhana, bersahaja, dan tetangganya saling mengenal namun tidak terlalu mencampuri urusan selama tidak mencolok. Saat mobil diparkir di halaman yang cukup luas, sore mulai turun dengan warna jingga yang hangat.
Belum sempat mereka melangkah masuk ke pintu depan, suara ramah namun penuh rasa ingin tahu terdengar dari teras rumah sebelah.
"Wah, siapa tamu barunya, Adnan?"
Adnan menoleh dan melihat Tari sedang duduk santai sambil mengipas diri. Ia dikenal sebagai tetangga yang perhatian namun terkadang agak usil.
Adnan segera mengatur sikapnya, menampilkan senyum sopan dan santai. Ia melangkah maju sedikit, memosisikan diri di samping Gladys yang kini berdiri agak menunduk sedikit, berusaha meniru sikap pemuda yang pemalu.
"Ini sepupuku, Mbak Tari," jawab Adnan dengan nada bercerita yang wajar dan meyakinkan. "Namanya Genta. Dia baru saja pindah dari kota lain, mau mencoba peruntungan di sini. Jadi untuk sementara waktu dia akan tinggal bersamaku sampai bisa menata hidupnya sendiri."
Gladys atau Genta, segera menyapa dengan suara yang sudah ia latih sedikit lebih rendah dan sopan, "Selamat sore, Mvak... senang bisa bertetangga dengan Mbak."
Tari menatapnya dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menyelidik namun tetap ramah. Untungnya, perubahan itu begitu sempurna sehingga tak ada satu pun keraguan yang muncul di matanya.
"Wah, sepupunya tampan juga ya," puji Tari sambil tersenyum lebar. "Baiklah kalau begitu, selamat datang di sini ya, Genta. Semoga betah dan semoga sukses mencari pekerjaan. Kalau butuh apa-apa atau ada hal yang tidak dimengerti soal lingkungan sini, jangan sungkan bertanya sama aku atau tetangga yang lain."
"Terima kasih banyak, Mbak," jawab Gladys dengan sopan dan hati-hati, matanya melirik sekilas ke arah Adnan untuk memastikan dirinya aman.
Adnan tersenyum lega melihat interaksi itu berjalan mulus tanpa kecurigaan sedikit pun. "Terima kasih perhatiannya, Mbak. Kami masuk dulu ya, masih harus beres-beres barang dan istirahat."
"Silakan, silakan saja," ucap Tari sambil melambaikan tangan.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu pelan-pelan hingga terkunci rapat. Begitu berada di dalam ruangan yang tenang dan aman, jauh dari pandangan siapa pun, napas Gladys yang semula ditahan akhirnya terlepas dengan lega. Ia menyandarkan punggungnya ke balik pintu yang tertutup itu, merasakan detak jantungnya yang perlahan kembali normal.
"Sukses..." bisiknya dengan senyum tipis yang lega. "Dia sama sekali tidak curiga."
Adnan mengangguk mantap sambil meletakkan kunci dan tas di meja dekat pintu. Ia menatap ruang tamu yang sederhana namun bersih dan rapi, tempat yang akan menjadi benteng mereka mulai hari ini.
"Kita sudah melewati tahap pertama dengan baik," ucapnya pelan namun tegas. "Mulai sekarang, di dalam maupun di luar rumah, namamu adalah Genta. Ingatlah itu selama kau tinggal di sini."
udah baca Thor novel terbarunya 🔥🔥🔥🔥seru