“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Bukan Mimpi
Nasya menggeliat dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Mendadak hening, dia terdiam sejenak sembari mengingat-ingat. Setelah melihat Elgan yang ada di sampingnya, Nasya sangat terkejut. Kali ini, terkejut bukan karena Elgan. Akan tetapi, pada dirinya yang tak memakai apapun.
Nasya segera merik selimut perlahan-lahan agar semakin menutupi dirinya. Nasya menepuk kepalanya pelan. Berharap pagi ini adalah mimpinya saja. Namun, nyatanya tidak. Saat matanya bertemu dengan mata Elgan yang baru saja terbuka.
“Kamu udah bangun?” tanya Elgan dengan suara seraknya.
Nasya menyilangkan tangannya dan semakin mengeratkan selimutnya. “Ki–kita semalam ngapain, Mas? Ini beneran kita melakukan itu … beneran iya? Kena …,” ucap Nasya seakan tak percaya.
Elgan mendekatkan dirinya selaya mengelus puncak kepala Nasya lembut. Tidak lupa satu kecupan mendarat di keningnya. “Kamu yang meminta dan memberikan pancingan yang tidak bisa aku tolak. Apakah kamu menyesalinya?” balas Elgan menatapnya.
Nasya menggelengkan kepalanya. Tangannya masih sibuk menutupi dirinya. Lama tak menjawab, mendadak air matanya luruh begitu saja. Elgan yang tak mengerti apapun, hanya bisa memeluknya untuk memberikan sedikit ketenangan. Elgan pula merasa bersalah, tapi semalam Nasya dalam keadaan sadar dan tak terpengaruh apapun. Elgan pun bingung.
“Kamu kenapa menangis? Jika tahu itu hanya omong kosong, aku tidak akan melakukannya. Siapa yang duluan bertindak di at …,” ucap Elgan terhenti karena jari Nasya menghentikan bibirnya.
“Aku gak masalah, Mas. Ak—aku hanya takut nanti kamu akan meninggalkanku. Aku merasa gagal menjaga diriku untuk orang yang nantinya akan tulu denganku. Aku rasa telah gagal, aku memang ceroboh hanya karena cinta,” jelas Nasya tertunduk.
Elgan tertegun dengan penuturan Nasya. Niat dan hatinya selalu baik. Bahkan, dia masih memikirkan orang yang akan tulus padanya dan memberikan pengalaman pertama untuk melakukan kegiatan suami istri yang sebenarnya. Bukan status kontrak yang akan ada masa berakhir nantinya. Namun, sebelum melakukannya pun Elgan juga sudah berpikir panjang.
“Apakah kamu berpikir aku orang yang ceroboh dan tidak bertanggung jawab? tanya Elgan.
“Kalau menilai keseluruhan ya nggak, lah. Tapikan kita cuma nikah kontrak, masanya habis. Kita juga harus berpisah. Aku bodoh sekali,” balas Nasya.
Elgan menahan tawanya. “Hei, kamu tidak perlu mencemaskan itu. Bukankah juga wajar kita melakukannya? Mana ada pria dan wanita dalam satu kamar bisa menahan gejolak yang membara?” jawab Elgan yang semakin membuat Nasya merasa bersalah pada dirinya.
“Itulah enaknya jadi cowok. Udahlah, Mas. Kamu gak akan paham. Aku jadi gak percaya kalau kamu beneran nggak ngapa-ngapain sama mantan kamu itu,” sahut Nasya.
“Nasya, kali ini aku gak mau kamu bahas masalah itu, ya. Aku melakukannya juga untuk yang pertama kalinya. Aku bukan pria murahan. Kamu pikir, aku hanya bernafsu saja bersama kamu semalam? Tidak, aku juga melakukannya dengan hati. Kamu pasti paham maksud aku,” jelas Elgan yang tidak ingin disalahpahami terus.
“Aku ingin kita memulai semuanya berawal dari hari ini. Aku ingin menyudahi kontrak kita,” lanjut Elgan.
Nasya mendongak, menatap Elgan dengan tatapan sendu. “Kenapa lama banget sih Mas bilang begini? Kamu gak tau, aku udah lama mengharapkan waktu ini tiba. Jahat banget kamu,” jawab Nasya yang semakin mendapat pelukan dari Elgan.
“Maaf, aku kan kemarin perlu waktu. Berarti, kalau minta lagi boleh?” goda Elgan lagi.
Nasya menggeleng. “Gak! Aku mau marah dulu.”
***
Ketika Elgan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba saja, pintu ruangannya terbuka. Tanpa ada ketukan, Elgan menatap tegas ke arah pintu. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendapati Reina yang datang dengan langkah tergesa. Elgan semakin menatapnya bingung.
“Aku mau cerita, El,” ucap Reina yang berada tepat di hadapannya.
“Ada apa? Harus sekarang?” tanya Elgan.
Elgan terpaksa tidak melanjutkan pekerjannya. Dia memilih berhenti sejenak untuk mendengarkan Reina. Waktu pun sebentar lagi juga sudah menunjukkan waktu makan siang. Elgan meluangkan waktunya terlebih dahulu. Tidak akan tega melihat kondisi Reina yang saat ini terlihat sedang tidak baik.
Mata Reina memerah, butiran air mata menggenang. “Iya, aku gak tau harus kemana selain ke kamu. Aku gak punya tempat lain, El.” Tatapannya seakan memohon.
Elgan pun mengangguk. Dia berdiri dari tempat duduknya dan meminta Reina untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Elgan duduk lebih dulu dan diikuti oleh Reina yang memilih duduk tepat di sampingnya. Padahal, masih ada tempat lain yang bisa diduduki. Elgan tidak bisa protes, menerimanya saja.
“Mungkin ini balasan dari perbuatanku, ya, El. Suamiku, dia sering banget jalan sama temennya waktu kuliah. Aku sering tegur, malah aku yang dimarahi. Bahkan, semalam dia gak pulang. Aku gak tahu perginya,” ungkap Reina menunduk lemah.
Tidak ada yang menyadari jika ini hanya sebuah permainan. Elgan hanya bisa terhanyut pada permainan yang Reina mainkan. Dia masih memilih secercah kepercayaan pada wanita yang padahal jelas meninggalkannya tanpa memberi alasan jelas pada hubungan mereka. Elgan mudah sekali luluh padanya. Akankah kali ini juga akan sama?
“Sebentar, balasan untuk perbuatan yang mana? Bukankah kamu pernah bilang kalau suamimu sudah mulai luluh waktu itu? Dia mulai mencintaimu? Makanya, aku gak mau ikut campur lagi,” balas Elgan.
“Aku kan pernah ninggalin kamu. Mungkin karena itu juga aku harus merasakan ini. Aku menyesali pernikahan ini, Elgan. Aku gak pernah diperjuangkan sama sekali. Perhatian yang seharusnya aku dapat, aku harus membayarnya mahal dengan meminta-minta padanya. Dengannya aku haus kasih sayang. Beda banget sama kamu dulu. Kenapa bisa begini, ya El?” Reina mendekat dan bersandar pada Elgan yang masih terdiam seakan mencerna setiap ucapan Reina.
Disaat bersamaan, Nasya dengan senyuman lebarnya dengan berniat memberikan kejutan pada suaminya. Tanpa mengabari Elgan, Nasya membawakan makan siang masakannya penuh dengan cinta. Namun, sungguh terkejutnya Nasya mendapati Elgan yang sedang memeluk Reina. Tadinya Elgan membiarkannya bersandar, tapi mendengar Reina menangis tersedu-sedu. Dia pun memeluknya karena kasihan dan disaksikan langsung oleh Nasya.
“Nasya, kamu tidak boleh mundur. Hadapi apapun yang akan terjadi. Mari kita buktikan ucapan suamimu saat ini juga,” batin Nasya menguatkan dirinya sendri.
Tangannya sedikit lemas membawa kotak makan di tangannya. “Mas, aku bawain makan siang spesial buat kamu.”