NovelToon NovelToon
I'M Not Gay

I'M Not Gay

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.

Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.

Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.

Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.

Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?


"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Paling Pamer....

Varren melangkah memasuki asrama dengan tenang, padahal hari sudah menunjukkan pukul 2 pagi tapi dirinya baru saja pulang.

Krek.

Varren menutup pintu pelan lalu masuk dengan tenang. Berselang saat dirinya ingin melintas di depan kamar Sylas, Varren malah bersemu mata dan Sylas pun tersentak kaget melihatnya sembari menutup pintunya pelan.

Sylas melirik Varren yang baru pulang bingung. "Loe baru pulang?" tanyanya tenang.

Varren berdehem pelan di sana menatapnya. "Kenapa kebangun?" tanya Varren.

Sylas menatap Varren lebih dalam dan lamban dari sebelumnya. "Iya. Haus." jelasnya.

Varren mengangguk melangkah menuju kamarnya kembali.

"Dari mana? Kenapa baru pulang?" tanya Sylas menghentikan langkah Varren.

Varren melirik Sylas lelah. "Sekalian main tadi." jelasnya memasuki kamar.

Sylas melihat Varren yang sudah memasuki kamar hanya mengangkat bahu pelan, lalu segera masuk ke kamarnya kembali, melupakan tujuan awal ingin ke dapur.

---

Dengan wajah kuyu Varren keluar dari kamarnya di jam pagi, hari ini ia harus masuk sekolah meskipun dirinya sangat mengantuk.

Reja menatap Varren yang keluar berwajah lelah menaiki satu alisnya. "Loe pulang semalem??" tanyanya dengan heran. Tavian dan Sylas ikut menatap Varren yang duduk di dekat mereka yang makan di meja ruang tengah.

Varren menguap pelan dan memejamkan matanya bersender di bahunya Sylas. Sylas refleks menegang. Untuk beberapa detik ia bahkan lupa cara menggerakkan tangannya. Bahunya terasa kaku, seperti baru pertama kali disentuh seseorang sedekat ini.

Tapi ia segera menguasai diri. Ekspresinya kembali datar.

Reja dan Tavian menatap pemandangan itu dengan mata membelalak.

Varren tampak tidak menyadari reaksi Sylas. "Iya. Semalem lombanya sampek jam Sembilan malem, terus ada kegiatan lain jadi gue pulang jam dua malem." jelas Varren tenang di lelap matanya.

"Buset jadi gimana lombanya??? Menang nggak Loe Ren????" tanya Reja semangat pada Varren.

Varren berdehem. "Yah jelas lah. Kalo gue yang turun pasti menang. Dalam kamus hidup gue, gue belum pernah ngerasain kekalahan." jelas Varren masih dalam memejamkan mata tanpa melihat Reja atau pun Tavian.

Reja melihatnya menatap kesal Varren. Saat tangannya hendak menarik tangan Varren tapi sudah ditahan oleh Sylas menatapnya tajam.

"Ngeselin loe Varren!!!!" Semuanya.

Varren hanya diam dalam tidurnya, tak lagi menyahut.

Reja meringis melihat jika bos mereka melototi dirinya begitu. Ehem. Suara Tavian di sana agak keras untuk memperingati Varren. Tapi Varren rupanya malah diam saja dan melanjutkan tidurnya.

"Eh tu Varren tidur beneran??? Kalo ngantuk kenapa nggak libur aja? Kan baru pulang juga dari lomba." ujar Reja kasihan kepada Varren terlihat kelelahan.

"Anak ambis beda ama loe. Ngantuk jadi alasan nggak sekolah." jelas Tavian kepada Reja mengejek. Reja di ejek mendelik kepada temannya. Sylas di sana diam melirik Varren yang tidur di bahunya. Ia mengerjap pelan menjulak sedikit kepala Varren.

Varren membuka matanya pelan menatap Sylas polos dan linglung.

"Loe tidur aja di asrama. Nggak usah sekolah biar kita yang minta izin." jelas Sylas kepada Varren.

Varren menguap pelan di sana. Menghela napas pelan. "Nggak usah. Kayaknya gue sekolah aja hari ini." jelas Varren memaksakan diri.

"Apaan sih yang loe kejar di sekolah Ren. Nggak ada pembagian emas, nggak." jelas Reja memasang dasinya. "Mending turu di sini aja. Ketimbang loe sakit nggak ada yang bisa ngerawat loe. Soalnya gue, Tavian sama Sylas nggak tau ngerawat orang sakit, soalnya mereka nggak pernah sakit." jelasnya lagi melirik Varren di sebelah Sylas.

Varren mengangguk pelan. "Gue soalnya hari ini bakal dipanggil sama kepala sekolah dan dipamerin ke semua orang kalo gue memang lomba debat. Masa gue lewatin sih masa-masa dimana gue harus menyapa dan memamerkan kepintaran gue?" tanya Varren kepada Reja dan yang lain polos.

Serentak mereka melotot menatap Varren yang berwajah polos.

"Njir. PD bet yah loe Ren. Baru tau gue." ujar Tavian di sana menggeleng.

Reja menatap Varren dengan mengangguk. "Gue kira cupu ternyata suhu." ujarnya juga.

Varren terkekeh melihat wajah mereka yang lucu dimatanya.

Sylas pun di sana hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Varren.

"Udah udah. Ayok mending ke sekolah kita. Varren mau dipamerin tu." jelas Reja segera berdiri dari duduknya.

"Karena kita nggak ada pesen atau yang masak. Kita harus ke kantin buat sarapan dulu." lanjutnya Tavian semangat kepada Reja dan teman-temannya.

"Makanan di kantin nggak enak." ujar Reja kepada Tavian. Tavian mendengarnya menatap Reja dengan kerutan di keningnya. "Loe udah nyobain perasaan makan siang enak-enak aja tu." ujarnya dengan linglung. Keningnya bahkan berkerut penuh tanda tanya.

Reja mengangguk pelan. "Beneran nggak enak kok. Kemaren kan gue sarapan di kantin karena loe habisin sarapan gue. Tapi gue nemu tempe rebus. Rasa mau muntah gue." jelasnya sembari berjalan keluar. Varren di belakang hanya diam mendengar mereka lemas.

"Mending kita pesen aja biar pak bos yang bayarin." ujar Reja lagi melirik Sylas tersenyum.

Semua di sana memutar bola mata malas menatap Reja. "Bilang aja loe mau makan gratis. Kismin dasar." julak kepala Reja oleh Tavian kesal.

Reja melirik Tavian mendengus. "Kan pak bos menang balapan kemaren jadi banyak lah duitnya dia. Berapa Alvino kasih kemaren bos???? Sepuluh juta kan?" tanya Reja lagi melirik Sylas meminta persetujuan kepadanya.

Sylas berdehem pelan.

"Tapi nggak gitu caranya. Ini pake acara fitnah makanan loe. Dasar manusia nggak ada akhlak." ujar Tavian kesal pada temannya.

Varren hanya diam di sebelah Sylas menatap perdebatan keduanya yang tak ada ujungnya. Kepala Reja sekarang bahkan sudah masuk ke ketiak milik Tavian saking kesalnya Tavian.

Sampai ke kantin mereka segera mengambil nasi yang disediakan. Di sini memesan makannya harus mengantri, karena memang makan untuk sarapan itu prasmanan yang ambil sendiri sesuai porsi masing-masing. Varren mengambil porsi kecil dengan sayur udang dan sayur yang mentah serta satu kotak salad buat untuk dirinya makan. Beda dengan yang lain memakan apa saja yang ada di sana kecuali sayuran.

"Varren.."

Varren menoleh menatap siapa yang memanggilnya. Pelan tapi pasti ia mendekat kepada Varren dengan kotak makan di tangannya. Reja dan Tavian melirik perempuan itu kagum dan menggoda beda dengan Sylas yang menatapnya dingin.

"Kenapa Bel?" tanya Varren menduduki kursinya tenang menatap Bela yang menghampirinya.

Bela memberikan kotak bekal di tangannya kepada Varren. "Ini buat Varren. Jangan lupa dimakan yah, soalnya aku sendiri yang masak buat kamu." ujarnya malu-malu di hadapan Varren.

"Njir gue baru tau kalo asrama lain ada kompor juga. Bukannya dilarang ada asap yah?" tanya Reja kepada Tavian.

Tavian mengangguk di sana menyahuti Reja. "Iya. Bukannya cuma kamar kita yang lengkap?" tanyanya heboh menatap kotak bekal dari Bela mengejek.

Bela memerah menatap kedua lelaki yang mengejeknya. Varren di sana menggeleng pelan menatap bekal yang diberi Bela. "Ini cuma sushi sama sandwich jadi nggak pake dimasak di kompor, tapi cuma pake rice cooker." ujarnya kepada Varren gugup.

Varren tersenyum tipis. "Makasih yah Bel. Nanti gue makan."

Bela tersenyum senang, lalu melenggang pergi dengan malu-malu. Reja dan Tavian langsung menatap Varren dengan tatapan menggoda.

"Wah Ren, banyak yang sayang nih." ujar Reja terkekeh.

Varren hanya menggeleng. "Udah makan."

Sylas di sampingnya diam, tetapi matanya sesekali melirik ke arah kotak bekal di tangan Varren. Tidak ada ekspresi, tapi ada sesuatu di balik tatapan dinginnya.

Bersambung...

1
Anime aikō-kā
p
Alia Chans: 🤔🤔🤔🤔🤔🤔.
total 3 replies
ẜᮦ࿆ᷗhimboy
semangat
Alia Chans: Thank you kk/Smile//Smile/
total 1 replies
Nelson Sihombing
berarti dia gk cewek? atau gk cowok?
Alia Chans: Gak tau lupa gw🤭🤭
total 1 replies
Kak Umi
Jangan lupa baca cerita aku juga ya 🙏🙏😍😍
Kak Umi
Cerita asyik dan enak untuk dibaca
Kak Umi
Ikut baca ya😍😍
Alia Chans: makasih kk dah mampir. semoga suka ya😉
total 1 replies
𝑊𝑎𝑤𝑎ᵃᵈʳⁱᵃⁿ
menurut ku diam bukan cara penyelesaian trbaik
_r: kak baca novel ku juga dong, judul nya tower of souls
total 2 replies
Nemicca˃ 𖥦 ˂
seru banget sukak
Nemicca˃ 𖥦 ˂: hehe pasti lah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!