NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.

​Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.

​Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARIS DI ATAS TANAH

​Aroma sup talas dan ikan asin bakar biasanya menjadi penanda akhir hari yang damai di rumah keluarga Zei. Namun malam itu, kepulan asap dari mangkuk di tengah meja kayu yang reot terasa mencekam. Keheningan mendadak turun begitu pekat setelah Zei meletakkan sumpitnya dan mengucapkan satu kalimat pendek.

​"Zei ingin ikut Turnamen Seleksi Bakat Daun Hijau di kota kecamatan, Tiga bulan lagi."

​Kentingan kayu yang diaduk ibunya di dapur mendadak berhenti. Sumpit di tangan adik perempuannya, Mei, tertahan di udara, matanya membelalak bulat.

​Di ujung meja, sosok pria berwajah keras dengan janggut meranggas perlahan meletakkan cangkirnya. Ayah Zei, Yan, menatap putranya dari balik remang cahaya pelita minyak. Lengannya yang kekar—penuh bekas luka lama yang aneh bagi seorang petani—tampak menegang.

​"Ulangi, Zei," suara Yan berat, bergaung rendah di dalam rumah bambu mereka.

​"Zei ingin menjadi kultivator, Ayah. Zei ingin mendaftar turnamen," ucap Zei, suaranya bergetar namun matanya menatap lurus, tidak beralih.

​Yan menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar lebih seperti geraman frustrasi. "Menjadi kultivator? Mengolah Qi untuk bertarung di panggung? Kau pikir dunia luar itu seperti ladang jagung kita, Zei? Yang jika kau rawat dengan baik, akan memberimu hasil?" Yan memukul meja hingga mangkuk sup bergetar. "Dunia mereka penuh dengan orang-orang licik yang mencabut nyawa seolah memetik rumput liar!"

​"Tapi Zei punya kemampuan, Ayah! Zei sudah melatih Qi tanah ini—"

​"Cukup!" Yan berdiri, tubuhnya yang tinggi besar membayangi Zei. "Kau tahu kenapa Pamanmu Liu tidak pernah kembali dari kota sepuluh tahun lalu? Dia merasa punya sedikit bakat, pergi membawa pedang rongsokan untuk menjadi pengawal karavan kultivator. Yang kembali ke desa ini hanyalah sekantung koin perak dan kabar bahwa tubuhnya hancur dicabik-cabik oleh binatang buas karena majikannya melarikan diri!"

​Ibunya perlahan mendekat, menyentuh pundak Yan untuk menenangkannya, sementara matanya menatap Zei dengan tatapan cemas yang mendalam. "Zei, nak... Ibu hanya ingin kau aman di sini. Menikah dengan gadis desa sebelah, menggarap sawah kita. Langit itu terlalu tinggi dan dingin untuk anak seperti kita."

​Zei mengepalkan tinjunya di bawah meja. Rasa hangat menjalar dari dadanya. Di dalam benaknya, bayangan kain sutra putih Qian Yue’er yang melayang di udara kembali berputar. Itu bukan sekadar ambisi buta. Itu adalah sebuah panggilan batin yang tidak bisa ia padamkan. Jika dia tetap tinggal di sini, jiwanya akan mati perlahan bersama lumpur sawah.

​"Zei tahu paman mati, Ayah. Ibu, Zei juga takut," Zei ikut berdiri, menatap ayahnya dengan tinggi yang kini hampir setara. "Tapi jika Zei tidak melangkah sekarang, seumur hidup Zei hanya akan menjadi pungguk yang menatap langit dengan penyesalan. Izinkan Zei mencoba. Sekali saja."

​Yan menatap mata putranya. Di sana, ia tidak melihat keras kepala seorang bocah yang ingin main-main, melainkan api tekad yang menyala begitu murni—api yang dulu pernah ia miliki sebelum dunia mematahkannya.

​Yan terdiam cukup lama sebelum akhirnya melangkah mundur, berjalan menuju halaman rumah yang beralaskan tanah keras.

​"Keluar," perintah Yan dingin.

​Zei mengikuti ayahnya ke luar, disusul oleh ibu dan Mei yang menonton dari ambang pintu dengan cemas. Malam itu bulan bersinar terang, menerangi halaman rumah mereka yang sepi.

​Yan memasang kuda-kuda rendah. Kedua kakinya mencengkeram tanah dengan begitu kokoh, sebuah postur yang langsung membuat Zei tersadar—ayahnya bukan sekadar petani biasa. Yan adalah mantan tentara kekaisaran yang membuang identitasnya demi hidup tenang di desa terpencil.

​"Kau ingin memanjat langit? Lewati dulu bumi tempat kau berpijak," ujar Yan, menepuk dada bidangnya. "Pukul aku dengan seluruh kekuatanmu. Tanpa senjata. Jika kau bisa membuatku mundur tiga langkah dari garis tempatku berdiri, kau boleh pergi ke kota kecamatan. Jika tidak, bakar impian kosongmu dan kembalilah mencangkul besok pagi!"

​Zei menelan ludah. Atmosfer di sekitar ayahnya mendadak terasa berat, seolah udara ditekan oleh dinding tak kasatmata.

​"Baik, Ayah. Mohon bimbingannya."

​Zei mengambil napas dalam-dalam. Dia menutup mata sejenak, memanggil energi yang selama berbulan-bulan ini dia asah di keheningan sawah. Qi elemen tanah yang kasar dan tebal mulai mengalir dari perutnya, turun ke kaki, lalu melesat naik menuju lengan kanannya.

​Bumi tidak pernah goyah. Zei mengingat bisikan tanah yang sering ia dengar.

​Whusss!

​Zei melesat maju. Gerakannya kasar, tidak seindah para kultivator kota, tapi penuh dengan momentum yang masif. Ia mengayunkan tinjunya lurus ke arah dada Yan. Bersamaan dengan itu, di bawah kulit lengannya, gumpalan energi mengeras membentuk pola samar menyerupai sisik naga.

​Yan tidak menghindar. Dia tersenyum tipis, bersiap menahan hantaman bocah desa yang dianggapnya belum tahu asin garamnya dunia.

​BUMMM!

​Tinju Zei menghantam dada Yan. Gelombang kejut angin menyapu debu di halaman rumah. Mata Yan mendadak membelalak. Ia tidak merasakan tinju manusia daging biasa, melainkan seperti dihantam oleh sebongkah batu meteor yang jatuh dari tebing. Energi "Sisik Naga" milik Zei menghantarkan daya dorong yang begitu padat dan murni.

​Sret... Sret... Sret...

​Kaki Yan terseret ke belakang, merobek permukaan tanah, meninggalkan dua jalur garis dalam. Tepat pada langkah ketiga, Yan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya sendiri untuk mengunci posisinya agar tidak terjatuh.

​Hening kembali menyelimuti halaman. Zei menarik napas terengah-engah, lengannya berdenyut kemerahan, menatap ayahnya dengan cemas.

​Yan menunduk, melihat tiga langkah jarak yang baru saja ia lalui dari posisi awalnya. Dadanya terasa sesak, bukan karena luka, melainkan karena rasa terkejut yang luar biasa. Qi tanah milik anaknya... begitu tebal. Bahkan lebih murni dari kapten pasukannya dulu di militer.

​"Ayah..." Panggil Zei lirih.

​Yan perlahan menegakkan tubuhnya. Ketegangan di wajahnya mencair, digantikan oleh senyuman getir yang penuh rasa bangga. Dia berjalan mendekati Zei, lalu mendaratkan tangannya yang besar di pundak sang putra, meremasnya kuat-kuat.

​"Dunia luar akan mencoba menghancurkanmu, Zei. Mereka akan menghinamumu karena kau anak petani," ucap Yan, suaranya kini melunak, sarat akan emosi. "Tapi malam ini kau membuktikan... bahwa tanah desa ini melahirkan seorang ksatria."

​Yan berbalik menatap istrinya yang mulai meneteskan air mata haru.

​"Biarkan dia pergi, Ibu," kata Yan kelon. "Burung rajawali tidak akan pernah bisa belajar terbang jika kita terus mengurungnya di dalam sangkar ayam."

​Zei merasakan matanya memanas. Di bawah kesaksian rembulan malam itu, gerbang pertama menuju langit akhirnya terbuka untuknya, disetujui oleh bumi yang membesarkannya.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏿🌟💥
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
💥👍🏿👍🏻👍🏿💥
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
🌟👍🏿👍🏻👍🏿🌟
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
💥🌟👍🏻🌟💥
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
👍🏿👍🏻🌟👍🏻👍🏿
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
🌟👍🏼👍🏻👍🏼🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐
y@y@
👍🏻⭐👍🏿⭐👍🏻
y@y@
👍🏾🌟👍🏼🌟👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏼🌟💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!