Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.
Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.
Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Aroma gurih sup talas dan ikan asin bakar biasanya menjadi penanda akhir hari yang damai di kediaman keluarga Zei. Namun malam itu, kepulan asap dari mangkuk tanah liat di tengah meja reot terasa mencekam. Keheningan mendadak turun begitu pekat setelah Zei meletakkan sumpitnya dan memecah kesunyian dengan satu kalimat mutlak.
"Zei akan mengikuti Turnamen Seleksi Bakat Daun Hijau di ibu kota kecamatan. Tiga bulan lagi."
Kentingan sendok kayu yang diaduk ibunya di dapur seketika terhenti. Sumpit di tangan adik perempuannya, Mei, menggantung kaku di udara, matanya membelalak menatap sang kakak.
Di ujung meja, sosok pria berwajah keras dengan janggut meranggas perlahan meletakkan cawan araknya. Ayah Zei, Yan, menatap putranya dari balik pendar remang pelita minyak. Lengannya yang kekar—penuh gurat bekas luka lama yang terlalu ganjil bagi seorang petani biasa—tampak menegang.
"Ulangi kalimatmu, Zei," suara Yan berat, bergaung rendah menyapu seisi rumah bambu.
"Zei ingin menjadi kultivator, Ayah. Zei akan mendaftar turnamen," ucap Zei. Suaranya bergetar tipis, namun sorot matanya menatap lurus, tak sudi beralih.
Yan menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar lebih menyerupai geraman tertahan. "Menjadi kultivator? Mengolah Qi untuk pamer nyawa di atas panggung? Kau pikir dunia luar itu seperti ladang jagung kita, Zei? Yang jika kau siram dan rawat dengan baik, pasti akan memberimu hasil?" Yan menggebrak meja hingga kuah sup tumpah dari mangkuknya. "Dunia persilatan dipenuhi monster berwujud manusia! Mereka mencabut nyawa seolah memetik rumput liar!"
"Tapi Zei punya kemampuan, Ayah! Zei sudah melatih Qi tanah ini—"
"Cukup!" Yan berdiri tegak, posturnya yang menjulang membayangi Zei. "Kau tahu kenapa Paman Liu tidak pernah kembali dari kota sepuluh tahun lalu? Dia merasa punya secuil bakat, pergi membawa pedang rongsokan untuk menjadi pengawal karavan sekte. Yang kembali ke desa ini hanyalah sekantung koin perak murahan dan kabar bahwa tubuhnya hancur dicabik-cabik binatang buas, sementara majikannya melarikan diri!"
Ibunya perlahan mendekat, menyentuh pundak Yan dengan gemetar untuk menenangkannya. Matanya beralih menatap Zei dengan kecemasan yang menyayat hati. "Zei, Anakku... Ibu hanya ingin kau hidup aman di sini. Menikah dengan gadis dari desa sebelah, mewarisi sawah kita, menua dengan tenang. Langit itu terlalu tinggi dan teramat dingin untuk orang-orang bumi seperti kita."
Zei mengepalkan tinjunya erat-erat di bawah meja. Bara hangat menjalar di dadanya. Di dalam benaknya, kilas balik jubah sutra putih Qian Yue’er yang menari di udara kembali berputar. Ini bukan sekadar ambisi buta masa muda. Ini adalah panggilan batin yang menolak dipadamkan. Jika ia menyerah dan tetap merangkul cangkul ini seumur hidupnya, jiwanya akan membusuk perlahan bersama lumpur sawah.
"Zei tahu bagaimana Paman mati, Ayah. Ibu, Zei juga takut," Zei ikut berdiri, menantang tatapan ayahnya dengan postur yang kini nyaris setara. "Tapi jika Zei tidak melangkah sekarang, seumur hidup Zei hanya akan menjadi pungguk yang menatap langit dengan penyesalan. Izinkan Zei mencoba. Satu kali ini saja."
Yan membalas tatapan putranya. Di kedalaman mata hitam itu, ia tidak menemukan keras kepala seorang bocah picisan. Ia melihat api tekad yang menyala terlampau murni—api yang sama, yang dulu pernah ia miliki sebelum kekejaman dunia mematahkannya.
Yan terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia memutar tubuh, melangkah keluar menuju halaman rumah yang beralaskan tanah liat kering.
"Keluar," perintah Yan sedingin es.
Zei mengikuti ayahnya, disusul oleh sang ibu dan Mei yang berdesakan di ambang pintu dengan napas tertahan. Malam itu rembulan purnama bersinar tanpa penghalang, memandikan halaman sepi mereka dengan cahaya keperakan.
Yan memasang kuda-kuda rendah. Kedua kakinya mencengkeram bumi dengan fondasi yang begitu absolut—sebuah postur tempur yang seketika menampar kesadaran Zei. Ayahnya bukan sekadar petani. Yan adalah mantan prajurit kekaisaran yang mengubur masa lalunya demi kedamaian di desa terpencil.
"Kau ingin memanjat langit? Lewati dulu bumi tempat kau berpijak!" gertak Yan, menepuk dada bidangnya. "Pukul aku dengan seluruh niat membunuhmu. Tanpa senjata. Jika kau bisa membuatku mundur tiga langkah dari garis ini, kau kuizinkan pergi ke kota kecamatan. Jika tidak, bakar impian kosongmu dan kembalilah membajak sawah besok pagi!"
Zei menelan ludah. Atmosfer di sekitar ayahnya mendadak terasa pekat, seolah udara ditekan oleh dinding baja tak kasatmata.
"Baik, Ayah. Mohon bimbingannya."
Zei menarik napas lambat-lambat. Ia menutup mata sejenak, memanggil energi yang selama berbulan-bulan ini ia asah dalam keheningan ladang. Qi elemen tanah yang purba dan purba mulai bergolak di Dantian-nya, mengalir deras ke akar kakinya, lalu melesat naik membanjiri lengan kanannya.
Bumi tidak pernah goyah. Zei mengingat bisikan tanah di bawah telapak kakinya.
Whusss!
Zei melesat maju menembus udara. Gerakannya tidak elegan, jauh dari estetika para kultivator kota, tapi membawa momentum masif yang mengerikan. Ia mengayunkan tinjunya lurus menghantam dada Yan. Bersamaan dengan itu, di bawah pori-pori lengannya, gumpalan energi buminya mengeras cepat, membentuk pola heksagonal gaib bersinar redup—Zirah Sisik Naga.
Yan tidak bergeming. Ia menyeringai tipis, mengalirkan tenaga dalamnya bersiap menahan hantaman bocah ingusan yang ia anggap belum tahu kejamnya dunia.
BUMMM!
Tinju berlapis Sisik Naga itu menghantam dada Yan telak. Gelombang kejut membelah udara, menyapu debu melingkar di halaman rumah. Seringai di wajah Yan mendadak sirna, tergantikan oleh mata yang membelalak sempurna. Ia tidak merasakan benturan tulang dan daging biasa, melainkan seperti ditabrak telak oleh sebongkah batu meteor yang runtuh dari tebing raksasa. Energi elemen tanah milik Zei menghantarkan daya dorong yang terlampau padat dan murni.
Sret... Sret... Sret...
Sepatu jerami Yan terseret paksa ke belakang, mencabik permukaan halaman dan meninggalkan dua jejak parit yang dalam. Tepat pada langkah ketiga, Yan harus mengerahkan seratus persen tenaga dalamnya, menghentak tumitnya hingga amblas ke dalam tanah untuk mengunci posisinya agar tidak terpelanting jatuh.
Keheningan kembali merampas malam. Zei berdiri terengah-engah, lengannya berdenyut kemerahan menahan reaksi benturan, matanya menatap sang ayah dengan waswas.
Yan menunduk kaku, menatap jarak tiga langkah yang baru saja tercipta dari garis awalnya. Dadanya bergemuruh sesak, bukan karena cedera, melainkan oleh badai keterkejutan yang meruntuhkan logikanya. Qi tanah milik putranya... teramat pekat. Bahkan jauh lebih murni dan buas dibandingkan kapten jenderalnya dulu di militer.
"Ayah..." panggil Zei lirih, memecah sepi.
Yan perlahan menegakkan tubuh. Ketegangan di wajahnya mencair, digantikan oleh senyuman getir yang diselimuti kebanggaan seorang ayah. Ia berjalan pelan menghampiri Zei, lalu mendaratkan telapak tangannya yang kapalan di pundak sang putra, meremasnya erat.
"Dunia luar akan mencoba mengunyah dan menghancurkanmu, Zei. Mereka akan meludahimu karena kau hanyalah anak petani," ucap Yan, suaranya kini parau, sarat oleh beban emosi. "Tapi malam ini kau telah membuktikan... bahwa tanah desa keruh ini mampu melahirkan seekor naga."
Yan berbalik, menatap istrinya yang kini menutup mulut sambil meneteskan air mata haru.
"Biarkan dia pergi, Ibu," ucap Yan lembut. "Burung rajawali tidak akan pernah bisa menguasai badai, jika kita terus mengikat kakinya di dalam sangkar."
Zei merasakan pelupuk matanya memanas. Di bawah tatapan saksi rembulan malam itu, gerbang pertama menuju langit akhirnya terbuka lebar, direstui oleh bumi yang telah membesarkannya.