NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangat Membingungkan

Zara menatap Yena lekat-lekat, suaranya terdengar serius namun penuh perhatian.

"Yena, aku yakin banget setelah Arga putus dari Fira, dia pasti bakal berusaha sekuat tenaga buat balik lagi ke kamu."

Tak lama kemudian, Vivien menyambar pertanyaan dengan nada lembut namun menembus ke dalam hati. "Dan aku mau tanya sama kamu, Yen... sebenernya kamu masih cinta sama Arga nggak?"

Yena terdiam sejenak, menatap cairan di gelasnya dengan tatapan kosong sejenak sebelum perlahan menjawab, suaranya terdengar bingung.

"Dulu... dari awal aku cinta banget sama dia. Rasanya tak terbayangkan betapa sayangnya aku pada Arga saat itu. Tapi... melihat sikapnya belakangan ini, semuanya berubah sampai 90 persen. Dia jadi jauh lebih kasar, suka seenaknya mengancamku... aku benar-benar tak tahu apa penyebab perubahan drastis itu. Dan jujur... aku sama sekali tidak menyukai sisi baru Arga yang begini. Aku jadi bingung sekali harus bagaimana..."

Mendengar pengakuan yang penuh kebingungan itu, Zara dan Vivien saling bertukar pandang penuh keprihatinan. Zara langsung meraih tangan Yena di atas meja, menggenggamnya erat dengan penuh kehangatan.

"Yena... dengarkan aku baik-baik ya," ucap Zara lembut namun tegas, menatap lurus ke mata sahabatnya itu. "Kalau dulu kamu mencintai Arga, itu sah-sah saja. Tapi Arga yang dulu itu sudah tidak ada lagi, Yen. Pria yang kamu cintai dulu itu sudah berubah menjadi orang asing yang kasar, mengancam, dan kejam. Orang yang berani menyakiti orang tak bersalah hanya demi memuaskan egonya sendiri—dia bukan lagi Arga yang kamu kenal."

Vivien pun ikut menyambung dengan nada penuh pengertian,

"Zara benar, Yen. Cinta itu butuh rasa aman dan rasa hormat. Kalau seseorang yang kamu cintai mulai menakuti-mu, menekanmu, dan mengancam orang yang kamu sayangi... itu bukan cinta lagi. Itu sudah jadi obsesi dan kekuasaan yang sakit. Kamu tidak salah kalau merasa bingung, tapi jangan biarkan kebiasaan dan kenangan masa lalu menahanmu untuk melihat kenyataan yang ada di depan mata."

Zara mengangguk setuju, menatap Yena dengan tatapan tajam namun penuh kasih sayang.

"Dan soal Arga yang pasti berusaha balik ke kamu... ya, aku yakin dia akan melakukannya. Tapi bukan karena dia menyesal atau mencintaimu dengan tulus. Dia melakukannya karena egonya terluka. Dia tidak bisa menerima bahwa kamu bisa bahagia tanpa dia—apalagi dengan seseorang yang jauh lebih muda, tulus, dan murni hatinya seperti Juvan. Arga tidak ingin memilikimu karena cinta, dia ingin memilikimu karena dia merasa kamu adalah miliknya yang lepas."

"Pikirkan baik-baik, Yen," lanjut Vivien pelan namun menembus hati.

"Dengan siapa kamu merasa tenang? Dengan siapa kamu merasa aman menjadi dirimu sendiri? Dengan siapa kehadirannya membuatmu bernapas lega, bukannya menahan napas karena takut? Kalau jujur di dalam hatimu... siapa yang benar-benar kamu rindukan saat ini? Arga yang menakutkan itu... atau Juvan yang dengan tulus hanya ingin melihatmu tersenyum?"

Pertanyaan terakhir itu membuat Yena terdiam mematung. Matanya seketika berkaca-kaca, dan tanpa sadar bayangan wajah Juvan—wajah yang penuh kesetiaan, kelembutan, dan ketulusan—langsung memenuhi seluruh pikirannya. Dadanya terasa sesak namun hangat, seakan jawaban itu sudah ada di sana sejak awal, hanya saja ia terlalu takut untuk mengakuinya.

"Siapa yang aku rindukan saat ini?"

Pertanyaan itu terus bergaung di kepalanya, dan seketika itu juga—tanpa bisa ia cegah—seluruh bayangan tentang Juvan berdatangan menyeruak keluar. Ia teringat senyum malu-malu Juvan saat pertama kali bertemu di toko buku. Tangan hangatnya yang menggenggam saat menyeimbangkan tubuh Yena yang terpeleset. Tatapan matanya yang penuh kekaguman namun penuh rasa hormat. Cara Juvan menatapnya seakan ia adalah hal paling berharga di dunia ini. Kehangatan pelukannya yang menenangkan di tengah malam yang dingin. Kejujuran dan ketulusan yang tak pernah sekalipun diragukan.

Dan di saat yang sama, bayangan Arga justru terasa kelabu dan menakutkan. Wajahnya yang penuh amarah, ancaman-ancamannya, ciuman paksa yang penuh kepemilikan kasar, serta kata-kata yang menusuk. Tak ada kehangatan, tak ada rasa aman—yang tersisa hanyalah ketakutan, tekanan, dan rasa terjebak.

Yena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bahunya terguncang hebat menahan isak tangis yang akhirnya pecah.

"Ya Tuhan..." isaknya lirih, suaranya terasa begitu pilu namun juga penuh kesadaran yang menyakitkan.

"Aku... aku merindukan Juvan. Setiap detik, setiap tarikan napasku... aku merindukannya. Bukan Arga... melainkan Juvan."

Yena mendongak, menatap kedua sahabatnya dengan mata yang basah namun kini jernih sepenuhnya.

"Aku bodoh sekali... selama ini aku sibuk memikirkan Arga dan rasa takutku, padahal hatiku sudah lama berpindah tanpa aku sadari. Aku tak lagi mencintai Arga. Yang aku cintai... yang membuat hatiku berdebar kencang dan merasa aman... hanyalah Juvan."

Zara dan Vivien ikut berkaca-kaca melihat sahabatnya yang akhirnya berani mengakui kebenaran di dalam hatinya. Zara merangkul bahu Yena erat, sementara Vivian mengusap punggungnya lembut.

"Kalau begitu, jangan lepaskan dia, Yen..." bisik Zara lembut namun tegas.

"Jangan biarkan ketakutan akan Arga menghancurkan kebahagiaanmu yang sebenarnya. Kamu berhak dicintai dengan tulus, tanpa ancaman, tanpa rasa takut. Dan Juvan... dia adalah orang yang memberimu cinta seperti itu, bukan?"

Yena mengangguk pelan, air mata masih mengalir namun kini disertai senyum tipis yang mulai terukir di bibirnya. Senyum yang penuh harapan, penuh tekad.

Belum sempat percakapan mereka berlanjut lebih jauh, suara dering ponsel Yena tiba-tiba memecah kehangatan di meja itu. Ia meraih ponselnya, dan saat melihat nama di layar, keningnya sedikit berkerut—Papanya.

"Halo, Pa?" sapa Yena pelan.

Dari seberang telepon, suara tegas Papanya terdengar jelas, "Yena, pulanglah sekarang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan di rumah. Sekarang juga."

Panggilan itu terputus sepihak. Yena menatap layar ponsel yang gelap sejenak, lalu menoleh ke arah kedua sahabatnya dengan tatapan penuh permohonan maaf.

"Maaf ya, Papa memintaku pulang sekarang. Katanya ada hal penting," ucapnya lembut sambil perlahan berdiri dari kursi.

Zara dan Vivien pun ikut berdiri, mengangguk penuh pengertian.

"Ooh gitu, iya gak papa yen"

Yena menatap kedua sahabatnya dengan mata yang masih berkaca-kaca, namun kali ini disertai senyum tulus yang begitu lebar dan hangat. Ia meraih tangan mereka satu per satu, menggenggamnya erat penuh rasa syukur.

"Terima kasih... terima kasih banyak untuk semuanya," ucapnya dengan suara bergetar namun penuh ketulusan. "Terima kasih sudah mendengarkan segala curhatanku. Terima kasih sudah mengingatkanku pada hal yang sebenarnya penting. Tanpa kalian, mungkin aku masih akan tersesat dalam kebingungan ini sendirian."

Zara tersenyum lembut lalu memeluk Yena erat.

"Kami selalu ada untukmu, Yen. Ingat apa yang sudah kita bicarakan ya. Tetaplah tegar."

"Pergilah pulang dengan selamat," tambah Vivien sambil mengusap lengan Yena penuh kasih sayang.

"Dan ingat... kami selalu mendukungmu, apa pun keputusanmu nanti."

Yena mengangguk pelan, menahan air mata haru yang kembali ingin menetes. Ia melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum melangkah keluar dari kafe, meninggalkan keramaian di belakangnya—kini dengan hati yang jauh lebih ringan, lebih jernih, dan penuh tekad yang baru.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!